
Saat berada di dalam kamar mandi, Riella terkejut saat melihat darah segar keluar dari intinya. Ketakutan akan kehilangan janin yang ia kandung mulai menghampirinya saat ini, apalagi darah itu disertai rasa sakit perut yang begitu hebat. Dia semakin panik, karena mengabaikan pesan dokter yang menanganinya kemarin.
Riella merintih kesakitan di dalam kamar mandi, duduk di atas toilet sambil memegangi perutnya, seolah menahan bayinya supaya tidak keluar dari perutnya.
“Dokter!” seru Riella dengan sekuat tenaga. Tapi tetap saja, teriakannya tidak seperti orang normal, apalagi dia tadi menutup pintunya rapat. Sekuat tenaga Riella berusaha untuk berdiri, mencari pegangan untuk bisa keluar dari kamar mandi.
Dengan menahan rasa sakit yang begitu menyiksa, Riella melangkahkan kakinya pelan menuju bed tidur. Bibirnya tidak berhenti merintih, saat merasakan kontraksi yang menyerangnya saat ini.
“Dokter ...” teriaknya lagi saat ia sudah berada di kamar. Dia menangis, ketakutan akan kehilangan anaknya semakin jelas menghantui, saat melihat banyaknya darah yang mengotori lantai kamar.
“Dokter, tolong!” teriak Riella di tengah kepanikkannya.
Kenzo yang masih berada di depan kamar Riella, langsung masuk ke dalam kamar saat mendengar suara teriakan Riella. Dia terkejut saat melihat banyaknya darah yang menetes di lantai.
“Tolong selamatkan anakku!” kata Riella memohon pada Kenzo yang mengangkat tubuhnya. Kenzo membuang nafas kasar sambil membaringkan Riella di tempat tidur.
“Tenanglah dulu! Aku akan panggilkan dokter.” Kenzo yang juga panik berlari ke luar ruangan mencari keberadaan dokter yang menangani Riella.
Riella masih menangis di atas tempat tidur, dia tidak ingin kehilangan calon anaknya. Meski dia dulu tidak mengharapkan kehadirannya. Tapi setelah empat bulan janin itu tumbuh di rahimnya, Riella tidak bisa merelakan begitu saja calon anaknya.
Pintu ruangan terbuka, seorang dokter wanita masuk bersama Kenzo yang mengikuti dari belakang. Dokter itu menatap wajah Riella yang sudah memucat, dia menggelengkan kepala saat mengingat begitu keras kepalanya Riella saat ini.
“Itulah sebabnya, saya meminta Anda untuk tidak turun dari tempat tidur. Kondisi janin Ibu masih lemah.” Dokter itu menasehati sambil memeriksa denyut jantung janin Riella.
“Dia masih di sini kan, Dok?” tanya Riella dengan nada cemas.
Tapi dokter itu tidak menjawab pertanyaan Riella. “Bapak suaminya?” tanya dokter wanita sambil menatap ke arah Kenzo.
“Ya, Dok. Apa ada serius?” Kenzo menjawab cepat, terlihat jelas dia khawatir dengan kondisi Riella saat dokter menanyakan statusnya.
“Kondisi janin istri Anda sangat lemah. Tolong jaga baik-baik aktivitasnya. Saya akan memberikan suplementasi progesteron untuk istri Anda. Dan tolong jaga emosional istri Anda saat ini ya, Pak!” pesan dokter ketika selesai memeriksa Riella. Dia lalu menutup baju Riella yang tadi ia singkapkan.
“Istri Anda harus bed rest dulu, jangan diijinkan untuk turun dari ranjang, karena takut terjadi pendarahan lagi.” Dokter wanita itu menasehati Kenzo yang berdiri di samping tempat tidur Riella.
“Baik, Dok! Saya akan menjaganya.” Kenzo menjawab seolah hubungannya dengan Riella baik-baik saja. Tanpa melihat wajah Riella yang ingin menghakiminya.
Kenzo hanya ikut berdesis, saat melihat raut wajah kesakitan istrinya. Dia bingung harus berbuat apa, ingin sekali membantu mengusap perut istrinya tapi ia masih takut dengan penolakan yang akan diberikan Riella.
“Terima kasih, pergilah! Aku sudah bisa mengurus diriku sendiriku!” usir Riella saat merasakan perutnya sedikit nyaman.
“Kamu tidak mendengar tadi dokter bilang apa? Aku akan tetap berada di sini menemanimu!” kata Kenzo lalu berjalan masuk ke kamar mandi.
Sesaat kemudian Kenzo kembali ke kamar dengan membawa handuk kecil di tangannya. Dia lalu mengusap handuk basah di tangannya ke kaki Riella, menyeka darah yang mengotori kaki Riella yang putih.
“Sudah hentikan!” Riella menolak saat Kenzo melakukan itu padanya.
Namun, teriakannya itu tidak mampu menghentikan gerakkan tangan Kenzo. Dia terus membersihkan darah di kaki Riella, sampai benar-benar tidak ada noda merah di kaki istrinya.
“Tidurlah! Kamu harus istirahat!” perintah Kenzo menutupi tubuh Riella dengan selimut tebal. Tapi, baru saja Kenzo hendak duduk, terdengar suara ketukan pintu ruangannya.
Seorang perawat masuk membawa nampan dan beberapa barang di tangannya. Perawat itu tersenyum ramah saat ia berjalan masuk.
“Permisi, saya diminta sama Dokter Wulan untuk memberikan suntikan penguat kandungan ya, Bu.” izin perawat sambil menatap Aslan yang tengah tertidur pulas di samping Riella.
Setelah mendengar jawaban dari Riella perawat itu mulai fokus memberikan suntikan di lengan Riella. Perawat itu lalu beralih mengambil pakaian pasien yang tadi ia letakkan di meja.
“Nggak usah di ganti, Sus. Biarkan seperti ini!” terdengar suara penolakan dari Riella. Saat perawat mulai melepas tali bajunya. Dia merasa malu karena mata Kenzo tengah mengamatinya.
“Gantilah bajumu, La. Aku akan menutup mata!” Kenzo berbalik badan membelakangi tubuh Riella saat ini. Ia paham dengan sikap Riella yang tidak ingin dia lihat. Dia juga harus menjaga emosi Riella supaya tidak naik lagi, karena itu bahaya untuk janinnya.
Suster yang mendengar pun ikut menahan tawa saat melihat keanehan mereka berdua. Dia tidak tahu saja, jika hubungan mereka sedang tidak baik. Dia pun mulai menggantikan pakaian Riella.
“O ya, tadi dokter Wulan berpesan, kalau nanti malam beliau akan melakukan Usg supaya tahu kondisi janin Ibu lebih jelas lagi. Jadi Ibu istirahat dulu saja!” perawat itu menyampaikan amanat dari dokter yang menangani Riella.
“Baiklah, Sus. Kabari saja nanti!” Kenzo menjawab cepat ucapan suster di depannya. Dia yang lebih bersemangat kali ini untuk menemani Riella masuk ke ruang USG tidak seperti bulan-bulan yang sudah lewat yang mengabaikan Riella.
...----------------...
Jangan lupa like ya😍