
Sudah dua bulan Riella kehilangan kesuciannya, tapi hingga sekarang belum ada tanda-tanda usaha dari Emil untuk meyakinkan keluarganya. Ia justru disibukkan dengan pekerjaannya sebagai dokter di rumah sakitnya. Membuat ia, kadang harus bermalam di rumah sakit, karena lelah, jika harus mondar-mandir dari rumah orang tuanya ke rumah sakit, jaraknya cukup jauh, harus menempuh waktu 45 menit untuk sampai di rumah, itu jika dia tidak terjebak kemacetan kota Jakarta.
Tanpa orang lain ketahui, ia semakin dalam terjerat hubungan terlarang dengan kekasihnya, bukan hanya sekali, dua kali saja mereka melakukan perzinahan. Mereka berdua terlena akan kenikmatan yang hampir setiap malam mereka rasakan.
Seperti tadi malam, Emil menemani Riella di ruangannya yang ada di rumah sakit. Dan pagi ini, mereka berdua dibuat terkejut, karena seseorang masuk ke dalam kamar saat mereka tengah melakukan aktivitas bercintanya.
“Shit … pakai baju kalian!” teriak lelaki yang langsung menutup kembali pintu kamar Riella.
Dengan wajah ketakutan Riella segera meraih selimut untuk menutupi tubuhnya. Perasaan gelisah yang dari semalam ia rasakan, terjawab pagi ini. Padahal sudah dari subuh tadi ia meminta Emil untuk pulang, tapi lelaki itu terus menolaknya. Dia akan pulang setelah melakukan lagi dengannya.
“Semua akan baik-baik saja. Aku akan menghadapi kakakmu dulu, kamu tenanglah!” ucap Emil sambil beranjak memungut baju yang semalam ia buang ke lantai, ia lalu mengenakan pakaiannya dan mendekat lagi ke arah Riella. Tangannya terulur mengusap air mata Riella yang tiba-tiba menetes membasahi wajah putihnya, “jangan menangis. Air mata tidak akan menyelesaikan masalah. Aku akan menerima apa yang akan menjadi hukumanku.” Setelah itu Emil segera keluar kamar meninggalkan Riella yang sudah terlihat lebih tenang.
Emil berjalan menghampir Kalun yang ada di ruang kerja, tapi belum juga ia sampai di mana Kalun berada, satu pukulan keras mendarat di pipinya, dia terkejut dengan kehadiran Kalun yang tiba-tiba berada di depannya. Dia hanya bisa menerima pukulan yang dihadiahkan Kalun untuknya. Bukan hanya sekali, Kalun memukulinya berulangkali, seperti orang yang memukul samsak tinju, bibir Kalun tidak berhenti memakinya, mengeluarkan kata-kata yang memang pantas ia dapatkan. Darah segar mulai membasahi sudut bibirnya, pipinya tampak lebam kebiruan, dan robekan kecil di pelipisnya adalah bukti betapa Kalun marah padanya.
“Kamu tahu kan, bagaimana aku menjaga adikku!” maki Kalun sambil mendaratkan lagi pukulan ke wajah Emil. Terlihat jelas, jika emosi lelaki itu masih membara, dia terus memukuli Emil di bagian yang mampu ia raih. Ia tidak peduli jika lelaki itu bisa saja mati di depannya.
Setelah melihat tidak ada perlawanan dari Emil, Kalun mendorong keras tubuh Emil ke lantai yang beralas karpet. Kalun kelelahan, sejenak ia menghentikan kegiatannya.
“Kakak!” pekik Riella yang baru saja keluar kamar, ia lalu beralih menatap ke arah Emil yang tergeletak di bawah kaki Kalun. Hatinya meronta perih melihat wajah lelakinya sudah bersimbah darah. Dia segera berlari menghampiri Emil, berjongkok di samping tubuh pacarnya, lalu membawa kepala Emil ke pangkuannya.
“Kenapa kalian melakukan ini?!” Terdengar suara pecahan kaca setelah Kalun mengatakan itu di depan mereka berdua. Lelaki itu masih emosi. Setelah melihat sahabatnya sendiri sudah menghancurkan kehidupan adiknya.
“Apa salahnya? Kita saling mencintai!” sahut Emil lemah, diiringi suara batuk kecil yang keluar dari mulutnya. Dia lalu berusaha duduk dan kembali mengumpulkan tenaganya, “kamu saja yang bodoh!” lanjutnya menghampiri Kalun dengan langkah sempoyongan.
Kalun semakin menatap tajam ke arah Emil, matanya sudah merah menahan amarah, rahang mulai mengeras, kepalan tangannya juga semakin erat, bersiap untuk kembali ia daratkan diwajah Emil.
Tapi Emil terlihat tidak peduli, baginya ini adalah kesempatan meyakinkan Kalun, memberitahu bahwa dia benar-benar mencintai adiknya.
“Aku mencintai adikmu, dan dia juga mencintaiku. Tidak ada yang salah dengan hubungan kami.”
“Jangan omong kosong! Kamu pikir aku tidak tahu kelakuanmu yang sering bergonta-ganti wanita setiap malam,” ujar Kalun masih dengan tatapan membunuh.
