
Aaron, Zaya, dan Ginna hanya bisa termangu saat mendengar penjelasan Sekertaris Jeff, tanpa bisa berkomentar apa-apa. Mereka tidak tahu harus menanggapi seperti apa terhadap apa yang mereka dengar barusan.
Tidak berselang lama, Asisten Dean juga datang dan mengkonfirmasi kebenaran dari apa yang disampaikan oleh Sekertaris Jeff.
Ternyata dibalik penampilannya yang nyaris sempurna, pemuda tampan itu menderita semacam ketakutan terhadap para wanita yang mempunyai paras cantik. Dirinya akan merasa sangat tidak nyaman, bahkan terkadang sampai gemetar dan mengeluarkan keringat dingin jika berdekatan dengan perempuan cantik.
Hal ini ternyata dipicu oleh sebuah kejadian traumatik yang di alaminya bertahun-tahun lalu.
Saat masih mengenyam pendidikan di bangku kuliah, Jeff pernah menjalin hubungan dengan seorang gadis cantik yang ternyata adalah adik dari seseorang yang pernah di singgungnya.
Entah karena dendam atau apa, pacar Jeff dan kakaknya bersekongkol menculik pemuda itu dan menyekapnya di sebuah gedung kosong.
Jeff di aniaya, serta tak diberi makan dan minum berhari-hari. Hingga yang paling membekas diingatan Jeff adalah, saat pacar cantiknya dengan kejam menyayat-nyayat wajah Jeff dengan menggunakan sebuah pisau yang sangat tajam.
Jeff menjerit kesakitan. Tapi justru pacarnya yang cantik itu tertawa puas bersama kakaknya. Ternyata mereka berdua telah lama dendam terhadap Jeff dan merencanakan untuk menyiksa pemuda itu sebelum nantinya akan dihabisi.
Beruntung polisi berhasil menemukan tempat Jeff di sekap dan menyelamatkan nyawanya. Orang tua Jeff yang khawatir karena anaknya telah dua hari tidak pulang, melaporkan hilangnya Jeff pada pihak berwajib. Pencarian pun berhasil. Jeff di temukan di sebuah gedung kosong dengan kondisi yang sangat mengenaskan.
Tubuhnya mengalami dehidrasi parah dan wajahnya penuh dengan luka sayatan. Jeff Sekarat dan langsung dilarikan ke rumah sakit. Sedangkan dua orang yang menyekapnya langsung diamankan polisi.
Jeff sempat tak sadarkan diri selama beberapa hari. Dan saat dia tersadar, bayangan wajah pacar cantiknya yang sedang tertawa sambil manyayat wajahnya terus terbayang di depan mata Jeff. Jeff mengalami trauma yang sangat parah. Sejak saat itu dia sangat takut melihat perempuan cantik. Bahkan Jeff sempat sangat membenci kakak perempuannya yang wajahnya bisa di bilang cukup cantik.
Tapi setelah mendapatkan perawatan dan menjalani terapi, kondisi Jeff semakin membaik. Ia tidak lagi terlalu ketakutan dan membenci wajah cantik seperti sebelumnya. Saat ini kondisinya tinggal sebatas merasa tidak nyaman saat berdekatan dengan perempuan cantik.
Tapi, untuk merasa tertarik dan jatuh cinta pada perempuan cantik seperti dulu, Jeff memastikan bahwa itu tidak akan terjadi. Sejak kejadian itu, seleranya terhadap seorang wanita berubah drastis. Meski orientasi seksualnya tidak menjadi menyimpang, tapi Jeff jadi sangat sulit untuk menemukan perempuan yang bisa membuatnya tertarik.
Hingga saat ini, Jeff masih belum menjalin hubungan dengan perempuan manapun. Dia sendiri tidak tahu perempuan seperti apa yang bisa membuatnya nyaman dan jatuh cinta.
Jeff hanya berharap di masa depan kehidupannya bisa normal kembali. Menjalin hubungan dan membangun keluarga seperti orang-orang pada umumnya. Meski ia sendiri tidak tahu kapan itu tepatnya.
"Bukankah waktu itu wajahmu rusak karena luka sayatan. Lalu bagaimana sekarang bisa menjadi mulus lagi tanpa bekas luka sedikitpun?" Ginna merasa sangat penasaran dan tak bisa menahan diri untuk bertanya.
"Saya menjalani rangkaian bedah plastik, Nyonya besar. Saat itu wajah saya terlihat sangat menakutkan karena terlalu banyak bekas luka, sampai-sampai saya selalu ketakutan saat bercermin. Lalu kerabat Kakek yang berada di Korea menyarankan agar saya menjalani bedah plastik untuk memperbaiki wajah saya. Dan ternyata hasilnya diluar dugaan saya." Jawab Sekertaris Jeff.
"Maksudmu wajahmu menjadi sangat berbeda dari sebelumnya?" Tanya Ginna lagi.
Sekertaris Jeff mengangguk.
"Memangnya seperti apa wajahmu sebelumnya?" Tanya Ginna lagi. Biasanya ia tidak pernah ingin tahu dengan hal-hal menyangkut orang lain. Entah kenapa saat ini ia menjelma menjadi nenek-nenek kepo yang ingin tahu semuanya.
