Since You Married Me

Since You Married Me
Gagal Mandi Bersama



Resepsi pernikahan Aaron dan Zaya dilanjutkan pada malam harinya. Dengan bertemakan Classic Wedding, resepsi berlangsung dengan sangat meriah.


Tamu yang hadir kebanyakan adalah rekan bisnis Aaron dari berbagai kota, bahkan ada juga yang datang dari luar negeri. Mereka semua sangat kagum dengan sosok Zaya yang berhasil menaklukan gunung es penggila kerja seperti Aaron.


Disisi lain, Aaron juga tak segan lagi menunjukkan rasa cintanya pada Zaya didepan orang lain. Hingga banyak koleganya yang menggoda Aaron jika dia adalah cikal bakal suami pemuja istri, suami yang patuh dan tidak berani membantah apapun yang istrinya katakan. Anehnya, Aaron tidak marah dan justru merasa senang dengan predikat itu. Sungguh seorang Aaron Brylee kini telah menjelma menjadi seorang budak cinta. Dan mengingat bagaimana dulu Aaron sangat dingin pada para perempuan yang mendekatinya, hal ini tentu sangat tidak terduga.


Semakin malam, pesta pun menjadi semakin meriah.


Setelah acara-acara hiburan, acara formal dibuka dengan pengumuman dari Carlson yang mengejutkan. Chairman dari Brylee Group itu mengumumkan jika dia memberikan 10 % saham Brylee Group pada Zaya sebagai hadiah pernikahan.


Tentu saja Zaya hanya bisa menerima dengan pasrah pemberian Ayah mertuanya itu. Mana mungkin ia menolak dan mempermalukan Carlson dihadapan ratusan karyawan Brylee Group dan para kolega yang hadir.


Dengan begitu, Zaya menjadi pemilik saham terbesar keempat setelah Carlson, Ginna dan Aaron. Hal itu pun semakin mengukuhkan posisi Zaya sebagai Nyonya Muda keluarga Brylee.


Kedepannya tidak akan ada yang bisa meremehkan Zaya lagi, terutama diinternal perusahaan. Semua orang kelak akan menghormatinya karena ia telah memiliki kedudukan yang kuat, baik sebagai istri Aaron, maupun sebagai Nyonya Muda di Brylee Group.


Dan yang jadi perhatian semua orang adalah respon Ginna yang tampak santai. Orang-orang disana, terutama para karyawan Brylee group tahu jika Ginna adalah pribadi yang kritis dan tidak akan menerima hal apapun yang dianggapnya tidak sesuai.


Tapi malam ini, saat suaminya memberikan hadiah yang luar biasa kepada menantunya, Ginna tampak biasa saja dan terlihat tak terusik. Itu sudah cukup mengisyaratkan jika Zaya juga sudah mendapatkan restu dari Sang Nyonya Besar yang terkenal tak mudah untuk dihadapi itu.


Mungkin saja saat ini Ginna memang sudah bisa menerima Zaya sebagai bagian dari Keluarga Brylee dan juga bagian dari pemilik Brylee Group. Zaya hanya berharap setelah ini ia bisa menjalin hubungan yang harmonis dengan ibu mertuanya itu.


___________________________________________


Zaya berendam air hangat di bathub dengan menggunakan beberapa tetes minyak aromatherapi. Perlahan tubuhnya menjadi rileks. Lalu matanya pun mulai terpejam karena merasa nyaman dengan sensasi yang ia rasakan.


Zaya memang telah kembali lebih awal ke kamar hotelnya, yang saat ini sudah disulap menjadi sebuah kamar pengantin yang indah, masih di hotel yang sama dengan tempat mereka mengadakan resepsi.


Karena melihat Zaya yang sudah kelelahan, Aaron menyuruh Zaya untuk beristirahat lebih dulu dikamar mereka, hingga Zaya akhirnya bisa sedikit memanjakan tubuhnya yang kini terasa pegal semua. Sedangkan Aaron sendiri masih menemani beberapa koleganya yang datang agak terlambat tadi. Sepertinya lelaki itu akan sedikit telat menyusul Zaya kekamar mereka.


Zaya pun bersyukur karena bisa langsung beristirahat. Rencananya ia akan langsung tidur setelah ini. Tapi rencana tinggal rencana. Aaron ternyata datang lebih cepat dari yang diperkirakan Zaya. Entah alasan apa yang digunakannya untuk kabur dari para koleganya itu.


