
"Aaron!"
"Honey."
Ginna dan Zaya berteriak bersamaan saat melihat Aaron yang tiba-tiba datang dan langsung mengayunkan tinjunya pada Sekertaris Jeff.
Aaron kembali mencengkram Jeff yang terhuyung sambil menyeka sudut bibirnya yang terluka.
"Apa yang kau lakukan?" Sergah Ginna sembari melerai Aaron.
"Kau sudah bosan hidup, hah? Berani-beraninya kau menyentuh istriku." Aaron menggeram sambil menatap Jeff nyalang. Sedangkan tangannya masih mencengkram kerah baju pemuda itu dengan kuat.
"Hentikan, Aaron!" Ginna kembali menyergah Aaron. Tapi Aaron tampak tak menghiraukan Ginna. Dia semakin mengeratkan cengkramannya pada Jeff.
"Tuan, saya hanya sedang membantu Nyonya." Sekertaris Jeff akhirnya buka suara.
"Membantu katamu? Apa yang kau bantu dengan menyentuhnya seperti itu? Kau benar-benar ingin mati rupanya." Aaron kembali mengarahkan tinjunya pada Sekertaris Jeff. Tapi kali ini Ginna menahan tinju Aaron yang hampir kembali melayang dan melepaskan cengkraman tangan Aaron yang satunya dari kerah baju Sekertaris Jeff. Lalu dipukulnya kepala putranya itu menggunakan sebuah buku yang telah di gulung-gulung sebelumnya.
"Plakk" Buku itu mengenai kepala Aaron. Meski tidak terlalu sakit, tapi cukup membuat Aaron terkejut.
"Kau sudah gila, ya? Apa kau tidak lihat istrimu sekarang ketakutan melihat kelakuanmu?" Tanya Ginna tajam.
Aaron menoleh kearah Zaya. Benar saja, Zaya tampak terlihat cemas dan takut karena melihat Aaron memukul Sekertaris Jeff tadi.
"Sayang." Aaron meninggalkan Sekertaris Jeff mendekati Zaya yang masih terlihat syok.
"Sayang." Panggil Aaron lagi sambil menyentuh Zaya. Zaya agak terkejut saat tangan Aaron memegang bahunya.
"Jangan marah pada Sekertaris Jeff, Honey
Dia hanya membantu memijat kakiku yang bengkak. Dia juga sudah minta izin sebelum melakukannya." Ujar Zaya dengan sedikit takut.
Aaron menautkan kedua alisnya.
"Dia meminta izin sebelumnya, dan kau mengizinkannya?" Tanya Aaron.
"Honey, aku..."
"Kau membiarkan lelaki lain menyentuh tubuhmu?" Tanya Aaron lagi sebelum Zaya menyelesaikan kalimatnya.
"Bukan seperti itu, Honey." Zaya memelas.
Ginna mendekati Aaron yang terlihat marah.
"Aku yang mengizinkan Sekertarismu itu memijat kaki Zaya. Dia pernah mempelajari cara memijat kaki bengkak pada ibu hamil. Makanya aku memintanya untuk memijat kaki Zaya yang membengkak." Ujar Ginna dengan tenang. Sangat kontras dengan wajah Aaron yang sangat tegang.
"Mama mengizinkan lelaki lain menyentuh menantu Mama sendiri? Apa Mama sudah gila?" Tanya Aaron marah.
Plakk! Buku tadi kembali mengenai kepala Aaron untuk yang kedua kalinya.
"Apa kau sudah cukup waras saat mengatakan aku gila? Aku rasa kaulah yang gila, Aaron. Zaya tadi merasa kram dan kebas. Untung saja ada Sekertarismu yang membantu nemijat kakinya sampai menjadi lebih baik. Harusnya kau berterima kasih padanya karena telah membantu istrimu, bukannya memukulnya seperti tadi." Ginna mengocehi Aaron.
"Ternyata rumor yang kudengar di perusahaan akhir-akhir ini memang benar. Kau sudah jadi lelaki pencemburu yang tidak masuk akal." Tambah Ginna lagi.
"Mama?" Aaron semakin terlihat tidak senang karena Ginna malah ikut membela Jeff.
"Honey, kumohon jangan marah lagi. Tadi kakiku rasanya sangat kram. Sekarang sudah jauh lebih baik karena bantuan Sekertaris Jeff." Zaya mencoba membujuk Aaron.
Aaron kembali melihat kearah Zaya. Kali ini mata Aaron tertuju pada kaki Zaya yang masih sedikit membengkak.
"Lihatlah, tadi jauh lebih bengkak dari ini. Sekarang sudah terasa lebih baik karena sudah dipijat Sekeetaris Jeff." Tambah Zaya lagi.
