
Selamat Membaca!
🌹
Tiada yang lebih menyakitkan selain perasaan kehilangan. Sudah satu minggu Riella tenggelam dalam rasa kehilangan bayinya. Dia bahkan, kehilangan nafsu makan dan enggan untuk melakukan aktivitas lainnya. Dia hanya bisa duduk diam terkadang tidur miring sambil terisak di bawah selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Riella sudah seminggu seperti ini. Dia juga mendadak berubah menjadi wanita yang irit bicara.
Beruntung Riella masih berada di rumah sakit. Jadi, dokter yang menanganinya sengaja memasukkan tambahan suplemen ke cairan infus yang masih menempel di tubuhnya.
Namun, hari ini. Saat dia merasa kondisinya sudah lebih baik. Dia memaksa dokter untuk mengizinkannya untuk pulang. Dia sudah tidak bisa lagi berlama-lama di rumah sakit. Meskipun rumah sakit itu adalah miliknya sendirinya.
Silvana atau wanita yang kerap disapa Eva, salah satu sahabatnya itu ikut mengunjunginya kemarin, memberinya wejangan unfaedah. Tapi, dia bersyukur masih punya Eva yang selalu setia di sampingnya saat ini. Berusaha menghiburnya saat dia dirundung rasa penyesalan.
Dan pagi ini, dia begitu bersemangat untuk pulang ke rumah. Selain rasa kerinduan pada kamarnya. Dia juga penasaran dengan apa yang akan diberikan oleh Ella padanya.
Siang ini Riella sudah berada di dalam mobil Kalun. Dia sengaja meminta pria tampan itu untuk menjemput dirinya. Selain mengantarnya pulang dia ingin meminta pendapat tentang hubungannya dengan Kenzo. Tapi, sayangnya pria itu justru tidak memberinya solusi. Kalun justru meledeknya habis-habisan karena diam-diam, tanpa ia sadari dia mengatakan jika tidak ingin kehilangan pria tersebut.
“Kakak tahu nggak? Kenapa papa dan mama tidak memberitahu Kenzo saat aku sudah sadar?” tanya Riella saat mobil yang ia tumpangi berhenti di lampu merah.
“Nggak tahu pastinya apa. Coba tanya saja ke mama. Mungkin Kenzo baru sibuk.” Kalun menoleh ke arah Riella setelah mengucapkan kata terakhirnya.
“Sibuk cari istri baru!” celetuk Kalun menambahi ucapannya, membuat sebuah pulpen mendarat sempurna di dahinya.
“Sakit!” keluh Kalun sambil mengusap dahinya. “Awas saja nanti kalau dikira Luna habis dicium orang!” gerutunya sambil melirik kesal ke arah sang adik.
“Lebay! Itu merah karena terkena pulpen! Dasar kamu, ya!” maki Riella yang hendak mengulangi perbuatannya. Namun, secepat kilat Kalun menahan tangan Riella, supaya tidak melempar lagi ke arahnya.
“Jangan, gitu. Iya Kenzo itu setia, dia cuma milik adikku! Paham! Sekarang letakkan pulpennya karena kelakuanmu ini akan semakin membuat kakakmu ini menderita!” peringat Kalun, dia tidak ingin membuat Luna salah paham jika melihat dahinya merah. Dan dia bakalan kesulitan untuk meredakan amarah Luna. Tanpa mereka sadari, mobil yang dikemudikan Kalun sudah berada di depan rumah Erik.
Riella segera keluar dari mobil. Berlari kecil ke arah dapur untuk menemui Ella. Dia ingin menagih janji mamanya yang akan memberikan benda itu padanya. Sebenarnya benda apa itu, dia juga tahu.
“Makan siang dulu!” perintah Ella, saat melihat Riella merengek minta barang yang ia janjikan.
“Nanti dulu, Ma. Riella sudah penasaran ini!” tolaknya yang masih bergelayut manja di lengan Ella.
“Nggak makan siang! Nggak akan pula mama berikan notebook itu!” ancam Ella, sambil membawa makanan ke meja makan.
