
Kenzo mengikuti langkah Riella yang berjalan mendahuluinya. Ia lalu berjalan cepat membukakan pintu untuk Riella. Kenzo segera memutari mobil Range Rover warna hitam miliknya, yang tadi ia pakai ke kedai es krim, masuk ke dalam mobil lalu mendudukan tubuhnya di balik kemudi.
Kenzo segera menyalakan mobilnya, melajukan pelan meninggalkan kedai es krim menuju rumah kedua orang tua Riella, berharap akan ada kemacetan panjang hingga membuatnya bisa lebih lama lagi dengan gadis pujaannya.
Suasana hening, hanya terdengar samar-samar suara kendaraan dari luar mobil. Kenzo fokus ke arah jalan di depannya, berpura-pura tidak memperhatikan wanita di sampingnya, padahal sudah kesekian kali dia mencuri tatap ke arah Riella setiap wanita itu menatap ke arah jendela.
Begitu juga dengan Riella yang masih diam, tenggelam dalam pikirannya sendiri, ia bingung harus membahas apa dengan lelaki di sampingnya ini. Karena sejujurnya ia tidak suka basa-basi, untuk memulai pembicaraan.
“Selamat ya, atas keberhasilanmu,” ucap Kenzo saat mobilnya berhenti di belakang garis putih pembatas lampu rambu lalu lintas. Dia menoleh sejenak ke arah Riella, memberikan senyum tipisnya.
Riella mengangguk cepat sambil merapikan anak rambut ke belakang telinganya. Lalu menatap ke arah Kenzo. Sejenak mereka saling bertatapan, tapi sedetik kemudian Riella segera memutus pandangannya, ia kembali menatap ke arah jendela ketika melihat tatapan mata Kenzo yang teduh, dia merasa salah dengan tatapan yang diberikan Kenzo, dia tahu jika lelaki itu mencintainya. Dia tidak ingin memberikan harapan semu pada Kenzo yang menaruh hati padanya.
“Kemarin kamu pergi dengan pacarmu ya?” tanya Kenzo diiringi senyum tipis dari bibirnya. Menyembunyikan perasaan kecewanya terhadap Riella. Ia malu untuk mengungkapkan apa yang ada di pikirannya selama dua hari ini, meski dia tahu semuanya.
“Nggak perlu juga aku menjawab pertanyaan yang tidak terlalu penting ini, kan? Bukan urusanmu juga,” jawab Riella membalasnya ucapan Kenzo dengan pertanyaan. Dia lalu kembali menatap ke arah kaca depan mobil Kenzo, mengabaikan air muka lelaki di sampingnya.
“Jangan mencampuri apa yang tidak perlu kamu urusi! Karena aku juga tidak berniat mencampuri urusanmu! Lagian ngapain kamu ke Jakarta, bukannya habitatmu tidak di sini, seharusnya kam-”
“Ya, aku paham. Harusnya aku tidak di sekitarmu. Dan mengurusi mereka.” Kenzo memotong ucapan Riella sebelum bibir wanita itu mengucapkan perkataan lebih tajam lagi untuknya.
Kenzo melajukan mobilnya lagi, setelah terlihat lampu lalu lintas menjadi warna hijau, dia mencoba mengatur nafasnya yang tadi sempat tercekat atas ucapan Riella.
“Apa kamu menginginkan aku pergi?” tanya Kenzo yang terdengar jelas di telinga Riella. Ia kembali memecah keheningan.
“Kamu merasa aku jadi orang ketiga di antara kalian? Kenapa seperti itu? Bukannya sebaliknya ya? Apa dia takut aku akan mengambilmu? Haram bagiku mengambil milik orang lain. Dan dulu itu kamu tahu sendiri bagaimana kondisiku bagaimana!" Kenzo menarik nafasnya dalam-dalam, " tapi jika kamu menginginkan aku pergi, aku akan pergi demi kebahagiaanmu. Sahabat selalu menepati janjinya, apa kamu benar memintaku pergi?” lanjut Kenzo.
Riella mengangguk cepat, “seharusnya sudah sedari dulu kamu mengatakan itu padaku! Sekarang pergilah! Kehadiranmu akan menganggu hubunganku dengan kak Emil!” peringat Riella penuh keyakinan, bahkan ia bisa tersenyum tipis ke arah Kenzo, sebagai salam perpisahan.
“Ya, aku akan pergi. Aku akan datang jika kamu membutuhkan aku!” ucap akhir Kenzo, lalu menghentikan mobilnya tepat di depan pintu gerbang rumah Erik. Dia memperhatikan Riella yang baru saja turun dari mobilnya, mata hitam Kenzo terus menatap Riella hingga wanita itu menghilang di balik pintu utama rumah Erik, setelah itu ia baru melajukan mobilnya meninggalkan komplek perumahan elit milik kedua orang tua Riella.
Kenzo memejamkan matanya, sambil menarik nafas mengatur udara masuk ke dalam dadanya yang terasa sesak. Ungkapan cintanya yang hampir 6 bulan lalu untuk Riella dibalas kebersamaanya dengan Emil. Tanpa ada penjelasan apapun dari gadis pujaannya. Dia pikir setelah kepulangannya dari Singapura, Riella akan menjawab, jika ia bersedia menjadi pacarnya, tapi yang ada, ia harus menerima kenyataan, jika Riella sudah bersama dengan lelaki pilihannya.
Dan hari ini, dia harus memutuskan untuk kembali ke asalnya. Mungkin itu lebih baik, dari pada harus menunggu cintanya yang tidak akan mungkin terbalaskan. Mengurus panti asuhan yang didirikan almarhumah neneknya, mungkin itu akan lebih baik, daripada harus membuang waktunya di Jakarta.
Tiba di hotel, Kenzo segera menyusun pakaiannya ke dalam koper, sambil tersenyum tipis ia mengamati helai demi helai baju di tangannya. Tidak paham dengan jalan pikirannya selama ini. Berharap pada Riella yang tidak sedikitpun melihatnya.
Kenzo segera berjalan mendekat ke arah meja, setelah mendengar bunyi pesan masuk. Dia membaca pesan singkat dari rekannya, mengabarkan jadwal keberangkatannya malam nanti. Ia lalu melemparkan tubuh bisepnya ke atas ranjang. Mengalah untuk kebahagian wanita yang ia cintai, terluka demi kebahagian wanita idamannya. Ia hanya bisa menertawai dirinya sendiri, yang sebenarnya bisa saja memilih satu dari artis Indonesia yang paling cantik untuk dijadikan istri, tapi ia tidak mampu memindahkan hatinya dari Riella.
Mata Kenzo mulai terpejam meninggalkan alam kesadarannya. Berharap ketika ia membuka mata, hatinya akan lebih baik dari yang ia rasakan saat ini.
🚑
🚑
Jangan lupa dukungannya ya, tekan like, tinggalkan komentar, dan vote seiklasnya. Matur suwun sanget ; terima kasih banyak.🙏