Since You Married Me

Since You Married Me
Drama masih berlanjut



Zaya membeliakkan matanya saat Aaron menerima ajakan Anna untuk turun kelantai dansa. Dan jantung Zaya semakin berdegup tak beraturan ketika dua orang itu mulai berdansa.


Tanpa sadar Zaya mengepalkan kedua tangannya dengan sekuat tenaga karena menahan emosi. Nafasnya pun tampak naik turun, menandakan jika amarahnya benar-benar telah mencapai ubun-ubun.


Ginna sendiri pun agak heran kenapa Aaron menerima ajakan Sekertaris Anna untuk berdansa. Biasanya putranya itu akan sangat keberatan jika ada perempuan yang menyentuhnya. Apa mungkin karena saat ini Brylee Group masih dalam masa pemulihan dan belum terlalu stabil, sedangkan pemilik perusahaan yang sedang mengadakan jamuan malam ini adalah rekanan bisnis yang cukup penting, sehingga Aaron perlu untuk memberi kesan baik.


Tapi bukankah seharusnya Aaron berdansa bersama Zaya, istrinya? Bukannya malah menerima ajakan sekertarisnya itu.


Ah, Ginna baru ingat jika tadi ia lupa memberi tahu Aaron kalau dia mengajak Zaya menghadiri acara ini.


Ginna menghela nafasnya. Sepertinya karena keteledorannya akan terjadi pertengkaran setelah ini. Terlebih saat Ginna melihat ekspresi Zaya. Sudah dapat dipastikan akan ada amukan badai yang bakal menghantam Aaron.


Ginna menyentuh tangan Zaya yang terkepal kuat untuk menenangkan menantunya itu.


"Tenangkan dirimu. Ini tidak seperti yang terlihat." Ujarnya pada Zaya.


"Aaron melakukan semua itu pasti hanya demi memberi kesan baik pada kolega kita. Dan lagi, sepertinya tadi aku lupa memberitahukan padanya jika kau ada disini. Dia pasti terpaksa berdansa dengan sekertarisnya itu." Ginna berusaha menenangkan Zaya.


Zaya tak menjawab. Apapun alasannya, nuraninya tetap menolak untuk merelakan suaminya bersentuhan dengan perempuan lain. Meski Zaya tak disini sekali pun, tak seharusnya Aaron berdansa dengan sekertarisnya itu. Tidak, walaupun alasannya demi perusahaan. Zaya tidak bisa menerimanya!


Zaya kembali menghela nafasnya sembari memejamkan matanya. Tubuhnya semakin gemetaran karena menahan emosi. Meski begitu, Zaya masih berusaha untuk menjaga kewarasannya. Ia tak mau sampai membuat keributan dan mempermalukan dirinya sendiri di depan orang banyak.


Teringat dengan kata-kata Ginna tentang berpikir menggunakan logika, Zaya berusaha menghibur dirinya sendiri saat ini.


Logikanya, semua orang sudah tahu jika Zaya adalah istri Aaron. Jika Aaron dan Anna punya hubungan khusus, tidak mungkin mereka memperlihatkannya pada banyak orang seperti ini. Hal itu tentu akan menyebabkan rumor dan mempengaruhi reputasi Aaron sendiri.


Mungkin memang benar jika Aaron melakukan itu demi perusahaan, seperti yang dikatakan Ginna tadi. Tapi tetap Zaya merasa sangat marah dengan apa yang dilihatnya saat ini. Ia benar-benar tidak bisa menyaksikan adegan ini lebih lama lagi.


Zaya bangkit dan berusaha untuk menguasai dirinya.


"Ma, aku permisi ke toilet dulu." Pamit Zaya pada Ginna.


Ginna tampak melihat kearah Zaya dengan raut khawatir.


"Apa kau ingin di temani?" Tanya Ginna.


Zaya menggeleng dan berusaha untuk tersenyum agar Ginna percaya jika dirinya baik-baik saja.


Ginna pun mengangguk dan mempersilahkan Zaya untuk pergi ke toilet.


Zaya bangkit dan pergi dari sana. Ia melewati tempat Aaron dan Anna berdansa, lalu meneruskan langkahnya memasuki toilet.


Disana Zaya membasuh wajahnya beberapa kali untuk sedikit mendinginkan hatinya. Untung saja make up yang digunakan adalah jenis waterproof, sehingga tak menjadi berantakan saat terkena air. Jika tidak saat ini pasti Zaya telah terlihat seperti Zombi.


Zaya menghela nafas panjang. Dipandangnya wajahnya di cermin wastafel. Ia tidak ingin wajahnya menjadi wajah pecundang malam ini. Tapi Zaya tak tahu mesti bagaimana. Jika ia memilih untuk bertahan, mungkin ia tak bisa menahan diri lebih lama lagi untuk tidak marah.


