
Cukup lama Zaya dan Aaron berpelukan, sebelum akhirnya mereka saling melepaskan diri satu sama lain. Aaron menatap Zaya dan membelai wajahnya lembut.
"Apa sekarang sudah lebih baik?" Tanya Aaron.
Zaya mengangguk pelan.
"Honey.., kamu tidak marah?" Tanya Zaya sedikit takut.
"Marah kenapa?" Aaron malah balik bertanya.
"Tadi aku sudah mempermalukanmu di depan klien penting. Pasti dia tidak senang karena aku telah menganggapnya sebagai selingkuhanmu. Kamu sungguh tidak marah?" Tanya Zaya lagi dengan raut khawatir.
Aaron tersenyum.
"Istriku cemburu, aku harusnya senang, bukan marah. Itu tandanya dia sangat mencintaiku." Jawab Aaron enteng.
"Tapi apa semuanya baik-baik saja? Tadi kamu tidak pulang dengan meninggalkan klien begitu saja, kan?"
Aaron menggeleng.
"Tentu saja tidak. Semuanya baik-baik saja. Aku pulang setelah klien kita pergi terlebih dulu. Dia bahkan bertanya kenapa aku tidak mengejarmu."
"Benarkah?" Mata Zaya melebar karena tak percaya.
"Dia tahu jika kau adalah istriku dan memaklumi tindakanmu karena menganggap itu pengaruh dari hormon kehamilan. Jadi kau tidak perlu khawatir. Semuanya baik-baik saja."
Zaya menghela nafas lega saat mendengar penjelasan dari Aaron. Ia pun kembali menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya itu.
"Honey, siang ini apa kamu masih ada meeting penting?" Tanya Zaya kemudian.
Aaron tampak berpikir.
"Hm...sepertinya tidak ada. Aku hanya perlu memeriksa beberapa dokumen untuk di tanda tangani." Jawab Aaron.
"Memangnya kenapa?" Tanya Aaron kemudian.
Zaya tampak tersenyum malu sambil mengusap dada Aaron.
"Temani aku." Pintanya dengan nada manja.
Sontak Aaron tersenyum saat mendengar permintaan istrinya itu.
"Apa aku tidak salah dengar? Istriku ini biasanya lebih suka aku bekerja dengan giat. Kenapa hari ini justru ingin aku bolos kerja?" Goda Aaron sambil mengangkat dagu Zaya dengan jari telunjuknya.
"Aku merindukanmu. Akhir-akhir ini kamu sangat sibuk dan selalu pulang malam. Hari ini temani aku, ya?"
Aaron tampak berpikir dan terlihat seolah-olah ingin menolak permintaan Zaya.
"Honey..." Zaya agak setengah merengek. Andai ia tahu jika saat ini Aaron sangat senang karena mendengar nada manja Zaya saat memanggilnya.
"Oke, tapi ada syaratnya." Ujar Aaron akhirnya.
Zaya mendelik dengan wajah agak keberatan.
"Honey, sejak kapan kamu jadi perhitungan seperti ini? Masa minta ditemani saja mesti pakai syarat segala." Ujarnya protes.
"Kau tidak mau juga tidak apa-apa. Tampaknya aku harus menanda tangani dokumen-dokumen penting itu sekarang juga." Aaron pura-pura bangkit dari duduknya. Sontak Zaya langsung ikut bangkit dan memeluk Aaron erat.
"Oke, tidak apa-apa pakai syarat. Asalkan kamu jangan pergi. Dokumennya kan bisa ditanda tangani dirumah saja."
"Jika kau sudah mendengarnya berarti sudah tidak bisa membatalkannya lagi."
"Baiklah, aku tidak akan membatalkanya. Sekarang katakan apa syaratnya."
Aaron tersenyum sambil memandang Zaya dengan tatapan lapar.
"Bermain-mainlah sedikit denganku hari ini," ujar Aaron.
Zaya mendelik.
"Bermain-main seperti apa?" tanya Zaya ragu.
"Aku akan mengajarimu. Aku harap kau patuh dan menurut," sahut Aaron dengan sedikit tersenyum.
Zaya pun mengangguk pelan meski dengan agak ragu. Dia pasrah dan menuruti saja keinginan suaminya itu karena merasa bersalah dengan tingkahnya hari ini.
___________________________________________
Permainan baru yang diajarkan Aaron pada Zaya kali ini ternyata memakan waktu yang cukup lama. Hari telah menjelang sore saat mereka selesai, dan Zaya pun langsung tertidur karena kelelahan.
Menjelang waktu makan malam Zaya terbangun. Bergegas ia menyegarkan diri dikamar mandi dan berganti pakaian dengan baju rumahan.
Tapi saat mengeringkan rambutnya dengan menggunakan hair dryer dimeja rias, Zaya agak terkejut melihat wajahnya.
Matanya sembab karena terlalu banyak menangis siang tadi. Bibirnya juga terlihat agak membengkak.
Zaya menghembuskan nafasnya. Pantas saja mulutnya terasa agak kaku dan bibirnya terasa tebal. Pasti ini karena permainan Aaron tadi. Lain kali Zaya harus menolak jika Aaron memintanya.
Zaya tak sempat mengompres mata dan bibirnya, karena Aaron sudah mengajaknya turun untuk makan malam. Dengan terpaksa akhirnya Zaya turun dan bergabung dengan Albern yang telah lebih dulu berada di meja makan.
Selama makan malam, Albern sesekali mencuri pandang pada Zaya. Ia juga tampak sedang menahan diri agar tidak bertanya.
Aaron yang melihat hal itu pun menjadi penasaran.
"Ada apa, Jagoan? Kenapa terus melihat kearah Mama?" Tanya Aaron kemudian.
"Tidak ada." Jawab Albern. Ia meneruskan makannya dan berusaha untuk tidak terganggu.
"Katakan saja, Sayang. Apa yang menganggu pikiran Al." Zaya menimpali.
Albern menghentikan makannya, lalu melihat kearah Zaya agak lama.
"Apa Al benar-benar harus mengatakannya?" Tanyanya.
Zaya mengangguk meyakinkan.
Albern terdiam agak lama, terlihat sedang mencari kalimat yang tepat. Lalu ia kembali menatap Zaya sambil membuka mulutnya.
"Mama seperti zombi." Ujarnya.
Zaya dan Aaron membeku. Tak tahu harus menanggapi putra mereka itu seperti apa.
Bersambung ...
Terus like, komen dan vote
Happy reading❤❤❤