The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
Kita Akan Menikah



Hari senin tiba. Seperti biasa hari senin menjadi hari terpadat dari hari-hari biasanya. Mengingat rumah sakit Ramones yang Riella pimpin menerima pasien yang memegang kartu bantuan berobat gratis dari pemerintah. Karena kesibukkannya, Riella melupakan makan siang yang sudah terlewat satu jam yang lalu. Dengan tangan yang masih mengenakan sarung tangan dan mulut masih tertutup masker medis, ia berjalan menuju ruang prakteknya.


Riella baru saja membantu menangani korban kecelakaan lalu lintas yang lumayan parah cideranya. Tiba di depan ruang praktek ia mendorong handle pintu ruangan yang bertuliskan namanya. Baru saja ia masuk dan menutup pintu, ia dikejutkan dengan pelukan erat dari tangan kekar lelaki, ia sempat memberontak sebelum menyadari jika itu adalah Emil. Riella membuang nafasnya, sambil memukul punggung tangan Emil yang melingkar di perutnya.


“Nakal! Sukanya ngagetin!” gerutu Riella saat dagu Emil bersandar di pundaknya. Riella yang ingin berusaha melepaskan pun merasa percuma karena Emil begitu erat memeluknya.


Terlihat lelaki itu memejamkan matanya, tidak ingin segera mengakhiri pelukannya. “Aku kangen kamu!” lirih Emil sambil menghirup dalam-dalan parfum soft citrus yang masih menempel di snelli Riella.


“Kemarin juga baru bertemu,” lirih Riella lalu berbalik menghadap ke arah Emil. Matanya menangkap bola mata Emil yang memerah. “Kenapa matamu merah? Pasti kamu minum lagi, kan?!” tanya Riella dengan nada marah. Emil langsung menganggukan kepalanya ragu, takut Riella akan mengomelinya.


“Aku nggak kuat menahan rindu padamu, hanya minuman itu yang bisa membuatku lupa, Sayang! Lagian kemarin ada Samuel juga, yang bisa menjagaku,” jelas Emil lembut membelai rambut Riella.


“Jangan menemuiku, jika kamu lebih memilih minuman itu!” ancam Riella menatap tak suka ke arah Emil.


“Sayang, ini karena kamu yang meninggalkan aku di rumah papamu! Lagian, aku juga harus meneliti satu persatu minuman yang ada di sana,” kata Emil mencari alasan supaya Riella mau mengerti keadaannya, “sudah lupakan! Aku datang karena ada yang ingin aku tanyakan padamu. Siapa yang mengantarmu kemarin? Kata pak Tejo ada mobil mewah mengantarmu pulang?”


Riella hanya tersenyum kecut sambil berjalan menuju kursi kerjanya. Dia dengan nyaman duduk di sana sambil melepaskan sarung tangan yang masih ia kenakan, lalu melemparkannya ke kotak sampah.


“Sayang …” panggil Emil yang mendekat ke arah Riella, setelah tak mendengar jawaban dari kekasihnya.


“Kenzo. Aku bertemu dengannya, di kedai es krim,” jawab Riella acuh.


Emil yang mendengar jawaban dari Riella, merasa kesal, air mukanya langsung berubah, ada sejumput amarah yang ia tampilkan ke arah Riella. Tidak terima jika Kenzo mengantar Riella pulang ke rumah. Harusnya gadisnya itu menghubunginya.


“Ada apa denganmu? Kenapa mau diantar lelaki itu? kamu jangan memberinya celah, Sayang!” kata Emil yang sudah meninggikan suaranya. Dia tahu siapa Kenzo, kekasihnya sudah menceritakan semua hal tentang Kenzo padanya.


“Ber-le-bih-han!” kata Riella menekankan ucapannya, “dia hanya mengantarku, kebetulan kita bertemu di kedai es krim,” lanjutnya menjelaskan.


“Bukannya kamu membawa mobil?” Emil menatap curiga ke arah Riella.


“Iya, mobilku dibawa Eva.” Riella menjawab tanpa menatap lelaki di depannya, dia mencari kesibukkan lain menghindari tatapan Emil.


“Harusnya pulang dengan Eva, atau kamu bisa menghubungi aku!” kata Emil dengan nada kesal.


“Sudahlah Kak Emil keluar saja jika ingin berdebat denganku, aku lelah Kak, aku ingin istirahat!” usir Riella menatap kesal ke arah Emil.


Emil justru mendudukan tubuhnya di kursi depan Riella, tidak menuruti perkataan Riella, dia lalu membawa tangan Riella untuk di genggam. Menenangkan supaya kekasihnya itu tidak semakin emosi.


“Berjanjilah padaku untuk tidak menemuinya lagi.”


“Kamu tahu itu mustahil. Kamu tahu bagaimana dekatnya keluargaku dan keluarganya! Bahkan papa sudah berniat menikahkan aku dengannya!”


