The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
Tidak Bisa Dihubungi



Sudah dua hari Riella dan Kenzo menjalani hubungan jarak jauh. Waktu yang diprediksi Kenzo tidak bisa ia tepati, karena urusan kantor belum selesai. Dia tengah mengurus sengketa lahan perkebunan sawitnya, dan itu mengharuskannya mencari bukti kepemilikan lahan tersebut. Jika hanya satu atau dua hektar dia bisa merelakan begitu saja. Tapi, yang menjadi masalah lahan itu berjumlah ratusan hektar, kalau dia merelakannya, otomatis semua karyawan tidak bisa bekerja lagi dengannya.


Sedangkan di Jakarta, Riella tengah berada di rumah Erik. Papanya itu sudah diizinkan pulang hari ini. Meski dokter memperingatinya untuk beristirahat, tapi dia tidak melakukannya. Dia terus saja berjalan kesana sini, sambil menggendong Leya yang kini sudah menginjak usia 7 bulan.


Bayi itu sungguh menggemaskan, Riella juga senang bermain dengan Leya. Tapi sayang ... Erik tidak mengizinkannya untuk menggendong Leya. Dan akhirnya, dia lebih memilih untuk duduk bersama Ella yang tengah menikmati sinetron favoritnya.


“Makan sana, La!” perintah Ella pada putrinya. “Usia segini, mudah lapar biasanya.”


“Nggak nafsu makan,” ucap Riella cepat, dengan wajah cemberut, entah kenapa nafsu makannya menghilang. Dia ingin makan tapi disuap oleh suaminya. Tapi Kenzo tidak berada di sampingnya, rasanya seperti ngidam dan harus segera dipenuhi.


“Makan sedikit, kamu nggak kasihan bayimu?” Ella terus membujuk Riella, dia tidak ingin anaknya itu sakit, di saat Kenzo menitipkannya di rumah.


“Iya, nanti ... Riella tunggu telepon dari Ken dulu,” jawab Riella, sambil menengadahkan kepala, menatap ponsel di tangannya. Sedari tadi dia menunggu telepon dari Kenzo. Dia takut terjadi hal-hal buruk dengan suaminya.


“Mungkin baru ada hal penting, jadi tidak bisa menghubungimu, atau bisa jadi kendala sinyal, berpikir positif saja.” Ella berusaha menenangkan anaknya. Dia pernah merasakan hal lebih buruk dari Riella, saat Erik pergi dan ternyata dia tengah masuk penjara, dia juga sama tengah hamil anak pertama.


“Iya, Riella paham kok. Tapi, kenapa sejak tadi siang ya, Ma? Sesibuk itukah dia, biasanya nggak sampai begini.” Riella berusaha mengungkapkan perasaanya.


“Ya sudah telepon saja!” perintah Ella dia tidak mau membuat Riella stress karena memikirkan menantunya. Karena itu akan berpengaruh pada janin di perut Riella.


Riella mengikuti saran Ella, dia segera mencari nama Kenzo di kontak ponselnya. Tapi sayang, setelah ia melakukan panggilan nomor ponsel Kenzo tidak aktiv.


“Nggak aktiv,” ucap Riella dengan nada kecewa.


“Telepon siapa itu temannya yang biasa bersamanya!” perintahnya.


“Alby?”


Ella mengangguk cepat, dia jadi ikut cemas dan meninggalkan acara nontonnya kali ini.


Riella segera menekan nomor Alby dan melakukan panggilan. Tapi, nyatanya sama saja. Nomor ponsel Alby juga tidak aktiv. Wajah Riella kini semakin cemas, matanya bahkan sudah digenangi air.


“Ma ...” ucapnya sambil menggelengkan kepala.


“Sudah nggak papa, tidak akan terjadi hal buruk pada Kenzo,” ucap Ella menasehati putrinya.


“Tapi, Ma. Nggak biasanya Kenzo begini. Pergi sebentar pun dia selalu memberi kabar padaku.” Riella menangis di pangkuan Ella, Entah kenapa hari ini perasaanya lebih sensitif dari biasanya. Dia takut terjadi sesuatu dengan Kenzo karena sedari siang Kenzo tidak menghubunginya.


Ella yang mendapat keluhan dari anaknya, hanya bisa menghibur Riella. “Berdoa saja tidak terjadi apapun dengan Kenzo, dia pria kuat kok, jatuh dari pesawat saja, dia masih bisa selamat. Tuhan itu sayang sama Kenzo, pasti dilindungi dari bahaya.”


