
Zaya menghela nafasnya dan berusaha untuk mengatur kata. Kemudian ia memberanikan diri untuk melihat kearah Ibu Angkat Evan.
"Apa saat ini Anda sedang memberi lampu hijau pada saya, Nyonya?" Tanya Zaya penasaran.
"Bukankah Anda lihat sendiri jika saya sudah pernah menikah sebelumnya dan punya seorang anak. Apa Nyonya sungguh tidak keberatan jika Kak Evan menikahi seorang janda seperti saya?" Tanyanya lagi.
Ibu Angkat Evan tersenyum simpul.
"Lalu kenapa jika kamu seorang janda?" Ia malah balik bertanya.
Zaya kehabisan kata dan tak tahu harus menjawab apa. Sejak awal sudah jelas terlihat jika kedua orang tua angkat Evan memililki pola pikir yang agak berbeda dengan kebanyakan orang.
"Menjadi seorang janda bukan berarti karena kita buruk, Zaya. Bagiku perceraian adalah kemalangan untuk seorang perempuan, karena itu berarti perempuan tersebut menikah dengan lelaki yang tidak tepat."
Ibu Angkat Evan menghela nafas sejenak.
"Asal kamu tahu, sebelum aku menikah dengan Ayah Evan, aku juga sudah pernah menikah dan bercerai terlebih dahulu. Pernikahan pertamaku bisa di bilang sebagai kemalanganku. Hampir setiap hari aku hanya bisa menangis karena menikahi lelaki yang sama sekali tidak mencintai dan menghargaiku. Hingga akhirnya perceraian menjadi jalan satu-satunya bagiku untuk melepaskan penderitaan."
Kemudian wanita paruh baya itu melihat kearah Zaya sambil tersenyum tipis.
"Lalu aku menikah dengan Ayah Evan. Lelaki yang mencintaiku sejak lama, yang tak pernah aku gubris sebelumnya. Dia menerimaku apa adanya, meski hingga sekarang aku tidak bisa memberinya keturunan sekalipun. Jujur saja, awalnya aku tidak mencintainya sama sekali. Semua rasa cintaku sudah aku berikan seutuhnya untuk mantan suami yang telah menyia-nyiakanku. Tapi kemudian kasih sayang dan kelembutannya membuat aku perlahan luluh sampai akhirnya tidak mampu berpaling lagi."
Ibu Angkat Evan kembali tersenyum.
"Jadi apa salahnya mendapatkan menantu seorang janda? Selama dia adalah perempuan baik-baik dan putraku merasa bahagia, aku rasa semua itu tidak masalah." Tambahnya lagi.
Zaya sungguh kehilangan kata-kata dibuatnya. Ibu Angkat Evan benar-benar mempunyai pikiran yang terbuka. Awalnya Zaya kira, karena termasuk sebagai perempuan kelas atas, Ibu Angkat Evan akan memandang rendah kepada Zaya. Tapi ternyata dugaan Zaya salah. Perempuan dihadapannya ini selain anggun juga sangat bijaksana. Beruntung sekali Evan bisa mendapatkan seorang ibu sebaik ini. Terlebih perempuan yang nanti menjadi menantunya. Sebuah anugerah bagi seorang menantu jika bisa mendapatkan Ibu mertua yang bersahabat dan penyayang.
"Lagipula, hanya perempuan hebat yang bisa menahan ego dan mau bekerjasama dengan mantan suami demi membahagiakan anaknya. Bahkan aku sendiri pun tidak akan sanggup melakukannya. Beruntung aku tidak punya anak dengan mantan suamiku dulu, sehingga aku tidak perlu berurusan dengannya lagi." Gumam perempuan paruh baya itu lagi.
Zaya mengulas sebuah senyuman.
Ibu angkat Evan benar. Sangat tidak mudah harus kembali berinteraksi dengan Aaron di saat mereka telah bercerai seperti sekarang ini. Jika bisa memilih, Zaya tidak ingin bertemu lagi dengan mantan suaminya itu. Ia ingin melupakan Aaron sepenuhnya dan membuka lembaran baru. Tapi apa daya, ada Albern di antara mereka. Bocah itu sangat membutuhkan Zaya dan juga Aaron saat ini, hingga mau tidak mau Zaya harus membuang jauh egonya demi putra kesayangannya itu.
