
Bantuin vote ya, ranking anjlok nih😭
♥️
♥️
♥️
Bali adalah primadona pariwisata Indonesia yang sudah terkenal di seluruh dunia. Selain terkenal dengan keindahan alam terutama pantainya, Bali juga terkenal dengan kesenian dan budayanya yang menarik. Tapi di luar dugaan Riella. Ia pikir Kenzo akan membawanya ke pantai melihat wanita bule memakai bikini, dan memperlihatkan belahan dadanya, tapi rupanya tidak. Kenzo membawanya ke café, yang terletak di tengah-tengah sawah.
Cukup jauh, jarak hotel dengan alamat yang diberikan Alby. Beruntung ada sopir yang mengantarkan mereka menuju lokasi. Tiba di cafe mereka berdua sudah ditunggu oleh rekan Kenzo beserta keluarga kecilnya. Kenzo memeluk rekannya, saat tiba di depan Zain. Ia mengucapkan kata maaf karena tidak bisa menghadiri acara pernikahan Zain beberapa hari lalu. Riella yang berada di samping Kenzo hanya tersenyum ramah menyambut uluran tangan Zain dan istri barunya.
“Ini Flora ya? Cantik sekali rambutnya.” Puji Riella sambil mengusap lembut rambut gadis kecil di depannya, ia gemas melihat rambut keriting milik Flora, yang lebih mirip seperti mie yang ada di atas mangkok. Gadis tiga tahun itu justru beralih, bersembunyi di balik kaki Zain saat mendengar pujian Riella.
“Baru tante yang bilang rambut Flora cantik. Tante jahat, sukanya bohong!” gumam Flora di balik tubuh Zain. Membuat Kenzo tak kuat untuk menahan tawanya, saat melihat ekspresi Riella dan Flora.
“Sayang nggak boleh seperti itu, tante kan tulus memuji rambut Flora.” terdengar suara lembut dari istri Zain menasehati Flora. Sedangkan Riella hanya menahan rasa kesal yang ia rasakan, menyembunyikannya dengan senyum ramah ke arah Flora.
“Sini sama Om Ken,” kata Kenzo mengulurkan kedua tangannya hendak menggendong Flora. Dengan cepat Flora menerima uluran tangan Kenzo, mengalungkan tangannya ke leher Kenzo.
“Wuihhh … sudah berat kamu ya,” kata Kenzo memuji gadis kecil yang kini berada di gendongannya, “hampir sama dengan Kakak Kaila,” lanjutnya sambil membawa Flora duduk di kursi sebelah Riella.
Sedangkan Riella hanya memijit pelipisnya, entah mengapa pesona nya tidak menarik perhatian anak kecil. Setiap ia menyapa anak-anak selalu mendapar sambutan buruk. Berbeda dengan suaminya yang selalu mendapat sambutan baik oleh anak-anak.
“Apa kabar Kaila?” timpal Zain saat mendengar nama Kaila disebut.
“Baik, tahun ini dia mulai sekolah,” jawab Kenzo, sambil asyik merapikan rambut Flora yang tidak akan bisa rapi.
“Kamu sudah sehat kan, Ken?” tanya Zain saat menatap wajah Kenzo yang masih sedikit pucat.
“Sudah. Semua sudah pulih, hanya butuh waktu istirahat, supaya kembali ke kondisi awal lagi,” jelas Kenzo, menurunkan Flora yang ingin menghampiri Bundanya.
“Boleh dong ya, planning bulan madu barengan mumpung di sini?” tawar Zain, membuat senyuman ramah dari bibir Kenzo keluar.
“Eh ….” Kenzo mendekatkan bibirnya ke arah wajah Zain, menutupi bibirnya dengan tangan supaya Riella tidak terlihat mimik bibirnya, “ bulan madu itu ngapain aja?” tanya Kenzo berbisik, supaya tidak di dengar istrinya.
“Astaga … Ken!”
“Kenapa?” tanya Riella mulai curiga dengan kelakuan Kenzo.
“Kamu ini, Ken. Ini pernikahan keduamu jangan polos-polos gitu, kenapa?” goda Zain dengan sengaja mengeraskan suaranya, padahal dia tahu sepolos apa rekannya ini.
“Stop deh jangan bahas masa lalu!” peringat Kenzo mengalihkan pembicaraan mereka berdua.
“Kenapa memangnya, Bee? Nggak ada yang kamu sembunyikan dariku lagi, kan?” tanya Riella saat mendengar ucapan suaminya.
“Nothing … cuma nggak mau bahas saja. Buatku masa lalu buruk ... biarlah menjadi pelajaran ke depannya. Bukan untuk bahan pembicaraan.” Kenzo lalu mengedipkan satu matanya ke arah Zain. Dan dibalas anggukan kepala oleh Zain.
“Kalian kapan buatin adik untuk Kaila?” tanya Zain saat tidak mendapati Riella segera hamil.
“Emmm … semua sudah diatur, tapi saat ini kami masih menikmati waktu berdua kami.” Kenzo segera menjawab apa yang ditanyakan rekannya, supaya tidak merembet ke arah lain.
