
Malam pertama di Banjarmasin, Riella merasa asing dengan udara yang terasa panas. Pendingin udara yang ada di kamar belum dinyalakan karena ia tidak tahu di mana letak remot control-nya. Sedangkan sang pemilik masih menjamu tamu yang datang setelah ia makan malam tadi.
Riella berjalan ke arah jendela, menyingkap gorden warna putih, lalu membuka jendela kamar supaya ada udara masuk ke ruanganya. Sorot lampu terlihat jelas menyinari jalan setapak menuju rumah mertuanya, sama-sama rumah panggung yang terbuat dari kayu Ulin, ada juga yang menyebutkan kayu besi, karena semakin terkena air kayu itu akan semakin kuat.
Suasana tampak sunyi, hanya terdengar suara burung hantu yang bertengger di pohon besar di samping rumahnya. Berbeda saat di Jakarta, kalau jam segini biasanya dia masih bersama Emil, memadu kasih bersama. Riella mengusap wajahnya kasar saat bayangan Emil kembali hadir. Dia berusaha kuat untuk tidak mengingat Emil lagi, memulai hidupnya dengan Kenzo. Tapi, ia juga tidak bisa janji, harus berapa lama rasa itu akan hadir.
Riella menatap bangunan rumah yang jauh dari rumahnya. Ada satu bangunan lagi di sebelah rumah mertuanya, cukup besar jika dibandingkan dengan rumah yang ia tempati. Tapi bangunan itu tampak sepi. Tidak ada lampu yang menyala di sana, karena penghuninya mungkin sudah terlelap.
“Belum tidur?” sapa Kenzo saat masuk ke kamar, menatap ke arah Riella yang masih duduk di samping jendela.
Riella sedikit tersentak dengan suara Kenzo yang mengejutkannya, karena memang tidak ada suara pintu terbuka saat Kenzo tadi membukanya.
“Hemm. Belum. Kebiasaan selalu ngagetin!” Riella tidak bergerak sedikit pun dari posisinya, masih menatap ruang terbuka yang tampak luas, menghiasi pemandangan malam ini.
Kenzo yang penasaran mendekat ke arah Riella, mengikuti arah pandang Riella yang memperhatikan bangunan di samping rumah orangtuanya.
“Itu panti asuhan. Besok kamu bisa ke sana dengan mama.” Kenzo menjelaskan setelah mengerti apa yang dilihat Riella.
“Kamu?” tanya Riella menoleh ke arah Kenzo yang berdiri tepat di belakangnya.
“Aku besok harus ke kantor, ada banyak pekerjaan di sana. Tapi tenang saja, aku berangkat siang kok. Jadi nggak perlu kamu menyiapkan sarapan untukku, santai saja!” kata Kenzo diakhiri senyuman tipis.
“Syukurlah, lagi pula aku juga nggak bisa memasak.”
Kenzo yang mendengar kejujuran Riella hanya bisa mengangguk, mengerti dengan kondisi Riella.
"Ada banyak anak-anak di sana, macam-macam umurnya, dari 2 tahun hingga 15 tahun. Mereka pasti senang melihatmu datang."
Kenzo mendekat ke arah jendela, menutup jendela kamar, tanpa meminta izin dulu pada Riella, yang masih menatapnya lekat.
“Dingin, nanti kamu sakit!” ujar Kenzo setelah jendela tertutup rapat.
“Di sini panas,” sahut Riella, yang berjalan menghampiri ranjang.
“Kamu bisa melepas bajumu kalau tidak tahan dengan panas,” kata Kenzo mengiringi langkah Riella.
“Lalu?”
“Kok lalu? Ya lepas saja, aku nggak keberatan, kok!” kata Kenzo acuh.
“Ya aku ngerti kok. Tapi kamu juga harus paham apa kewajiban dan hak dari seorang istri. Semua sudah ditulis dengan jelas!” Pesan Kenzo dan seterusnya tidak ada sahutan dari Riella. Ia diam tidak berkutik menatap ke arah langit-langit kamar.
“Tidurlah, kamu pasti lelah! Aku bisa jaga syahwatku kok, tenang saja! Jangan terlalu khawatir, karena aku tidak akan memberikan nafkahmu malam ini.”
“Ya aku akan tidur.” Riella kembali berdiri, mengambil perlengkapan mandi di tasnya, “kamu bisa mengambil perlengkapan tidurmu dulu, aku harap setelah aku keluar dari kamar mandi, kamu tidak lagi mengangguku dengan gerakanmu yang tidak penting!” Pesan Riella lalu menutup pintu kamar mandi. Ia ingin melakukan kebiasaannya sebelum tidur dan memberi waktu Kenzo untuk mengambil perlengkapan tidurnya.
Saat Riella kembali ke kamar, lampu utama sudah mati, berganti dengan cahaya lampu yang berada di kedua sisi ranjang kayu. Karena ia merasa lelah akhirnya memilih untuk memejamkan mata, menutupi tubuhnya hingga leher dengan selimut tebal bewarna putih, tidak mempedulikan Kenzo yang entah tidur di mana saat ini.
***
Cahaya matahari menyorot tepat di mata Kenzo, membangunkannya dari tidur lelap yang ia rasakan selama 5 jam. Kenzo menggerakkan leher dan pinggangnya yang terasa kaku karena terlalu lama duduk di kursi ruang kerja. Kenzo mengumpulkan kesadarannya lebih dulu, lalu bergegas mempersiapkan berkasnya, karena Alby memberitahu jika ia harus datang tepat pukul 10.
“Masih ada waktu,” ujarnya segera beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah siap dengan kemeja biru langit dan celana jeans yang pas di tubuhnya. Kenzo berjalan ke arah dapur, menyalakan coffe maker dan memasukkan biji kopi yang sudah disiapkan mamanya.
Kenzo membuka isi lemari pendingin, mencari bahan untuk membuat sarapan pagi ini. Kemarin dia sudah berpesan pada mamanya untuk mempersiapkan bahan makanan. Meski banyak stok sayuran dan buah tapi kali ini dia memilih untuk membuat roti panggang, karena jam sudah mendekati pukul 8 pagi.
Kenzo mulai berkutat dengan roti tawar yang ada di tangannya, mulai memotong roti tawar menjadi dua bagian, lalu menyusun keju mozzarella dan smoked beef di atasnya, menambahkan irisan bawang bombany dan saos barbeque di atasnya. Mengocok telur dan mencampurkan bumbu dasar, dengan parsley, dan flekes. Mengoleskan telur di atas roti tawar yang tadi sudah ia susun, hingga semuanya tertutup cairan telur, ia memasukkan ke mesin pemanggang.
Setelah lima belas menit kemudian, roti buatannya sudah siap untuk di sajikan. Kenzo menyusun dulu di piring porselen. Kenzo lalu mengambil kopi dan membawanya ke meja makan. Ia menikmatinya sendiri, karena Riella tidak kunjung keluar kamar. Hingga roti itu dingin dan Kenzo siap berangkat ke kantor, ia meninggalkannya dan menambahkan catatan kecil di samping roti panggang yang ia sisihkan untuk Riella.
NYARI RUMAH PANGGUNG YANG OKE SUSAH JADI AKU KASIH INI SAJA. SEMOGA BISA KEBAYANG YA.😂😂😂😂😋
🚑
🚑
🚑
🚑
Aku jatuh cinta, sama bang Kenzo🤭♥️♥️♥️
Yang syuka like dan komentar yah🙏🙏🙏🥰