"Anda benar, Nyonya. Sangat sulit untuk kembali menjalin hubungan dengan seseorang yang dulu sering menyakiti kita. Itu seperti mengorek luka yang hampir kering dan membuatnya mengeluarkan darah lagi. Seringkali terasa lebih sakit, ada kalanya kita justru muak dengan kata maaf yang dia ucapkan. Tapi...., seorang ibu akan mengorbankan apa saja untuk kebahagiaan anaknya, termasuk perasaannya sendiri. Tidak ada yang lebih berharga di dunia ini selain senyum ceria dari anak kesayangan kita. Selamanya akan selalu seperti itu." Zaya berbicara sembari menengadahkan wajahnya dengan sebuah senyuman tipis.
Ibu Angkat Evan mengangguk-anggukan kepalanya.
"Sekarang aku memahami kenapa Evan tidak bisa berpaling darimu, Zaya. Itu karena selama ini dia tidak pernah menemukan seorang perempuan yang sebanding denganmu. Seorang perempuan dengan hati setulus dirimu, aku kira cuma ada di negri dongeng, ternyata memang masih ada di dunia ini." Ujarnya sambil tertawa kecil.
Kemudian perempuan paruh baya itu kembali menatap Zaya.
"Semoga suatu saat kamu bisa membuka hati untuk Evan." Gumamnya tulus.
Zaya agak tercenung untuk sesaat. Ia hanya menanggapi kata-kata ibu angkat Evan dengan senyuman, karena tak tahu harus merespon seperti apa.
Zaya belum punya rencana untuk membuka hati pada siapa pun. Entah kedepannya ia akan menjalin hubungan dengan seseorang lagi atau tidak, biarlah waktu yang akan menjawabnya.
Tak lama kemudian Aaron dan Albern datang. Aaron berpamitan terlebih dahulu untuk kembali ke hotel karena tiba-tiba ada urusan mendesak. Sedangkan Zaya dan Albern masih meneruskan acara perkenalan bersama kedua orang tua angkat Evan.
Menjelang sore hari Zaya dan Albern baru kembali ke hotel tempatnya menginap.
Zaya menautkan kedua alisnya saat melihat Aaron dan Dean sudah berpakaian rapi dan siap dengan koper-kopernya. Tampak mereka seperti orang yang telah siap untuk check out. Sedangkan Kara berdiri tak jauh dari mereka bersama dengan seorang perempuan muda yang belum pernah Zaya lihat sebelumnya.
"Nyonya." Dean membungkuk kepada Zaya.
Aaron mendekati Zaya.
"Aku dan Dean harus kembali saat ini juga. Terjadi sesuatu di perusahaan." Ujarnya dengan wajah serius. Kemudian dia memberi isyarat kepada perempuan yang berada di dekat Kara untuk mendekat.
"Ini adalah salah satu orangku, namanya Samantha. Kalian bisa melanjutkan liburan di temani oleh Samantha. Dia yang akan mengurus semua kebutuhan kalian sampai pulang." Terang Aaron.
Gadis bernama Samantha itu membungkuk hormat kepada Zaya.
"Apa yang terjadi?" Tanya Zaya.
Aaron diam sesaat, lalu menghela nafasnya.
"Ikut denganku sebentar." Pintanya kemudian. Aaron melangkah masuk kembali ke dalam kamarnya dengan memberi isyarat agar Zaya mengikutinya.
Zaya semakin bingung. Tapi kemudian ia memutuskan untuk menuruti Aaron. Ia pun mengikuti lelaki itu masuk kedalam kamar hotel.
"Ada apa?" Tanya Zaya lagi dengan penuh tanda tanya.
Aaron masih terdiam beberapa saat sambil menatap kearah Zaya. Tiba-tiba dia mendekat kearah Zaya sampai menyisakan jarak yang sangat sedikit diantara mereka.
