The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
Jikalau Cinta



Bantu vote lagi ya, turun nih rankingnya, sedih deh😣


Ella buatin tutorialnya buat yang belum tahu cara vote, semoga bermanfaat dan rankingnya bisa naik lagi. Terima kasih yang sudah mengorbankan poinnya buat cerita Ella. Readers rajin vote Ella semangat nulis dech, jadi sama-sama untungkan 😜😜😜


LANGKAH PERTAMA



LANGKAH KEDUA



LANGKAH KETIGA



Hari ini adalah hari ketiga Kenzo menjadi pasien di rumah sakit ternama di Bali. Tidak ada perubahan yang signifikan mengenai kondisi Kenzo. Hanya saja kini dia sudah dipindahkan ke ruang perawatan, bisa langsung ditemani oleh anggota keluarganya. Meski saat ini Kenzo belum membuka matanya. Namun, Riella terus menjaganya karena dia khawatir ada hal serius mengenai alat vital Kenzo lainnya.


Keluarga dari Riella sudah pulang ke Jakarta. Saat ini dia hanya bertiga dengan kedua mertuanya. Setiap pagi dan sore Riella selalu setia menyeka tubuh Kenzo dengan air hangat. Tidak jarang ia tertidur di kursi samping tempat Kenzo terbaring, karena kondisi tubuhnya yang terlalu lelah. Entahlah, Riella juga bingung kenapa Kenzo tidak kunjung membuka matanya. Padahal dokter sudah memperkirakan dia sudah bangun hari kemarin. Tapi dokter juga manusia, bisa juga luput dari kesalahan prediksi.


Ketukan pintu membuyarkan pandangan Riella yang tengah menatap wajah pucat Kenzo. Ia lalu berdiri membuka pintu untuk tamunya. Seulas senyum tipis keluar dari bibir Riella yang tak kalah pucat dari suaminya.


“Masuklah!” ajak Riella menuntun tangan Eva.


“Bagaimana kabarnya? Apa sudah ada tanda tanda jika Kenzo akan segera bangun?" tanya Eva meletakkan tempat makanan di atas meja.


“Aku cuma bisa berdoa, Va. Kata dokter mungkin dia butuh istirahat cukup untuk memulihkan kondisinya.” Riella menjelaskan sambil mengusap punggung tangan Eva. Setelah itu ia membawa Eva untuk duduk di sofa.


“Makanlah! Aku bawa makanan kesukaanmu. Lihatlah tubuhmu! Hanya tinggal tulang terbalut kulit,” kata Eva membuka box makanan yang tadi ia bawa.


“Enak saja, masih juga 53 kg,” sahut Riella menatap ke arah makanan.


“Jangan terlalu dipikirin, Kenzo pasti akan secepatnya bangun. Sekarang makanlah dulu!” kata Eva saat melihat Riella menatap wajah Kenzo tak berkedip.


“Kamu tidak tahu betapa bingungnya aku saat mendengar kecelakaan pesawat itu, Va. Seperti separuh nyawaku diambil paksa." Riella meletakkan tangannya di dada, meraupnya lalu dibuang ke arah atas, matanya berkaca-kaca saat menceritakan hal itu pada sahabatnya. Ia lalu menarik nafas pelan dan mengeluarkan lewat mulut, "apalagi saat membaca nama Kenzo dalam daftar nama korban meninggal. Huft ... nggak mau lagi mengulangi kejadian itu! Nggak mau, Va! Sudah cukup sekali itu saja.” Riella bercerita panjang lebar pada sahabatnya. Dan reaksi Eva justru membuat Riella kesal. Karena hanya menampilkan senyum tipis yang terlihat mengejek.


“Sekarang kamu paham, kan? Betapa berartinya dia bagi hidupmu?” pertanyaan meluncur dari bibir Eva.


Deg! Gambaran suara jantung Riella yang tengah berdetak kuat, tersayat dengan pertanyaan sahabatnya.


Eva tertawa dengan suara pelan, melihat reaksi Riella. “Mungkin itu ujian buatmu, Tuhan masih memberimu kesempatan untuk memperbaikinya. Jadi gunakanlah kesempatan itu sebaik-biaknya!”


“Ya,” jawab Riella singkat sambil menatap ke arah bed Kenzo.


“Kamu mencintainya?” tanya Eva, hari ini dia akan menjadi detektif cinta Kenzo.


Pertanyaan Eva mengalihkan perhatian Riella, dia diam sejenak memikirkan pertanyaan sahabatnya. Kemudian menatap wajah Eva, lalu menggedikkan bahunya, setelah itu menggelengkan kepala pelan.


“Aku tidak yakin dengan itu.” Riella lalu menerima makanan yang diberikan Eva.


“Nyahok Lo ... kehilangan betulan baru tahu rasa! Heran deh, dengan otakmu itu ..., terbuat dari batu kali apa, ya? Keras kepala banget jadi orang. Sadar Eriella. Sadarlah, ERIELLA PUTRI RAMONES!” Eva mencerca wanita di sampingnya, yang tengah menikmati sarapan suaranya keras memenuhi ruangan.


