
Please Vote ya, biar bisa bertahan. Terima kasih banyak atas dukungannya, semoga Allah menggantikan pin yang digunakan readers 🙏🙏🙏🙏
Dua petugas medis mendorong brankar dengan sedikit berlari. Berteriak meminta semua orang untuk menyingkir memberinya akses keluar, karena tengah membawa korban darurat. Mereka akan memindahkan ke rumah sakit yang lebih lengkap peralatannya dari pada di sini. Karena kondisi korban tersebut mengalami hipotermia, meski korban sudah mendapatkan pertolongan pertama, tapi tetap saja harus diperiksa lebih lanjut.
“Kakak keluarga Kenzo, ya?” tanya petugas yang tadi bertemu Riella, saat melihat Riella hendak mengejar petugas medis.
Riella menoleh ke sumber suara, mengamati petugas berompi orange yang semakin mendekat ke arahnya, “Iya … ada apa?” kata Riella sedikit heran karena petugas tersebut menghentikan niatnya.
“Silakan masuk dulu, apakah jenazah di dalam benar Kenzo Abyan atau Kenzo Raditya? Soalnya mereka duduk berhadapan. Meski dari tempat duduk yang digunakan korban meninggal dia adalah Kenzo Abyan. Tapi kita butuh kepastian dulu dari keluarga,” kata petugas sambil membuka pintu ruangan korban meninggal.
Riella lalu menatap wajah Kalun, ia takut jika itu benar-benar suaminya, takut dipaksa untuk ikhlas melepaskan Kenzo. Kalun yang melihat Riella tidak segera masuk, mengisyaratkan adiknya untuk masuk ke dalam. “Kakak akan di sampingmu. Masih ada pelangi di depan sana yang menunggumu datang,” kata Kalun, lalu menuntun Riella masuk ke dalam.
Dengan langkah berat Riella masuk ke dalam ruangan. Ia memejamkan mata saat menangkap banyaknya kantong jenazah yang berjajar rapi di sana. Ia melewati satu persatu baris kantong jenazah, hingga tiba di baris jenazah Kenzo, Riella masih mengikuti langkah petugas medis. Langkah kaki Riella semakin pelan, tidak ingin menatap ke depan, ia menunduk menyembunyikan pandangan ke arah bawah.
“Saya buka ya, Kak. Apapun yang terjadi kita memang harus ikhlas,” ujar petugas wanita yang sudah berjongkok, bersiap membuka kantong jenazah. Kalun mengangguk, menyetujui permintaan petugas.
Petugas medis itu menarik resliting kantong jenazah, Riella langsung fokus ke arah kantong jenazah ketika mendengar suara tarikan resliting, “silahkan dilihat baik-baik, jika dia memang benar keluarga Anda saya akan mengurus prosedurnya.” Petugas itu mengangkat kepala Kenzo menghadap ke arah Kalun dan Riella.
“Bukan! Itu bukan suami saya.” Riella menyangkal dengan cepat, saat melihat wajah lelaki yang kini sudah terbujur kaku di kantong warna kuning, sedangkan Kalun yang tadi tegang kini bisa membuang nafas lega, saat menyadari jika itu bukan Kenzo.
“Benarkah? Apa anda tidak ingin memastikan lagi?” tanya petugas medis.
“Iya Kak. Dia bukan keluarga kami.” Kalun menyahut saat Riella justru bersembunyi di balik tubuhnya.
“Berarti mungkin … Kenzo keluarga bapak adalah korban yang baru saja dipindahkan ke rumah sakit yang lebih besar, lelaki itu baru saja ditemukan dan mengalami hipotermia,” jelas petugas wanita tersebut, sambil menutup kembali kancing kantong jenazah. Riella yang mendengar penjelasan petugas medis langsung berlari keluar ruangan. Mencari brankar yang tadi melewatinya.
“Terima kasih, Kak. Korban dipindahkan ke rumah sakit mana?” tanya Kalun memastikan. Petugas medis itu menjelaskan dengan singkat, dan memberi alamat rumah sakitnya.
Setelah mendapatkan alamatnya, Kalun mencari keberadaan Riella lalu membawanya masuk ke mobil. Tidak ada yang bersuara saat berada di dalam mobil. Isi pikiran Riella hanya ingin melihat kondisi Kenzo dalam keadaan baik-baik saja.