“Bagaimana jika hari ini, Ma? Jika hari ini adalah waktunya dia pergi. Dan aku tidak di sana! Aku nggak ridho pokoknya.” Riella menangis menyembunyikan wajahnya di atas paha Ella.


Ucapan Riella membuat Ella ikut merasakan cemas, dia hanya mengusap punggung anaknya.


“Kenapa?” tanya Erik yang baru masuk ke rumah, di tangannya tengah menggendong Leya yang tengah mengoceh tidak jelas.


“Kenzo tidak bisa dihubungi,” jawab Ella singkat. Erik yang penasaran dengan kondisi Riella mendekat dan duduk di sofa.


“Papa nggak bohongin Riella, kan?”


“Bohong. Dia tidak ada.” Erik akhirnya tertawa lepas, mendapati kelakuan Riella.


Meski begitu Riella yang penasaran, mulai mengatur nafasnya, mengusap air mata yang tadi membasahi pipi, dia ingin membuktikan ucapan papanya. Dia segera berjalan menuju depan rumah, mencari keberadaan Kenzo.


Saat tiba di sana dia bisa melihat dengan jelas, bayangan tubuh Kenzo dan Kalun tengah duduk di kursi taman. Riella lalu mengambil batu kecil, warna putih yang ada di pot bunga koleksi Ella, dia melemparkannya tepat mengenai punggung Kenzo.


Kenzo yang terkejut pun reflek menoleh ke arah Riella, bertanya dengan isyarat ke arah Riella, bibirnya tersenyum tipis saat mendapati wanita yang ia rindukan.


Berbeda dengan Riella yang sudah siap memaki pria tersebut. Dia kesal, seharian menunggu kabar dari Kenzo, tapi rupanya dia justru sudah berada di Jakarta saat ini.


“Aku pikir kamu sudah tidur.” Kenzo masih tersenyum tipis, mengiringi langkah kaki Riella yang mendekat padanya. Urusannya memang baru selesai sore tadi. Jadi, dia buru-buru bertolak ke Jakarta, karena sudah merindukan sang istri.


“Kamu kenapa menangis?” tanya Kenzo saat mendapati mata Riella yang masih berair.


“Aku pergi dulu, ngeri kalau Riella marah.” Kalun yang paham segera pergi dari bangku taman. Dia memilih masuk ke dalam untuk menemui anak dan istrinya yang sedari siang dia antarkan ke rumah orang tuanya.


“Kenapa ponselmu mati?!” Riella bertanya dengan sedikit berteriak.


“Kenapa memangnya?” tanya Kenzo sambil meraih tangan Riella, lalu mendudukan sang istri di pangkuannya.


Riella berusaha menjauhkan wajahnya, meski dia menerima perlakuan Kenzo. Dia tidak ingin orang sekitar melihat adegan yang menurutnya romantis ini.


“Nggak papa, sudah lepaskan, malu dilihat banyak orang!” Riella berusaha menggerakkan tubuhnya supaya bisa terbebas dari pelukan Kenzo.


“Aku kangen! Apa dia merindukan aku?” tanya Kenzo bersandar di lengan Riella, tatapanya menjurus ke perut Riella yng tertutupi dress warna biru cerah.


“Nggak sama sekali,” jawab Riella cepat.


Tangan Kenzo meraba perut sang istri, lalu meringis menghadap ke arah Riella, “tapi dia selincah ini saat merasakan tanganku,” kata Kenzo.


“Kau tahu, aku menunggu telepon darimu sampai lupa makan. Dan ternyata ....” Riella berusaha mengalihkan obrolannya. Dia malu untuk mengatakan jika yang rindu bukan bayinya, dia menyadari kalau begitu merindukan Kenzo.


“Maaf, aku ingin memberikan kejutan untukmu. Tapi, kamu senang kan, aku di sini atau mau aku pergi lagi?” tanya Kenzo.


Riella lalu turun dari pangkuan Kenzo. Dia tengah merasakan jika dirinya tengah lapar saat ini, dan harus segera mengisi perutnya sebelum calon anaknya itu memprotesnya. “Aku lapar mau makan,” ucapnya sambil melangkah ke dalam rumah.


“Kita makan di luar, yok!” ajak Kenzo, dia ingin menikmati kota Jakarta sebelum membawa Riella kembali ke Banjarmasin.


“Boleh, aku ambil kunci mobil dulu,” kata Riella yang sudah menghadap Kenzo. Dia segera berlalu mengambil jaket dan kunci mobilnya.


Kenzo hanya menatapnya dengan senyuman, entah dia akan membawa Riella kemana dia juga tidak tahu, dia akan menjadi sopir Riella malam ini. Mengantarnya kemanapun dia inginkan.


...----------------...