
Beberapa jam sebelumnya ...
Singapura at 7.00 a.m
Kenzo yang baru menyelesaikan mandinya, berniat untuk menghubungi Riella. Karena dari kemarin ia tidak mengabari istrinya, karena sibuk di rumah sakit. Kenzo duduk di tepi ranjang, masih dengan handuk putih yang melilit tubuhnya. Tangannya segera membuka kunci layar ponsel, satu pesan dari nomor tidak dikenal masuk ke dalam nomornya.
Tanpa rasa curiga apapun Kenzo segera menekan kata buka yang ada di layar. Sebuah video berdurasi 45 detik cukup membuatnya naik pitam. Ia ingin meluapkan amarahnya, tapi tidak tahu dengan cara bagaimana. Ia masih membutuhkan ponsel, jadi tidak mungkin melemparnya begitu saja.
Kenzo lalu segera menghubungi Alby, satu panggilan tidak terjawab, membuat darahnya kembali memanas, hingga panggilan ke tiga terdengar suara serak dari Alby.
“Siapkan tiket pulang, sekarang!” Kenzo memerintah tanpa sapaan lebih dulu pada Alby.
Lelaki yang berada di Indonesia kebingungan, karena memikirkan bagaimana cara mendapatkan tiket secepat yang di inginkan Kenzo. Apalagi dia, tidak mungkin membatalkan janjinya dengan dokter yang menangani Kenzo selama ini.
“Kau dengar aku, Al!” suara dingin Kenzo kembali terdengar, lebih ingin menerkam Alby, dari pada bertanya pada rekannya.
“Tapi Bang, ini jadwal teraphy terakhir. Abang harus di sana dulu, aku sudah mengatur jadwal dengan dokter Lucas,” jelas Alby menolak halus permintaan Kenzo.
“Aku tidak perduli, Al! Cepat cari tiketnya. Aku akan pulang hari ini juga!” bentak Kenzo memaki pria di ujung telepon.
“Ini teraphy terakhir, Bang. Atau Abang akan mengulang lagi dari awal!” bujuk Alby, meminta Kenzo untuk tetap berada di Singapura.
“Ck. Bodoh! Emangnya aku peduli dengan itu. Segera lakukan yang aku perintahkan padamu!” kata Kenzo yang sudah mulai emosi.
“Bang. Sudah setahun Abang menjalaninya! Dan tinggal satu langkah lagi!” ucap Alby tak kalah emosi.
“Kalau kamu nggak mau membelikan tiketnya, ya sudah, aku bisa membelinya sendiri!” ancam Kenzo tapi percuma karena Alby masih saja menolaknya.
“Bang!”
“Stop Al! Kamu nggak tahu apa yang aku rasakan saat ini! Jadi lakukan saja perintahku!” setelah itu Kenzo menutup panggilannya. Mencoba meredam rasa emosi yang terus ingin ia keluarkan. Bunyi pesan masuk kembali mengalihkan perhatiannya, nomor yang sama dengan yang mengirim video padanya. Kenzo yang penasaran, kembali membukanya lagi.
0857991562xxx : Lain kali jika bepergian jangan meninggalkan istrimu sendiri, karena banyak lelaki yang mampu menghangatkannya.
Kenzo semakin tidak bisa menahan emosinya, ia melempar ponsel yang baru sebulan ia beli, tanpa membalas pesan singkat dari pengirim telepon. Cengkraman tangannya mengepal erat, mewakili perasaanya yang tengah ia rasakan. Istrinya melakukan zina dengan pria lain. Sedangkan dengannya, demi mengatas namakan cinta ia menghargai keputusan Riella, menunggu sampai istrinya itu mau menerimanya lagi.
Kamar hotel menjadi sasaran emosinya. Kenzo meluapkan gemuruh hati yang ia rasakan saat ini. Setelah merasa sedikit reda, Ia memutuskan untuk pergi dari hotel saat itu juga. Terlalu lama jika harus menunggu Alby, terlebih lagi ponselnya juga sudah tidak bisa digunakan, jadi Alby tidak akan mampu menghubunginya.
