Since You Married Me

Since You Married Me
Menginginkan Satu Sama Lain



Zaya menggeliatkan tubuhnya dan perlahan membuka matanya dengan enggan. Kemudian diperhatikannya suasana disekelilingnya yang terasa agak familiar.


Zaya pun terkejut saat mendapati tempatnya berbaring sekarang adalah tempat tidur Aaron. Saat ini ia tengah berada dikamar Aaron yang dulu adalah kamarnya juga. Nampaknya tadi Zaya tertidur dan dipindahkan oleh Aaron ke kamar ini.


Zaya meraih jam di atas nakas. Dilihatnya waktu sudah hampir dini hari.


Sontak Zaya langsung bangkit dari tempat tidur dan bergegas ke kamar mandi untuk membasuh mukanya. Zaya berniat pulang saat itu juga.


Tapi kemudian, saat Zaya selesai dari kamar mandi, Zaya melihat pemandangan tak biasa dibalkon kamar


Aaron tengah berdiri disana sambil memandang langit. Tampak dia tengah memikirkan sesuatu yang tidak sederhana.


Perlahan Zaya mendekati lelaki itu.


"Maaf, aku ketiduran." Suara Zaya memecah keheningan.


Aaron menoleh.


"Kenapa bangun? Istirahatlah, ini sudah larut." Ujarnya pada Zaya.


Zaya terdiam sesaat, berusaha mengatur kata untuk berpamitan.


"Aku...mau pulang." Ujar Zaya akhirnya.


Aaron memandang Zaya sesaat.


"Pulang kemana? Bukankah sekarang kau sudah berada dirumahmu sendiri?" Tanya Aaron.


Zaya tercenung. Antara tak percaya dan bingung dengan perkataan yang Aaron ucapkan. Entah apa maksudnya dia berkata seperti itu.


"Rumahmu disini, bersamaku dan juga Albern. Jadi kau tidak perlu kemana-mana lagi." Tambah Aaron lagi.


Zaya agak terkesiap mendengarnya. Ada kehangatan yang menjalar dihati Zaya hingga membuatnya harus menahan senyum.


"Saat ini kita belum menikah lagi, Aaron. Rumah ini belum menjadi rumahku. Tidak sepantasnya aku menginap disini, terlebih dikamarmu. Bagaimana pun kita masih belum mempunyai ikatan." Zaya berusaha memberi pengertian kepada Aaron.


Zaya benar-benar ingin pulang sekarang. Ia tak sanggup membayangkan reaksi para pelayan Aaron saat pagi nanti mendapati Zaya ada disini. Zaya tidak mau menanggung malu seperti saat ia menginap disini sebelumnya.


Meski para pelayan itu tidak akan berani untuk meledeknya, tapi tetap saja Zaya akan merasa malu.


Aaron menghadapkan badannya kearah Zaya dan melihat Zaya dengan lekat. Tangannya terulur untuk membelai rambut Zaya lembut.


"Kalau begitu, mari kita menikah lagi secepatnya." Pinta Aaron.


"Apa?" Zaya agak terkejut mendengarnya.


"Bukankah kau tidak nyaman berada disini karena kita belum punya ikatan. Kalau begitu kita harus segara membuat ikatan itu." Ujar Aaron lagi.


"Aku tidak yakin." Tolak Zaya cepat.


Aaron menautkan kedua alisnya.


"Kenapa tidak yakin? Bukankah kau sendiri yang mengatakan akan bersamaku lagi?" Tanya Aaron heran.


"Iya, benar. Tapi sekarang aku merasa tidak yakin?"


Aaron semakin mengerutkan keningnya.


"Apa maksudmu tidak yakin? Tentu saja kau harus menikah denganku dan menjadi istriku lagi." Ujar Aaron lagi.


Zaya menghela nafas dan sedikit menundukkan kepalanya. Tiba-tiba ia jadi terlihat sedih.


"Kenapa? Kau tidak mau menikah denganku?" Tanya Aaron.


Zaya menggeleng.


"Bukan begitu. Aku bukannya tidak mau menikah denganmu lagi. Hanya saja....aku takut." Ujarnya kemudian.


"Takut?"


Zaya mengangguk lemah.


"Aku takut, Aaron. Bagaimana kalau kamu menceraikanku secara tiba-tiba seperti dulu..." Lirihnya.


Aaron terhenyak. Seperti ada belati yang menikam tepat di ulu hatinya. Dadanya mendadak menjadi sakit dan sesak. Ternyata tindakannya dulu yang menceraikan Zaya secara sepihak dan tiba-tiba, menyisakan sebuah trauma bagi Zaya.


