
Selamat Membaca!
🌹
“Kamu yakin nggak ingin Papa antar ke rumah suamimu?” tanya Erik saat mengantar Riella ke bandara Soekarno Hatta. Dia takut terjadi sesuatu dengan Riella. Andai saja Riella mau menerima tawarannya untuk mengantarkan ke Banjarmasin. Pasti dengan senang hati Erik mengantarnya, dan dia tidak perlu mencemaskan lagi kondisi Riella.
Riella menggelengkan kepalanya. “Tidak, Pa. Enggak usah khawatir dengan Riella. Putri papa ini tidak lemah, kok!” Riella menolak tawaran Erik untuk kesekian kalinya. Membanggakan dirinya sendiri, memberitahu pada Erik, jika dirinya tahan banting.
“Oke baiklah. Kabari Papa jika sesuatu terjadi padamu.” Pesan Erik sambil menyerahkan koper kecil ke tangan Riella.
“Okey, tidak perlu khawatir berlebihan, Pa. Papa urus saja mama, dan si kembar yang masih menjadi tanggung jawab Papa. Karena Riella bukan lagi tanggung jawab Papa.” Riella tersenyum cerah setelah mengucapkan kalimat itu.
Sedangkan Erik terlihat membuang nafas kasar. “Sombong amat anakku ini.” Tangan kanannya menarik hidung Riella, karena merasa gemas dengan ucapan putrinya. Mungkin benar kata pepatah, jika anak gadis itu akan lebih dekat dengan papanya. Karena seorang ayah tidak akan tega menyakiti perasaan anaknya.
“Sombong turunan. Jadi nggak apa-apa!” Riella membalas cibiran Erik. Lalu melihat ke arah jam di tangannya. “Sudah waktunya check in, Riella masuk dulu. Papa doain Riella ya ... semoga dia mau maafin Riella.” Riella memeluk pria di depannya, mencari dukungan doa.
“Yah. Hati-hati, segera pulanglah! Papa menunggumu di Jakarta apapun yang terjadi, kamu tetap putri kesayanganku.” Riella mengangguk setuju. Lalu segera pergi dari hadapan Erik, dia melambaikan tangannya sambil tersenyum cerah ke arah pria yang selalu ada di hatinya itu.
Riella segera masuk ke terminal bandara, mencari tempat check in yang sesuai dengan maskapai yang ada di tiketnya. Setelah selesai check in dia masih harus menunggu lagi sekitar tiga puluh menit. Karena ternyata, pesawat yang akan mengantarnya ke Banjarmasin baru saja tiba di bandara Soekarno Hatta. Pesawat bermotif batik itu mengalami masalah dari bandara sebelumnya. Jadi, kedatangan pesawat itu sedikit tertunda dari waktu yang ditentukan.
Saat ini Riella tengah duduk di kursi tunggu penumpang. Dia mengukir senyum tipisnya, saat mengingat mimpi buruk yang dialami beberapa jam yang lalu. Dia hanya bisa berharap, itu hanyalah bunga tidurnya saja. Mana berani Kenzo poligami, apalagi tanpa izin darinya. Kalaupun Kenzo menikah lagi, dia harus meminta izin dulu padanya. Tapi? Dia juga tidak ingin itu terjadi. Dia hanya ingin Kenzo menjadi miliknya. Seutuhnya menjadi miliknya!
Tiga puluh kemudian suara panggilan masuk maskapai terdengar nyaring memenuhi ruang tunggu. Riella segera beranjak dari tempat duduknya, berjalan menuju Gate-5 sesuai petunjuk yang ada di lembar boarding pass-nya.
Riella sengaja mengambil jadwal penerbangan pagi hari, dan sesuai jadwal yang tertera di boarding pass- nya pesawat akan landing pukul 8 pagi Waktu Indonesia Bagian Tengah. Saat Riella masuk ke dalam pesawat dia disambut ramah oleh pramugari yang berdiri di belakang pintu. Salah satu pramugari berbadan ramping itu berjalan mendahuluinya, menunjukkan nomor tempat duduk yang terpisah dari penumpang lain.
"Silakan, Nona!" Pramugari itu memberikan tempat duduk Riella sesuai nomor kursi, dan meletakkan barang Riella di bagasi kabin.
