Since You Married Me

Since You Married Me
Membujuk



"Itu tidak lucu, Aaron!" Zaya mengherdik suaminya. Ia benar-benar terkejut dengan sikap Albern pada mereka tadi, hingga tanpa sadar Zaya tidak lagi berbicara dengan lembut pada Aaron.


Biasanya Albern selalu bisa mengendalikan dirinya layaknya orang dewasa, tapi kali ini bocah itu sampai bersikap kasar pada Mama dan Papanya, pastilah ia benar-benar marah.


"Mungkin kita memang salah karena tidak pernah membicarakan hal ini dengan Albern sebelumnya. Kita harus segera membujuknya." Zaya terlihat cemas.


Aaron terdiam beberapa saat, lalu menghembuskan nafasnya kasar.


"Kita makan malam saja dulu. Sekarang anak itu juga pasti sudah turun dan sedang menunggu kita."


"Baiklah." Zaya mengangguk setuju. Mereka akhirnya turun ke ruang makan bersama-sama. Tapi disana hanya ada Bu Asma dan beberapa pelayan lain yang sedang menata makanan di meja makan. Tidak ada Albern.


"Dimana bocah itu? Biasanya dia selalu turun duluan dan menunggu disini?" Gumam Aaron sembari mencari-cari keberadaan Albern.


"Tuan Muda belum turun sedari tadi, Tuan." Bu Asma menanggapi.


Aaron dan Zaya saling pandang dengan penuh tanda tanya. Tiba-tiba Farah, pengasuh Albern turun dari lantai atas dengan langkah agak tergesa.


"Tuan, Nyonya." Farah membungkukkan badannya saat sudah berada dihadapan Aaron dan Zaya.


"Kenapa?" Tanya Zaya.


"Tuan Muda mengurung diri dikamarnya dan menguncinya dari dalam. Saya sudah berusaha membujuknya untuk turun makan malam, tapi Tuan Muda tidak menggubris saya." Farah terlihat cemas.


"Tadi siang Tuan Muda juga tidak makan dengan benar karena khawatir dengan keadaan Tuan. Kalau sampai malam ini Tuan Muda tidak makan lagi, saya khawatir nanti Tuan Muda bisa sakit." sambung Farah lagi.


Zaya menatap kearah Aaron dengan wajah tak kalah cemas.


"Sepertinya dia benar-benar marah." Gumam Zaya lirih. Sedangkan Aaron masih terdiam sambil kembali menghela nafasnya kasar. Entah apa yang ada didalam pikiran lelaki itu sekarang.


"Bu, tolong siapkan makan malam untuk Albern. Saya sendiri yang akan mengantarnya keatas." Pinta Zaya pada Bu Asma.


"Baik, Nyonya." Jawab Bu Asma. Lalu pelayan paruh baya itu pun segera menyiapkan makanan kesukaan Albern seperti yang di minta Zaya tadi, kemudian diletakkannya diatas nampan.


Bu Asma memberikannya pada Zaya.


"Honey, kamu makan saja duluan. Aku akan keatas dan membujuk Albern agar dia mau makan." Ujar Zaya pada Aaron sembari beranjak dari sana.


Tapi Aaron justru menyusul dan mengambil alih nampan yang ada ditangan Zaya.


"Kita bujuk dia bersama-sama." Ujarnya.


Zaya menoleh kearah Aaron. Kemudian ia tersenyum dan mengangguk. Mereka pun melangkah menuju kamar Albern bersama-sama.


Zaya mengetuk pintu kamar Albern berkali-kali. Tapi bocah itu tak kunjung mrmbukakan pintu, hingga akhirnya Zaya berinisiatif membuka pintu kamar Albern dengan menggunakan kunci cadangan yang disimpannya.


Mereka berdua akhirnya bisa masuk.


Suasana kamar Albern nampak temaram. Tampaknya bocah itu sengaja memadamkan lampu kamarnya dan bersembunyi dibalik selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Albern terlihat sedang meringkuk ditempat tidur.


Zaya menghidupkan lampu kamar Albern, sedangkan Aaron langsung meletakkan nampan berisi makanan ditangannya di atas nakas. Lalu keduanya duduk bersisian di pinggiran tempat tidur Albern.


"Sayang." Zaya membuka selimut yang menutupi tubuh Albern, kemudian tangannya terulur membelai kepala putranya itu.


"Ayo, makan dulu." Ajak Zaya sambil masih membelai kepala Albern lembut. Tapi sejurus kemudian Zaya terkesiap. Saat tak sengaja menyentuh pipi Albern, Zaya merasakan tangannya basah. Ada cairan hangat yang mengalir di pipi putranya itu. Albern sedang menangis!


Buru-buru Zaya membalik badan Albern yang membelakanginya. Dan tampaklah wajah Albern yang beruraian airmata. Zaya terkejut dan benar-benar terenyuh melihatnya, dia tak bisa menahan diri untuk tidak memeluk putranya itu. Diraihnya Albern masuk kedalam dekapannya. Rasa bersalah pun perlahan menyusup ke dalam hati Zaya.


"Kenapa menangis, Sayang? Apa Mama dan Papa membuat Al sedih?" Zaya bertanya sembari terus membelai Albern yang ada dalam pelukannya.


Bocah itu tak menjawab dan semakin terisak.


