The Delayed Of Love Stories

The Delayed Of Love Stories
Hadiah Pertama



Terima kasih yang sudah bantu vote. Bantuin lagi ya, minimal bertahan deh ....



♥️


🚑


Suasana pagi di lantai dua kamar Riella. Masih tampak kedua manusia itu berpelukan di bawah selimut tebal, yang menutupi tubuh mereka berdua. Tangan Kenzo masih melingkar di pinggang Riella, sedangkan posisi wajah Riella tepat berhadapan dengan dada suaminya. Mendengarkan detak jantung Kenzo yang seirama dengan detak jantungnya.


Mereka berdua sudah terbangun, tapi enggan untuk beranjak dari kasur, mereka masih ingin menikmati moment pagi, walau keduanya hanya diam, tenggelam dari pikirannya masing-masing.


“Itu yang nikah teman apa sih, Ken? Memang sepenting itu ya, sampai kamu harus terbang ke Bali?” tanya Riella membuka suara, tanpa beralih menatap


ke arah wajah Kenzo. Dia masih bermain dengan bulu dada Kenzo, yang tidak tertutup kain.


“Teman main, nanti aku kenalin kalau kamu sudah sampai di sana.” Kenzo menjawab tanpa membuka matanya, ia masih ingin menikmati sisa akhir aroma percintaannya yang berakhir 30 menit yang lalu.


“Tapi kalau urusanku belum selesai, aku nggak datang juga boleh, kan?” tawar Riella.


“Hmm … aku akan menjemputmu nanti, saat acara di sana sudah selesai.” Setelah itu hanya tercipta keheningan, Riella kembali memejamkan matanya sebelum suara Kenzo terdengar lembut di telinganya. “Mau lagi atau mau mandi, ini baru jam 9 penerbanganku masih nanti pukul 3 sore.”


Riella yang mendengar suara Kenzo, segera menjauhkan tubuhnya dari Kenzo, “Mau mandi, badanku terasa lengket semua.”


“Ya, sudah sana mandi!” perintah Kenzo tanpa melepas pelukannya, ia justru mengeratkan lagi tangannya.


“Lepas, Ken!” perintah Riella, merasa nafasnya mulai sesak.


Kenzo mengurai pelukannya, tersenyum tipis saat melihat Riella berlari ke arah kamar mandi dengan melilitkan selimut untuk menutupi tubuhnya. Ingin


sekali ia merebahkan tubuh Riella lagi, tapi ia kasihan karena pasti Riella juga lelah melayaninya. Kenzo mendekat ke arah pintu kamar mandi, ingin menggoda istrinya, siapa tahu Riella menyetujui permintaanya.


“Kamu antar aku nyari ponsel dulu ya, sekalian kita


jalan-jalan sepertinya kita belum pernah jalan bareng.” Kenzo berteriak dari luar pintu, supaya istrinya itu bisa mendengarnya dengan jelas.


“Ya.” Riella menjawab singkat.


“Riella,” panggil Kenzo lembut.


“Hemmm …” jawab Riella singkat.


“Kita mandi bareng yuk, seperti suami istri pada umumnya,” minta Kenzo sambil menempelkan telinganya di daun pintu, menanti jawaban Riella, bersiap-siap jika istrinya menjawab ya, dia akan langsung membuka pintu kamar mandi.


“Nggak …” sahut Riella cepat sambil mengunci pintu, takut Kenzo akan masuk ke dalam kamar mandi, dan menyerangnya.


“Pelit,” celetuk Kenzo sambil kembali berjalan ke arah ranjang.


***


Satu jam kemudian. Mereka keluar dari rumah Erik. Setelah Kenzo selesai berpamitan hendak pergi ke Bali dan menitipkan Riella mertuanya. Sesuai rencana yang sudah mereka rencanakan, mereka akan jalan-jalan sebentar sebelum Kenzo pergi ke Bali. Kenzo menghentikan mobilnya di salah satu pusat pembelanjaan terkenal di Jakarta.


“Kita makan siang dulu, ya?” tawar Kenzo saat membuka pintu untuk Riella. “Mau makan apa,” tawar Kenzo saat tidak menjawab sahutan dari Riella.