Tiba di depan rumah sakit, Riella segera berlari mencari keberadaan Kenzo, masuk ke ruang UGD, membuka satu persatu gorden pasien gawat darurat. Kalun yang melihat adiknya hanya mampu menggelengkan kepalanya. “Di mana ruangan korban kecelakaan pesawat yang baru saja dipindahkan ke sini?” tanya Kalun pada petugas, matanya masih menatap adiknya yang tidak bisa berpikir jernih. Melihat adiknya yang mencengkram rambutnya kuat, karena tidak mendapati Kenzo di ruang UGD.
“Terima kasih,” ucap Kalun pada perawat wanita yang tengah berjaga. Dia lalu mengambil tulisan yang diberikan perawat dan segera menghampiri Riella.
“Ayo! Kakak akan membawamu bertemu Kenzo,” kata Kalun menarik tangan Riella, lalu berjalan menuju ruang ICU.
“Kenzo yang sudah membuat pikiranku kacau, dia harus menerima hukumannya setelah sehat nanti,” ucap Riella saat berjalan ke arah ruang ICU.
“Dia selalu siap menerima hukuman darimu, mau berapa ronde pasti dia mampu.”
“Kak! Bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal seperti ini!” tegur Riella, mendengus kesal.
“Hahaha, sudahlah. Ayo!”
Tiba di depan ruang ICU Riella bisa melihat wajah Kenzo yang menggunakan selang oksigen. Melalui pembatas kaca bening Riella masih bisa melihat jika Kenzo masih ditangani oleh dokter. Dia hanya bisa pasrah menunggu dokter itu selesai menangani suaminya. Sepertinya Kenzo terlalu lama terendam air laut, jadi banyak cairan yang masuk ke dalam paru-paru, dan suhu tubuhnya menjadi di bawah normal. Itulah yang menyebabkan Kenzo mengalami hipotermia.
Tiga puluh menit berlalu, Riella masih berdiri, berjalan mondar mandir sambil meremas pakaiannya, mengalihkan rasa cemas apa yang tengah ia rasakan. Kalun sudah lebih tenang, kini sudah bisa duduk santai setelah memberitahu orangtuanya, tapi mereka masih menunggu Nindi dan Haikal yang belum tiba di Bali.
Pintu ruangan terbuka, petugas dan dokter yang mengurus Kenzo keluar dari ruangan ICU. Riella langsung berjalan menghampiri. Menanyakan kondisi Kenzo saat ini.
Setelah diperbolehkan dokter untuk masuk ke dalam, Riella segera masuk, dan melapisi pakaiannya dengan pakaian pemberian rumah sakit. Riella mendorong pelan pintu ruangan ICU yang di tempati Kenzo. Mendekat dengan langkah pelan, sambil menatap wajah Kenzo dengan tatapan sendu, hampir saja ia meneteskan air matanya lagi jika ia tidak berusaha keras untuk menahannya.
Lebih dekat lagi dengan tubuh Kenzo, Riella tersenyum tipis, menyadari jika itu benar suaminya, tapi kini ia sudah tidak bisa lagi menahan air matanya. Air mata bahagia, saat mengetahui jika suaminya belum pergi. Tangan Riella terulur menyentuh pipi Kenzo yang masih memejamkan matanya.
“Terima kasih, sudah bertahan.” Satu kalimat meluncur dari bibir Riella, diiringi air matanya yang terus menetes di pipinya.
“Bukalah matamu, Ken. Aku di sini menunggumu bangun!” masih terdengar nafas Kenzo yang terasa berat. Bunyi EKG seperti nada piano yang mengiringi Riella untuk mengungkapkan perasaan yang tadi ia rasakan.
Riella lalu melihat ke arah kaca, melihat mama Nindi sudah tiba, akhirnya dia harus mengalah, memberi kesempatan untuk mertuanya untuk masuk.
“Cepatlah bangun, jangan lama-lama kamu tidurnya,” kata Riella mendaratkan kecupannya di dahi Kenzo.
🚑
🚑
🚑
Jangan lupa ya untuk like, komentar dan vote yang banyak. Terima kasih.