The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
Apartemen 990



Sudah berkali-kali Riella menghubungi Emil, memastikan kedatangan Emil untuk fitting baju di rumah designer yang sudah merancang baju pernikahannya. Namun, yang ada lelaki itu belum mengangkat panggilan telepon darinya, membuat Riella sedikit frustasi karena merasa diabaikan oleh Emil.


Acara pernikahan kurang tiga minggu lagi, hanya hal-hal yang menyangkut dirinya yang belum terselesaikan. Riella membanting ponselnya di kursi jok belakang, ia melampiaskan kekesalannya pada benda pipih tersebut.


Riella kembali focus ke arah depan, saat melihat lampu lalu lintas berubah menjadi warna hijau. Ia ingin mendatangi apartemen Emil setelah ini. Ingin langsung menyeret Emil ke rumah designer yang sudah dijanjikan mamanya untuk bertemu hari ini.


Riella menggembungkan pipinya mengusir perasaan cemas yang hinggap di hatinya, ketika mobil tersebut kembali terhalang lampu lalu lintas. Siang ini jalanan sedikit lenggang, tidak seperti ketika dia pulang dari jam kerja. Riella mencoba mengatur udara yang hendak masuk ke paru-parunya. Mata bulat itu terus berputar melihat nama nama merk mobil baru di depannya, siapa tahu bisa ia jadikan referensi karena ia berencana membeli mobil baru. Hingga satu mobil sport bewarna metalik, menghentikan pandangannya ke arah lain. Dia sejenak terpaku, ketika melihat mobil Emil di jalanan, ketika jam kantor masih berlangsung. Riella lalu menghadap ke arah jok belakang, menyesali kenapa dia tadi melempar benda pipihnya ke sana. Sambil kesusahan, Riella segera mengambil ponselnya, buru-buru ia menekan nomor ponsel Emil untuk Menanyakan keberadaan calon suaminya. Butuh dua kali dia melakukan panggilan, barulah panggilannya diangkat oleh pemilik ponsel.


“Kak Emil nggak kerja?” tanya Riella langsung tanpa basa-basi.


“Kerja kok,” jawab lelaki di ujung telepon, terdengar tengah menahan sesuatu di telinga Riella.


“Ow, lagi di mana sekarang?”


“Lagi di kantor.”


Riella mengerutkan dahinya ketika mendengar jawaban dari Emil, ia langsung menutup panggilannya, karena harus kembali focus menyetir, meski masih banyak lagi yang ingin ia tanyakan. Akhirnya Riella memutuskan untuk mengikuti mobil Emil, karena rasa penasaran yang terus membujuk isi kepalanya.


Beruntungnya, pagi tadi ia menggunakan mobil Kalun yang berjajar rapi di garasi rumah orang tuanya, yang sebenarnya ia beli untuk istrinya beberapa bulan lalu, tapi karena istrinya tidak bisa menggunakan, kalun memarkirkannya di sana. Membuat Emil tidak menyadari jika ia saat ini berada di belakangnya.


Riella semakin curiga ketika mobil Emil tidak menuju ke apartemen atau ke rumah orang tuanya. Pikirannya terus tertuju pada ucapan rekannya beberapa hari yang lalu, ia menggelengkan kepalanya cepat, mengusir setan jealous yang menghampirinya. Andai saja ada cleaning service untuk membersihkan pikirannya ia akan membayar mahal untuk itu, karena pikiran itu semakin kuat menderanya, ketika mobil Emil berhenti di salah satu apartemen milik sahabatnya.


Mobil Emil masuk ke area parkir apartemen, diiringi mobil yang dikemudikan Riella yang melaju pelan. Hingga mobil Emil berhenti sempurna menghadap ke selatan membelakangi mobil Camry putih yang Riella gunakan.


Riella mulai memundurkan mobilnya, mencari tempat parkir yang bisa memantau kegiatan Emil, meski ia tahu, jika Emil akan turun dan masuk ke dalam apartemen. Mata Riella membulat sempurna, sedangkan kedua tangannya mencekram erat stir kemudi, ketika matanya menangkap Emil yang membukakan pintu kursi penumpang. Ia menggeram kuat setelah mengetahui siapa pemilik pinggang ramping yang tengah dipapah Emil.


