
Dua bulan kemudian.
Hari ini adalah malam yang ditunggu-tunggu seluruh karyawan di perusahaan Kenzo. Mereka semua antusias mengenakan pakaian terbaiknya untuk mengikuti pesta ulang tahun. Tak luput mengeluarkan seluruh emas dan berlian yang selalu mereka simpan di bawah bantal.
Sedangkan Riella, dengan perutnya yang semakin membesar, dia hanya mengenakan dress yang senada dengan suaminya, meski terlihat simple tapi jangan salah! Dia harus mengirimkannya langsung dari desainer ternama di Jakarta. Tidak ada jas dan dasi yang dikenakan Kenzo. Dia hanya memakai pakaian bermodel kemeja.
Lagi-lagi keributan terjadi saat mereka hendak berangkat ke pesta tadi. Kenzo melarang Riella yang memaksakan kakinya untuk memakai sepatu setinggi lima centimeter. Kenzo khawatir istrinya akan capek dan lebih takut lagi Riella akan tersandung atau bisa jadi terjatuh. Mengingat bukan satu atau dua orang saja yang akan mereka temui.
Dan malam ini saat mereka tiba di lokasi pesta. Mereka menjadi bahan gunjingan beberapa tamu yang hadir. Riella masa bodoh selama itu tidak menyakitinya.
Saat ini, Riella menatap wajah Kenzo yang tampan dari arah samping. Suaminya itu tengah berbincang dengan rekannya sambil sesekali melirik ke arah di mana dia berada saat ini.
Mungkinkah malam ini waktu yang tepat, Ken? Apa aku harus berkata padamu sekarang? Jika, aku sudah jatuh cinta padamu. Batinnya sambil menatap lurus wajah Kenzo, bibir Riella tertarik ke samping saat Kenzo membalas tatapan matanya. Entah kenapa jantungnya berpacu semakin cepat saat Kenzo melambaikan tangan, memintanya untuk mendekat.
Riella menurut, dia mendekat di mana Kenzo saat ini. Dia lalu merengkuh lengan Kenzo, menunduk sopan ketika suaminya mengenalkan dia pada pria berjas hitam yang ada di depannya.
“Istri saya,” jelas Kenzo saat melihat mata pria di depannya menyiratkan kebingungan.
“Owh ... saya pikir Anda menikah dengan sekretaris wanita yang dulu Anda bawa ke pesta.” Ucapan pria itu membuat Kenzo merasa bersalah karena meminta Riella mendekat. Pria di depannya ini, tidak perlu berkata seperti itu saat Riella berada di sampingnya.
“Bukan, dia cuma sekretaris saya. Dan ini istri saya yang sebenarnya.” Kenzo meraih pinggang Riella sambil tersenyum manis ke arah sang istri.
Pria di depan Kenzo mengangguk, lalu mengamati perut Riella yang membuncit. Bibirnya tersenyum penuh curiga. Seolah bertanya, bayi siapa yang ada di perut wanita itu? pak Kenzo kan mandul?
“Jangan menatap istri saya seperti itu!” teguran dari Kenzo membuyarkan lamunan pria di depannya. “Silakan menikmati acaranya, saya pergi dulu!” Kenzo membawa Riella pergi, meninggalkan pria di depannya.
Riella yang berada di samping Kenzo, segera mengikuti kamana langkah kaki Kenzo tertuju. Tidak banyak orang yang dia kenal malam ini, bahkan orang yang dia kenal bisa dihitung dengan sepuluh jarinya.
“Duduklah pasti kamu capek!” perintah Kenzo menarik kursi kosong yang ada di dekat panggung. Sudah hampir tiga puluh menit mereka tiba di tempat acara, dan sedari tadi pula mereka terus berdiri.
Kenzo yang duduk di samping Riella, menjelaskan siapa saja orang-orang yang tengah mengisi acara. Dia ingin Riella tahu bahwa dia juga punya orang kepercayaan. Jadi, jika dia tidak masuk kerja pun tidak masalah.
“Jika begitu, bolehlah kita tinggal di Jakarta. Kamu tahu sendiri papa dulu sakit gara-gara mengurus rumah sakit. Kamu bisa mengelola rumah sakit itu, dan kita tinggal di sana!” Riella membujuk Kenzo, dia tahu suasana hati Kenzo saat ini dalam keadaan senang. Siapa tahu Kenzo bisa luluh.
“Akan aku pikirkan.” Kenzo lalu meletakkan tangan kananya di perut Riella, sedangkan tangan kirinya tersampir di pundak sang istri.
“Dia aktiv sekali,” cibir Kenzo saat merasakan gerakan calon anaknya. Entah itu siku atau lututnya, yang terasa menonjol di bagian kanan perut Riella. Dia lalu menggosoknya membuat tonjolan itu berpindah ke arah bawah.
“Kamu senang aku kesakitan!” ucap Riella dengan setengah berbisik.
“Kok bisa?” Kenzo yang penasaran bertanya sambil tersenyum, tangannya belum berhenti menikmati gerakan calon anaknya. Tidak peduli dengan beberapa mata orang yang tengah memperhatikannya saat ini.
“Sepertinya kaki anak kita menendang itu ku deh, jangan ulangi lagi!” peringat Riella, lalu menarik tangan Kenzo yang merabanya terlalu ke arah bawah. “Malu!” kecamnya sambil menajamkan matanya. Kenzo hanya tersenyum tipis, menarik tangannya, dan memasukkan ke kantung saku celana.