Aaron yang juga melihat hal itu ikut merasa bersalah. Dia pernah melihat Albern menangis seperti ini saat bocah itu merindukan ibunya. Lalu sekarang, saat Albern mendengar berita kehamilan Zaya, ia kembali menangis seperti akan kehilangan Zaya lagi. Apakah Albern berpikir jika adiknya lahir kelak akan membuatnya diabaikan?


Aaron merapatkan dirinya kearah Zaya yang tengah memeluk Albern. Lalu dibelainya wajah Albern dengan lembut. Airmata bocah itu tak henti mengalir. Sepertinya ia benar-benar merasa sedih karena akan punya adik.


"Papa dan Mama minta maaf jika sudah membuat Al sedih." Ujar Aaron lembut.


"Sekarang katakan pada Papa, kenapa jagoan Papa menangis seperti ini?" Tanya Aaron kemudian.


Albern terlihat menahan isakannya, meskipun sesekali ia masih sesegukan.


"Al tidak mau punya adik." Lirihnya dengan suara serak.


Zaya dan Aaron saling pandang. Entah bagaimana harus menenangkan putra mereka kali ini.


"Kenapa?" Tanya Aaron.


"Mama Al baru kembali, nanti adik mengambil Mama dari Al. Nanti Mama tidak sayang lagi sama Al. Pokoknya Al tidak mau punya adik." Airmata Albern mengalir semakin deras.


Aaron menghela nafasnya lagi. Benar dugaannya, putranya ini takut kehilangan kasih sayang Zaya yang memang belum lama ia rasakan.


Kemudian tangan Aaron kembali terulur mengusap kepala Albern.


"Tentu saja tidak seperti itu, Jagoan. Meskipun adik Al lahir, Mama akan tetap sayang pada Al. Al adalah putra kebanggaan Mama dan Papa, selamanya Al akan menjadi kesayangan Mama dan Papa." Bujuk Aaron.


"Benar, Sayang. Tidak perlu khawatir. Mama dan Papa akan selalu menyayangi Al seperti ini. Walaupun Al punya adik, Al tidak akan kehilangan Mama ataupun Papa." Zaya juga menambahkan.


Albern mengangkat wajahnya. Ia menatap wajah Aaron dan Zaya secara bergantian.


"Mama dan Papa pasti bohong." Ujarnya kemudian.


Zaya tersenyum dan kembali membelai kepala bocah itu.


"Tentu saja tidak, Sayang. Kapan Mama dan Papa pernah membohongi Al?"


Albern terdiam. Matanya masih memandang Zaya dengan tatapan tak percaya.


"Kalau adik Al lahir nanti, Al justru akan senang karena Al akan punya teman. Al bisa belajar dan bermain bersama adik dirumah. Bukankah selama ini Al merasa kesepian?"


Albern masih tak bergeming. Ia tampak sedang mencerna kata-kata Zaya barusan.


"Apa Mama dan Papa berjanji tidak akan memarahi Al walaupun adik sudah lahir?" Tanyanya kemudian.


Aaron menautkan kedua alisnya.


"Kenapa juga Mama dan Papa mau memarahi anak baik seperti Al." Zaya mencium pipi Albern gemas. Sepertinya putranya ini benar-benar takut kehilangan kasih sayang dan perhatian dari mereka berdua jika punya adik kelak.


"Mama dan Papa harus berjanji dulu." Albern bersikeras.


"Baiklah, Jagoan. Papa berjanji." Aaron mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Albern.


"Mama juga." Zaya juga melakukan hal yang sama.


"Sekarang Mama dan Papa sudah berjanji pakai kelingking, kalau tidak ditepati akan terkena kutukan. Al sudah percaya, kan?" Tanya Aaron.


Albern mengangguk, meski masih dengan ekspresi ragu.


"Berarti sekarang Al harus makan. Kalau tidak makan nanti Al bisa sakit. Mama suapi, oke?" Zaya mengambil nampan berisi makanan yang diletakkan Aaron tadi diatas nakas.


Albern pun hanya menurut saat Zaya menyuruhnya minum terlebih dahulu. Kemudian Zaya mulai menyuapi putranya itu dengan telaten.


Tapi baru beberapa suap, Albern tidak mau membuka mulutnya lagi.


"Papa juga belum makan, Mama juga harus suapin Papa." Ujarnya.


Zaya tersenyum dan mengangguk.


"Oke."


Zaya mengarahkan satu suapan pada Aaron. Lelaki itu pun membuka mulutnya meski agak ragu.


"Wah...Papa pintar." Zaya terkekeh saat Aaron menerima suapannya.


Tampak Albern mulai tersenyum


"Sekarang giliran Mama juga yang makan." Aaron mengambil alih sendok yang ada ditangan Zaya, lalu menyuapi Zaya juga. Mau tidak mau Zaya membuka mulutnya dan menerima suapan Aaron.


"Mama lebih pintar rupanya." Berganti Aaron yang terkekeh. Senyum Albern semakin mengembang melihat tingkah kedua orang tuanya itu.


Zaya yang menyadari Albern tersenyum pun langsung memeluk kembali putranya itu.


"Jangan pernah bersedih lagi ya, Sayang. Mama dan Papa akan selalu ada untuk Al." Gumamnya sembari mencium kening Albern dengan penuh kasih sayang.


Bersambung...


Peluk aku juga dong....😭😭😭


jgn lupa votenya ya


Happy reading❤❤❤