
Follow IG saya ya ketik Rehuella1.😍
Riella masih memikirkan jawaban dari panggilan Emil. Dia menarik nafas panjang, lalu membuangnya pelan melalui mulutnya. Setelah sedikit tenang, dia berbalik badan sambil tersenyum tipis ke arah Emil. Matanya menatap balik ke arah Emil yang menatapnya dengan lembut. Bibir pria itu tertarik ke samping saat mendapati wajahnya yang ramah.
“Apa kabar?” tanya Emil, dia tahu Riella tengah hamil saat ini. Meski hatinya nyeri. Tapi, dia tidak berhak untuk menyesalinya. Dia sadar, jika semua ini adalah hasil ulahnya sendiri. Memang benar, tidak ada penyesalan yang terjadi di depan, yang di depan itu YAMAH*.
“Alhamdulillah, luar biasa baik. Aku harus pergi.” Riella lalu membalikkan badan, untuk melanjutkan langkahnya kembali ke ruangan Erik.
Namun, baru dua langkah ia berjalan, tangan Emil sudah menahannya. “Bisa kita berbicara sebentar?” Emil mencoba bertanya pada Riella. Dia tahu Riella masih membencinya, maka dari itu ia ingin menyelesaikan semuanya. Dia tidak ada niatan buruk sedikitpun dengan mantan tunangannya itu.
“Masalah apa?” Riella melanjutkan langkahnya, diikuti Emil yang mengikutinya dari belakang.
Emil sedikit lega, karena Riella tidak langsung menolak permintaannya kali ini.N“Bukan masalah besar, bisa kita memesan kopi dulu, di café depan?” tawar Emil sambil menunjuk ke luar rumah sakit.
“Aku tidak meminum kopi.” Riella menjawab dengan nada malas.
“Kamu bisa memesan yang lainnya.” Mendengar jawaban Emil, dia menghentikan langkahnya, lalu melihat jam yang melingkar dipergelangan tangan.
“Baiklah, aku punya waktu, tapi tidak banyak.” Riella menjawab tanpa menatap ke arah Emil.
Senyuman terpancar dari bibir Emil. Dia lalu membawa Riella keluar dari rumah sakit, menyeberangi jalan yang tampak ramai.
Mereka berdua masuk ke café tersebut. Malam ini, suasana café memang sedikit ramai. Emil berjalan menuju meja pemesanan, lalu memesan coklat panas untuk Riella sedangkan untuknya, dia lebih memilih kopi pahit tanpa tambahan gula.
Emil menarik kursi untuk Riella, lalu mempersilahkannya untuk duduk. Bersikap manis, seperti seorang pria yang perhatian dengan kekasihnya.
“Jangan tegang seperti itu, aku janji tidak akan menyakiti hati maupun fisikmu. Aku sadar aku sudah tidak bisa memilikimu lagi. Semua karena kesalahan yang sudah aku lakukan,” kata Emil, saat melihat wajah Riella yang tampak khawatir.
Riella hanya mengangguk, memperhatikan pria di depannya. Pria yang dulu selalu ia puja, yang pernah menghiasi setiap mimpi indahnya, pria yang dulu tampan, tapi sekarang lihatlah! Dia tampak menyedihkan, bahkan aroma parfum mentol campuran citrus yang dulu sering dia gunakan, kini beralih menjadi aroma kayu putih bercampur sere, aroma khas bayi. Rambut yang sedikit kering, terlihat jelas, jika pria itu mengabaikan penampilannya saat ini.
Tangan Emil mulai meraih tangan Riella. Tapi, secepat kilat Riella menjauhkannya, sebelum tangan pria itu berhasil meraihnya.
“Ada hal penting apa, sampai kamu punya keberanian untuk menemuiku?” tanya Riella, tanpa menatap manis ke arah Emil. Pria itu tersenyum kecut. Dia juga sadar dia tidak berhak mendapatkan perlakuan baik dari Riella, setelah kelakuannya dulu. Dia sengaja, mengirimkan video senonohnya pada Kenzo. Sayangnya perbuatannya itu tidak membuahkan hasil.
“Aku minta maaf atas semua yang aku lakukan padamu. Maafkan diriku yang sudah tergoda dengan Chika. Sekarang aku tahu, bagaimana rasanya. Aku baru menyadari, dan sekarang, aku merasakan di posisimu saat itu. Dikhianati, saat kita baru bisa mencintainya. Mungkin ini adalah balasan yang wajib aku terima dari perbuatanku dulu. Sekali lagi maafkan aku.” ucapan Emil terdengar tulus saat mengatakan hal itu pada Riella.
Riella mengangguk, berusaha dengan ikhlas memaafkan Emil. Dia belum membalas perbuatan Emil. Tapi, Allah sudah menghukumnya lebih dulu. Itu tandanya Emil bukanlah jodoh yang baik untuknya.
Setelah itu obrolan mereka terhenti karena pelayan mengantarkan dua cangkir minuman yang berbeda. Pelayan itu sangat ramah menyapa keduanya, lalu segera meninggalkan meja. Berlalu begitu saja, setelah penawaran menu spesialnya ditolak oleh Riella dan Emil.
Terlihat jelas Emil tengah tersenyum tipis, “Apa kamu mau kenalan dengan, Sheva? Dia tampan sekali, usianya baru 3,5 bulan, dia bayi yang kuat.” Emil menceritakan tentang anak lelakinya. Membuat Riella yang ada di depannya tampak serius mendengarkan setiap apa yang dia ucapkan.
Dia tahu, sejak dulu Emil menyukai salah satu pemain bola legend dari AC Milan tersebut. Emil juga pernah bilang padanya, jika punya anak laki-laki, dia akan memberinya nama Sheva pada anaknya.