"Ini adalah wajah saya sebelum di operasi." Sekertaris Jeff memperlihatkan foto seseorang di ponselnya pada Ginna.
Ginna memperhatikan foto itu dengan kening berkerut.
"Harusnya kau tidak perlu merasa trauma, tapi justru berterima kasih dengan mantan pacarmu itu." Gumam Ginna terus terang.
Semua yang mendengar kata-kata Ginna tersenyum kecut. Jelas Ginna ingin mengatakan jika wajah Jeff yang sekarang jauh lebih tampan dari wajahnya yang dulu.
Sekertaris Jeff hanya tersenyum menanggapi.
"Banyak yang mengatakan seperti itu, Nyonya Besar. Tapi saya tetap lebih nyaman dengan wajah lama saya. Saya merasa jika itu benar-benar diri saya." Jawab Asisten Jeff lagi.
Ginna mengangguk-anggukan kepalanya. Ia memahami apa yang dikatakan oleh Sekertaris Jeff. Memang lebih menyenangkan menjadi diri sendiri ketimbang menjadi orang lain.
"Wajahmu tidak akan rusak karena aku pukul tadi, kan?" Tiba-tiba Aaron bertanya.
Sekertaris Jeff kembali tersenyum.
"Tentu saja tidak, Tuan. Ini hanya luka kecil." Jawab Sekertaris Jeff sambil sedikit menyentuh luka di sudut bibirnya.
"Aku kira akan membuatmu kembali di operasi lagi." Ujar Aaron lagi.
"Apa kau yakin fobiamu itu tidak akan mengganggu kinerjamu?" Aaron kembali bertanya.
"Saya bisa mengatasinya, Tuan." Jawab Sekertaris Jeff mantap.
"Berarti saya tidak jadi dipecat kan, Tuan?" Tanyanya kemudian.
"Tidak. Asalkan kau tidak mengulangi apa yang kau lakukan hari ini. Meskipun kau tidak tertarik pada istriku, aku tidak ingin melihatmu menyentuhnya lagi." Jawab Aaron.
"Baik, Tuan. Saya pasti tidak akan melakukannya lagi." Sekertaris Jeff membungkukkan badannya pada Aaron.
"Kembalilah ke mejamu dan obati lukamu itu. Setelah itu selesaikan laporanmu." Ujar Aaron.
"Baik, Tuan." Sekali lagi Sekertaris Jeff membungkukkan badannya, lalu permisi untuk kembali ke mejanya.
"Sepertinya kau juga harus segera mengatasi penyakit anehmu, Aaron." Tiba-tiba suara Ginna kembali terdengar.
Aaron menautkan kedua alisnya.
"Maksud Mama?" Tanya Aaron.
"Rasa cemburumu yang terlalu berlebihan terhadap Zaya, aku rasa itu sudah termasuk sebagai penyakit." Ujar Ginna lagi dengan gamblang.
Aaron membulatkan matanya, tapi dia tak bisa menyanggah apa yang dikatakan ibunya itu.
"Aku pulang dulu. Awas saja kalau setelah ini kau memukuli orang lagi karena cemburu buta. Aku benar-benar akan mengirimmu ke psikiater jika sampai hal itu terulang lagi." Ujar Ginna lagi sambil beranjak.
"Jaga dirimu, Zaya."
Zaya mengangguk menanggapi ibu mertuanya yang berlalu keluar dari ruang kerja Aaron.
"Saya juga permisi, Tuan, Nyonya." Asisten Dean juga pamit undur diri. Dia membungkukkan badannya dan beranjak dengan membawa beberapa berkas untuk difotocopy.
"Asisten Dean." Panggil Zaya saat melihat sesuatu dijari manis Asisten Dean.
"Ya, Nyonya." Asisten Dean berhenti.
"Aku ingat beberapa hari yang lalu jarimu itu masih kosong." Ujar Zaya.
Asisten Dean melihat jari manisnya yang telah tersemat sebuah cincin, lalu tersenyum dengan sedikit malu.
" Ini...cincin pertunangan, Nyonya. Saya dan Kara telah bertunangan semalam." Jawabnya dengan sedikit tersipu.
Zaya mendelik.
"Kalian bertunangan semalam? Kau melamar kara dan kara tidak memberitahuku?" Zaya bergumam dengan nada tak percaya.
"Itu...pertunangannya berjalan tanpa direncanakan sebelumnya, Nyonya. Dan sebenarnya...Kara yang melamar saya." Ujar Asisten Dean lagi dengan sedikit ragu.
Zaya semakin membeliakkan matanya.
"Apa??"
Bersambung...
Buat yang nanya fobia sama perempuan cantik itu benaran ada apa nggak, jawabannya emang beneran ada. Fobia tsb dikenal sm sebutan venustraphobia atau caligynephobia, tapi kayaknya dinegara kita blm pernah denger kasusnya. Soalnya cowok2nya pada doyan cewek cakep semua😂😂😂
Happy reading❤❤❤