Aaron semakin dalam menatap Zaya, hingga Zaya menjadi semakin bingung dibuatnya.
"Kau akan memberiku sebuah kesempatan, kan?" Tanyanya lirih.
Zaya semakin menautkan kedua alisnya karena tak mengerti dengan pertanyaan Aaron.
"Berjanjilah padaku, Zaya. Berjanjilah kau tidak akan memilih siapa pun sebelum aku membuktikan semua perkataanku padamu. Aku mungkin harus membereskan sesuatu terlebih dahulu, dan sebelum itu selesai, tolong jangan buat keputusan apapun dulu menyangkut pilihanmu." Pinta Aaron lagi dengan penuh harap.
Zaya tertegun mencerna kata-kata Aaron. Apa itu maksudnya Aaron sedang meminta untuk menunggunya? Lalu hal apa pula yang akan dibereskan Aaron? Apa terjadi sesuatu yang serius di perusahaannya.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Aaron? Apa ada hal buruk yang terjadi di perusahaanmu?" Tanya Zaya lagi.
Aaron tampak menghela nafas panjang.
"Semuanya akan baik-baik saja selama kau masih mau memberiku kesempatan untuk membuktikan diri padamu." Ujarnya sekali lagi dengan nada penuh harap.
Zaya mengamati Aaron untuk beberapa saat. Entah kenapa ia merasa Aaron tampak sangat rapuh saat ini. Dan kelihatannya terjadi sesuatu yang sangat serius terhadapnya, meski Zaya tak tahu sesuatu itu apa.
Mau tidak mau Zaya akhirnya mengangguk.
"Baiklah, terserah padamu saja." Jawab Zaya
"Tapi semuanya akan baik-baik saja, kan?" Tambah Zaya lagi dengan cemas. Bukan apa-apa, jika terjadi hal buruk kepada Aaron, maka Albern pasti akan terkena imbasnya juga. Dan Zaya tidak ingin putranya itu mendapat masalah.
"Terima kasih, aku memegang janjimu. Sekarang semuanya pasti akan baik-baik saja." Aaron tersenyum.
Zaya terkesiap. Tidak pernah sebelumnya ia melihat senyum Aaron yang begitu cerah seperti saat ini. Tiba-tiba Zaya menyesali kata-katanya tadi yang menyetujui permintaan Aaron begitu saja.
Lalu hal tak terduga kembali membuat Zaya membeliakkan matanya. Aaron merengkuh tubuh Zaya dan membawa Zaya kedalam dekapannya. Lelaki itu memeluk Zaya erat hingga tubuh Zaya membeku karena terlalu terkejut.
Untuk sesaat Zaya mematung. Tapi kemudian ia kembali tersadar dan berusaha untuk melepaskan pelukan itu.
"Sebentar saja." Bisik Aaron pelan. Suaranya terdengar tak menuntut, justru seperti sebuah permohonan.
Zaya terdiam dan tak jadi mengurai pelukan itu. Dirasakannya Aaron tengah menghirup aroma tubuhnya seperti yang pernah ia lakukan saat memeluk Aaron dulu. Seolah lelaki itu tengah mengumpulkan kekuatan dengan memeluk tubuh Zaya.
Zaya pun menyadari. Sepertinya telah terjadi sesuatu yang tidak sederhana dan cukup sulit untuk Aaron hadapi. Tapi yang tak Zaya pahami, kenapa Aaron sekarang bertingkah seolah Zaya adalah sumber kekuatannya? Bukankah selama ini Aaron adalah orang yang tak bergantung pada siapapun?
Untuk kesekian kalinya, Aaron membuat Zaya harus berpikir keras. Tapi kali ini Zaya sedang terlalu lelah untuk berpikir dan memutuskan untuk membiarkan saja Aaron melakukan yang dia inginkan.
Bersambung....
Udah berapa hari ga srmpet balesin komen satu2, soalnya lagi super sibuk sampe pinggang rasanya mw copot(lebay...😅)
jgn bosen buat like, komen dan vote y...
Happy reading❤❤❤