The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
Sebelum Bulannya Datang



SEMOGA BISA MENGOBATI RASA RINDU YA♥️ NEXT UP TANGGAL 1 FEBRUARI.


Semakin hari Riella semakin sibuk karena Aslan kini sering mengajak bermain di kala siang. Bayi itu sudah tinggal dengannya selama tiga minggu. Mewarnai canda dan tangis keluarga kecil Kenzo. Dia juga merasa terhibur dengan kehadiran bayi Aslan.


Malam ini jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Riella masih menunggu Kenzo pulang ke rumah. Tidak biasanya Kenzo pulang selarut ini, semenjak kejadian kecelakaan pesawat itu. Apalagi sekarang ada Aslan yang selalu menjadi obat lelahnya. Dia pasti pulang sebelum adzan maghrib berkumandang.


Riella yang menunggu kedatangan Kenzo, mulai lelah, rasa kantuk perlahan menggerogoti pertahananya. Ia tidak sanggup untuk menahan lagi rasa kantuk. Beruntung jagoan kecilnya sudah terlelap, jadi dia bisa tidur di manapun, tanpa gangguan Aslan.


Tepat pukul 9 malam mobil Kenzo tiba di rumah. Ia masuk pelan-pelan tanpa menyuarakan langkah kakinya, karena takut menganggu Riella. Padahal ia tahu jika jam 9 Riella pasti masih sibuk baca buku di kamar, sambil menjaga Aslan.


Namun, saat tiba di ruang keluarga Kenzo menggelengkan kepalanya, saat mendapati Riella terlelap di sofa, dengan tv yang masih menyala. Ia lalu mendekat dan memindahkan tubuh Riella ke kamar.


“Hmmm ... pasti kamu kelelahan mengurus Aslan. Kamu sih bandel, suruh pakai baby sitter saja nggak mau,” lirih Kenzo sambil mengecup dahi Riella. Kenzo yang merasa lelah ikut tidur di samping Riella. Memeluk Riella supaya tidak bergerak dari posisinya. Karena Ia tahu tingkah Riella ketika tidur.


***


Pagi hari, Riella bangun lebih dulu karena mendengar suara Aslan menangis. Tubuhnya terasa berat untuk dibawa beranjak dari ranjang. Ia lalu membangunkan Kenzo untuk mengambil Aslan.


“Bee, ambil Aslan kepala ku pusing, sepertinya aku tidak enak badan.” Kata Riella berusaha membuka matanya yang terasa berat.


“Hmmm ... kamu sakit?” Kenzo masih memejamkan matanya, hanya saja telapak tangannya meraba dahi Riella, mengecek suhu tubuh istrinya. Sedikit di atas normal tapi masih dalam status hangat, belum sampai di tahap panas.


“Nggak tahu, kepalaku sedikit berat untuk diajak bangun.” Riella menjawab sambil memijit kepalanya.


Kenzo yang mendengar suara Riella, segera bangun dan mengambil Aslan yang masih menangis. Setelah itu ia meletakkan Aslan di samping Riella dan segera berjalan ke arah dapur membuatkan susu untuk Aslan.


Saat ia tiba di kamar, terlihat Riella sudah membuka matanya, menanggapi tangan Aslan yang berusaha meraih jemarinya. Bayi itu mengoceh dan Riella menanggapinya menggunakan bahasa bayi. Kenzo yang melihat pun tersenyum sambil mendekat ke arah ranjang.


“Makin gembul saja si Aslan, Nee.” Kenzo memainkan pipi Aslan yang semakin chubby. Mencubit lembut, sambil memasukkan botol dot ke mulut Aslan.


“Hmm kamu juga harus semakin rajin kerjanya, buat beli susu Aslan,” ucap Riella sambil mendudukan tubuhnya. Kepalanya masih terasa berat, ia berusaha sekuatnya untuk menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.


Riella menatap ke arah jam dinding sudah jam 6 pagi, matahari belum sepenuhnya keluar, berbeda dengan Jakarta jika sudah jam 6 pagi matahari sudah keluar sempurna.


“Bee ....”


“Hmm ....”


“Ini tanggal berapa?”