"Maaf..." Gumam Aaron lagi sambil kembali meraih Zaya kedalam pelukannya.


"Semua ini salahku. Aku sudah banyak membuatmu bersedih, salah satunya dengan menceraikanmu tanpa alasan. Aku sungguh minta maaf, Zaya. Aku tidak akan pernah melakukannya lagi. Aku berjanji."


Aaron ingin sekali memeluk Zaya, tapi Zaya pasti akan menolak karena status mereka.


"Kau mau memaafkanku, kan?" Tanya Aaron sambil menatap Zaya.


Zaya menatap Aaron yang juga tengah menatapnya.


"Aku sudah memaafkanmu, tapi tetap saja aku takut." Lirih Zaya.


Aaron menghela napasnya.


"Lalu bagaimana agar kau tidak takut lagi?" Tanya Aaron.


Zaya terdiam sesaat.


"Katakan alasan yang sebenarnya kenapa kau menceraikanku waktu itu." Pinta Zaya akhirnya.


Sekali lagi Aaron yang menghela nafas panjang.


"Baiklah...Tapi setelah ini aku harap kau tidak takut lagi."


Zaya mengangguk mengiyakan.


"Aku merasa waktu itu kau sangat tidak bahagia. Aku sering mendapatimu menangis diam-diam. Lalu kau juga membeli rumah yang kau tempati sekarang. Aku pikir kau ingin berpisah, tapi tak punya keberanian untuk mengatakannya padaku, hingga akhirnya aku memutuskan untuk membebaskanmu."


"Aku pikir setelah itu kau akan bisa menemukan kebahagiaanmu. Tapi nyatanya aku malah menyakitimu dan menghancurkan diriku sendiri karena tak sanggup kehilanganmu."


Aaron kembali menatap Zaya.


"Tentu saja aku tidak akan pernah mengulanginya. Jadi jangan takut hal itu terjadi lagi. Aku juga tidak mau kehilanganmu untuk yang kedua kalinya."


Zaya tak mampu mengatakan apapun lagi. Dia hanya tersenyum tipis ke arah Aaron dengan agak sendu.


"Jangan lepaskan aku lagi, Aaron. Berjanjilah kau akan selalu mengenggam tanganku." Bisik Zaya dengan penuh permohonan.


Aaron tersenyum mendengarnya.


"Tentu saja. Aku tidak akan melepaskanmu lagi. Aku akan mengikatmu didekatku agar kau tidak bisa kemana-mana. Apa kau tidak keberatan jika aku menjadi posesif?" Aaron mengerlingkan matanya kearah Zaya, lalu kembali tersenyum.


"Kedengarannya tidak terlalu buruk." Jawab Zaya dengan entengnya.


Aaron yang merasa gemas dengan jawaban Zaya yang terkesan asal itu pun mngusap lembut pucuk kepala Zaya. Dia benar-benar bersyukur semuanya tidak terlalu terlambat. Andai saja dia baru menyadari perasaannya saat Zaya sudah bersama lelaki lain, entah akan bagaimana jadinya. Yang jelas kehidupan Aaron pasti akan lebih kacau lagi.


Membayangkan seandainya Zaya bersama dengan lelaki lain, membuat Aaron enggan untuk melepaskan pelukannya. Dia sangat suka menghirup aroma manis dari tubuh Zaya yang kini menjadi candu baginya.


Bodohnya dia telah menyia-nyiakan perempuan ini sebelumnya.


"Aaron..." Panggil Zaya kemudian.


"Hmm..." Aaron kembali menoleh.


"Boleh aku bertanya sesuatu yang lebih serius?"


"Katakan."


"Perusahaanmu...Kamu tidak benar-benar akan mengakusisinya, kan?"


"Tidak. Aku sudah membatalkan rencana akusisi karena terlalu merugikan. Tadi aku baru mendapat kabar jika ada investor yang tertarik untuk menanamkan modal. Perusahaan akan baik-baik saja. Jangan khawatir."


Zaya menghela nafas lega. Ia senang Aaron dan perusahaannya akan baik-baik saja. Ia tidak perlu khawatir lagi dengan keadaannya sekarang.


Zaya pun memejamkan matanya sembari menghela napas dalam. Mereka kini telah yakin pada keputusan masing-masing. Baik Zaya maupun Aaron, mereka berdua sama-sama saling merindu dan menginginkan satu sama lain.


Bersambung....


Jangan lupa like, komen dan vote ya reader sayang...😙😙😙


Happy reading❤❤❤