The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
Rencana Acara Perusahaan



Selamat Membaca!


🌹


Dua hari yang lalu, saat mereka masih berada di Jakarta. Kenzo lebih antusias memilihkan pakaian bayi untuk calon anaknya. Sedangkan Riella, lebih pasif dan sering duduk karena mengeluh sakit pinggang. Mungkin karena efek kehamilannya yang semakin membesar. Tapi saat Kenzo meminta pendapat, dia mendekat dan berkomentar sesuai apa yang ada di pikirannya.


Riella merasa tidak perlu membeli baju bayi banyak-banyak, karena pasti kakek dan neneknya juga memberikan kado ini itu. Dia belajar banyak dari Aluna, wanita itu bercerita padanya untuk tidak membeli perlengkapan bayi berlebihan. Karena pasti akan banyak kado nantinya.


Riella dan Kenzo sengaja memilih pakaian bayi serba putih untuk mengisi keranjang belanjaanya. Saat itu, Riella ingin membeli banyak baju anak cewek, tapi Kenzo melarangnya, lantaran belum mengetahui jenis kelamin calon anaknya. Keinginan Riella tidak bisa dicegah, akhirnya Kenzo mengizinkannya memilih satu baju bayi saja untuk dibawa pulang. Riella begitu bahagia, dia memilih dress bayi dengan model dan warna yang sama dengannya.


***


Tapi, hari ini. Mereka sudah berada di Banjarmasin, menikmati suasana yang beda dengan kota Jakarta. Riella yang masih pusing karena perjalanan yang panjang, segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk kamar utama, mengabaikan Kenzo yang memintanya untuk cuci kaki terlebih dahulu.


Kehamilan Riella membawa dampak buruk untuk dirinya. Dia benar-benar malas untuk menyentuh air, kadang Riella hanya menggosok gigi dan mencuci wajahnya saja, saat menginjak usia kehamilannya yang semakin membesar ini.


“Nggak mau, dingin airnya. Aku mandi besok saja, ya.” Riella menjawab saat mendengar perintah Kenzo. Dia memejamkan matanya rapat ketika Kenzo menengok ke arahnya. Tubuhnya seperti tak bertulang malam ini, dia kelelahan.


“Mau aku mandiin? Aku nggak mau meluk kamu ya … kalau kamu nggak mandi!” goda Kenzo, tangannya menarik handuk dan mengalungkannya di tengkuk leher.


“Aku tidur, jangan ganggu dulu. Aku semalam tidak bisa tidur karena anakmu bergerak terlalu aktiv.” Riella tetap enggan menerima tawaran Kenzo. Dia justru menghadap ke arah samping, mengambil guling dan meletakkan di bawah perutnya. Mencari posisi ternyaman, supaya dia bisa bernafas bebas.


Kenzo lalu segera masuk ke dalam kamar mandi, saat mendapat penolakan Riella. Dia tahu Alby sudah menunggunya di ruang tamu, dia ingin menyampaikan hal penting mengenai acara ulang tahun perusahaan.


Sebenarnya, Kenzo sudah menyiapkan EO yang akan menyiapkan semuanya. Tapi, Alby merasa tidak puas jika tidak melibatkan dirinya saat ini.


Bukan acara mewah seperti yang ada di Jakarta. Hanya mengundang beberapa artis ibukota, keluarga dari karyawan inti dan buruh yang bekerja di lapangan. Tapi, dia tidak mau membuatnya dengan asal-asalan. Selain acara syukuran di juga ingin membuat kejutan tentang kehamilan Riella Ki ini.


Setelah selesai mandi, Kenzo segera menemui Alby yang sudah duduk berdampingan dengan Reva. Wanita itu tampak memperhatikan kertas di tangannya, menyusun apa yang ingin dia sampaikan saat ini.


“Ambil sendiri minuman di dapur!” perintah Kenzo pada mereka berdua, dia lalu duduk di depan mereka Alby, bersiap mendengar apa yang akan mereka sampaikan.


Alby menyodorkan file di depannya. “Empat milyar, sudah termasuk kembang api dan hiburan untuk anak-anak mereka. Tapi, di luar artis ibu kota." Alby menghentikan penjelasannya, dia menatap wajah Kenzo. "Rencana kita akan mengundang dokter saja untuk bisa menyampaikan ilmu kesehatan. Biar lebih hemat. Bagaimana jika mertua Abang saja yang mengisi?” usul Alby.


Mata Kenzo membulat sempurna saat mendengar tawaran Alby. “Kau sudah tidak waras?” Kenzo tidak habis pikir dengan usul Alby saat ini.


“Waras ini, Bang. Aku masih bisa mengenali pacarku,” jawab Alby sambil meraih pinggang Reva. Wanita itu tampak enggan menjawab godaan pacarnya.


"Mendingan nggak usah! Aku nggak mau melibatkan keluargaku untuk mengisi acara." Kenzo menyatakan pendapatnya.


"Kita undang dokter Boy saja bagaimana, pasti bapak-bapak banyak yang suka. Dari pada kita mengundang artis dangdutan, bikin repot. Belum nanti mereka pada minum-minuman," jelas Alby yang lebih paham tentang susunan acara tahun-tahun sebelumnya.