“Notebook?” ulang Riella memastikan.
“Ya, Kenzo menitipkannya pada Mama. Dia minta Mama untuk memberikannya padamu.” Ella menjelaskan singkat kebingungan Riella.
Tubuh Riella yang tadi bersemangat tiba-tiba lemah. Dia teringat ucapan Kenzo yang bisa dia dengar saat itu. Dia lalu berjalan ke arah meja makan, duduk di antara dua pria yang sudah duduk lebih dulu darinya. Sedangkan adik kembarnya, saat ini masih berada di kampus. Jadi, dia hanya bisa menikmati makan siang bersama mereka.
Saat makan siang berlangsung, Riella menikmati makanannya sambil menunduk. Pikirannya masih melayang tentang apa isi notebook yang diberikan Kenzo padanya. Sampai makan siangnya itu habis tidak tersisa. Dia menatap ke arah Erik dan Ella bergantian.
“Sebenarnya apa yang sudah dilakukan Kenzo, Pa. Ma? Kenapa dia benar-benar tidak mau menemuiku?” tanya Riella penasaran.
Ella yang belum selesai makan pun terpaksa meninggalkan makanannya. Dia mengambilkan notebook hitam yang Kenzo titipkan padanya. Dia lalu meletakkan buku itu di samping tangan anaknya.
Sedangkan Riella hanya menatap ragu ke arah buku hitam yang ada di sampingnya. Dia belum mempunyai keberanian untuk membaca apa yang dituliskan Kenzo untuknya saat ini.
“Ini titipan dari Kenzo. Entah apa yang dia tulis mama juga tidak tahu. Mama menghargai privasi kalian berdua. Bawalah ke kamar, siapa tahu setelah kamu membaca buku itu kamu bisa menemukan jawaban dari apa yang kamu pikirkan selama ini.” Ella mencoba menjelaskan pada Riella, supaya anaknya itu mau membukanya.
Tiba di dalam kamar, dia disambut dengan aroma lavender dari perfume kamarnya. Hidungnya mencoba menghirup dalam-dalam aroma parfum tersebut, supaya bisa menenangkan pikirannya.
Merasa sedikit tenang, Riella menutup pintu kamarnya, dia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan. Bayangan kebersamaanya bersama Kenzo masih tersisa di ingatannya. Bahkan saat mereka memilih baju bayi mana saja yang harus ditinggal di Jakarta pun, masih bisa dia ingat dengan jelas. Dia tersenyum sambil melangkah ke arah ranjang. Lalu meletakan buku itu di atas bantalnya, dia ingin mengganti pakaiannya lebih dulu sebelum membaca isi buku tersebut.
Saat Riella selesai mengganti bajunya, dia masih ragu ingin membacanya atau tidak. Dia hanya mengamati buku hitam di tangannya tersebut. Sambil memberanikan diri untuk membukanya.
“Aku berharap, apa yang kamu tulis di sini adalah yang terbaik untuk kita, Ken!” gumamnya sambil membuka kunci notebook tersebut. Tangannya lalu terulur membuka hard cover notebook di tangannya. Pertama dia hanya menemukan tulisan tangan Kenzo.
‘Untuk Riella, wanita yang selalu menjadi ratu di hatiku.’
Halaman kedua, dia hanya bisa menemukan beberapa lembar kalender di sana. Merasa tidak sabar, dia segera mencari dimana inti tulisan yang ditulis oleh Kenzo. Sampai dia bisa menemukan tulisan tangan Kenzo yang memenuhi beberapa halaman.
Teruntuk, kamu yang jauh di sana.
Aku yakin jika mama atau papa memberikan ini padamu, berarti mereka tahu dengan benar kondisimu sekarang.
Riella …
Aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku. Aku seperti begitu menginginkanmu berada di sampingku, menghabiskan waktu bersama, sampai aku menutup usiaku. Tapi, sekarang aku sadar … mungkin benar! Jika ternyata, aku hanya terobsesi padamu. Ya?! Perasaan yang tak terbalaskan itulah obsesi. Obsesi yang berselimut rasa cinta.
