The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
Akibat Kelelahan



Tiba di bandara Soekarno Hatta Riella dan Kenzo segera bertolak menuju Ramones Hospital. Jalanan tampak lenggang, karena tiba di bandara waktu sudah menunjukkan jam 1 dini hari. Tidak butuh waktu lama mereka sudah tiba di rumah sakit milik keluarganya.


Dengan langkah kaki lebar, Riella berjalan menuju ruang ICU. Sapaan dari beberapa perawat yang mengenalnha dihiraukan, karena Riella ingin segera melihat kondisi papanya.


“Riella, kamu hamil. Pelankan langkahmu!” Kenzo terus memperingati sang istri karena khawatir dengan kondisi anak dan juga sang istri.


Tapi Riella enggan menuruti, dia tengah panik saat ini. Hingga tiba di depan ruang ICU. Dia melihat Ella yang duduk dengan mata terpejam di sela-sela Maura dan Naura.


“Bagaimana? Apa yang terjadi dengan papa?” tanya Riella saat tiba di depan kedua adiknya.


“Duduklah dulu, Kak!” perintah Naura, menunjuk bangku kosong.


“Iya, istirahat dulu sini.” Kenzo menarik tangan Riella, membawanya duduk di sofa ruang tunggu. Riella menurut tapi sorot matanya tak beralih menatap Naura, meminta penjelasan.


“Apa yang terjadi dengan papa, jelaskan pada Kakak, Dek!” gertaknya sudah tampak emosi dan juga tidak sabar.


“Papa pinsan di rumah sakit. Perawat yang mengetahuinya, dan segera membawa ke ruang ICU. Sejak kemarin papa mondar-mandir ke rumah sakit karena tidak ada yang mengurusi ini itu. Kakak tahu sendiri kak Kalun sibuk di kantor. Dan Papa nggak mau rumah sakit ini terbengkalai Kak. Jadi sebisa mungkin papa mengurusnya.” Naura menjelaskan. Memang Tiffani tengah pergi ke Australia, jadi urusan rumah sakit sementara Erik yang mengurusnya.


“Lalu bagaimana kondisi papa sekarang?!”


“Papa baik-baik saja, tapi dokter meminta kita untuk tidak masuk dulu. Biarkan papa istirahat. Baru besok pagi, kita bisa masuk untuk menemuinya.” Naura menjelaskan kondisi Erik saat ini.


Riella yang mendengar pun turut bernafas lega. Dia menghempaskan punggungnya di sandaran sofa. Masih memegang jemari Kenzo. Dia mengenggamnya dengan erat.


“Terima kasih sudah menemaniku.” Riella berucap lirih sambil menoleh ke arah wajah suaminya. “padahal aku tahu kamu pasti capek.”


“Nggak aku nggak capek. Pasti kamu yang lebih capek dari aku. Kamu lihat dia terus bergerak di dalam sini. Mungkin, dia memintamu untuk beristirahat.” Kenzo menunjukkan perhatiannya pada sang istri. Tangannya terus mengusap calon anaknya yang bergerak lembut.


Riella mengangguk, lalu menyandarkan kepalanya di pundak Kenzo. Saat berangkat tadi dia begitu panik, sampai tidak mempedulikan lagi pakaiannya yang memakai pakaian santai pemberian dari Aluna saat kemarin dia ke Banjarmasin.


Mata Riella menatap ke wajah Ella yang terlihat sendu, dia lalu tersenyum tipis. “Kita pasti bisa kan, Ken, seperti mama dan papa. Tetap setia sampai sekarang. Hatinya akan terluka saat melihat pasangannya tengah sakit.” Mata Riella tidak berhenti menatap mamanya, yang sudah terlelap.


“Iya, pasti. Makanya kamu jangan berpikiran aneh-aneh.” Kenzo menoleh ke arah Riella, membuat jarak yang tercipta semakin dekat. Masih banyak orang di ruang tunggu itu, mungkin ada pasien lain yang sama-sama tengah dirawat.


“Apanya yang aneh-aneh. Kamu pernah lihat aku dengan pria lain? Aku tipe wanita setia, Bee.” Riella mencubit gemas hidung Kenzo. Sedikit teralihkan dengan obrolan mereka saat ini.


“Dek, bawa mama ke kamar atas. Biarkan kakak yang jagain papa.” Perintahnya pada sang adik. Dia tahu adiknya itu juga lelah, apalagi mamanya, pasti tidak nyaman dengan posisi tidur seperti itu. Dia tahu kecemasan Ella melebihi dirinya saat mendengar papanya sakit tadi.


