
Sesaat kemudian terdengar bunyi pintu rumah diketuk. Riella segera beranjak dari tempat duduknya, membuka pintu lebar, tampak Nindi berada di depan pintu tersenyum ramah ke arahnya.
"Selamat pagi La," ujar Nindi lebih dulu menyapa menantunya.
“Pagi, Ma.” Riella menjawab singkat sapaan mertuanya, lalu membawa Nindi masuk ke dalam rumah.
“Kamu sudah mandi?” tanya Nindi menelisik tubuh Riella yang mengenakan celana pendek dan kaus warna putih yang menonjolkan lekuk tubuhnya.
“Sudah dong, Ma. Sudah siang juga,” jawab Riella melihat ke arah jam dinding sambil menuntun Nindi untuk duduk dengannya di meja makan.
“Tadi Kenzo menghubungi mama, katanya dia meneleponmu tapi tidak kamu angkat, jadi Kenzo meminta mama untuk datang ke sini, untuk elihat kondisimu,” ucap Nindi mengungkapkan maksud kedatangannya.
Riella hanya mengangguk paham, “dari tadi Riella di dapur, Ma. Jadi tidak dengar kalau Kenzo telepon Riella.”
“Ow, begitu. Di dapur? Kamu masak apa?” tanya Nindi penasaran, karena dia tahu kalau menantunya ini tidak bisa masuk area dapur untuk memasak maupun menyusun belanjaan, tapi dia paham Ella mendidiknya seperti itu untuk menjadikan Riella wanita karir, bukan wanita rumahan.
“Nggak masak kok, Ma. Hanya sarapan roti yang dikirim mama tadi,” jelas Riella menunjuk ke arah roti yang tinggal sepotong.
“Roti?” Nindi mengernyit setelah mendengar ucapan Riella. Meraba apa yang sebenarnya terjadi dengan pernikahan anaknya.
“Iya roti panggang.”
“Tapi, mama baru saja datang, dan nggak mengirim roti untukmu,” kata Nindi menjelaskan.
“Berarti?” lirih Riella sambil memikirkan perkataannya sendiri, ia menyadari jika roti panggang tadi buatan Kenzo.
“Ya, mungkin Kenzo yang membuatnya untukmu,” kata Nindi menebak kelakuan anak lelakinya. Riella mengangguk, lalu menghabiskan lagi roti yang tinggal sepotong.
“Ganti bajumu! Mama akan membawamu menemui anak-anak. Mereka pasti senang kalau melihatmu di sini,” ajak Nindi menoleh ke arah bangunan panti asuhan.
Riella memikirkan permintaan Nindi, mungkin ini lebih baik dari pada harus di rumah dan teringat dengan manusia lucknut yang beberapa hari hinggap di otaknya.
“Baiklah, Ma. Mama ke sana dulu saja, nanti Riella menyusul,” kata Riella meminta Nindi untuk meninggalkan kan ya.
“Nggak. Mama akan menunggumu di sini.” Nindi menolak permintaan Riella karena ia paham sifat menantunya..
Mendengar ucapan Nindi, Riella akhirnya mengalah, dia berlari kecil ke arah kamarnya, bersiap untuk berkunjung ke panti asuhan.
“Mama tu seneng kalau ada anak perempuan yang datang di lingkungan mama, kamu pasti tahu kan, sejak Khalisa pergi mama merasa kesepian, Kenzo dan papanya sibuk mengurus pekerjaan. Mama semakin kesepian di rumah. Jadi hanya anak-anak itu yang menjadi hiburan mama,” kata Nindi menujuk ke arah anak-anak kecil yang tengah bermain di halaman panti.
Riella mengikuti petunjuk arah dari Nindi. Melihat dengan jelas ada sekitar 15 anak. Mereka tengah bermain di depan rumah.
“Ma. Ada apa dengan kematian Khalisa? Dan kenapa keluarga menyembunyikan penyebab kematian Khalisa?” tanya Riella yang penasaran dengan apa yang terjadi dengan keluarga Kenzo.
Nindi menunduk sambil mengamati langkah kakinya, dia ingin sekali mengatakan semuanya pada Riella, agar Riella tidak salah paham dengan anaknya. Tapi ia tidak mampu, menurutnya itu hanya akan memperkeruh hubungan Kenzo dan Riella.
“Tunggu waktu yang tepat, pasti Kenzo akan menceritakan semuanya padamu. Dia yang paling menderita di sini, jadi mama tidak ingin mendahului apa yang mama ketahui.” Setelah mengatakan itu Nindi mengalihkan pembicaraan, ia menepuk tangannya memanggil anak-anak asuh yang tengah berlarian di halaman rumah.
“Anak-anak ayo ke sini!” teriak Nindi sambil melambaikan tangan. Mereka yang mendengar pun segera menghambur ke arah Nindi mengerubungi kedua wanita yang berbeda generasi. “Kenalan dulu sama, Kak Riella,” kata Nindi menunjuk ke arah Riella.
Riella tersenyum ramah ketika mereka satu persatu menghambur mencium tangannya. Hatinya sedikit terhibur melihat kelucuan mereka.
“Siapa namamu, Sayang?” tanya Riella, Ia menghentikan gadis kecil yang hendak kembali bermain dengan rekannya.
“Namaku Kaila, Kak. Kak Riella cantik sekali, nggak kalah cantik sama mama Lintang,” puji gadis cantik yang mengenakan dress warna pink, ia terus mengamati Riella.
“Makasih Sayang ..., siapa Lintang?” tanya Riella yang penasaran.
“Itu nah, Kak. Pacarnya om Kenzo.” Gadis itu menjawab pertanyaan Riella, setelah itu dia kembali berkumpul dengan teman-temannya.
Berbeda dengan Riella yang membulatkan matanya saat mendengar jawaban Kaila. Dia ingin menyusul gadis yang tadi berbicara dengannya, bertanya lagi tentang Kenzo dan Lintang. Tapi mendengar suara Nindi yang memanggil namanya dia memupus niatnya, lalu kembali mendekat ke arah Nindi.
🚑
🚑
🚑
🚑
Next?