The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
Satu Kesempatan



Riella terbangun ketika mendengar suara ketukan pintu utama yang terus diketuk oleh seseorang. Dengan mata yang masih terasa lengket ia berjalan keluar kamar untuk melihat siapa yang bertamu ketika dia masih asyik dalam mimpinya. Ia tidak sadar dengan penampilannya pagi ini. Daster satin warna hitam, dengan belahan dada rendah dan tinggi hanya menutupi batas paha. Semalam Riella mengganti bajunya setelah Kenzo keluar dari kamar, karena merasa kegerahan.


Riella menarik ganggang pintu, sambil mengusap matanya, membuat lelaki di balik pintu itu kesusahan menahan tawanya ketika melihat Riella yang masih terlihat kusut. Pikirannya melayang pada Kenzo yang tengah mandi madu semalam suntuk.


“Bang Kenzo mana, La?” tanya Alby setelah berhasil meredam suara tawanya.


Riella berusaha membuka matanya, sambil mengumpulkan kesadaran yang belum sepenuhnya terkumpul. Setelah sadar di depannya adalah Alby, dia mulai menampilkan senyuman tipis.


“Sudah ke kantor mungkin, sepertinya sudah tidak ada di kamar.” Riella menjelaskan dengan bibir terbuka sedikit karena masih malas untuk berbicara, ia yakin meski semalam dia sudah menggosok gigi, pasti aroma mulutnya masih menyengat.


“Saya justru datang, karena bang Kenzo tidak ada di kantor.” Alby melisik ke dalam rumah karena Riella tidak menyuruhnya masuk, berusaha mencari keberadaan Kenzo.


“Hmmm ….” Tiba –tiba Riella menoleh ke arah jam dinding. Terkejut saat mendapati jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi.


“Betulan tidak ada?” tanya Riella memastikan pada Alby.


“Iya. Tidak ada.” Alby justru kebingungan saat mengetahui jika Riella tidak tahu keberadaan suaminya.


“Sebentar, siapa tahu tubuhnya masih tertinggal di sofa.” Riella kembali ke kamarnya untuk mencari Kenzo. Namun, saat dia tiba di kamar, tidak ada jejak Kenzo yang menandakan dia berada di sana.


Riella memikirkan kejadian terakhir kali yang mereka berdua lakukan, “Em … pasti semalam dia ketiduran,” ujarnya setelah menyadari sesuatu. Riella berjalan keluar kamar hendak memastikan keberadaan Kenzo. Tiba di depan pintu ruang kerja Kenzo, ia mengetuk pintu sebanyak lima kali. Tapi pemilih nama masih belum membuka suara.


“Ken, kamu di dalam? Ada Alby yang mencarimu,” kata Riella mendekatkan bibirnya di dekat daun pintu, diiringi handle pintu yang terus digerakkan naik turun, tapi ternyata pintu itu dikunci oleh pemilik ruangan.


“Ken … aku dobrak ini pintunya ya! Kalau kamu tidak segera keluar!” teriak Riella dengan emosi pada lelaki yang masih mengumpulkan kesadarannya di dalam ruangan.


“Yah, bentar.” Kenzo menyahut, setelah mendengar ancaman Riella. Ia lalu berjalan keluar kamar untuk menemui istrinya.


“Kamu tidur di sini?” tanya Riella menatap Kenzo yang terlihat kusut.


“Iya maaf aku ketiduran.”


“Hmm … ada Alby di depan, temui lah!”


“Yah.” Kenzo menjawab singkat sambil menganggukan kepala pelan. Dia lalu memperhatikan Riella, mengamati dari rambut hingga lutut.


“Besok kalau mau menemui seseorang, pakai pakaian yang benar jangan seperti itu!” pesan Kenzo menegur Riella.


Membuat Riella memperhatikan pakaian yang ia kenakan saat ini. Spontan tanganya mendarat di keningnya, ketika melihat belahan dada yang bisa terlihat jelas oleh lawan bicaranya.


“Ya, aku tadi masih sedikit ngantuk, jadi nggak sadar dengan pakaianku.”


“Hem, bersihkan dirimu kita sarapan bersama dengan Alby!” perintah Kenzo lembut. Riella pun segera berlalu menuju kamar yang ada di sebelah ruangan Kenzo.


Di dalam kamar mandi, Riella terus memaki dirinya sendiri, karena kebodohannya, yang membiarkan Alby melihat kesexyan tubuhnya. Cukup lama Riella berada di dalam kamar mandi, menikmati air hangat yang merendam tubuhnya.