“Kamu kan tahu aku bukan pemilih makanan, jadi bisa masuk apapun.”


“Baiklah. Nggak papakan kita makan di sini?” tanya Kenzo berjalan berdampingan memasuki gedung Mall yang terlihat ramai.


“Nggak papa. Sudah ayo, nanti keburu pesawatmu berangkat.” Riella segera berjalan mendahului Kenzo.


“Gampang kalau ketinggalan, nanti minta antar sama kakak ipar,” kata Kenzo meraih tangan Riella, untuk ia tuntun ke lantai atas membawanya untuk memasuki ke salah satu restoran Jepang.


“Kamu tahu juga tempat ini, Ken?” tanya Riella saat mereka sudah mendapatkan tempat duduk. Mereka duduk berhadapan dengan meja yang menjadi penghalang, duduk bersila dengan cahaya lampu warna kuning yang tidak terlalu terang, namun terlihat romantis. Tampak sepi, karena Kenzo memilih ruang


private.


“Hem, pernah masuk sosmed soalnya,” jawab Kenzo mengulas senyum di bibirnya.


Setelah itu pelayan datang menghampiri meja yang mereka tempati, membawakan buku menu untuk mereka berdua, menunggu di samping meja, sambil mengamati mata Kenzo yang terus menatap Riella.


“Biarkan aku yang menulis, aku masih ingat kesukaanmu,” ucap Kenzo meraih buku menu yang hendak Riella gunakan untuk menulis pesanan.


“Yah, terserah.” Riella menjawab sambil menatap ke arah wajah Kenzo yang fokus meneliti menu makanan.


Setelah pelayan itu pergi, Kenzo menangkap mata Riella yang tengah mengawasinya. Ia memainkan kedua alisnya ke arah Riella, bertanya ada apa


dirinya, hingga membuatnya menatap tidak seperti biasa hari-hari sebelumnya.


“Nggak papa, wajahmu tampak beda hari ini,” ucap Riella masih dengan tatapannya yang belum teralihkan.


“Emm, benarkah?” Kenzo menyentuh kedua pipinya dengan kedua tangan, “Sepertinya efek dari permainan kita tadi pagi. Lebih tampan, kan. Dari terakhir kita bertemu?” tanya Kenzo, melanjutkan pembahasannya. Riella hanya mengangguk pelan, menyetujui ucapan Kenzo.


“Nggak akan terjadi sesuatu, kan. Jika aku meninggalkanmu sendiri di sini?” tanya Kenzo khawatir.


“Percaya sama aku, nggak akan terjadi apapun, Ken. Aku sudah menjelaskan kejadiannya secara detail semalam, jadi kamu tidak perlu khawatir.” Riella menarik tangan Kenzo, “aku akan berusaha melupakannya lebih keras lagi. Aku akan memikirkan masa depan kita, bahagia denganmu, membesarkan anakmu … anak kita maksudku.” Riella mengoreksi ucapannya dengan masih mengamati wajah Kenzo.


Kenzo yang mendengar itu, berganti menggenggam tangan Riella, membawanya mendekat ke bibirnya, mengecupi lembut tangan Riella, hal yang baru


pertama kali ia lakukan, selama resmi menjadi suami dari Riella. “Terima kasih, semoga ucapanmu tulus dari hati. Allah tidak akan mengecewakan semua usahamu,” ucap Kenzo lalu segera melepas tangan Riella saat melihat pelayan mendekat ke arahnya.


“Kita cuma berdua, Ken!” oceh Riella ketika melihat aneka makanan yang memenuhi meja.


“Jika kamu tidak habis, aku yang akan menghabiskannya. Jika kamu tidak bisa mencintaiku, biarlah kamu hidup dalam limpahan cintaku.”


Riella tertawa sambil menggelengkan kepalanya, “dapat dari mana coba, sok sweet banget? Bikin pusing tahu nggak?” Riella lalu meraih sepotong


beef yakiniku dengan sumpit, lalu menyuapkan ke depan mulut Kenzo.