Kenzo menyesali karena sudah melempar ponselnya, dia mengalami kesulitan saat tiba di bandara, karena penerbangan ke Jakarta hanya ada saat jam siang. Dan dia tidak bisa melakukan apapun di sana, hanya bisa menunggu hingga panggilan untuk masuk ke kabin pesawat terdengar. Banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan untuk Riella. Dia memikirkan bagaimana sikap yang akan ia berikan saat pertama kali bertemu bertemu Riella.
Tiba di Jakarta Kenzo segera mencari taksi untuk mengantarnya pulang. Erik yang saat itu berada di depan rumah terkejut dengan kedatangan Kenzo yang seharusnya masih besok. Ia lalu menyapa Erik sebentar, lalu masuk ke rumah.
“Riella mana, Ma?” tanya Kenzo saat mendapati Ella tengah sibuk di dapur.
“Hem, kamu nggak ngabari dia, ya. Kalau mau pulang? Pantas saja dia pergi. Ada pertemuan dengan Tiffani siang ini, baru setengah jam yang lalu dia berangkat.” Ella menjelaskan sambil menyiapkan makan malam.
Perasaan Kenzo semakin kacau saat mendengar jawaban Ella. Istrinya kemarin bilang jika akan bertemu dengan Tiffani. Mungkin istrinya membohongi orang tuanya atau dia lah yang sedang dibohongi Riella. Memikirkan itu membuat kepala Kenzo semakin berdenyut sakit.
“Ken ke atas dulu ya, Ma. Jangan kasih tahu Riella kalau Ken sudah pulang. Bukan apa-apa tapi Ken hanya ingin memberi kejutan untuk Riella,” minta Kenzo pada mertuanya.
“Ya, Mama paham. Sana naiklah, mungkin sebentar lagi dia pulang.” Ella tersenyum kecil sambil meletakkan makanan di meja makan.
Di dalam kamar, sudah satu jam Kenzo menunggu Riella, tapi istrinya belum juga pulang ke rumah. Hari sudah mulai gelap, ia yang sajak tadi jalan jalan di kamar Riella kini beralih duduk di sofa, menanti mobil Riella yang akan memasuki pekarangan rumah Erik. Tapi tetap saja, mobil istrinya tidak kunjung terlihat.
Kenzo bernafas lega, saat melihat cahaya mobil Riella masuk ke dalam rumah. Tapi kini, ia bingung harus bagaimana menyikapinya. Ia sengaja tidak menyalakan lampu kamar. Bersembunyi di kegelapan, sambil Kenzo merapikan dirinya, supaya tidak tampak kacau saat bertemu Riella. Sesaat kemudian pintu dibuka kasar oleh Riella, terdengar isakkan tangis Riella yang mampu melunturkan sedikit emosinya. Ia ingin memeluk Riella menangkan istrinya, menanyakan apa yang terjadi lalu membawanya kepelukan. Tapi ia tidak mampu, rasa amarahnya belum sepenuhnya hilang.
“Ken.”
Kenzo masih terdiam saat mendengar panggilan Riella. Menunggu sampai Riella benar benar mengetahui kehadirannya.
Kenzo memejamkan mata ketika lampu menyala, sedikit silau ketika mata abunya terkena sinar lampu, memperlihatkan tubuhnya yang terbalut kemeja hitam. Tapi ia bisa melihat senyuman di wajah istrinya. Rasa amarahnya meredup saat melihat wajah Riella yang tampak senang ketika mendapatinya pulang.
Namun, emosinya kembali membara ketika ia melihat tanda merah di leher Riella. Itu adalah bukti dari video yang ia terima tadi pagi. Kenzo menutupi gundah hatinya dengan senyuman. Sampai kejadian pemaksaan itu terjadi. Amarahnya benar-benar hilang bersama larva putih yang ia keluarkan di rahim istrinya, ia tidak peduli bagiamana ke depannya.
Setelah melihat Riella terlelap, Kenzo baru merasakan perutnya yang kelaparan. Ia ingat jika perutnya hanya terisi roti gandum saat menunggu pesawat di ruang tunggu bandara. Tidak ingin menganggu Riella, ia beranjak dari ranjang, membersihkan tubuhnya lalu turun ke arah dapur.