Setelah Riella menyelesaikan mandinya, ia lalu keluar kamar berjalan menuju meja makan. Mendapati Kenzo tengah duduk di samping Kaila yang tengah melihat kartun kesukaannya di ponsel. Sebelah kiri Kenzo ada Lintang yang duduk manis sambil berbicara dengan suaminya, sedangkan Alby duduk di depan Kenzo, mereka semua menunggunya untuk sarapan bersama.


“Selamat pagi,” sapa Riella saat tiba di meja makan.


“Ini bukan pagi lagi, Kak. Sudah siang ini,” sahut Kaila yang tidak ingin menatap Riella. Riella hanya tersenyum simpul menahan rasa malunya.


“Duduklah kita makan bersama,” perintah Kenzo, menunjuk kursi kosong di depannya yang tepat berada di samping Alby.


“Pa, aku mau disuap Papa.” Kaila berucap sambil menyerahkan piringnya di depan Kenzo.


“Okey, kita sepiring berdua, ya.” Kenzo pun meladeni permintaan gadis berusia 5 tahun tersebut, ia dengan telaten menyuapi Kaila tanpa rasa jijik bergantian dengannya, membuat nafsu gadis itu naik pesat, karena merasa diperhatikan Kenzo.


“Mama nggak makan?” tanya Kaila dengan mulut yang penuh dengan makanan. Tapi pertanyaan itu ditujukan untuk Lintang, bukan untuk Riella.


“Mama tadi sudah makan,” jawab Lintang sambil mengusap pipi Kaila.


“Kalian ini kaya main nikah-nikahan tahu nggak, ada anak, papa, dan mama, pas kan.” Alby berkomentar tentang kejadian di depannya siang ini.


“Heh, iya ya ….” Lintang membenarkan ucapan Alby, berbeda dengan Kenzo yang melirik ke arah Riella dengan ekor matanya.


“Harusnya yang kemarin nikah itu, bukan Kak Riella, mendingan mama Lintang saja, biar kita bisa bobo bareng bertiga. Benar kan, Pa? Papa kan selalu bilang begitu,” tanya Kaila pada Kenzo, yang masih sibuk mengawasi Riella. Kenzo mengangguk lemah, membenarkan ucapan Kaila. Sedangkan Riella yang mendengar ucapan Kaila tidak terlalu peduli, dia belum merasa kehilangan atau merasakan perasaan khawatir apapun di hatinya.


“Kenapa kemarin nggak Lintang saja yang nikah?” tanya Riella akhirnya menyahut dengan mulut yang masih terisi makanan.


“La.” Tegur Kenzo setelah mendengar ucapan Riella.


Sedangkan Riella hanya tersenyum tipis setelah makanannya habis, “kan nggak apa-apa kalau cinta sama cinta, terus sudah ada anak, kan lebih berasa gitu. Ya nggak, Sayang. Mendidik berdua dengan cinta lebih baik.” Riella menatap kaila yang langsung dijawab anggukan cepat oleh gadis kecil tersebut.


Riella tersenyum mengejek, ke arah keduanya, “tapi bisa saja kalian menjalin hubungan, karena kalian tidak ada hubungan darah sama sekali. Jadi halal-halal saja, kok!” Riella meletakan sendoknya, berganti bersidakep menatap keduanya bergantian. Suasana ruang makan terlihat memanas karena satu kalimat dari Alby.


“La. Cukup! Lanjutkan makanmu!” perintah Kenzo. Tapi Riella yang sudah tidak bernafsu untuk sarapan segera meninggalkan meja makan. Tanpa mempedulikan panggilan Kenzo dan berpamitan, ia masuk ke dalam kamar, menutup pintu kasar, hingga menimbulkan bunyi yang mengejutkan semua orang yang ada di meja makan.


“Maafkan Lintang, Kak. Kalau kehadiran Lintang membuat Kak Riella merasa nggak nyaman,” kata Lintang penuh penyesalan.


“Kamu nggak perlu minta maaf, kamu nggak salah di sini.” Kenzo lalu beranjak dari duduknya, “kalian lanjutkan dulu sarapannya. Aku akan menemui Riella.” Kenzo lalu meninggalkan meja makan, berjalan menuju kamar yang tidak terlalu jauh dari meja makan. Setelah berada di dalam kamar Kenzo mengunci pintunya supaya tidak ada yang mendengar perbincangan mereka.


“Kamu berlebihan, La!” tegur Kenzo ketika mendapati Riella tengah menatap jendela.


“Ya, seharusnya aku tidak melakukan itu, karena jelas kamu akan lebih membelanya.”