“Kenapa?”


“Nggak papa. Sepertinya aku mau datang bulan deh, perutku rasanya tidak nyaman.” Kata Riella sambil mengusap perutnya.


“Yakin, Nee. Bakalan cuti panjang dong aku? Kita lakukan yuk mumpung belum datang bulannya?” Kenzo tersenyum jahil menatap wajah Riella yang sedikit pucat.


“Sepertinya iya kamu bakalan cuti,” jawab Riella sambil meraih ponsel yang ada di meja samping ranjang. Ia lalu melihat aplikasi kalender mestruasinya. Ia terdiam, membuat suasana hanya terdengar suara Aslan dan Kenzo.


“Astaga Bee ... jadwalku sudah lewat lima hari yang lalu,” ucap Riella raut wajahnya nampak terkejut sambil memperlihatkan kalender di ponselnya ke arah Kenzo.


“Lalu?” Kenzo yang tidak paham hanya acuh tidak ingin menanggapi Riella.


“Kok lalu sih? Ya kemungkinan aku hamil itu 90%,” Kata Riella dengan emosi meletakkan ponselnya dengan kasar, ketika mendengar respon Kenzo yang acuh, karena tidak paham dengan maksudnya.


“Masa sih, nggak mungkin Nee, kamu salah mungkin.”


“Nggak Bee, biasanya aku juga tidak pernah terlambat, pasti selalu maju ke depan.”


“Ya iya maju ke depan, kalau ke belakang itu namanya mundur,” sahut Kenzo dengan tawa kecil, “aku akan mengantarmu ke dokter nanti, mungkin karena gangguan hormon saja.” Kenzo merebahkan kembali tubuhnya, ia masih mengantuk dan ingin melanjutkan tidurnya.


“Dah yuk bobo lagi saja, masih petang ini,” ajak Kenzo sambil meraih kembali selimutnya.


“Hehm ... dengar itu ayam di rumah mama sudah berkokok, nanti rezekimu di ambil duluan sama ayam,” cibir Riella membuka selimut yang dipakai Kenzo.


Plak!


Tangan Riella mendarat di paha Kenzo. Saat Kenzo dengan santai mengucapkan istri empat. Kenzo yang mempunyai kesempatan segera membawa tubuh Riella kepelukkannya, pikir Kenzo begini lebih baik, bisa membangkitkan roket kecil di tubuhnya.


"Kita lakukan peluncuran roket dulu ke angkasa! Siapa suruh kemarin tidur lebih awal!" protes Kenzo, mengingat kejadian semalam yang ditinggal Riella.


“Nggak, aku mau buat sarapan setelah itu kita ke dokter.”


"Nggak, aku minta jatah dulu!" tolak Kenzo semakin erat memeluk Riella, bibirnya sudah menyentuh pundak Riella yang tertutup piyama sutra.


"Bee ... ada Aslan di sini!"


"Baiklah kita pindah ke sofa?" kata Kenzo sambil menggendong tubuh Riella. Ia memindahkan tubuh istrinya ke sofa hitam yang ada di kamar. Mulai kegiatan peluncuran roket Kw nya itu.


Riella yang awalnya menolak permintaan Kenzo akhirnya ia mampu mengeluarkan suara merdunya, bahkan wajahnya tampak kesal saat Kenzo mengeluarkan lebih cepat dari biasanya.


"Kenapa beda? Nggak selama kemarin malam?" tanya Riella curiga. Pikirannya Kenzo sudah menumpahkan cairannya ke lubang wanita lain.


"Harusnya aku yang bertanya padamu, Nee. Kenapa rasamu berbeda semakin ketat aku merasakannya, hingga membuatku sulit untuk menahan."


Tampak sekali wajah Riella yang malu, setelah Kenzo mengucapkan hal itu di samping telinganya.


"Curang kamu ya, Nee. Aku kasih bonus nih!" ucap Kenzo kembali bersiap memberika bonus kegiatan panasnya pagi ini.


Keringat keduanya bercucuran season kedua lebih lama dari season pertama tadi. Berbagai gaya yang biasa dilihat Kenzo mulai di praktekkan dengan istrinya. Jeritan dari Ah, uh, eh mulai bersahutan.