“Kakak yakin? Kakak saja yang istirahat, kakak pasti lelah kan, habis perjalanan jauh.” Maura menolak permintaan Riella.


“Nggak, biar kakak sama Kak Kenzo yang jagain,” jelas Riella. Sebenarnya sudah lama ia tidak masuk ke kamar atas, kamar yang memiliki banyak kenangan antara dia dan Emil. Dia enggan untuk masuk ke sana. Karena tidak ingin mengingat pria itu lagi. Dia tahu dan paham akan statusnya yang sebentar lagi akan menjadi ibu, jadi dia berusaha menjaga dan tidak mengingat lagi.


Maura dan Naura akhirnya mengalah, dia membawa Ella ke lantai tertinggi gedung rumah sakit tersebut. Riella hanya ingin menunggu hingga papanya bangun, dia lalu beranjak dari tempat duduknya. ingin melihat kondisi papanya. “Kamu tunggu di sini sebantar ya, aku mau nemuin papa dulu.”


“Nggak besok saja!” Kenzo memperingati.


“Nggak aku cuma sebentar Bee.”


“Katakan padaku jika ada. Aku akan memecatnya langsung.” Riella lalu berjalan menuju ruang ICU, untuk melihat kondisi Erik.


Riella berjalan menuju brankar Erik, di sana terlihat jelas, papanya itu tengah memejamkan mata, layaknya orang yang terlelap. Dia tidak percaya jika papanya sakit saat ini. Yah, meskipun hanya kelelahan, tapi ini untuk pertama kalinya dia melihat sang papa masuk ruang ICU.


Riella tersenyum tipis saat kakinya semakin dekat Erik, dia mengenggam tangan pria pertama dalam hidupnya itu.


“Papa buat Riella panik.” Riella menceritakan sambil membayangkan betapa dia cemas saat mendengar kabar dari Maura tadi. “Jangan pergi dulu sebelum, anak Riella lahir. Papa nggak boleh kemana-mana pokoknya.” Riella mengeratkan lagi tangannya, membuat Erik terbangun dari tidurnya.


“Kau di sini?” tanya Erik yang membuat Riella terkejut, lantaran suaranya itu begitu lantang, tidak seperti orang sakit.


“Apa Papa, pura-pura sakit? Buat Riella terkejut saja.” Tegurnya sambil melepaskan tangannya yang tadi mengenggam tangan yang sudah sedikit keriput.


“Mamamu di mana?” Erik justru bertanya, menanyakan kondisi sang istri.


“Ih, Papa. Nyari yang ada aja kenapa? Riella jauh-jauh dari Banjarmasin buat Papa. Sampai sini dicuekin.” Riella menggerutu karena merasa diabaikan.


“Lagian siapa yang minta kamu datang? Orang papa baik-baik saja.”


“Kalau baik-baik saja mana mungkin bisa pingsan, Pa.”


Erik tersenyum kecil. Lalu mengedarkan lagi pandangannya mencari sang istri.


“Mama istirahat di kamar atas,” ucap Riella saat melihat gelegar Erik yang mencari-cari mamanya.


“Apa dia sedih melihat Papa sakit?”


“Nggak usah ditanya lagi, mata mama sampai bengkak gara-gara Papa.” Riella menjelaskan sesuai kenyataan yang tadi ia lihat.


Erik lalu tersenyum, “Masih seperti dulu rupanya. Jadi makin cinta.” Erik lalu menarik selimut, sambil menatap jarum infus di tangannya.


“Astaga. Dah lah, Papa tidur lagi. Males dengerin Papa. Tahu gini Riella nggak jauh-jauh datang ke Jakarta.”


“Siapa suruh kamu datang? Dengan kondisi hamil seperti itu? Papa nggak minta kamu loh!”


“Iya tapi kalau Papa pergi, Riella akan menyesal seumur


hidup, karena tidak bisa menemani Papa,” jelas Riella.


“Dah sana! kamu juga istirahat. Papa mau pindah ke kamar atas saja.” Erik sudah menurunkan kakinya hingga ke lantai hendak menyusul sang istri.


“Eh … siapa yang ngizinin papa turun dari


Brankar!” akhirnya Riella terus berdebat dengan papanya, hingga membuat Kenzo memasuki ruangan lalu membawanya keluar dari ruangan.