Tiba-tiba saja Zaya mendengar suara suara orang melangkah di luar kamar mandi. Sontak Zaya langsung bangkit dari bathup dan langsung membersihkan diri di bawah guyuran shower. Cepat-cepat dia meraih bathrobe dan mengenakannya.


Tak lama kemudian, Aaron masuk ke dalam kamar mandi dan terlihat sedikit kecewa karena melihat Zaya ternyata sudah selesai mandi.


"Kenapa?" tanya Zaya pura-pura tidak tahu.


"Padahal aku sudah berusaha kembali lebih awal supaya bisa mandi bersama denganmu. Tapi rupanya kamu sudah selesai," ujar Aaron dengan sedikit lemas.


Zaya tersenyum.


"Lain kali saja," sahut Zaya dengan entengnya sembari keluar dari kamar mandi.


Tak mempedulikan Aaron yang masih diam mematung di kamar mandi, Zaya segera berganti pakaian dengan gaun tidur, lalu duduk di depan meja rias untuk mengeringkan rambutnya.


"Jangan bilang, selagi aku mandi, kau akan tidur duluan, Sayang?" Aaron bergumam.


"Tidak akan. Mandilah," sahut Zaya.


Aaron menghela napas sejenak, lalu kembali masuk ke dalam kamar mandi. Tak lama kemudian, terdengar suara gemercik air, menandakan jika lelaki itu sedang mandi.


Aaron keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe. Kedua tangannya tampak sedang mengeringkan rambutnya dengan sebuah handuk kecil.


"Mau aku bantu?" tanya Zaya, berusaha membujuk sang suami.


Aaron terdiam sejenak, sebelum kemudian menyerahkan handuk di tangannya pada Zaya.


"Kemarilah," pinta Zaya sambil mengisyaratkan Aaron untuk duduk di tepian tempat tidur.


Aaron menuruti apa kata istrinya itu. Dia duduk dan membuatkan Zaya berdiri di hadapannya sembari mengeringkan rambutnya.


"Seharusnya kau tunggu aku supaya kita bisa mandi bersama," gumam Aaron protes.


"Bukankah sudah kubilang, kita masih bisa melakukannya di lain waktu?" sahut Zaya lembut.


Aaron ingin membuka mulutnya untuk mendebat kata-kata Zaya, tapi hal itu urung dia lakukan. Dia memilih untuk mengembuskan napas dengan agak kadar sebagai tanda jika dirinya masih merasa kesal.


"Kenapa kamu kesal seperti itu? Bukankah kali ini kita menikah untuk seumur hidup? Kita masih bisa melakukan semuanya bersama di lain waktu, kan?" Zaya meletakkan handuk di tangannya dan merangkum wajah Aaron.


"Ya, kau benar," sahut Aaron tak berdaya. Sikap lembut Zaya seperti inilah yang membuatnya mati kutu. Hilang sudah rasa kesalnya tadi.


"Baiklah. Tapi lain kali jangan begitu lagi." Aaron menyahut dengan suara terdengar seperti seorang anak kecil yang sedang merajuk.


"Mungkin lain kali kita mesti membuat janji dulu kalau mau mandi bersama." Zaya menanggapi sekenanya.


"Apa?" Aaron sedikit melebarkan matanya.


Terang saja hal itu membuat Zaya terkekeh. Dipeluknya kepala Aaron dengan gemas, sebelum akhirnya dia menyingkir dari hadapan lelaki itu.


Zaya menyiapkan piama untuk Aaron dan meminta suaminya itu mengenakannya.


"Apa aku sungguh perlu memakai ini, Sayang?" tanya Aaron.


"Iya, tentu saja. Kamu tidak mau tidur kedinginan karena hanya memakai bathrobe saja, kan?" Zaya balik bertanya.


"Jadi maksudnya setelah ini kita akan langsung tidur saja?" Aaron kembali melebarkan matanya.


"Tentu saja, kita harus langsung beristirahat. Seharian kita sudah lelah, kan?"


"Apa?" Aaron sedikit menyentak tak terima, yang tentu saja membuat Zaya kembali terkekeh dibuatnya.


Bersambung ....