Sekarang aku mengerti. Ternyata menahan mu tetap berada di sini, bukanlah tindakan yang tepat. Karena ternyata, meskipun kamu berada di sini pun. Kamu tidak pernah merasakan apa itu bahagia yang sesungguhnya.
Maaf jika selama ini, aku sudah membuatmu merasa tidak nyaman. Maaf untuk kesalahan yang sudah aku lakukan padamu. Mulai detik ini, detik aku menuliskan setiap kata ini, aku membebaskan mu. Kamu bisa bebas sekarang, meraih mimpimu, meraih hal yang belum pernah kamu dapatkan, terutama cinta sejati yang ada di impianmu. Maaf sudah membuatmu waktumu terbuang sia-sia saat bersamaku. Aku akan datang setelah siap menandatangani surat perceraian kita.
“Enak sekali kamu, Ken!” lirih Riella sambil mengusap air matanya. “Kamu tidak tahu bagaimana perasaanku padamu! Bagaimana kamu bisa menuliskan kalimat ini!” Tangan Riella membuka lembar kedua tulisan tangan Kenzo. Meski dadanya sudah terasa sesak. Tapi, rasa penasarannya begitu tinggi. Dan dia tidak bisa untuk berhenti membaca. Lembar kedua yang ditulis Kenzo tidak sepadat lembar pertama.
Terima kasih untuk pengorbananmu selama ini. Maaf aku belum bisa menjadi suami yang baik saat kamu merasakan mual dan ngidam, tidak mengantarmu ke dokter untuk periksa. Dan bahkan dengan bodohnya tangan ini pernah mendorongmu. Sekali lagi maafkan untuk sikapku itu.
Dan terima kasih sudah mau membawa anakku selama 7 bulan. Dia cantik, seperti kamu. Aku menamainya Zea—maaf aku tidak meminta izin padamu. Sesekali datanglah untuk melihatnya, aku menempatkannya di samping Khalisa.
Terima kasih, karena kamu sudah menjadikan aku pria sempurna selama ini, meski aku terlambat menyadarinya saat itu. Tapi, sekarang aku tahu, jika aku adalah pria yang sempurna. Bukan lagi Kenzo yang tidak bisa memiliki keturunan.
Riella menggelengkan kepalanya setelah membaca setiap kata yang dituliskan Kenzo. Surat itu hanya berisi ucapan terima kasih dan permintaan maaf. Intinya hanya itu. Dan yang paling tidak ia sukai ada kata cerai yang dituliskan Kenzo di kembar kedua.
“Tidak, Ken! harusnya aku yang meminta maaf padamu!” gumam Riella. Dia lalu membuka lembar berikutnya. Tubuhnya bergetar kuat saat melihat gambar bayi mungil yang ditempel di atas kertas putih tersebut.
“Zea … maafin mami, Sayang!” gumamnya sambil meraba foto bayinya. “Zea …” panggilnya lagi sambil menghapus air matanya. “Doain mami ya, biar bisa cepat ketemu papi. Bilang kalau mami mencintai papi mu! Bisikkan di telinga papi jika mami mencintainya, sebelum semuanya terlambat, Sayang,” gumam Riella yang masih betah menatap foto bayi yang terlihat kecil tersebut.
Merasa dadanya semakin sesak Riella segera menutup notebook di tanganya. Dia ingin memikirkan cara supaya bisa secepatnya bertemu dengan Kenzo.
“Bodoh kenapa aku tidak meneleponnya saja!” Riella mencoba mencari ponselnya. Hendak menghubungi suaminya. Setelah menekan nomor Kenzo, dia justru mengerutkan dahinya saat nomor ponsel Kenzo ternyata tidak aktiv.
“Bodoh! Bodoh! Kenapa jadi begini?!” gerutunya sambil berusaha menghubungi Kenzo lagi.
...----------------...
Terima kasih sudah membaca kisah mereka jangan lupa untuk like dan vote ya!