“Kakak! Kak Emil nggak seperti itu!” sanggah Riella setelah mendengar ucapan Kalun, “dia mencintaiku, dia akan menikahiku! Dan yang penting aku mencintainya,” lanjutnya yang sedikit berteriak membela lelakinya. Riella tidak rela jika ada orang yang membicarakan buruk tentang Emil. Air matanya mengalir deras membasahi pipinya, dia hanya bisa menggelengkan kepalanya saat Kalun terus mengatakan keburukan Emil, dia berusaha keras meyakinkan dirinya. Bahwa apa yang diucapkan Kalun tidak benar.
“Lihat saja, sampai kapan dia berusaha mendapatkanmu!” Kalun mengakhiri ucapannya, lalu berjalan menuju pintu keluar. Dia hendak meninggalkan ruangan yang biasa dipakai adiknya untuk berzina, mengurungkan niatnya untuk mandi pagi.
“Kak!” Riella berteriak, berlari kecil berusaha menahan lengan Kalun, “jangan katakan ini pada papa dan mama, aku mohon!” ucap meminta Kalun. Lelaki yang lebih tinggi darinya itu hanya diam, tidak ingin menjawab ucapannya, dia juga hancur, bingung bagaimana caranya menyampaikan ini pada orangtuanya.
“Kak!” ulangnya memanggil Kalun.
“Maaf. Kakak sudah gagal mendidikmu, sekarang terserah kamu. Kakak tidak akan mencampuri urusan pribadimu lagi. Termasuk mengatakan pria mana yang baik dan buruk untukmu,” lanjutnya membuat Riella melemahkan cekalan di lengannya.
Kalun lalu beranjak pergi, meninggalkan Riella yang masih berdiri menatapnya dengan air mata yang sudah berlinang deras.
Riella kembali berjalan ke arah Emil yang belum bisa berdiri tegak. Ia lalu memapah tubuh Emil untuk duduk di atas sofa yang ada di depan televisi.
“Aku ambilkan kompresan dulu. Tunggulah di sini,” ujarnya lalu beranjak dari depan Emil. Ia berjalan ke arah dapur mini yang ada di ruang pribadinya, memikirkan perkataan Kalun yang mengatakan hal buruk tentang Emil. Dia lalu menatap Emil dari arah kejauhan, sambil menggelengkan kepalanya. Berusaha menyangkal semua ucapan Kalun.
Kak Emil tidak seperti itu, dia mencintaiku. Dia akan menikahiku! Dan itu pasti, aku akan membuktikannya padamu, Kak. Teguhnya dalam hati.
Dia lalu berjalan kembali menghampiri Emil yang menyandar kepalanya di sandaran sofa. Riella duduk di sampingnya dengan tangan memeras handuk kecil yang ada di dalam air dingin yang tadi ia ambil dari dapur.
“Pasti sakit ya?” ucapnya sambil menepuk pelan handuk basah ke luka Emil. Lelaki itu hanya tersenyum tipis, membuat Riella justru meneteskan air matanya.
“Aku cowok kuat, sejak kecil papa mamaku selalu memberiku sakatonik abc, jika hanya luka seperti ini, tidak seberapa, Sayang. Please don’t cry!” hibur Emil sambil mengusap air mata Riella, “jangan cengeng! Bagaimana nanti kamu akan menghadapi masalah ke depannya bersamaku, jika kamu hanya bisa menangis!” lanjutnya sambil merapikan rambut Riella yang berantakan.
“Apa kita sudahi saja, hubungan kita?” celetuk Riella menunduk dalam, menatap corak hello kitty pada piyama yang ia kenakan.
“Tidak akan pernah!” sahut cepat Emil, sambil menatap tajam ke arah Riella. “Kau meragukan kemampuanku? Hanya meyakinkan Kalun! Lelaki yang berhati melankolis, itu lebih mudah. Jangan katakan itu lagi! Calon imammu ini tidak menyukainya.”
“Sudahlah Kak, kamu harusnya bisa membaca apa yang tidak disukai kak Kalun. Tutup saja club mu itu,” ungkap Riella menjelaskan salah satu yang Kalun benci dari Emil.
“Akan aku usahakan, aku akan beralih ke …” ucap Emil sambil memikirkan usaha apa yang akan ia lakukan setelah menutup club yang sudah membesarkan namanya itu. Sebenarnya ia juga masih bingung dalam hal usaha, karena dari sisilah keluarganya, hanya mempunyai bisnis dunia malam dan pasti akan berat untuknya.
“Beri aku waktu 3 bulan, aku akan menunjukkan pada keluargamu!” katanya meyakinkan Riella.
Riella yang mendengar itu, segera mengusap lagi air matanya. Memeluk Emil, menyalurkan kekhawatiramnya, meyakinkan lagi hatinya, jika ia akan tiba di titik akhir, mengikat cintanya dengan Emil dalam ikatan tali suci, yang resmi secara hukum dan agama.
🚑
🚑
Bang Emil sayang banget sama Riella😍, tapi masih saja dibully🙃🙃.
Terima kasih buat vote dan like serta komentar positifnya. Aku tunggu dukungan selanjutnya ya🤭😝🙏