Sampai di ruangan yang bernuansa klasik, Riella meminta Emil untuk duduk di sofa ruang keluarga, ruangan bekas papanya itu memang tidak terlalu besar, tapi semuanya lengkap, ada ruangan kecil yang dipakai untuk menyimpan buku-buku milik Erik semasa dulu masih pratik di rumah sakitnya, dan di samping dapur terdapat pintu yang menghubungkan dapur dan balkon, ada taman kecil di sana yang biasa Riella gunakan jika ia merasa suntuk atau lelah. Ruang tv yang tidak terlalu besar, hanya televisi 40 inch yang sangat jarang ia nyalakan. Riella lebih memilih membaca buku, atau cerita-cerita fantasi yang bisa membuat pikirannya liar, dari pada melihat tayangan telvisi.


Riella kembali ke arah ruang keluarga, di mana Emil tengah menekan-nekan remot televisi yang ada tangannya. Ia meletakkan minuman dingin bewarna merah di depan meja yang Emil duduki.


“Anggur?” goda Emil sambil tersenyum ke arah Riella.


“Iya, anggur kawe!” ketus Riella sambil mendudukan tubuhnya di samping Emil, “aku sudah memesan makan siang, semoga segera datang,” lanjutnya melepas jas putih yang ia kenakan tanpa melihat Emil yang menatap penuh gairah ke arahnya.


“Biarkan aku memakanmu dulu, sebelum makan siang datang.” Emil mengalungkan tangannya di tengkuk leher Riella, meminta Riella untuk menatapnya.


“Dasar!” kata Riella menghindari tatapan Emil yang sudah ia pahami.


“Kamu tahu jika kamu seperti ini, aku semakin penasaran, bagaimana rasanya jika kita melakukannya dengan wajahmu yang tengah marah itu!” kata Emil merayu, memainkan rambut Riella dengan jari telunjuknya. Tangannya yang bebas hendak melepas kemeja yang Riella kenakan. Tapi tangan Riella segera mencegah tangannya.


“Kak! Sepertinya kita salah. Tidak seharusnya kita melakukan hubungan sejauh ini!” Riella menjauhkan badannya menjauh dari Emil.


“Semua sudah terlanjur Sayang, apa kamu takut aku akan lari darimu!” Emil justru mendekati Riella, meraih pinggang Riella untuk mendekat lagi ke arahnya.


“Bu-bukan begitu Kak. Tapi kita salah! Kita melakukan dosa besa-”


Tanpa mendengar ucapan wanitanya, Emil justru membungkam Riella dengan bibirnya, menikmati bibir itu sesukanya. Perlahan tangannya mendorong tubuh Riella bersandar di sisi sofa, mengukung tubuh Riella dengan tubuhnya, membuat kedua tangan Riella kini bergantian berada di bawah kendalinya.


“Aku mencintaimu! Aku tidak akan membiarkan kamu lepas dariku Sayang. Jadi tidak perlu khawatir lagi,” bisik Emil di samping telinga Riella, setelah itu Emil kembali menciumi bibir merah Riella dengan rakus, menahan tubuh Riella supaya kekasihnya itu tidak menolak keinginannya. Tangannya satu persatu mulai menanggalkan pakaian Riella, hingga ia bisa melihat keindahan tubuh Riella di depannya.


“Kita akan menikah, beri aku waktu untuk memulai semuanya dengan baik, percayalah padaku! Jangan ragu untuk menghabiskan waktu denganku, karena sampai kapanpun kamu hanya milikku,” kata Emil sambil melepas baju yang ia kenakan. Janji manis terus ia ucapkan mengiringi kegiatan penyatuannya dengan Riella, mengulangi dosa yang akan semakin bertambah setiap harinya.


Riella terbuai dengan setiap kata-kata manis yang Emil keluarkan, ia tidak bisa menolak setiap sentuhan yang selalu menghangatkannya. Hatinya menolak kegiatannya ini, tapi tubuhnya bisa merespon dengan cepat apa yang Emil lakukan padanya, ia mampu menikmati setiap gerakkan lembut dan kasar, dengan ritme cepat maupun lamban yang dilakukan Emil, hingga puncak kenikmatan itu menyerang pertahanan yang sudah ia susun, membuat suara erangan keras keluar dari bibir sexynya, berlomba mengeluarkan suara kelegaan dengan lelaki di atasnya.


Emil menindih tubuh Riella yang berada di bawahnya, tangannya meraih tub kecil yang ada di saku celana yang jatuh di samping sofa. Dia mengambil satu butir obat kecil bewarna pink dari tub kecil tersebut, lalu meminta Riella untuk membuka mulutnya.


“Kamu juga belum siapkan, jika mengandung anakku?” katanya diiringi seringai tipis dari bibirnya. Ia lalu beranjak dari atas tubuh Riella, meraih minuman bewarna merah lalu menyodorkannya di bibir Riella. Emil meraih tisu di atas meja, lalu mengusap sisa cairan yang tertinggal di inti Riella dengan tisu yang ada di tangannya, mencoba memberikan perhatian kecil untuk kekasihnya.


🚑


🚑


Jangan lupa dukungannya ya, tekan like, tinggalkan komentar, dan vote seiklasnya. Matur suwun sanget ; terima kasih banyak.🙏