Riella membuang nafas lewat mulutnya, “dia berarti bagiku, aku takut kehilangan Kenzo. Bukankah kamu sendiri yang bilang, jangan mencintai sesuatu dunia ini dengan berlebihan? Aku takut jika mencintainya terlalu dalam, dia akan meninggalkanku suatu hari nanti.” Riella menatap ke arah Kenzo.


“Et ... aku?” Eva menunjuk dirinya sendiri. Dan Riella mengangguk. “Tapi, dia suamimu Riella ... dia suamimu!” lanjutnya memperingati Riella.


“Memangnya suami gak bisa mati? Bisa kan? Cukuplah berada di sampingnya, dan membuatnya berarti di hidupku mungkin sudah cukup.”


“Apa dia pernah menyakitimu, selama pernikahan kalian?” Riella menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. “Dia pernah membuatkan sarapan buat kamu?” Riella mengangguk cepat sebagai jawaban. “Dia pernah main kasar padamu?”


“He’em ....” Seketika Riella menutup mulutnya, saat menyadari dia yang sudah keceplosan. Eva hanya terkekeh sampai matanya tampak menyipit.


“Ehm ... ternyata sudah menikmati malam pertama? Kapan sih kok nggk cerita?” goda Eva berbisik pelan.


“Nggak mau cerita, males.” Riella menjawab cepat lalu meletakkan makanannya, berlalu menuju wastafle untuk mencuci tangan. Dia terus mengawasi wajah Kenzo saat melewati bed Kenzo.


“Ken, bangun Ken!” perintah Riella lirih sambil menepuk kaki Kenzo saat melewati bed Kenzo.


“Cie-cie tanda-tanda nih ... sebentar lagi akan hadir Riella junior,” cibir Eva saat melihat kelakuan Riella yang tengah menyugar rambut Kenzo. “Jangan ciuman! Aku takut mataku tercemar!” peringat Eva.


“Halal, Va! Makannya buruan cari cowok biar gelar jomblomu itu hempas,” kata Riella lalu mencium dahi Kenzo, “selamat pagi Tuan Kenzo, aku sangat berharap hari ini kamu akan bangun.” Riella lalu merapikan selimut yang menutupi tubuh Kenzo, membiarkan tubuh suaminya itu menghangat.


Eva yang melihat kelakuan sahabatnya hanya bisa bergumam lirih, “sudah kaya gitu masih menyangkal!”


Jikalau cinta benar-benar cinta


Jangan katakan kamu tidak cinta.


Eva menyanyikan potongan lagu dari Judika, menyindir sahabatnya yang tidak mau mengakui dengan jujur. Keras sampai ke gendang telinga Riella.


Jangan sampai ... Hingga waktu perpisahan tiba


Dan semua yang tersisa hanya air mata .... Hanya air mata.


Mungkin saja cinta kan menghilang selamanya.


Dan semua yang tersisa hanyalah air mata, hanya air mata. CIN--


“Hustt diam, Va! Ini rumah sakit buka studio music!” peringat Riella mendelik menatap Eva.


“Coba putar deh lagu itu, siapa tahu bisa membuatmu sadar. Sebelum semuanya terlambat. The Delayed of love stories. Sebelum aku menulis judul itu di karya baruku, kisah cinta yang tertunda pasti trending ntar kalau dibuat judul karya.” Eva terus berceloteh tiada henti, seperti tengah membuat radio live di ruang rawat Kenzo. Membuat Riella menggelengkan kepalanya.


“Sudah gila kamu ya?! Sudah sana pergi, cari cowok bule sana! Bikin judul sendiri, Cintaku Kepentok Bule Di Bali."


Terdengar suara tawa Eva memenuhi ruangan, biarlah menganggu Kenzo yang tengah istirahat. Pasti sahabatnya itu akan berterima kasih padanya jika benar ia terbangun.


“Baiklah, aku pergi dulu. Aku juga ada pertemuan pagi ini! Kamu hati-hati di sini. Kalau ada apa-apa hubungi aku. Aku masih 5 hari di sini!” pesan Eva sambil mengambil tas mewahnya di sofa.


“Ya, pergilah! Terima kasih untuk sarapannya.” Riella berucap tulus sambil mengantar kepergian Eva menuju pintu keluar.


“Bye ... Ingat putar lagunya dari Judika judulnya JIKALAU CINTA, sebelum kamu menyesal nanti!” pesan Eva sebelum benar-benar meninggalkan ruang rawat Kenzo.


Riella lalu menutup pintu bersandar di balik daun pintu sambil menatap tubuh Kenzo yang tidak bergerak sedikitpun sejak 3 hari yang lalu. Dengan menyeret kakinya Riella mendekat ke arah Kenzo.


“I am afraid of losing you.”


🚑


🚑


🚑


Jangan lupa like dan komentar.