“Nggak! Nggak mungkin!” Riella menggelengkan kepalanya cepat, mengusir lagi pikiran buruk yang semakin kuat, membuktikan realita, bahwa yang diucapkan rekannya beberapa hari lalu, itu ada di depan matanya.


mereka berdua bertemu dengan dokter yang mebimbihgku, entah apa masalahnya aku juga tidak paham.


“Semua gara-gara dokter mesum itu!” gerutu Riella menyalahkan rekannya. Ia lalu segera turun dari mobil, setelah sepasang manusia yang tadi ia ikuti tidak ada di peredaran matanya.


Masih dengan snelli putih yang melekat di tubuhnya Riella berjalan menyusuri lobby, ia melesakkan kepalan tangannya ke dalam kantung snellinya, merapalkan doa semua supaya praduganya salah besar.


“Tenang Riella. Tenang please, everything is ok. Jika benar benar mereka melakukan ini, berarti sudah saatnya kamu melepasnya,” gumam Riella menguatkan dirinya sendiri. Ia memejamkan matanya, mengulurkan tangannya ke arah tanda lonceng yang ada di samping pintu. Dua kali dia menekan tombol tersebut, hingga pintu terbuka sempurna. Memperlihatkan lelaki yang katanya tengah berada di kantor, sekarang justru berdiri di depannya dengan wajah terkejut karena kehadirannya yang tidak diharapkan. Riella masih bisa tersenyum ramah, meski tampilan lelaki di depannya acak adut. Kemejanya sudah ia lepas menyisakan kaus singlet yang tecetak jelas otot perutnya. Sejenak keduanya saling bertukar tatap, hening tidak ada yang mengeluarkan isi hatinya. Hanya tatapan Riella memancarkan kekecewaan. Gigi rahang atasnya sudah baradu dengan gigi bawah, menahan perasaan perih yang muncul saat melihat penampilan calon suaminya.


“Siapa Say— ” ucapan perempuan itu tertahan ketika melihat siapa yang berdiri di depan pintu apartemennya. Ia menutup mulut dengan tangan, saat menyadari akan terjadi kekacauan di apartemennya.


Pandangan Riella beralih ke wanita yang berdiri di belakang Emil, bukan tatapan tajam, dia justru memberikan senyumannya ke arah wanita tersebut, meski senyum itu tampak jelas jika ia tengah terluka. Apalagi setelah melihat bentuk lipstick merah yang sudah tidak enak dipandang.


“Boleh saya masuk?” tawar Riella berusaha tegar, mencoba meminta izin pada pemilik ruangan.


Emil masih mematung, bola matanya bergerak mengikuti tubuh Riella yang melewatinya, dia kebingungan, mencari solusi supaya tidak terjadi pertengkaran di apartemen ini.


Begitu tiba di ruangan yang dulu sangat akrab dengannya, Riella langsung duduk di sofa coklat tua yang ada di sana, berusaha tenang, memainkan remot yang baru saja dia ambil.


“La—,”


“Jangan Kak! Aku hanya ingin mendengar penjelasan dari sahabatku!” Riella masih berujar tenang, tapi tatapannya menjurus tajam ke arah sahabatnya.


“Aku cinta sama kak Emil! I’am sorry, aku ….” Dengan mudahnya wanita itu berkata seperti itu di depan Riella. Tanpa memikirkan bagaimana Riella berjuang mati-matian untuk melunakkan hati keluarganya. Meyakinkan bahwa pilihannya tepat. Riella terlihat memejamkan matanya, tangan kirinya mencoba mencubit lengan kanan, menyadari merasakan sakit, ia sadar jika ini bukanlah mimpi buruk, ini nyata. Sahabatnya mengambil calon suaminya.


“Sejak kapan?” kini tatapan Riella tidak lagi menatap sahabatnya, ia beralih menatap wajah Emil yang memucat, seperti hantu zombie berjalan yang mencari mangsa. Saat tidak kunjung mendengar jawaban, Riella beranjak dari duduknya, tapi dia tidak pulang ia justru berjalan pelan ke arah kamar sahabatnya.


🚑


🚑


🚑


🚑


Terima kasih yang sudah memberikan komentar positif dan like serta votenya, dah tahu ya kalau Emil bakalan selingkuh. Jangan buru-buru Unfav dulu, karena tidak selamanya selingkuh itu indah.🤣🤣🤣🙄.