“Heh, begitu Bee? Yakin nggak pengen cepat-cepat buatin adik untuk Kaila?” tanya Riella acuh sambil mengaduk minuman yang baru saja diantar pelayan.
“Ya, berdua denganmu lebih baik, lagian di rumah juga sudah banyak anak-anak panti.”
“Tapi kan beda, Bro … apalagi dengan darah daging sendiri, pastinya kita akan lebih sayang dengan mereka nanti,” kata Zain menjelaskan Kenzo.
“Sensi banget bahasnya, Bee.” Riella menimpali ucapan Kenzo, “di mana-mana setiap pernikahan pasti menginginkan keturunan, itukan salah satu tujuan dari pernikahan.”
“Ah sudahlah jangan bahas itu lagi. Yang penting untuk saat ini aku hanya ingin berjuang dulu mendapatkan hatimu lagi. Masalah itu kita pikirkan nanti.” Kenzo menjelaskan sambil menggenggam tangan Riella.
“Ya, lagian aku juga belum ingin hamil dalam waktu dekat,” jawab Riella mengusap punggung tangan Kenzo. Ia tersenyum lebar tanpa peduli jika di depannya masih ada yang tengah mengawasi kelakuan mereka berdua.
“Kalian sendiri bagaimana?” tanya Riella, membuat kedua manusia di depannya saling melemparkan pandangan.
“Kita sudah nyicil dulu kemarin, jadi ya gitu deh …”
“Astaga! Nggak ada kapoknya rupanya kamu Zain!” Zain pun tersenyum ramah mendengar sahutan dari Kenzo.
“Cuma kamu lelaki yang menjaga ke orisinal an tubuhmu. Kamu beruntung deh La, dapatin Kenzo, tapi ya gitu masih monoton pasti, minim gaya!” goda Zain tersenyum licik ketika Kenzo memberinya tatapan tajam.
Riella yang paham hanya mampu menahan senyumnya, otaknya berkelana membayangkan betapa liarnya Kenzo saat mereka pertama kali melakukan. Sungguh berlawanan dengan apa yang diucapkan Zain.
“Bunda, aku mau main becek-becekan di sawah sana!” ajak Flora menatap hamparan padi yang baru saja di tanam.
“Iya nanti sama Papa, ya?” sahut Karinna mencium rambut lucu anaknya. Kehamilan muda membuatnya merasa lemas, jadi tidak sanggup jika harus menemani Flora bermain di tanah yang tampak berair itu.
“Kita balik yuk, aku juga mau main bacek-becekan tapi bukan di situ.” Bisik Kenzo di telinga Riella.
Plak!
Terdengar suara pukulan tangan mendarat di paha Kenzo, setelah Kenzo menyelesaikan bisikkanya di telinga Riella, tatapan tajam pun sudah Riella berikan. Namun, lelakinya itu hanya terkekeh saat berhasil membuat Riella marah.
“Bicara kaya gitu lagi, nggak ada jatah sampai akhir bulan!” ancam Riella berbisik di telinga Kenzo.
“Kalian ini, seperti pengantin baru, padahal kita yang pengantin baru,” ledek Zain saat mendapati kelakuan Kenzo dan Riella.
Kamu tidak tahu saja Zain. Kegiatan bercintaku masih bisa dihitung jari. Batin Kenzo sambil tersenyum kecut ke arah Zain. Setelah itu obrolan dewasa terjadi saling sahut menyahut antara keempat orang dewasa tersebut. Beruntung Flora tidak menyahut pembicaraan merka berempat.
Setelah menyelesaikan makannya, Kenzo segera mengakhiri pertemuannya dengan Zain, ia hendak membawa Riella pulang dan kembali ke hotel. Tapi Riella tidak mau, ia masih ingin berjalan-jalan ke pantai. Menikmati keindahan pantai saat siang hari, meski sudah diperingati Kenzo jika dia tidak ingin melihat banyaknya wanita yang memakai bikini.
“Ayo pulang! Panas di sini nanti kulitmu hitam!” ajak Kenzo berusaha membujuk Riella.
“Tunggu Bee … kamu nggak ingat ini tempat apa? Kamu lupa jika kamu mencuri ciuman pertamaku di sini?” kata Riella sambil terus berjalan menuju balik tebing yang ada di dekat pantai.
“Justru itu Nee, aku tidak ingin mengingatnya, ngapain mengingatnya, jika dengan pulang, kita bisa melakukannya sampai puas.”
“Dasar lelaki! Dah lah, aku nggak mau ngomong sama kamu dulu sebelum kita tiba di Jakarta.”
“Dah ayo pulang! Kita akan pulang langsung ke Banjarmasin, kemarin mama bilang dia punya sesuatu untuk kita, dan katanya itu akan membuat kita bahagia, tapi aku juga nggak tahu itu apa?”
“Eh … kita pulang ke Jakarta dulu, Bee. Aku mau kangen-kangenan dulu sama Mama.”
“Bilang mama mertua saja suruh ke Banjarmasin.”
“Bee …” terdengar suara rengekan dari Riella meminta izin dari Kenzo, supaya membatalkan niatnya pulang ke Banjarmasin.
♥️
JANGAN LUPA VOTE YA.🙏