
Aaron buru-buru bangkit dan menahan lengan Zaya.
"Duduklah lagi. Kita masih belum selesai." Pintanya dengan nada tak ingin dibantah. Tapi Zaya menarik paksa lengannya yang dicekal Aaron hingga terlepas.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Kamu sudah tahu keinginanku, dan sekarang aku juga sudah tahu apa prioritasmu. Aku tidak akan memintamu melakukan apapun, kamu bebas menentukan apapun dalam hidupmu. Anggap saja aku tidak ada." Ujar Zaya tanpa melihat ke arah Aaron.
"Aku mau pulang. Kalau kamu tidak mau mengantarku, aku akan pulang sendiri." Zaya melangkah meninggalkan Aaron. Sedangkan Aaron yang sedari tadi terdiam, akhirnya beranjak dan menyusul Zaya.
Aaron membukakan pintu mobil untuk Zaya, dan Zaya masuk tanpa banyak protes. Mereka pun pulang dengan suasana hening.
Selama perjalanan, Zaya kembali memandang kearah luar jendela dengan pikiran yang melayang entah kemana. Ia tak lagi marah. Amarah yang tadi sangat sulit diredamnya kini menguap entah kemana, berganti dengan rasa kecewa yang kini memenuhi setiap relung hatinya.
Terngiang kembali di telinga Zaya kata-kata Aaron saat ingin kembali bersamanya dulu. Bagaimana Aaron mengatakan jika dia akan mengganti tujuh tahun penderitaan Zaya dengan kebahagiaan seumur hidup.
Pernikahan mereka sekarang bahkan baru berumur beberapa bulan, tapi Aaron justru telah kembali menyakitinya seperti dulu.
Zaya menghapus airmata yang kembali mengalir tanpa permisi. Tak pernah disangkanya ia akan merasakan penderitaan ini lagi meski saat ini Aaron mengaku telah mencintainya. Lelaki itu seolah telah mengingkari janji yang telah dibuatnya sendiri. Dan kini Zaya hanya bisa menghela nafasnya untuk sedikit mengurangi rasa sesak di dadanya. Ia kecewa.
Sedangkan Aaron sendiri juga tampak tenggelam dalam pikirannya. Dia memcoba untuk memahami apa yang Zaya rasakan saat ini. Dalam kondisi hamil, menyaksikan suaminya berdansa dengan perempuan lain. Tentu sangat wajar jika istrinya itu merasa marah.
Tapi yang membuat Aaron tak habis pikir, kenapa Zaya sampai ingin Aaron memecat Anna. Bukankah itu agak sedikit berlebihan? Jika Aaron melakukannya, tentu dia akan kerepotan mencari sekertaris pengganti yang berpengalaman seperti Anna. Belum lagi target perusahaan yang harus dicapainya dalam waktu dekat membuat Aaron masih sangat membutuhkan tenaga sekertarisnya itu.
Lagipula Dia dan Anna juga tidak memiliki hubungan apapun selain hubungan kerja. Serta yang mereka lakukan tadi hanyalah sebatas sopan santun pada tuan rumah yang mengadakan penjamuan. Apa dia benar-benar harus memecat Anna karena hal ini?
Aaron merasa dilema. Disatu sisi dia ingin menyenangkan hati istrinya dan membuatnya tidak salah paham lagi. Tapi di sisi lain Aaron juga tidak rela jika harus melepas karyawan yang cerdas dan cekatan seperti Anna.
Aaron mendesah sembari memijat pangkal hidungnya. Entah apa yang harus dia lakukan sekarang.
Tanpa terasa mobil yang dikendarai Aaron telah sampai dihalaman rumah mereka. Zaya turun dari mobil tanpa menunggu Aaron lagi. Ia masuk kedalam rumah dan langsung memeriksa kamar Albern.
Saat dilihatnya Albern telah tertidur, Zaya pun masuk kedalam kamarnya dan langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Zaya sengaja berendam agak lama untuk sedikit menenangkan hatinya. Dan setelah sempat tertidur beberapa saat di dalam bathup, Zaya segera menyelesaikan mandinya dan keluar dari dalam kamar mandi.
Aaron duduk dipinggiran tempat tidur masih dengan pakaian yang dia kenakan saat menghadiri jamuan tadi. Tampaknya dia telah menunggu Zaya sedari tadi. Matanya terus menatap kearah Zaya begitu Zaya keluar dari kamar mandi, tapi tak Zaya hiraukan.
