The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
Cemburu



Jangan lupa vote ya, biar rangkingnya bertahan😭. Terima kasih yang sudah ikhlas🙏


Kenzo berjalan lebih dulu menghampiri Nindi yang ada di ruang keluarga. Di sana ada Kaila dan Lintang, yang mengikuti Nindi di belakangnya. Sedangkan di tangan Nindi ada bayi lalu yang tengah memejamkan mata. Tanpa Kenzo duga Lintang menghambur memeluk erat tubuhnya.


“Syukurlah Kakak selamat. Aku khawatir sekali saat mendengar Kak Kenzo ikut naik pesawat yang jatuh itu!” ungkap Lintang menceritakan perasaan sedihnya pada Kenzo. Kenzo membalas mengusap rambut Lintang yang kini memeluknya.


Tidak lama kemudian terdengar suara deheman dari Nindi. Saat ia menyadari kehadiran Riella di belakang tubuh Kenzo. Nindi mengisyaratkan Kenzo supaya mengurai pelukan Lintang, takut jika Riella cemburu dengan Lintang. Dan itu akan membuat masalah yang panjang menurutnya.


“Bayi siapa ini, Ma?” tanya Riella, sikapnya tidak begitu memperhatikan Kenzo yang tengah berpelukan. Lain dari perasaannya yang merasa gundah gulana, melihat Kenzo memeluk wanita lain di depannya.


“Em ... ini, tiga hari yang lalu ada pengurus Dinas Sosial datang dan menitipkan bayi ini ke sini,” jelas Nindi membuka penutup kepala yang menutupi lebatnya rambut bayi laki-laki yang ada di gendongannya, pipi merahnya tampak berisi dan tampak menggemaskan di mata Riella.


“Lucu sekali kamu? Orangtuanya ke mana, Ma?” tanya Riella menyentuh pipi bayi yang ada di gendongan Nindi.


Nindi diam sejenak, sambil menatap bayi yang da di gendongannya.


“Emm, kecelakaan di Km. 91 dia satu-satunya yang tertinggal, jadi pihak dinas sosial memberikan pada kita. Dan Mama ingin, kalian merawatnya, kasihan dia baru satu bulan harus ditinggal keluarganya. Harusnya, kan, di usia sekarang dia harus mendapatkan ASI eklusif untuk asupan gizinya.” Nindi menjelaskan asal-asul bayi yang ada di gendongannya.


Riella yang mendengar cerita Nindi, hati kecilnya merasa tersentuh. Bayi merah itu harus mengalami hal yang hampir serupa dengannya. Ditinggal pelindungnya, bedanya ia masih bisa bertemu dengan mamanya, dan bedanya lagi ia punya papa yang tangguh.


“Hei ... Sayang, jangan khawatir Mami akan merawatmu!” kata Riella mengambil bayi lelaki yang ada di gendongan Nindi.


Kenzo yang sudah terlepas dari pelukan Lintang, mendekat ke arah Riella. Turut melihat bayi laki-laki yang tampan di tangan Riella.


“Siapa namanya, Ma?” tanya Kenzo mengusap rambut lebat sang bayi, membuat bayi itu membuka mata jernihnya. Bibirnya bergerak mencari sesuatu yang bisa melepaskan rasa laparnya.


“Dia haus Nee. Bikinkan susu dulu biar aku yang bawa!” perintah kenzo berusaha mengambil bayi dari tangan Riella.


“Namanya Aslan, tapi kalau kalian mau menggantinya, nggak papa sih. Ambil saja botol susunya di mobil, La!” jawab Nindi.


“Nggak perlu, nama yang bagus. Biarlah Aslan menjadi singa yang akan melindungi saudara-saudara nanti dengan kemampuannya.” Kenzo lalu mengangkat Aslan mendekat ke arah wajahnya.


“Hai Aslan, ada Papi di sini. Jangan takut ya,” kata Kenzo berbisik di telinga bayi di tangannya. Tak lama kemudian Riella kembali dengan sebotol kecil susu yang tadi ia ambil dari mobil Nindi. Lalu menyerahkan pada Kenzo.


“Semoga dengan hadirnya Aslan, bisa menambah kebahagian keluarga kalian,” ujar Nindi sambil menyerahkan pakaian bayi yang tadi Lintang letakkan di meja tamu.


“Kak Kenzo bisa mengurusnya nggak atau mau Lintang bantuin?” tawar Lintang membuyarkan pandangan Kenzo, saat tengah memberikan susu pada Aslan.


“Nggak perlu sepertinya, ada istri kakak yang pintar mengurus bayi.” Kenzo lalu menatap ke arah Riella, “iyakan Bee?” tanya Kenzo merengkuh pinggang Riella yang ada di sampingnya.


Riella mengangguk, menyetujui ucapan Kenzo. Entah kenapa hatinya tersentuh ketika mendengar bayi Aslan tidak memiliki orangtua. Dalam hatinya berniat ingin merawat Aslan dengan baik. Entah kenzo menyetujui atau tidak tapi niatnya sudah bulat.


“Baiklah, kalau begitu atau bisa panggil Lintang kalau Aslan mau dimandikan, biar Lintang bantuin, kan, Kak Riella belum pernah pegang bayi,” pesan Lintang menatap Riella.