Riella menyerah dan meminta Kenzo untuk segera mengeluarkannya. Memukuli punggung Kenzo karena terlalu lama bertahan di dalam. Rasa panas dan perih sudah menyerang intinya, setelah ini mungkin Kenzo harus berpuasa 10 malam.


Kegiatan itu pun berakhir sampai jam 8 pagi, matahari sudah sempurna di balik korden kaca kamar Kenzo. Sedangkan Aslan sudah membuka mata, tapi hanya berceloteh seakan menyahut desahan yang tadi mereka keluarkan.


"Aku buat sarapan dulu," ucap Riella yang berusaha berdiri dari sofa, "kamu bersihkan itu, Bee!"


“Ya, segera bersiaplah biar aku yang menjaga Aslan,” kata Kenzo, berjalan mendekat ke arah ranjang.


Setelah menyelesaikan sarapannya, Kenzo dan Riella menitipkan Aslan pada Nindi. Pukul 10 pagi Kenzo dan Riella berangkat menuju rumah sakit. Sisa-sisa kelelahan tampak jelas di wajah Riella. Membuat Kenzo tersenyum menang bisa menumbangkan istrinya.


“Bee ... gimana jika aku beneran hamil?” mata Kenzo membulat sempurna, terkejut juga saat mendengar ucapan Riella. Pikirannya melayang ke arah sper*manya yang tidak mampu membuahi sel telur.


“Jangan pikirkan itu dulu, aku yakin kamu tidak sedang hamil.” Kenzo meraih tangan Riella ia genggam erat.


“Kenapa kamu bicara seperti itu? Meski aku belum begitu dalam mencintaimu, paling tidak jika kita pernah melakukannya pasti resiko terbesar adalah kehamilan. Dan aku tetap akan menerima jika itu benar terjadi.”


Setelah itu Kenzo hanya diam, sampai mobil mereka sudah tiba area parkir salah satu klinik ibu dan anak.


“Tenanglah, kita akan punya anak, tapi tidak saat ini. Kita akan minta obat hormon saja, supaya hormon mu stabil.” Kenzo lalu turun dari mobilnya membukakan pintu Riella. Mereka masuk berdua dengan tangan Kenzo terpaut di jemari Riella.


Saat tiba di ruang tunggu dokter kandungan. Mata Riella menatap lekat ke arah wanita dan lelaki yang tidak jauh darinya. Lelaki itu duduk sambil mengusap lembut perut sang wanita. Ia sebelumnya tidak pernah berharap akan masuk ke tempat ini, secepat ini. Dan di sudut lain ada seorang wanita muda yang duduk sendirian tanpa didampingi seseorang di sampingnya. Perkiraanya wanita itu mungkin hamil tanpa suami.


Kenzo mengambil tempat duduk tak jauh dari wanita yang datang sendirian. Matanya terus mengamati kelakuan wanita di sampingnya, yang mengusap perutnya yang sedikit membuncit. Sedangkan Riella masih bergelayut manja di lengannya, duduk berdampingan menunggu namanya dipanggil oleh perawat.


“Hamil ya, Kak?” tanya Kenzo mencoba membuka obrolan wanita di sampingnya.


“Menurutmu?!” wanita itu justru bertanya balik pada Kenzo, “Dah tahu pakai nanya?” lanjutnya, sambil menatap sengit ke arah Kenzo.


“Hahaha, kirain kekenyangan makan nasi, jadi perutnya gendut!” goda Kenzo sambil menggembungkan pipinya, menahan tawa karena melihat ekpresi ibu hamil di sampingnya yang tampak kesal. Perlahan kepalanya menoleh ke arah Riella karena merasakan cubitan di pinggangnya yang tak segera terlepas. Kenzo meringis sambil mengusap pinggangnya yang terasa panas.


“Nona Eriella.” Terdengar suara Riella dipanggil oleh perawat. Riella segera berdiri dari tempat duduknya, dan masuk ke dalam ruangan. Diiringi Kenzo yang terus mengekor di belakang tubuhnya.


TBC


...----------------...