Setelah mengeringkan rambutnya dengan menggunakan hair dryer, Zaya berganti pakaian dengan gaun tidur favoritnya. Lalu ia juga menggunakan rangkaian perawatan wajahnya seperti biasa tanpa menghiraukan Aaron yang terus memperhatikan gerak geriknya.
Aaron merasa jengah. Didekatinya Zaya dan direngkuhnya istrinya itu ke dalam pelukannya. Zaya tak menolak, tapi Zaya juga tak membalas pelukan Aaron. Ia diam layaknya patung dan tak merespon yang Aaron lakukan padanya.
Setelah beberapa saat, Aaron mengurai pelukannya. Dipandangnya wajah Zaya yang terlihat datar tanpa ekspresi. Hatinya tiba-tiba terasa sangat sakit saat melihat mata Zaya yang sendu. Aaron pun menyadari jika dia telah menyakiti Zaya lagi, untuk yang kesekian kalinya.
"Sayang, maafkan aku. Aku sungguh tak akan mengulangi hal ini lagi. Dimasa depan, tidak akan kubiarkan perempuan lain mendekatiku untuk alasan apapun. Tolong jangan marah lagi." Aaron berusaha membujuk Zaya. Tapi Zaya tak bergeming sedikit pun. Ia tampak tak tertarik menanggapi kata-kata Aaron.
"Beri aku waktu untuk mencari pengganti Anna, setelah itu aku akan memindahkan Anna kebagian lain. Terlalu kejam jika aku memecat dia tanpa alasan, mengingat kinerjanya selama ini. Setelah ini kau tidak akan pernah melihatku bersinggungan dengan perempuan manapun lagi." Bujuk Aaron lagi.
Zaya masih betah dengan mode diamnya. Ia tak merespon sama sekali, seolah-olah ia tak mendengarkan apapun.
"Sayang..., apa kau ingin mengabaikan suamimu seperti ini seterusnya? Istri yang baik tidak akan bersikap seperti ini saat suaminya sedang mengajaknya bicara." Aaron berusaha untuk bercanda. Dan kali ini Zaya merespon. Tapi tentu saja responnya bukan sebuah senyuman, melainkan tatapan nyalang yang menusuk seperti hujaman belati.
"Aku memang bukan istri yang baik, makanya kamu masih suka menyentuh perempuan lain di luar sana." Ujar Zaya sarkas.
"Tapi sebelum mengharapkan istri yang baik mendampingimu. Mungkin kamu juga harus belajar menjadi suami yang baik terlebih dahulu. Dan bagiku, suami yang baik bukan hanya suami yang bisa memberikan istrinya limpahan materi, tapi juga yang bisa membahagiakan istrinya secara moril, termasuk tahu menjaga perasaan istrinya meski sedang tak bersama-sama sekalipun. Kamu tidak melakukan itu padaku saat ini, Aaron. Jadi tolong jangan salahkan aku jika sekarang aku tidak tertarik untuk menjadi istri yang baik."
Aaron terdiam dengan ekspresi wajah yang berubah serius. Dipandangnya Zaya sembari mencerna kata-kata yang didengarnya barusan.
Aaron menghela nafasnya sebelum kemudian kembali membuka mulutnya.
"Aku sudah berusaha mencari solusi yang yang baik untuk kita berdua. Jika kau masih merasa tidak puas, katakan padaku apa yang harus aku lakukan. Apa aku benar-benar harus memecat Anna? Itu yang kau inginkan?" Tanya Aaron dengan nada tajam, setajam tatapannya saat ini pada Zaya.
Mata Zaya meredup. Ia menurunkan pandangannya dan membuang muka kearah lain. Hatinya semakin sedih mendengar nada bicara Aaron. Sangat jelas terdengar jika Aaron tak rela melepas sekertarisnya itu.
Zaya pun tersenyum pahit.
"Lakukan saja apa yang membuatmu senang. Mulai sekarang aku tidak akan menuntut apapun lagi darimu." Airmata Zaya kembali jatuh bersamaan dengan hatinya yang merasa semakin kecewa.
Bersambung...
Kalo emak jadi Zaya mending kabur ajalah, trus cari berondong yg lebih kece😅😂😂
Lanjut...kebut lg, next month rencananya udah rilis cerita evan. Ikutin terus emak yak
Happy reading❤❤❤