The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
Nasihat Kalun



Mata Riella menatap ke arah lelaki yang kini berada di depannya. Di depan lelaki ini, ia harus pura-pura membencinya. Membenci wajahnya, kelakuannya dan harusnya Riella jijik dengan lelaki di depannya ini. Tapi dia sulit untuk melupakan janji manis Emil. Setahun berlalu ternyata tidak mampu merubah perasaanya.


Riella berlenggang melewati tubuh Emil, berusaha mengabaikannya. Namun, dengan cepat Emil menahan lengannya. Membuatnya harus tetap berdiri di tengah banyaknya pengunjung bandara.


“Dengarkan aku!” Emil memerintah Riella untuk tidak bergerak sedikit pun.


“Mau apa lagi? bukannya kamu sudah bahagia dengan wanitamu!” Riella tersenyum mengejek menghadap Emil, berusaha menguatkan hatinya.


“Kembalilah padaku! Ku mohon, aku tahu kamu tidak bahagia dengannya!” mohon Emil, Riella yakin jika suara Emil bisa di dengar jelas oleh orang yang melewatinya.


“Ck … siapa bilang aku tidak bahagia?” tawa sumbang Riella pecah, menutupi apa yang sebenarnya terjadi di dalam hatinya. “Aku bahagia dengan hidupku sekarang. Jangan berani mengusik hidupku lagi, Em-Mil!” peringat Riella tanpa title nama di depannya. Ia mencoba melepaskan tangan Emil yang masih menahannya.


“Aku akan bercerai dengan Chika. Please, come back to me!”


Riella terbatuk setelah mendengar ucapan Emil, tersedak dengan udara yang masuk ke dalam paru-parunya. Mengatur lagi nafasnya, bersiap membalas ucapan Emil.


“Nggak salah kamu mau cerai?” tanya Riella antusias, matanya bahkan pura-pura terkejut setelah mendengar perkataan Emil. Tapi tidak dengan hatinya yang sudah lebih dulu mendengar kabar perceraian itu, dari rekannya. Emil pun tak kalah senang dengan respon yang ditampilkan Riella. “Iya, jadi ku mohon, kita perbaiki hubungan kita dari awal.”


“Perbaiki! Menerima bekas dari mantan sahabatku? Heh!” Riella menyengir menatap tajam ke arah Emil, meredakan gemuruh amarah di hatinya.


Riella kembali tersenyum ke arah Emil, “Maaf, Tuan Emil. Saya tidak berniat untuk kembali ke mantan. Apalagi dengan mantan yang sudah berkhianat.”


“Riella …, bukankah Kenzo juga berkhianat?”


“Tapi tidak seperti kamu!” Riella menunjuk tepat di hidung Emil yang terperosok ke dalam. Setelah itu dia menghempaskan tangan Emil, berjalan meninggalkan lelaki yang masih berusaha mengejarnya.


“Stop ya! Jangan mengikuti aku!” bentak Riella ketika ia sudah tiba di samping mobil kepunyaanya.


“Lihat saja, siapa yang akan mendapatkanmu kembali, La!” teriak Emil ketika Riella sudah masuk ke dalam mobil.


Riella tidak menanggapi ia segera melajukan mobilnya ke arah rumah sakit. Menepati janjinya pada Kalun. Melihat keponakannya yang baru saja lahir tadi siang.


Saat Riella tiba di sana, keadaan kamar sangat ramai. Kalun yang lebih dominan menceritakan proses kelahiran Aluna pada Samuel dan satu temannya lagi, kecuali ketika ia pinsan. Kalun merahasiakan itu dari sahabatnya, karena takut mendapat hinaan. Riella lalu melewati para lelaki tersebut dan mendekat ke arah Aluna.


“Sudah nggak usah duduk, tiduran saja!” perintah Riella ketika mendapati kakak iparnya hendak duduk bersandar.


Riella lalu menatap bayi gendut yang terlelap di box bayi, di sebelah bed Aluna. “Boleh aku gendong, Kak?” tanya Riella, yang penasaran dengan keponakan barunya. Aluna mengangguk menyetujui permintaan Riella.


“Waow … lucu ya,” puji Riella ketika mendapati gadis mungil itu berada di dekapannya.


“Tapi sumpah deh, wajahnya papanya banget … mamanya cuma jadi wadah tampung saja sepertinya.” Cibir Riella membuat Aluna yang ada di sampingnya tersenyum tipis sambil mengangguk.


“La, hati-hati ya, itu calon istriku!” terdengar suara teriakan dari Samuel saat melihat Riella menggendong bayi mungil di tangannya.


Suara tawa pecah dari semua orang yang ada di sana, “Sembarangan! Ogah aku punya menantu kaya, Lo!” sahut Kalun sambil menimpuk kepala Samuel.


“Hilih Kal, calon istri gue sudah lo ambil, masak iya, anak lo nggak boleh gue ambil, timbal balik gitu dong!” sahut Samuel membalas perlakuan Kalun.


“Mau umur berapa lo nikah? Hah! Anakku malu tahu nggak, ntar dikira jalan sama opungnya!” seru Kalun menanggapi ocehan Samuel.


“Sudahlah, pokoknya nanti aku mau melamar Leya, tunggu saja! Ku bakar nanti rumahmu kalau kamu nggak ngizinin. Bayinya saja sudah cantik begitu, apalagi nanti kalau sudah dewasa! Pasti ngalahin bundanya. Ikhlas aku bundanya buat kamu, betulan deh ikhlas. Suwer!” Samuel mengangkat kedua jemarinya membentuk huruf V di depan wajah Kalun.