Zaya tidak mau dirinya sampai membuat tontonan gratis yang membuatnya dan Aaron dibicarakan banyak orang.


Lalu demi logika yang masih sedikit tersisa diotaknya, Zaya pun memutuskan untuk pulang saja. Biarlah Aaron melakukan apa yang ingin dia lakukan malam ini. Nanti saat dirumah Zaya akan memikirkan cara untuk membuat Aaron membayar apa yang telah dilakukannya sekarang.


Zaya kembali masuk ke tempat penjamuan setelah sempat sedikit membenahi make upnya. Terlihat Aaron dan Anna telah menyelesaikan dansa mereka, dan Ginna telah berdiri diantara keduanya.


"Ma, aku merasa agak tidak enak badan. Lebih baik jika aku pulang lebih dulu agar bisa segera beristirahat." Pamit Zaya pada Ginna.


Belum sempat Ginna menjawab, Aaron telah lebih dulu mendekati Zaya.


"Sayang..." Tangan Aaron terulur ingin menyentuh Zaya, tapi Zaya dengan sigap mengelak. Zaya tersenyum, tapi matanya menatap Aaron dengan tatapan membunuh.


Zaya juga menoleh kearah Sekertaris Anna yang sudah mulai salah tingkah.


"Kamu cantik sekali malam ini, Sekertaris Anna. Terima kasih sudah repot-repot mendampingi suamiku malam ini." Ujar Zaya dengan menekankan kata 'suamiku'. Sekertaris Anna tampak tersenyum kikuk menanggapinya.


"Tapi sepertinya aku sedikit kecewa karena malam ini Sekertaris Anna mengambil inisiatif lebih dulu untuk berdansa dengan suamiku, aku jadi tak punya kesempatan, dan kelas dansa yang kuambil akhir-akhir ini sia-sia saja." Lanjut Zaya lagi sambil terseyum.


Cih, kelas dansa? Zaya hanya mengumpat dalam hatinya. Sungguh melelahkan harus tetap tersenyum dan tampil anggun saat dirinya ingin sekali memaki.


"Tapi selama suamiku sendiri tidak berkeberatan, tentu saja itu tidak apa-apa." Tambah Zaya sekali lagi. Kali ini sambil menatap kearah Aaron dengan tatapan yang sangat tajam.


"Baiklah. Kalau begitu aku permisi dulu. Kalian lanjutkan saja mengikuti acara jamuannya." Zaya beranjak.


"Biar aku antar kau pulang." Ginna juga beranjak. Ia jadi khawatir dengan kondisi menantunya ini. Biar bagaimana pun, sedikit banyak dialah yang menyebabkan situasi ini.


"Tidak, Ma. Mama tetaplah disini. Aku akan meminta sopir Mama untuk mengantarku pulang." Zaya bersikeras. Ginna pun mengalah dan menuruti keinginan Zaya.


Zaya melangkah meninggalkan tempat itu. Aaron yang sebelumnya sempat mematung, akhirnya tersadar dan menyusul Zaya.


"Ayo kita pulang sama-sama." Ajak Aaron saat Zaya akan masuk kedalam mobil pribadi Ginna.


"Aku bisa pulang sendiri. Kamu baru saja datang, kembalilah kedalam. Nanti kalau kamu pulang bersamaku, orang-orang akan berasumsi jika aku marah karena melihatmu berdansa dengan sekertarismu."


Aaron menautkan kedua alisnya.


"Bukankah kau memang sedang marah?" Tanya Aaron.


Zaya menghela nafasnya.


"Aku memang ingin marah. Tapi bila kamu sendiri yang ingin berdansa dengan Anna dan terlihat sangat menikmatinya, aku bisa apa?" Zaya menatap Aaron yang tampak kehabisan kata-kata.


"Sudahlah. Aku mau pulang. Tidak perlu mengantarku. Aku bisa pulang sendiri. Aku sudah biasa hidup sendiri dan melakukan apapun sendiri. Dimasa depan aku juga sanggup mengurus anak-anakku sendiri." Zaya membuka pintu mobil Ginna, tapi tangannya ditahan oleh tangan kokoh Aaron.


Zaya menoleh kearah lelaki itu. Zaya terpaku saat melihat tatapannya yang begitu tajam. Aaron tampak tidak senang mendengar kata-kata Zaya barusan.


"Apa maksudmu?" Tanya Aaron marah


Bersambung...


Besok lagi😄


tetep like ya


Happy readingā¤ā¤ā¤