“Papa bilang, saat makan kita bisa mengobrol dengan baik, benar juga mungkin seperti ini lebih baik. Memanfaatkan waktu kita sebaik mungkin. Menganggap ini adalah makan bersama kita yang terakhir, supaya kita bisa menghargai waktu kebersamaan kita.” Riella kembali menyuapi Kenzo.


“Maksudmu kamu berharap setelah ini, tidak ada makan berdua selanjutnya?” tanya Kenzo sambil memperhatikan wajah Riella.


“Bukan begitu Tuan Kenzo, yang namanya kematian, kita tidak pernah tahu itu rahasia Allah. Bagaimana jika setelah ini kita dipisahkan oleh maut? Dan besok


atau kapan kita kita tidak akan pernah bertemu lagi, pasti kita akan menyesal, kenapa selama sepuluh bulan ini, kita menyia-nyiakan waktu kebersamaan kita.”


“Yah, sekarang makanlah!” kata Kenzo berganti menyuapi Riella, “Perasaanku, makananya enak sekali, ya?” lanjut Kenzo.


“Emm … kamu pintar milihnya,” puji Riella.


“Terima kasih. Tapi bukan karena itu, tapi semenjak kita menikah, baru kali ini kita merasakan hal seperti ini, makan enak disuapi istri, siapa lelaki yang tidak bahagia. Hal indah setelah kejadian 10 tahun yang lalu adalah hari ini.”


“Apaan sih, dah makan sendiri-sendiri saja.”


“Nggak, aku maunya, aku menyuapimu, kamu menyuapiku,” kata Kenzo kembali meraih chicken katsu lalu menyuapkan ke mulut Riella.


Hampir satu jam mereka menghabiskan waktu hanya untuk makan siang, lilin di meja juga sudah padam karena di telan si jago merah. Mereka berdua benar-benar menikmati waktu bersama sebelum


kembali berpisah.


Setelah keluar dari restoran Kenzo membawa Riella masuk ke dalam gerai ponsel yang ada di sana. meminta Riella untuk memilihkan posel terbaik untuk mengganti ponselnya yang telah hancur.


“Beneran yang ini, La?” tanya Kenzo menggoyangkan ponsel pilihan Riella.


“Iya, bagus yang itu. Black sesuai selera pria,” jelas Riella singkat, karena dia tidak tahu menahu jenis


handphone.


“Baiklah, aku akan selalu mengingatnya jika ini pemberian pertama darimu.” Kenzo tersenyum ramah setelah mengatakan itu, meneliti dengan jeli ponsel pilihan Riella.


“Begitu?” tanya Riella menelengkan kepalanya, “bilang saja minta gratisan!” ledek Riella sambil


menyengir di depan wajah Kenzo. Namun, tanpa ia duga Kenzo justru mengecup singkat bibirnya, membuat pelayan yang ada di depannya, beralih fokus memperhatikan mereka tindakan Kenzo.


“Dia istriku, Mbak. Jangan kaya gitu lihatnya!” kata Kenzo sambil menarik pinggang Riella lebih dekat


dengannya. Hingga menempel, tidak ada jarak antara mereka berdua.


“Ken, malu ih. Dilihatin mereka. Ini di tempat umum!” tegur Riella ketika Kenzo memeluknya erat.


“Hsst diamlah! Atau lelaki di belakangmu itu akan selalu mengganggumu.” Kata Kenzo lirih yang menyadari ada bayangan Emil di pantulan kaca.


Riella lalu mengikuti arah matabKenzo, matanya menangkap Emil yang juga tengah menatapnya. Dia lalu mengabaikan Emil, melingkarkan tangannya ke perut Kenzo. Tanpa malu Riella membalas kecupan Kenzo tepat di samping bibir suaminya. Bibirnya, tersenyum lebar, begitu tulus untuk lelaki yang saat ini menjadi suaminya.


♥️


♥️


♥️


Maaf telat ada kendala di fileku yang tidak bisa dipindah ke ponsel🥺🥺🥺 kalau tulisan paragrafnya kurang rapi, itu karena aku upload langsung dari browser. Sebenarnya sudah saya edit tapi biasanya berbeda tampilannya.🙏