“Ya, lain kali mungkin bisa.” Riella mencoba memancarkan senyumnya. Entah perasaan apa yang ia rasakan saat ini. Dia terlihat biasa saja saat bertemu dengan Emil.
“Iya, sayangnya dia tidak seberuntung bayi lainnya.” Emil meminum kopi di tangannya. Lalu meletakkan kembali.
“Maksudmu?” tanya Riella.
“Sheva menderita Hipotonia. Jadi harus keluar masuk rumah sakit untuk melakukan teraphy,” jelas Emil, sambil menatap wajah Riella.
Ada perasaan nyeri yang tiba-tiba menghampiri Riella. Tidak tega, merasa kasian dengan Sheva. Dia seorang dokter, apalagi cita-citanya meneruskan ilmu kedokteran mamanya. Meski sebenarnya, dia tidak begitu menyukai anak kecil dulu. Tapi, mengingat kelucuan Aslan, keinginan untuk menjadi dokter anak semakin menggebu. Dia ingin suatu saat nanti, gelar itu akan tersemat di namanya.
“Dia yang dibawa perawat tadi?” tanya Riella setelah diam beberapa menit.
“Di mana Chika?” rasa penasaran yang terus menggelitik hati Riella mendorongnya untuk bertanya pada Emil.
“Dia tidak mau menerima kondisi Sheva, dia pergi bersama pria lain. Itulah kenapa aku bilang padamu, aku merasakan apa yang pernah kamu alami dulu.” Emil lalu melihat jam di tangannya, “sepertinya sudah jadwalnya, dia masuk kelas, aku temani dia dulu.” Emil beranjak dari duduknya, dan segera berjalan menuju kasir, tanpa melihat respon Riella.
Setelah selesai Emil segera meninggalkan café di ikuti Riella yang ikut menyusulnya. Mereka kembali berjalan beriringan memasuki gedung rumah sakit, berjalan menghampiri ruang fisioteraphy.
“Aku akan ikut denganmu, mumpung aku masih di Jakarta,” ucap Riella berjalan mensejajari langkah Emil. Emil tersenyum senang, sambil menoleh ke arah Riella.
“Sudah berapa bulan?” tanya Emil.
Riella jadi salah tingkah dengan pertanyaan Emil, dia lalu mendekap perutnya. “Kelihatan ya?” ucapnya balik bertanya.
“Iya.” Emil terkekeh, “gak usah malu, kamu hamil bersuami kok,” tambahnya.
“Baru lima bulan.” Riella menjawab sambil melepas dekapannya.
“Selamat ya, aku ikut bahagia atas kebahagianmu,” ucap Emil. Riella menarik nafas dalam, lalu tersenyum tipis sambil menganggukan kepalanya.
Dia tidak perlu membenci pria di sampingnya ini. Karena Allah sudah membalasnya, dia tidak ingin mantan tunangannya akan lebih menderita lagi. Dia masih punya hati nurani untuk memberi maaf pada Emil.
Mereka tiba di ruang fisioteraphy, Riella melihat Emil mendekati wanita yang tadi menggendong bayi Emil. Saat pertemuannya tadi, Riella hanya sekilas melihat bayi itu. Emil juga beruntung, bisa mendapatkan wanita baik, yang mau mengurusi anaknya. Riella lalu mendekati mereka.
“Di mana Sheva?” tanya Riella menghentikan obrolan Emil dan baby sitter Sheva.
“Itu.” Emil menunjuk ke arah bayi laki-laki yang tengah berada di atas gym ball.
“Dia tampan,” puji Riella, “Dia pasti bisa melewati semuanya. Kamu jangan pernah menyakiti Sheva, cukuplah sekali saja kamu melakukan kesalahan, dia butuh kamu. Rawat Sheva dengan baik. Jangan membuat Sheva menjadi anak yang tidak beruntung. Aku yakin, kamu bisa jadi papa yang baik untuknya.” Riella lalu melepas alas kakinya, berjalan mendekati Sheva.
Sedangkan Emil hanya menahan bibir bawahnya, demi meredam suara teriakan yang ia keluarkan. Matanya jelas berkaca-kaca, bagaimana dia dulu bisa menyakiti Riella, wanita lembut yang mau menerima Sheva apa adanya. “Terima kasih nasihatnya,” gumamnya sambil melepas gigitan bibir bawah.
“Siapa dia, Mas?” tanya baby sitter Sheva.
“Mantan tunangan.”
“Ow,” jawab wanita di samping Emil, sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan. “Cantik.”
“Iya. Aku yang bodoh.” Emil lalu berjalan menghampiri anak dan mantan tunangannya. Mereka bersenda-gurau sebentar, sebelum akhirnya Riella pamit undur diri.
“Lain kali, ambil jam teraphy nya pagi saja. Kasihan anakmu.” Riella berpesan pada Emil.
“Iya, Tante. Terima kasih,” ucap Emil menirukan gaya bayi berbicara.
“Aku pergi ya,” pamit Riella lalu meninggalkan ruang fisiotherapy. Dia sudah lama keluar dari ruangan Erik, pasti mereka semua khawatir dengannya, apalagi dia pergi tanpa membawa ponsel.
Dan Emil hanya bisa menatap kepergian Riella. Dia merasa lega, setelah meminta maaf dengan Riella. Dia yakin apa yang dia dapat hari ini adalah hasil dari perbuatannya dulu.
...----------------...
Orang yang berbuat dosa pasti akan dibalas. Itu janji Allah, dan setiap orang akan mendapat balasan sesuai amalanya. 💪
Hati-hati komentar positif, ntar dapat balasan juga loh😁😁