Aaron terdiam. Dia masih memperhatikan kaki Zaya sambil menambil posisi jongkok. Lalu tangannya terulur untuk menyentuh dan mulai memijat-mijatnya juga.
Zaya mengangguk. Sebenarnya jauh lebih nyaman pijatan dari Sekertaris Jeff tadi. Tapi tentu saja ia tidak boleh mengatakannya jika tidak ingin Aaron kembali mrngamuk.
"Lain kali biar aku saja yang memijat kakimu, jangan meminta bantuan orang lain, apalagi lelaki." Ujar Aaron sambil memijat kaki Zaya.
Ginna yang mendengar itu hanya bisa menghela nafas sambil memutar matanya jengah.
"Iya." Jawab Zaya patuh.
"Honey." Panggil Zaya kemudian.
"Hm.." Aaron masih fokus pada pijatannya.
"Sekertaris Jeff...boleh dia kembali ke mejanya. Sepertinya sekertaris Jeff harus mengobati lukanya dulu." Ujar Zaya sambil melirik Sekertaris Jeff yang masih terdiam di tempatnya semula.
Aaron menghentikan pijatannya dan bangkit.
"Aku harus membuat perhitungan dulu dengannya." Gumam Aaron sembari mendekati Sekertaris Jeff.
Zaya yang mendengarnya kembali melebarkan matanya. Sedangkan Ginna hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Katakan padaku, apa sebenarnya tujuanmu menawarkan bantuan untuk memijat kaki istriku. Apa diam-diam kau menyukai istriku?" Tanya Aaron to the point.
Sekertaris Jeff cepat-cepat menggeleng.
"Tidak, Tuan. Saya hanya berniat membantu tanpa tujuan apa-apa." Jawab Sekertaris Jeff jujur. Tapi tampaknya Aaron tidak percaya. Sulit memang menyakinkan orang yang sedang cemburu seperti Aaron saat ini.
"Kau mungkin bisa menipu ibu dan istriku. Tapi kau tidak bisa menipuku. Mungkin sebaiknya aku menggantimu dengan sekertaris yang baru." Gumam Aaron.
Sontak saja semua yang mendengar apa yang dikatakan Aaron terkejut dibuatnya.
"Anda salah paham pada saya, Tuan. Saya sungguh tidak ada maksud apa-apa pada Nyonya. Saya benar-benar hanya berniat membantu." Sekertaris Jeff berusaha menjelaskan.
Sedangkan Aaron masih terlihat tidak percaya.
"Kalau boleh saya jujur, sebenarnya saya harus menahan rasa tidak nyaman saat berada dekat dengan Nyonya dan Nyonya besar. Saya akan lebih memilih menjauh seandainya tidak dalam keadaan mendesak." Ujar Sekertaris Jeff lagi.
Aaron tampak menautkan kedua alisnya.
"Apa maksudmu?" Tanya Aaron tidak mengerti.
"Tuan, bukankah di CV saya sudah saya cantumkan jika saya penderita Venustraphobia. Meskipun saat ini sudah bisa saya kendalikan dan tidak terlalu berpengaruh pada kinerja saya." Ujar Sekertaris Jeff lagi.
Aaron semakin tidak mengerti. Bahkan Zaya dan Ginna pun terlihat bingung.
"Penyakit apa itu? Apa hubungannya dengan kau merasa tidak nyaman berada didekat ibu dan istriku?" Tanya Aaron ingin tahu.
"Saya fobia terhadap perempuan cantik, Tuan." Jawab Sekertaris Jeff.
Terang saja Aaron terkejut mendengarnya. Zaya dan Ginna bahkan sampai terperangah mendengar pengakuan Sekertaris pribadi Aaron itu. Fobia terhadap perempuan cantik. Adakah penyakit seperti itu di dunia ini?
"Saya mengalami trauma yang sangat mendalam pada seorang perempuan cantik saat saya masih kuliah dulu. Saya ditipu, bahkan sampai hampir kehilangan nyawa. Sejak saat itu saya merasa sangat tidak nyaman setiap melihat perempuan cantik. Dokter mendiagnosa saya mengidap Venustraphobia, yang artinya fobia pada perempuan cantik."
Aaron tampak mencerna apa yang Sekertaris Jeef katakan.
"Saya bahkan pernah di tahap sampai kehilangan simpati dan sangat membenci semua perempuan yang memiliki wajah cantik. Tapi sekarang keadaan saya sudah jauh lebih baik. Tapi Tuan, yang ingin saya katakan disini adalah, Anda tidak perlu merasa cemburu terhadap saya. Selama Nyonya mempunyai paras yang cantik seperti sekarang, dapat dipastikan jika saya tidak akan punya ketertarikan terhadap nyonya."
Bersambung...
Jeff ama emak aja kalo gitu. Emak ga cantik, sumpah✌✌😅😅
Happy reading❤❤❤