Since You Married Me

Since You Married Me
Merasa Bersalah



Zaya bangun dari tidurnya dengan kondisi yang tidak terlalu baik. Semalaman ia tidak bisa memejamkan matanya. Bayangan wajah Aaron terus saja memenuhi pikirannya sepanjang malam, hingga ia tak bisa tidur.


Zaya sungguh ingin menjaga jarak dengan Aaron, tapi tidak bisa dipungkiri ia juga merindukan lelaki itu. Melupakan seseorang yang telah dicintai selama tujuh tahun lebih tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.


Aaron telah banyak menyakitinya, itu benar. Tapi Zaya juga tidak menampik banyak hal baik yang ia dapatkan karena Aaron juga. Salah satunya kemampuan berbisnis yang sekarang ia punya. Zaya sadar, tak akan pernah mendapatkan itu semua jika dirinya tidak masuk kedalam kehidupan Aaron.


Zaya tidak bisa dan juga tidak ingin membenci Aaron. Ia hanya ingin menjaga jarak untuk melindungi hatinya agar tidak kembali jatuh kepada Aaron dan merasakan sakit lagi. Tapi kenapa disaat Zaya berusaha untuk melepaskan dan menjauh, Aaron justru seakan ingin mendekat padanya?


Apakah setelah bercerai pun Aaron masih ingin bermain-main dengannya?


Zaya benar-benar merasa kesal. Mungkin satu-satunya jalan agar bisa lepas dari Aaron adalah dengan cara kasar kepadanya, seperti yang Zaya lakukan semalam. Berbicara tajam kepada Aaron sampai lelaki itu kehabisan kata-kata dan hanya bisa terdiam.


Haruskah Zaya terus bersikap seperti itu agar Aaron behenti mempermainkannya?


Zaya beranjak dari tempat tidurnya dan sedikit memijat kepalanya yang agak berdenyut.


Hari masih terlalu pagi. Albern saja masih terlelap dengan damainya.


Zaya memandangi wajah tampan putranya itu. Sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman. Hanya dengan melihat Albern tertidur saja tubuh dan pikirannya menjadi jauh lebih baik.


Semangat Zaya perlahan mulai bangkit. Ia pun bangun dari tempat tidur dan langsung menyegarkan diri dikamar mandi.


Setelah memakai baju rumahannya, Zaya bergegas kedapur untuk membuatkan malaikat kecilnya sarapan. Albern sangat suka nasi goreng omelet. Zaya akan membuatkan itu untuk menu sarapan.


Tapi sejurus kemudian Zaya teringat Aaron. Lelaki itu tidak makan apapun saat sarapan kecuali sepotong roti yang dioles dengan selai. Dan saat ini Zaya sedang tidak punya stok roti.


Zaya memang tidak punya banyak stok makanan dirumahnya karena ia hanya tinggal sendiri. Ia juga tidak pernah menerima tamu sebelumnya. Jadi apa yang ada didapurnya benar-benar hanya untuk dirinya sendiri.


Zaya pun memutuskan hanya nenyiapkan nasi goreng omelet saja untuk sarapan. Dia tidak merasa perlu untuk pergi mencari makanan yang sesuai dengan selera Aaron. Toh saat ini Zaya bukan istrinya lagi. Aaron bisa sarapan ditempat lain jika tidak ingin makan masakan Zaya.


Lagipula Zaya tidak ingin Aaron salah paham jika Zaya masih saja terus memperhatikannya. Zaya takut Aaron menganggapnya masih punya hati dan ingin kembali padanya. Tidak! Zaya tidak ingin terlihat seperti itu. Biarlah Aaron menganggapnya buruk agar mereka bisa menjaga jarak.


Aaron dan Albern datang keruang makan saat Zaya sudah selesai memasak dan menata hasil masakannya dimeja makan.


Zaya agak kaget melihat keduanya yang tampak sudah mandi dan berganti pakaian.


Albern telah memakai seragam sekolahnya. Aaron juga sudah siap dengan pakaian kerjanya. Tampaknya saat Zaya sedang sibuk memasak tadi, seseorang telah mengantarkan pakaian ganti untuk Aaron dan Albern.


Zaya agak terkesiap melihat Aaron.


Penampilan Aaron saat akan pergi kekantor setiap paginya memang selalu bisa menghipnotis Zaya. Setelan jas yang sangat pas membalut tubuh liatnya. Serta rambutnya yang telah tersisir rapi. Tak ketinggalan juga aroma parfum maskulin yang tercium dari tubuhnya. Aroma yang dulu selalu bisa memabukkan Zaya.


Aaron terlihat gagah, segar dan juga...tampan!


Buru-buru Zaya mengumpulkan segenap kewarasannya. Berusaha untuk tak terusik pada pesona Aaron dan bersikap biasa.


Zaya pun mengalihkan perhatiannya pada Albern dan mengulas senyum manis kepada putra kesayangannya itu.


"Sayang, kemarilah. Mama sudah membuat sarapan kesukaanmu." panggil Zaya pada Albern.


Albern mendekat sambil tersenyum senang. Lalu bocah itu duduk dikursi yang diarahkan Zaya. Tampak tiga piring nasi goreng omelet dan tiga gelas susu terhidang dimeja makan.


Zaya juga ikut duduk. Lalu ia menoleh kearah Aaron yang tampak ragu untuk bergabung.


