
Aaron terdiam dan menatap Zaya dengan tatapan yang sulit diartikan. Sedangkan Zaya cepat-cepat menghapus airmatanya yang jatuh.
Zaya menghela nafas untuk menetralkan gemuruh di dadanya. Kemudian ia beranjak dan merapikan bagian tempat tidur yang akan di tidurinya.
"Aku lelah, ingin tidur lebih dulu." Ujarnya sambil membaringkan tubuhnya. Kemudian ia membalikkan tubuhnya untuk menghadap ke samping, membelakangi Aaron.
Zaya memejamkan matanya, berusaha untuk tidur dan melupakan sejenak apa yang tengah dirasakannya saat ini. Namun tak ayal airmatanya tetap menetes keluar dari sudut matanya yang terpejam.
Zaya terisak tertahan. Sebisa mungkin ia berusaha untuk tak mengeluarkan suara agar Aaron tak menyadari jika saat ini ia sedang menangis.
Sedangkan Aaron sendiri masih duduk di pinggiran tempat tidur, tampak menatap sendu kearah punggung Zaya yang bergetar. Aaron tahu jika saat ini istrinya itu sedang menangis, tapi berpura-pura tertidur. Hatinya merasa sedih.
Setiap kali dia menyaksikan airmata Zaya jatuh, Aaron juga ikut merasa sakit. Tak pernah ada niatan dirinya untuk menyakiti Zaya seperti ini. Tapi yang tidak dia mengerti, kenapa tetap saja dia terus membuat Zaya menangis meski dia telah berusaha untuk membahagiakannya. Apakah dirinya benar-benar lelaki tidak peka yang tak bisa memahami perempuan?
Egoiskah dia jika hatinya tetap menginginkan Zaya terus bertahan di sisinya meski kini dia telah merasa gagal membahagiakan istrinya itu?
Aaron perlahan bangkit dan mendekati Zaya saat dilihatnya bahu Zaya tak lagi berguncang. Dia duduk di sisi lain pinggiran tempat tidur, tempat Zaya menghadap.
Zaya telah tertidur dengan butiran airmata yang masih menggantung di salah satu sudut matanya. Aaron mengulurkan tangannya untuk menghapus airmata itu. Kemudian dibelainya wajah Zaya lembut dan penuh perasaan.
"Maafkan aku karena terus membuatmu menangis. Aku bukannya lebih mementingkan Anna daripada dirimu. Aku hanya tidak ingin kau melakukan tindakan impulsif hanya berdasarkan perasaan, hingga sampai merugikan orang lain. Istriku adalah perempuan hebat yang tak pernah menyulitkan orang lain. Kau seperti ini karena pengaruh kehamilanmu. Aku hanya tidak ingin kau menyesali sesuatu yang dilakukan saat ini jika nanti dirimu yang dulu sudah kembali." Lirih Aaron sembari terus membelai wajah istrinya itu.
Kemudian Aaron mendekatkan wajahnya pada Zaya dan mencium keningnya lembut.
"Istirahatlah. Aku harap besok kau sudah merasa lebih baik."
___________________________________________
Zaya baru terbangun saat Aaron sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Sepertinya hari ini Aaron sengaja tidak membangunkannya. Biasanya suaminya itu akan terus mengganggunya saat dia telah lebih dulu terbangun, tapi kali ini tidak. Mungkin saja itu di sebabkan karena dia masih marah pada Zaya.
Zaya berusaha untuk tidak terlalu memusingkannya dan langsung bergegas ke kamar mandi untuk meyegarkan diri. Setelah berpenampilan lebih segar, Zaya turun ke lantai bawah, menyusul Aaron yang telah lebih dulu berada di meja makan bersama Albern.
"Selamat pagi, Ma." Albern menyapa.
Zaya mengangkat wajahnya dan berusaha untuk tersenyum.
"Selamat pagi, Sayang." Jawab Zaya sambil mendudukkan dirinya di samping Aaron.
Zaya melirik Aaron sekilas. Lelaki itu sedang fokus dengan sarapannya dan seperti tak terganggu dengan kehadiran Zaya. Zaya pun mengurungkan niatnya untuk menyapa. Tampaknya Aaron masih marah dan tak ingin berbicara padanya.
Hati Zaya sedikit mencelos. Sikap Aaron sekarang ini mengingatkan Zaya saat dulu Aaron mengabaikannya. Rasanya ia seperti kembali ke masa lalu. Rasa tak nyaman perlahan muncul. Dan akhirnya Zaya menikmati sarapannya dengan perasaan hambar.
Zaya sendiri tak mengerti dengan perasaannya saat ini. Bukankah semalam ia sendiri yang mengatakan jika dirinya tak akan mengharapkan apapun lagi dari Aaron. Lalu kenapa sekarang ia mengharapkan Aaron bersikap manis kepadanya.
Zaya benar-benar tak habis pikir kenapa saat ini ia seperti gadis remaja yang haus akan perhatian dan sangat mudah sekali merajuk. Meski tak mengalami masa ngidam seperti hamil Albern dulu, kehamilannya kali ini jauh lebih merepotkan. Pasalnya emosinya sangat mudah sekali tersulut dan suasana hatinya berubah-ubah dengan cepat.