“Nggak perlu, saya bisa kok.” Terdengar penolakan langsung dari Riella. Dalam hatinya tidak terlalu menyukai Lintang yang ingin berusaha dekat dengan suaminya. Meski dia sadar, jika Kenzo belum di hatinya, tapi ia juga tidak ingin ada wanita lain yang akan merusak hubunganya dengan Kenzo. Dia paham bagaimana tipe pelakor karena pengalamanannya di masa lalu.


“Ya sudah, mama pulang dulu kalau begitu. Ayo Lintang, Kaila!” ajak Nindi pada anak asuhnya. Meninggalkan Aslan bersama Riella dan Kenzo.


“Kamu meragukan aku?” balas Riella dengan pertanyaan. Ia lalu mengambil, dan membawa Aslan masuk ke dalam kamar. Botol itu masih di pegang Riella, terlihat dengan jelas, Aslan masih kuat menyedot kuat niple- nya.


“Kamu suka bayi Aslan?” tanya Kenzo saat melihat Riella menidurkan Aslan di ranjang, dengan Riella tidur menyamping memegangi botol.


“Sebenarnya, aku nggak terlalu suka dengan anak kecil, cuma mendengar cerita mama aku jadi teringat masa bayiku dulu. Aku tidak ingin Aslan bernasib sama denganku,” jelas Riella menciumi pipi gembul Aslan.


“Berjanjilah untuk merawatnya dengan baik! Anggap Aslan sebagai anak pertama kita!” kata Kenzo turut merebahkan tubuhnya di sebrang Riella.


“Hmmm lalu Kaila?” tanya Riella heran karena Kenzo tidak menyebutkan nama Kaila.


“Biarkan dia diasuh Mama, karena mungkin sebentar lagi, dia juga akan diambil eyang nya,” jelas Kenzo menyentuh tangan Aslan. Memainkan satu persatu jari bayi Aslan. “Nggak mau kamu Asi saja?” lanjut Kenzo dengan senyum yang tidak bisa diartikan.


“Nanti kamu cemburu? Kenapa milikku di kasihkan pada orang lain!” ucap Riella, berbicara dengan nada yang dibuat seperti layaknya suami tengah merajuk karena miliknya dikuasi sang bayi.


Kenzo yang mendengar pun tersenyum, ia beranjak dan berpindah di sisi Riella. “Belum juga aku mendapatkanmu tapi perhatianku sudah terbagi dengan Aslan,” kata Kenzo protes.


“Emm, ya siapa tahu saja, dengan adanya Aslan kita bisa dekat lagi. Terkadang cinta datang di waktu yang tidak pernah kita duga. Iya kan, Aslan. Doa kan mamimu ya?”


“Yah, asal jangan sampai kamu terlambat mencintaiku, Nee.” Kenzo lalu memberikan kecupan kecil di lengan Riella, “mandilah dulu, biarkan aku yang menjaga Aslan.” Kenzo memeluk tubuh Riella dari samping, membuat Riella bingung karena ucapan Kenzo tidak seperti apa yang fisiknya lakukan. Tangannya mulai menjalar mencari benda kecil yang seharusnya kini diberikan pada Aslan.


“Stop, nanti Aslan nangis!” peringat Riella ketika Kenzo menemukan ujung squishy kesukaannya, dan itu membuat tangannya yang memegang botol Aslan terganggu


“Nah, Kan!” peringat Kenzo, "kau dengar sendiri Aslan! Bagaimana Neene lebih memilihmu," protes Kenzo.


“Sudah, aku mau mandi. Kamu pegang dulu ini botol susunya,” kata Riella sambil meminta Kenzo menggantikan tangannya.


“Baiklah, mandi yang bersih biar enak dimakan!” pesan Kenzo, sambil menepuk sekali pantat Riella saat istrinya melewati tubuhnya hendak turun dari ranjang.


“Lama-lama nglunjak kamu ya! Untung aku istrimu! Kalau tidak sudah aku laporin kamu, ke perlindungan hak asasi manusia!” maki Riella, mengusap pantatnya yang terasa panas.


“Kalau bukan istriku, mana aku berani, Nee ...” sahut Kenzo.


“Nggak berani apa? Tadi siapa yang peluk-peluk wanita lain di depan istri! Itu pasti untung banyak, bisa merasakan gesekan benda baru di dadamu!” ungkap Riella bersungut-sungut.


“Heh, otak kamu kenapa begitu mikirnya? Kan sudah dijelasin jika kita hanya sebatas kakak adik, seperti halnya aku dan Alby, Nee.” Kenzo menjelaskan dengan sedikit senyuman yang ia tahan.


“Hemm... dengan Alby aku bisa mengerti karena dia pria, karena aku tahu kamu bukan penyuka pisang. Tapi dengan Lintang itu beda, Bee!” Riella masih melanjutkan protesnya, dia harus memenangkan perdebatan kali ini. Supaya suaminya juga bisa menjaga jarak dengan Lintang.


“Kamu cemburu ya?” tanya Kenzo memperhatikan wajah Riella.


Riella mulai gelagapan, berusaha menyangkal apa yang ditanyakan Kenzo. Mencari arah pandang lain ke arah bayi Aslan. Lalu segera berlari menuju kamar mandi, menutup kasar pintu kamar mandi. Tidak ingin melanjutkan perdebatannya.


“Siapa juga yang nggak cemburu, miliknya di peluk-peluk wanita lain,” gumam Riella ketika berada di kamar mandi. Baru saja dia melepas lapisan pertama bajunya teriakan pertama keluar dari Kenzo.


“Nee ... Aslan nangis cepatlah keluar!”