“Sttt … bukan masalah membelanya, tapi ucapanmu yang menyarankan aku untuk menikah dengannya. Kamu tahu aku dan Lintang tidak ada hubungan yang serius selain hubungan adik asuh.” Kenzo mendekat lagi di mana posisi Riella berada.


“Kembalilah ke meja makan! Kamu belum bisa makan dengan baik selama di sini,” perintah Kenzo


“Aku sudah kenyang.”


“Belum, aku tahu baru tiga sendok makanan yang masuk ke dalam perutmu.” Kenzo dengan cepat menyahut ucapan Riella, karena sebenarnya ia selalu memperhatikan Riella ketika makan.


“Atau mau aku suap?” tawar Kenzo.


“Nggak, aku mau pulang.” Kenzo mengerutkan dahinya ketika mendengar ucapan Riella.


“Pulang ke Jakarta?” tanya Kenzo memastikan. Riella mengangguk sebagai jawaban.


“Akhir bulan aku akan mengantarmu pulang. Saat ini kamu di sini dulu,” bujuk Kenzo, “Apa kamu tidak nyaman berada di sini?” tanya Kenzo.


“Sedikit tidak nyaman.”


“Kamu cemburu dengan kedekatanku dengan Lintang?” tanya Kenzo memberanikan diri mempertanyakan sikap Riella yang aneh.


“Pede banget siapa juga yang cemburu sama cowok kaya, Lo!” Riella membuang wajahnya ke arah luar jendela.


“Kan aku cuma tanya, siapa tahu kan itu benar.”


“Ngarep banget kamu ya … aku tu benci sama kamu. Mau diapain juga masih tetap benci.” Kenzo lalu menarik tangan Riella, membawanya untuk duduk di sofa yang ada di kamarnya.


“Coba kita duduk berhadap seperti ini, angka 6 akan nampak 9 di tempatmu, sebesar apapun aku mencintaimu, rasa itu akan tetap sama, kamu akan tetap membenciku!” Kenzo lalu berdiri berjalan pelan mendekat ke arah tempat duduk Riella, ia mendaratkan tubuhnya di sebelah Riella. “Tapi jika kita berdampingan, kamu lihat caraku mencintaimu, bisakah kamu merasakannya?” Kenzo mulai berani memeluk tubuh Riella, dan membelai punggung Riella.


Namun, segera Riella melepaskan pelukannya, “Hatiku hanya menampung satu nama, dan itu bukan kamu. Sekali benci tetap saja benci, mau dilihat dari mana pun hasilnya akan tetap sama, Ken.” Riella membulat sempurna menampilkan ekspresi marah.


“Apa luka yang aku buat lebih berat, daripada luka yang dia berikan padamu? Hukumlah aku jika itu bisa membuka hatimu untukku lagi.” Kenzo membalas tatapan Riella, sama tajamnya. “Aku sudah menjelaskan padamu kenapa aku tidak datang waktu itu. Kenapa kamu masih saja seperti ini?” setelah itu hanya keheningan yang mengudara. Sama sama menunduk saling intropeksi diri.


“Andai aku bisa memilih saat itu. Aku tidak akan membawa Khalisa pergi dan pasti tidak akan seperti ini. Hubungan kita pasti akan baik-baik saja. Kamu masih bisa memberikan senyuman terbaik untukku.”


“Beri aku kesempatan untuk memperbaikinya. Atau kamu mau aku bernalan ulang seperti awal kita bertemu?” tanya Kenzo lalu mengulurkan tangannya.


“Hai gadis kecil, namaku Kenzo Abiyan Pratama.” Tangan Kenzo masih menggantung di udara karena Riella tidak segera menyambutnya.


“Satu kali,” ucap Riella menerima tangan Kenzo, meski ia ragu dengan perasaanya sendiri, tapi berusaha tersenyum ramah sambil menatap Kenzo.


“Ya satu kali." Kenzo memperjelas perjanjiannya. "Bisakah kita mulai dari sekarang, hubungan pernikahan yang sebenarnya?”


“Apa maksudmu?” mata Riella membulat bersiap menerkam Kenzo, takut apa yang di otaknya sama dengan apa yang di pikiran Kenzo.


“Ciuman pertama kita dulu, waktu di Bali,” kata Kenzo, yang memainkan kedua alisnya.


“Menjauh atau tidak ada kesempatan.” Suara ancaman Riella membuat Kenzo menjauhkan tubuhnya dari Riella. Ia menahan nafas sambil tersenyum tipis mengusap rambut Riella.


“Ganti bajumu, aku akan membawamu jalan-jalan!”


🚑


🚑


🚑


🚑


Nggak mau nuntut buat like dan komentar😂 Soalnya saya terlambat update.