“Sepertinya otakmu sudah konslet ya! Sudah sana pulang! Bikin heboh rumah sakit tahu nggak!” usir Kalun yang merasa terganggu dengan rekannya yang sejak tadi tidak kunjung pulang ke rumah. Namun, Samuel dan satu rekannya masih betah di sana, hingga bayi itu menangis keras dan Kalun benar- benar mendorong mereka untuk keluar dari kamar Vvip yang di tempati Aluna dan bayinya.


“Kamu sendiri gimana, La? Sudah ada tanda-tanda?” tanya Aluna ketika kamar sepi.


“Tanda-tanda apa?” Riella mengerutkan dahi bingung, dengan pertanyaan asing yang baru ia dengar.


“Doain saja,” sahut Riella tanpa menatap ke arah Aluna. Lalu menyerahkan Leya ke tangan Aluna.


“Liburan kemarin nggak jadi juga?” tanya Aluna lagi dengan bibir yang sedikit tertarik ke atas.


“Belum rezekinya, semua kan tergantung yang di atas.”


“O, yah?” Kalun menyahut, “gimana mau jadi anak, jika melakukan saja belum! Emangnya bayi bisa hadir hanya dengan doa dan ciuman?” cibir Kalun memarahi adiknya.


“Kakak ih … dapat informasi dari mana coba bicara kaya gitu?”


“Antena kakak kan, banyak. Tadi kamu juga habis ketemuan dengan Emil, kan?”


“Bukan ketemuan, tapi kebetulan bertemu.” Riella menjawab tegas ucapan Kalun.


“Kakak berharap kamu bisa bahagia dengan Kenzo, tanpa ada lelaki itu lagi,” kata Kalun yang kini menyusul duduk di atas bed yang ditempati istrinya, membantu Aluna yang hendak menyusui Leya.


Riella yang berada di sana, mengawasi pergerakkan Kalun, lelaki di depannya ini bisa mecintai sepenuh hati pada kakak ipar, meski awal mereka bertemu di waktu yang tidak terduga. Ia membayangkan hubungannya dengan Kenzo. Mungkinkah ia bisa sama seperti kakaknya? Hidup dengan orang yang dia cintai.


“Woi …!” bentak Kalun membuyarkan Riella yang tengah melamun.


“Bengong saja kamu! Baru juga ditinggal 1 jam,” ledek Kalun. Riella lalu mendengus sambil menatap ke arah Kalun.


“Aku bingung, Kak. Dengan apa yang aku rasakan saat ini.” Riella menegakkan tubuhnya sambil mengatur nafas, “jujur aku sulit melupakan Kak Emil. Tapi aku juga sudah terbiasa dengan kehadiran Kenzo, saat dia pergi seperti ini, aku merasa kesepian. Tapi dia belum ada di hatiku. Aku masih berdebar saat melihat Emil. Bahkan aku harus berpura-pura membenci ketika bertemu dengannya,” jelas Riella mengungkapkan perasaanya.


“Apa lagi yang mau kamu harapkan dari si brengsek itu? Jangan bilang kamu merindukan daging diantara selangkangannya?” tebak Kalun sambil menampilkan tatapan jijiknya.


“Kak!” bentak Riella saat paham maksud ucapan Kalun, berbeda dengan Aluna yang masih mencerna ucapan suaminya.


“Nggak, begitu! Tapi ya ... mungkin karena kita pernah melakukan itu jadi aku sulit untuk melupakannya.” Riella menunduk merasa malu karena tidak bisa menjaga diri.


“Sepertinya, papa kurang memberimu wejangan, La. Jadi kamu belum bisa menghargai apa yang diberikan Allah padamu! Koreksi dirimu, sebelum semuanya terlambat. Dan harus kamu ingat, Kenzo juga lelaki normal pasti juga butuh wanita yang benar-benar bisa membalas cintanya. Saran kakak, mulai lah melayaninya dengan baik!”


“Lelaki itu semua sama! Di belahan dunia manapun, otaknya 80% mesum!” cibir Riella membuat Kalun terbahak.


“Itu tahu! Harusnya kamu juga bisa mengerti kondisi Kenzo dong?” kata Kalun membenarkan ucapan adiknya.


“Tau … ah pusing aku! Aku nyaman dengan hubunganku seperti ini!” Riella lalu menyandarkan kembali tubuhnya.


“Ya, nggak papa, asal jangan terlalu lama. Karena benar katamu 80% otak lelaki itu mesum, jika tidak tersalurkan bisa saja mereka mencari wanita idaman lain, atau bisa jadi larinya ke arah penyakit mematikan lain, gula, kolestrol dan kamu tahu pasti, kan!”


“Termasuk kamu, A’?” sahut Aluna bertanya pada Kalun.


“Aku manusia special yang diciptakan untukmu, Bunda ….” Kalun tersenyum sambil mengusap lengan Aluna.


“Ceh … bucin deh, bucin!” ledek Riella dengan nada sumbang.


“Iri bilang Bos!” balas Kalun, sambil memeluk tubuh Aluna, tidak peduli jika di depannya ada adiknya yang tengah memperhatikannya.


Setelah itu, keduanya saling cekcok di depan bayi Leya. Memperhitungkan apa yang sudah diberikan, dan apa yang diminta. Termasuk membahas perasaan Kalun yang pernah jadi budak cinta seorang Kayra. Menyulut api cemburu pada wanita yang baru saja melahirkan.


🚑


🚑


🚑