"Terima kasih," sahut Riella seraya mendaratkan tubuhnya di kursi. Padahal dia sudah berpesan pada Doni untuk memesankan tiket kelas ekonomi. Tapi, justru pria itu memesankan tiket kelas bisnis.
Riella sengaja duduk menempel di dekat jendela. Mungkin dia jarang melakukan hal ini. Tapi, entah kenapa hari ini dia ingin melihat keindahan alam dari atas langit. Menikmati sinar matahari pagi dari atas awan.
...----------------...
Hampir dua jam Riella berada di atas awan akhirnya pesawat berhenti sempurna di bandara Syamsudin Noor, Banjarmasin. Riella segera turun dari pesawat, setelah selesai mengambil bagasi kabin. Dia berjalan bersama orang-orang yang tadi satu pesawat dengannya.
Riella terkekeh kecil, saat mengingat Kenzo yang mengangkat tubuhnya saat itu, sengaja dia menghentikan langkahnya, berusaha mengingat lagi kenangan pada masa itu. Lalu segera melanjutkan lagi langkahnya menuju agen travel yang ada di depan pintu keluar bandara.
Riella lalu masuk ke dalam mobil yang akan mengantarnya ke rumah Kenzo. Saat di perjalanan pun dia seperti mengulangi mimpinya semalam. Dia berharap setelah tiba di rumah Kenzo bukan kejadian itu yang dia saksikan. Tapi, Kenzo yang masih terlelap di atas ranjang, menunggunya datang. Setelah itu dia akan memeluk tubuh pria itu dan membisikkan kata cinta di telinganya.
Tiga puluh menit berlalu, Riella tiba di depan rumah Kenzo, dia seperti mengulangi mimpinya, memberikan uang kembalian itu pada sang sopir. Saat dia hendak membuka pintu gerbang, satpam yang biasa berjaga sudah membukanya lebih dulu.
“Eh ... Bu Riella.” Satpam berpakaian putih hitam itu menyapanya. Pria berbadan kekar itu tampak terkejut saat melihat kedatangan Riella saat ini.
“Pagi, Pak.” Riella tersenyum ramah.
“Pagi, Bu. Dari Jakarta? Pagi sekali sampainya?” tanya satpam itu, menerima koper kecil yang diserahkan Riella.
“Iya, sengaja, Pak! Pak Kenzo ada, kan?” tanya Riella memastikan keberadaan suaminya.
“Oh, ada. Mobilnya belum keluar kok.” Satpam itu menjawab ramah.
Pekarangan luas itu dihuni oleh banyak orang termasuk anak-anak panti. Dia selalu hapal dengan mobil yang biasa mondar-mandir di depannya. Dan sampai saat ini mobil Kenzo belum keluar sama sekali. Meski mobil Kenzo baru tapi dia sudah hapal dengan nomor polisi mobil majikannya itu.
“Nitip koper dulu ya, Pak. Jangan di antar sebelum saya memerintahkan. Karena saya ingin membuat kejutan untuk pak Kenzo.” Pesan Riella pada satpam di depannya. Pria itu mengangguk menyetujui permintaan riella.
Riella pun segera melangkah ke bangunan kayu rumah Kenzo, jaraknya masih cukup jauh. Dia harus menempuh jarak lima puluh meter lagi demi bisa sampai di pintu utama rumah kayu tersebut.
Saat Riella masuk ke rumah Kenzo. Keadaan rumahnya masih tampak sepi, tidak ada suara apapun yang bisa dia dengar. Dia berharap Kenzo memang belum bangun pagi ini.
“Ken,” panggilnya saat tidak menemukan jejak kehidupan. Dia mencoba mencari keberadaan Kenzo di kamar dan di ruang kerjanya. Tapi, dia tidak menemukan pria yang dia rindukan. Dia hanya bisa melihat barang-barang yang tersusun rapi, di setiap tempatnya.
“Kenzo.” ulangnya lagi memanggil suaminya, saat ini suaranya lebih tegas. Tapi tetap saja, tidak ada sautan dari pemilik nama.
"Kemana dia?" tanya nya sambil mengedarkan pandangan ke halaman samping rumah. Dia berniat mencari Kenzo di luar rumah. Namun, saat tiba di teras, dia bertemu dengan Nindi yang akan masuk ke rumah Kenzo.
"Riella!"
...----------------...
Weks ... gantung author kejam kan 😁😅