Meski tubuhnya sehat, Zaya menjelma menjadi sosok yang rapuh dan cengeng. Sangat berbeda saat ia hamil Albern dulu. Waktu itu, meski tubuhnya lemah dan sakit, tapi ia sangat tegar dan kuat. Ia mampu bertahan dalam keadaan yang sulit, meski tanpa perhatian dari Aaron sekalipun.
Zaya hanya berharap kondisi psikisnya akan kembali seperti semula setelah ia melahirkan nanti.
Tak lama kemudian Aaron telah menyelesaikan sarapannya.
Lelaki itu beranjak dari duduknya untuk pergi kerja. Asisten Dean dan sopir pribadinya juga tampak sudah menunggu Aaron di dekat mobil.
"Papa pergi duluan, Jagoan. Hari ini Papa ada meeting pagi." Aaron berpamitan pada Albern yang masih belum menyelesaikan sarapannya.
"Oke, Pa." Jawab Albern.
Zaya tersenyum pahit. Ia merasa dejavu dengan situasi seperti ini. Dulu selama tujuh tahun lebih ia sudah sangat terbiasa dengan perlakuan Aaron ini. Hanya saja ia tak menyangka jika akan kembali merasakannya.
Zaya pikir Aaron telah benar-benar berubah. Ternyata dia tetaplah Aaron yang sama dengan Aaron yang dulu. Mungkin yang Zaya rasakan beberapa bulan terakhir ini hanyalah ilusi. Dan kini kenyataan yang sebenarnya telah muncul kepermukaan seiring dengan berjalannya waktu. Dan ia kembali terjebak dalam pernikahan yang sebagian orang sebut dengan toxic marriage untuk kedua kalinya.
"Ma, Al berangkat dulu, ya." Suara Albern membuyarkan lamunan Zaya. Zaya tersenyum dan bangkit dari duduknya.
"Hati-hati, Sayang." Ujar Zaya.
Kemudian ia pun mengikuti Albern hingga ke halaman rumah.
Albern melambaikan tangannya, lalu bersama pengasuhnya, bocah itu masuk ke dalam mobil yang akan mengantarnya kesekolah. Mobil itu juga meluncur meninggalkan Zaya yang masih berdiri mematung di halaman.
Zaya memandangi mobil yang membawa Albern hingga hilang dibalik tikungan jalan. Kemudian setelah benar-benar tak terlihat lagi, barulah Zaya mengalihkan pandangannya.
Entah mengapa Zaya masih mematung di halaman rumahnya. Ia masih tak beranjak meski mobil yang mengantar Albern tadi sudah jauh meninggalkan tempat itu.
Zaya menyapu sekeliling halaman dengan pandangan matanya. Hal yang biasa dilakukannya dulu setelah dia mengantar Albern dan Aaron untuk memulai aktivitas masing-masing. Tapi jika dulu ia akan selalu merasa bersemangat terlepas dari bagaimana sikap Aaron kepadanya. Kali ini Zaya merasa sedih.
Ia benar-benar tak menyangka akan kembali diabaikan oleh Aaron seperti di pernikahan sebelumnya.
Kemudian Zaya dikejutkan oleh sebuah mobil yang kembali memasuki halaman rumah. Tampak mobil Aaron kembali dan berhenti tepat di hadapan Zaya.
Zaya menautkan kedua alisnya dan melihat kearah mobil itu dengan heran. Sejurus kemudian Aaron keluar dari mobilnya dan menghampiri Zaya.
"Aku terburu-baru sampai melupakan sesuatu." Gumam Aaron.
Zaya masih tak bergeming. Ia hanya melihat Aaron dengan bingung.
Tiba-tiba saja Aaron merengkuh tubuh Zaya ke dalam pelukannya.
"Aku lupa berpamitan pada istriku." Ujar Aaron lagi sambil mencium kening Zaya.
Zaya masih diam karena tak tahu harus bagaimana menanggapi Aaron. Ia terlalu terkejut dengan perlakuan Aaron ini. Bukankah Aaron masih marah dan mengabaikannya?
Aaron mengurai pelukannya dan membelai kepala Zaya lembut.
"Jangan sedih lagi, Sayang. Tidak apa-apa jika kau masih marah dan belum mau memaafkanku, tapi jangan terlalu banyak menangis, nanti anak kita ikut sedih." Ujar Aaron sambil mengusap perut Zaya yang mulai membesar.
Hati Zaya semakin bergemuruh kala melihat Aaron tersenyum padanya. Mungkinkah kali ini dia yang terlalu berlebihan hingga dirinya salah berpikir tentang suaminya sendiri?
Zaya hanya terus memandang wajah Aaron tanpa bisa berkata apa-apa
Bersambung...
Sekarang emak bingung mau marahin Aaron apa Zaya...😞
Btw yg penasaran Anna emang ada maksud lain ama Aaron apa ga, bisa diliat di part2 berikutnya.
Wokeh emak2 komplek, mari kita tungguin Aaron di pengkolan.
Tetep like, komen dan vote
Happy reading❤❤❤