“Kau tidak ingin ke toilet, Sayang?” tanya Kenzo, dia paham biasanya Riella selalu ke toilet setiap 15 menit sekali.
“Pengen sih. Tapi malas,” jawab Riella.
“Jangan ditahan nanti infeksi saluran kencing!” peringat Kenzo, tiba-tiba teringat dengan jelas pesan dokter kandungan langgananya.
“Aku sendiri saja. Itu lebih penting,” kata Riella sambil menatap ke arah panggung.
“Hati-hati. Segera hubungi aku jika terjadi hal-hal buruk padamu.”
“Tidak akan,” sahut Riella lalu meninggalkan meja Kenzo. Dia berjalan mengikuti petunjuk jalan yang mengarahkan ke toilet umum, jaraknya cukup jauh dari tempat yang ia duduki tadi. Beberapa orang sibuk mengawasinya tapi ada juga yang cuek dengannya.
Riella terus menoleh ke belakang, memastikan jika dia tidak akan lupa di mana arah jalan keluar. Tiba di pintu bertuliskan toilet, dia segera mendorong pintu tersebut. Tidak ada seorangpun di sana, sepertinya para wanita tengah benar-benar menikmati pesta. Riella membuka satu kamar kecil yang ada di dalam toilet lalu masuk dan menuntaskan niat awalnya.
Saat ini dia bisa mendengar suara pintu terbuka, disusul suara beberapa wanita yang tertawa lepas. Riella masih diam belum keluar dari kamar kecil, dia mencoba mendengarkan apa yang mereka ucapkan saat ini. Dia ingin tahu bagaimana modelnya? Apakah sama dengan kebanyakan wanita yang ada di metropolitan.
“Kau lihat tadi! Aku sungguh kasihan dengan pak Kenzo. Mau-maunya dia tanggung jawab dengan apa yang bukan menjadi tanggungjawabnya.” Terdengar gunjingan pertama dari bibir tipis seorang wanita.
“Iya, Leh ... kasihan baget ya, kamu tahu hamilnya sudah sebesar itu! Lagian pak Kenzo itu tidak bisa punya anak. Jadi, nggak mungkin istrinya bisa hamil.” Suara wanita itu terdengar bersemangat, dia tidak sadar jika sedang mentransfer pahalanya untuk Riella.
“Eh tapi dengar-dengar nih, ya. Wanita itu hamil dengan mantan pacar nya. Bisa bayangin kan gimana hancurnya pak Kenzo.”
Riella meraba dadanya yang tiba-tiba terasa nyeri, satu tangannya meraba perutnya yang membuncit, telinganya kembali dia buka lebar mendengar semua ucapan para wanita di balik pintunya saat ini.
Emosi, marah? jelas ia rasakan saat ini. Ingin sekali dia membuka pintu yang ia tempati saat ini. Tapi tidak, ia lebih sayang pada bayi nya.
“Emang begitu, ya? Kalian dapat info dari mana?” tanya salah satu wanita yang sedari tadi diam.
“Dari informan tertentu. Mantan pacar pak Kenzo.” Setelah mangatakan dengan lantang, wanita itu terbahak keras memenuhi ruangan.
“Mendingan, pak Kenzo nikah sama Reva. Dan kamu tahu, dia macari Alby buat bisa dekatin pak Kenzo lagi. Dasar tu orang, ya. Mukanya sudah ditimbun sama semen!”
“Jelas berat lah melepas pak Kenzo. Mereka kan sudah pernah anu-anu di kantor!” tambahan gibahan lagi dari wanita tercentil di antara mereka.
“Ah masak? Yang benar kamu, Lin? Jangan bikin gosip murahan. Kita boleh gosip. Tapi yang akurat.”
“Eh dibilangin nggak percaya. Dua mata aku ini melihatnya sendiri. Reva menempelkan dadanya di punggung pak Kenzo! Kalau nggak salah, saat pak Kenzo marahan sama istrinya.”
“Itu mah dasar Reva nya saja yang kegatelan.” timpal satu wanita lagi.
Mereka semua terbahak saat mendengar satu pernyataan dari salah satu wanita. “Tapi kalau aku jadi pak Kenzo, aku sudah ceraikan tu istri! Aku kasih bocoran lagi nih ya. Bahkan pak Kenzo menerima video istrinya saat di anu-anuin mantannya, parah nggak itu!” semua wanita yang berada di kamar mandi terbelalak, saat menyadari ucapan wanita tersebut.
Riella yang mendengar mereka hanya bisa mencengkram tangannya kuat-kuat Dia tidak tahu kenapa mereka bisa mengetahui semua tentang dirinya. Jangankan orang lain dengan orang tuanya saja Riella tidak ingin bercerita.
Ponsel Riella berbunyi, tepat saat mereka semua berhenti menggunjing. Pandangan mereka tertuju pada bilik yang tertutup rapat. Lima orang yang tadi menggunjing Riella, membeku.
“Aku masih di toilet. Yah aku akan segera keluar.” Riella berjalan tanpa melihat ke arah wanita yang ada di sana. Berbeda dengan lima orang yang sebelumnya begitu lancar membicarakan keburukannya.
Tiba diluar toilet dia bisa melihat Kenzo. Pria itu berdiri tidak jauh dari pintu toilet.
“Kita pulang!” ajak Riella tanpa melihat ke arah Kenzo, dia berjalan cepat menuju tempat parkit di mana tadi Kenzo meletakan mobilnya.