"Kamu tidak mau sarapan juga? Aku sudah memasak untuk kita bertiga." Zaya berusaha untuk tetap bersikap sopan pada Aaron.


Aaron tak menjawab. Tapi dia mendekat dan mengambil tempat duduk dihadapan Zaya.


"Maaf, aku tidak punya roti dan teh herbal. Hanya ada ini untuk sarapan." ujar Zaya lagi.


Aaron tampak tersenyum tipis.


"Ini saja sudah cukup. Terima kasih." jawabnya.


Lalu mereka mulai menyantap sarapan masing-masing.


Albern kembali menyantap makanannya dengan lahap. Wajar saja, karena sejak semalam menu yang ia makan adalah makanan kesukaannya semua. Zaya memang sengaja memasakkan makanan kesukaan Albern agar bocah itu merasa senang.


Lalu diam-diam Zaya melirik Aaron.


Zaya melengos. Sikap Aaron yang terlihat sangat menikmati masakannya itu entah mengapa jadi sangat menganggunya. Zaya lebih suka jika seandainya Aaron menolak makanannya dan pergi lebih dulu.


Tapi apa yang dilihatnya sekarang. Aaron menyantap makanan itu sampai tandas tak bersisa. Dan yang membuat matanya semakin membulat, Aaron juga menenggak susu yang dibuat Zaya sampai habis.


Bukannya Aaron sangat tidak meyukai susu? Aroma susu dipagi hari akan membuat perutnya mual. Makanya dia lebih suka teh herbal atau coklat panas untuk pendamping menu sarapannya. Tapi sekarang dia meminum susu yang sangat tidak disukainya itu sampai gelasnya kosong!


Zaya tersenyum masam.


Tadinya ia sengaja menyiapkan ini semua agar Aaron tidak perlu bergabung saat ia menghabiskan momen sarapan pagi ini dengan Albern. Tapi sekarang, justru ia sendiri yang kehilangan nafsu makannya dan kehilangan momen.


Zaya hanya mampu menghabiskan sarapannya tiga suap saja, dan meneguk susunya beberapa tegukan. Perutnya tiba-tiba saja tidak mau diisi.


Setelah sarapan bersama yang sangat 'mengesankan' itu, Zaya kemudian mengantar Albern, dan tentu saja juga Aaron, ke teras rumah. Dan lagi-lagi, saat ini Zaya merasa seperti seorang istri yang sedang melepas suami dan juga anaknya untuk memulai aktivitas.


Astaga! Kepalanya semakin berdenyut dan ingin cepat-cepat keluar dari situasi ini.


Disisi lain, sopir pribadi Aaron dan Asisten Dean juga sudah ada disana. Entah kapan datangnya dan dengan mengendarai apa, dua orang kepercayaan Aaron itu sudah menunggu didekat mobil Aaron terparkir.


"Mama, Al berangkat sekolah dulu, ya. Lain kali Al akan menginap disini lagi. Boleh, kan?"


Albern berpamitan pada Zaya.


Zaya mencium pipi Albern dan tersenyum.


"Tentu saja boleh, Sayang. Mama akan sangat senang jika Al bisa sering menginap disini." jawab Zaya.


Albern tersenyum ceria mendengar jawaban Zaya. Lalu dengan semangat bocah itu masuk kedalam mobil.


Aaron masih berdiri ditempatnya dan melihat kearah Zaya.


"Kau mengerjakan semuanya sendiri, mungkin akan lebih baik jika kau mempekerjakan seseorang untuk membantumu dirumah." terdengar Aaron membuka pembicaraan.


Zaya hendak membuka mulutnya, tapi Aaron sudah terlebih dahulu menyambung kata.


"Aku tahu itu urusan pribadimu dan aku tidak berhak ikut campur, tapi jika kau kelelahan dan sampai jatuh sakit, Albern pasti akan sangat sedih." timpal Aaron lagi.


Zaya terdiam dan tak menjawab.


"Tidak usah khawatir, jika Albern ingin nenginap disini lagi, aku akan membujuknya agar aku tidak perlu ikut menginap. Aku tahu kau tidak nyaman karena aku berada disini. Aku minta maaf." ujar Aaron lagi.


Zaya masih terdiam dan mencerna kata-kata Aaron.


"Terima kasih untuk sarapan dan makan malamnya, Zaya. Jaga dirimu." tangan Aaron terulur hendak menyentuh bahu Zaya, tapi secara spontan Zaya menghindar.


Aaron tersenyum tipis dan menarik tangannya lagi. Matanya tampak sedikit meredup dan terlihat agak sedih.


"Aku pergi dulu." ujarnya sambil berlalu.


Zaya masih tak menjawab. Ia mematung. Tidak pernah sebelumnya Zaya melihat tatapan mata Aaron yang seperti tadi.


Zaya pun bertanya-tanya didalam hatinya, apa sikapnya pada Aaron sudah berlebihan? Apa tanpa sadar ia sudah menyakiti Aaron?


Sungguh Zaya hanya berusaha untuk menjaga jarak, tanpa berniat menyakiti sama sekali. Tiba-tiba hatinya jadi tidak nyaman. Entah kenapa ia jadi merasa bersalah.


'Maaf, Aaron. Aku melakukan semua ini untuk melindungi diriku sendiri, karena aku tidak ingin jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya.'


Bersambung....


hari ini satu aja ya, besok lagi😁


jangan lupa like dan komen selalu.


And then, vote ya readers sayang.....😅😅


Happy reading❤❤❤