"Terserah deh mau kamu, bagaimana ...." Kenzo menyandarkan tubuhnya di sofa, mengamati dua orang di depannya.


Kenzo hanya melihat, raut wajah Alby yang sepertinya tulus mencintai Reva. Berbeda dengan Reva, dia tampak enggan untuk melihat ke arah Alby.


"Kapan kalian nikah?" tanya Kenzo mengalihkan topik pembicaraan.


"Nunggu kamu duda," celetuk Reva yang membuat Alby menarik pipinya yang sedikit berisi.


"Nggak boleh bilang kaya gitu. Itu sama saja doain abangku cerai dengan kakak ipar." Alby menasehati, dia merasa tidak nyaman dengan Kenzo atas ucapan kekasihnya.


Kenzo hanya menatap keributan mereka berdua sampai dia mendengar suara pintu kamar terbuka. Kenzo menoleh ke arah kamar, menatap wajah Riella, yang masih terlihat tak beraturan.


"Sini!" Kenzo menepuk ruang kosong di sampingnya. Lalu memeluk pinggang Riella, saat istrinya sudah duduk.


"Kamu kan capek, mandi saja malas. Apalagi nemuin mereka."


Riella yang sudah puas menciumi aroma Kenzo segera berdiri lagi, dia berjalan menuju dapur untuk membuatkan tamunya minuman.


"Mau kemana?"


"Buat minum."


"Duduklah mereka bisa mengambil sendiri," peringat Kenzo.


"Mereka tamu. Sebentar saja." Riella tetap melanjutkan langkahnya.


Dia disusul Reva yang mengikuti langkahnya dari belakang. Mereka berdua berada di dapur yang tidak begitu luas. Riella mulai menyalakan kompor untuk memasak air. Dia ingin membuat kopi untuk tamunya dan teh untuknya.


Riella merasa senang karena bisa berdiri bersama Reva. Dia merasa punya teman baru, meski tahu Reva adalah mantan dari suaminya. Dia tahu jika Kenzo tak akan mudah pindah ke lain hati saat ini.


Riella lalu mengobrol ringan dengan Reva. Membicarakan masalah wanita, produk tas dan sepatu baru.


"Kamu beli saja, selera Kenzo kan seperti itu. Nanti pakai saja saat ulang tahun perusahaan." Reva menyarankan gaun merk ternama yang harganya puluhan juta, Riella paham, meski dia jarang pergi ke mall tapi dia juga dapat notifikasinya melalui pesan elektronik yang ada di ponselnya.


Riella hanya tersenyum menanggapi ucapan Reva. Dia kaku menatap ke arah teko yang barada di atas tungku. Bunyi uap air mendidih berbunyi, Riella segera mematikan kompor dan memasukkan kopi dan gula ke dalam cangkir.


Entah pikiran picik dari mana Reva yang mengangkat teko itu, dia sengaja menyiramkannya di tangan Riella.


Riella yang merasa tersakiti otomatis mengaduh keras saat merasakan tangannya seperti terbakar, dia mengibaskan tangannya berulang kali, dia tidak berteriak menyalahkan Reva, dia hanya menatap tajam ke arah Reva.


"Kenapa?" tanya Kenzo, wajahnya sudah panik. Dia saat ini sudah berdiri di samping Riella, lalu mengambil tangan Riella dan meniup punggung Riella yang terkena air panas.


"Aku sudah bilang, tidak usah! Kamu kenapa sulit dikasih tahu!" Kenzo memaki istrinya di tengah-tengah tiupan yang terus keluar dari bibirnya. Sedangkan mata Riella masih menatap tajam ke arah Reva.


"Al! Ambilkan kotak P3 K di ruang kerja." Kenzo berteriak, Alby tidak mengetahui kejadian itu. Kerena tadi dia tengah mengambil sesuatu di dalam mobil.


Alby yang mendengar pun, segera melaksanakan perintah Kenzo, lalu mengambilkan salep luka bakar dan memberikannya pada Kenzo.


"Kok bisa?" heran Alby.


"Aku yang kurang berhati-hati."


"Tolong bawa dia pergi!" perintah Kenzo menatap tak suka ke arah Reva. Dia lalu membawa Riella duduk di meja makan, tanpa menghantarkan Reva yang pergi dari rumahnya.


"Aku tahu semuanya, dia yang sengaja menyiram air panas itu ke tanganmu! Jangan dekat-dekat dengannya lagi!" peringat Kenzo.


"Awhhh ... ish. Perih." Riella mengeluh ketika Kenzo mengoleskan salep ke tangannya.


"Untung nggak terlalu lebar. Kalau lebar, aku laporin dia. Kita ke dokter ya, aku takut terjadi apa-apa degan anak kita?" tawar Kenzo.


"Nggak mau! Yakin? Dia mantanmu loh! Pernah tidur seatap pula!" kata Riella mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu.


"Terpaksa! Sudah. Jangan terluka lagi!" Kenzo mencium tangan Riella yang tidak terkena salep.


Riella hanya menyengir kuda, sambil menganggukan kepalanya. Berjanji pada dirinya untuk tidak membuat khawatir suaminya.