“Kenapa nggak bilang?” tanya Riella yang sudah menekuk tangannya di depan dada.
Kenzo tersenyum tipis, “Kamu telihat kelelahan, jadi aku lebih baik baik membuatnya sendiri. Apa kmu sudah makan? Duduklah kita makan bersama!” Perintah Kenzo membawa semangkok mie ke meja makan.
“Enggak kenyang aku makan segitu, perutku lapar sekali,” tolak Riella sambil membuka lemari pendingin mencari makanan yang bisa untuk ia nikmati.
“Duduklah!” perintah Kenzo menghampiri Riella, lalu mendudukannya di meja makan.
Riella memilih menurut, ia mulai membuka mulutnya ketika Kenzo menyuapinya sesuap makanan kendalam mulutnya.
Riella jadi teringat ucapan Erik kemarin, untuk menganggap ini adalah makan bersama terakhirnya dengan Kenzo, jadi dia harus menggunakan waktu dengan sebaik mungkin. Karena kita semua tahu, jodoh dan kematian itu rahasia Allah.
“Aku ambilkan minuman, kamu mau minum apa?” tawar Riella.
“Duduklah biar aku saja yang mengambilkan untukmu,” tolak Kenzo yang sudah beranjak dari duduknya. Melihat itu, tangan Riella segera menahannya.
“Aku istrimu, Ken!”
Kenzo tersenyum tipis ke wajah Riella, saat mendengar ucapan istrinya. Hatinya berbunga-bunga mendengar Riella sudah mau mengakui statusnya.
“Akhirnya kata keramat itu keluar dari bibirmu!” kata Kenzo yang kembali duduk di meja makan.
“Istri pemuas nafsu,” kata Riella sambil berjalan ke arah dapur, menghindari bibir Kenzo yang hendak mencium pipinya. Hanya lirikan mengancam yang diberikan Kenzo mengiringi langkah Riella yang berjalan ke arah dapur.
“Besok aku harus ke Bali, apa kamu mau ikut?” tanya Kenzo saat Riella sudah kembali ke meja makan.
“Besok?" tanya Riella bingung. "Bukannya acara temanmu masih dua hari lagi, kenapa harus besok berangkatnya?”
“Nggak papa sih, cuma kan lebih enak kalau waktunya tidak terlalu mepet. Mau ikut?” jelas Kenzo memastikan Riella.
“Nggak bisa, lusa ada pertemuan dengan dokter baru di rumah sakit.” Riella menatap wajah Kenzo yang nampak cemberut. “Jangan kecewa gitu, kan acaranya masih 2 hari lagi, begitu acaranya nanti kelar. Aku akan menyusulmu ke Bali.”
“Atau aku berangkatnya nungguin kamu saja. Kita berangkat bersama lebih baik sepertinya.”
“Nggak perlu, kamu duluan saja,” sahut Riella sambil membawa mangkok bekas mie ke dapur.
“Kamu nggak akan macam-macam kan, La? Cukup yang kemarin saja, please!” kata Kenzo memohon.
“Ken, aku sudah bilang aku tidak melakukannya.”
“Entahlah, tapi semua bukti membenarkannya, La. Video di ponselku, dan tanda ini.”
“Mana ponselmu!” minta Riella mengulurkan tangannya di depan Kenzo, setelah selesai mencuci mangkok yang tadi ia pakai.
“Ponsel?” tanya Kenzo menampilkan kerutan dahinya. Riella mengangguk cepat sebagi jawaban dari Kenzo. Ia juga penasaran karena sejak pagi tidak bisa menghubungi suaminya.
“Ponselku hancur.”
Riella tersenyum tipis, “Kasihan ponselnya jadi korban amarahmu!”
"Entahlah, mendingan begitu, dari pada aku harus melihatmu dengannya!"
"Ken. Maksudmu video aku dan Emil?!" tanya Riella. Sedikit takut jika itu benar terjadi.
"Maaf Ken, itu video ...."
"Sttt jangan katakan lagi. Masa lalu biarlah berlalu, aku yang akan ada untukmu sekarang dan berikutnya."
🙄
🙄
🙄