Since You Married Me

Since You Married Me
Aku Akan Memperjuangkanmu



Zaya membalas tatapan Aaron dengan sorot mata yang sulit dijabarkan. Ia mengamati Aaron seolah tengah menilai kesungguhan Aaron atas kata-katanya barusan.


"Setahuku, kamu adalah orang yang hanya mau membahas hal yang pasti saja. Lalu kenapa sekarang kamu berandai-andai?" tanya Zaya dengan sarkas.


Aaron tertegun mendengar tanggapan Zaya. Seakan tidak percaya jika kalimat itu terucap dari mulut seseorang yang selama ini selalu bersikap lembut padanya.


Semenjak bercerai, Zaya memang telah banyak berubah. Perempuan itu menjadi sosok yang tak tersentuh meskipun berada didepan mata.


"Aku hanya sedang mencari kemungkinan, masih adakah kesempatan untukku agar bisa memperbaiki kesalahan yang telah aku lakukan." lirih Aaron kemudian dengan tersenyum masam.


Zaya menautkan kedua alisnya.


"Katakan dengan jelas, Aaron. Sebenarnya apa maksud perkataanmu ini. Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?" tanyanya tanpa basa basi.


Aaron terdiam agak lama, kemudian menghela nafas agak panjang.


"Aku menyadari, melepaskanmu adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Aku telah melukaimu dan juga Albern karena keputusan itu. Sekarang, maukah kau memberiku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Aku ingin kita bisa kembali bersama demi kebahagiaan Albern. Maukah kau kembali bersamaku, Zaya?" tanya Aaron lagi, kali ini dengan nada penuh harap.


Zaya terdiam beberapa saat dengan tatapan nanar.


"Lalu kita? Apa kita juga akan bahagia jika kembali bersama, Aaron?" tanyanya ironi.


Aaron tak bisa menjawab. Dia menoleh pada Zaya namun tak bisa menjawab apa-apa.


Zaya menatap lurus kedepan dengan agak menerawang. Kemudian pandangannya meredup dan jatuh kebawah.


"Tentu saja aku sangat peduli dengan kebahagiaan Albern. Aku akan melakukan apapun agar dia bisa kembali tersenyum. Aku tidak akan ragu menyambut uluran tanganmu jika kamu menyodorkan pertemanan padaku demi Albern. Aku akan sangat bersedia bekerjasama denganmu untuk membuatnya bahagia seperti sekarang ini. Tapi Aaron, untuk kembali padamu, itu tidak pernah terbesit dipikiranku sejak aku pergi." gumam Zaya kemudian.


"Kamu bahkan tidak mengenalku dengan benar. Jika kita kembali bersama, kita hanya akan mengulang sebuah kisah sedih." tambah Zaya lagi. Kali ini terdengar sendu dan penuh luka.


"Aku akan berusaha untuk tidak mengulangi kesalahanku dulu, Zaya." jawab Aaron berusaha meyakinkan.


Zaya tersenyum masam. Kemudian ia menoleh kearah Aaron dan menatap lekat lelaki itu.


"Apa kamu tahu kapan aku berulang tahun?" tanyanya kemudian.


Aaron tertegun dengan agak terkejut. Dia bingung harus menjawab apa, karena memang tidak tahu jawabannya.


"Apa kamu juga tahu warna kesukaanku dan apa makanan favoritku? Kamu bahkan tidak tahu aku alergi terhadap apa." tambahnya lagi dengan sedih.


Aaron tetap terdiam tanpa bisa menjawab. Ia memang tidak tahu apa-apa tentang Zaya. Dan itu semakin menambah panjang daftar penyesalannya.


Zaya kembali tersenyum pahit.


"Kamu tidak mengenalku, Aaron. Bagaimana mungkin kamu memintaku untuk kembali bersamamu." lirihnya kemudian.


"Kalau begitu, izinkan aku mengenalmu." Aaron tiba-tiba membuka suaranya. Dia menatap Zaya dengan penuh harap.


Zaya mendesah.


"Aku selalu membuka diriku selama tujuh tahun ini, Aaron. Kamu sendirilah yang tidak mau memandangku selama ini. Tapi semua itu sudah berlalu. Sekarang kita sudah berjalan dijalan masing-masing. Dan aku rasa inilah yang terbaik untuk kita." ujar Zaya akhirnya.


Aaron kembali tertegun.


Zaya menolaknya. Jika mengingat bagaimana perlakuan Aaron selama tujuh tahun mereka bersama, sangat wajar jika Zaya tidak bisa menerima Aaron kembali begitu saja.


Aaron telah mengabaikannya dan menjauhkan Zaya dengan putranya sendiri. Lalu yang paling parah, Aaron menceraikannya tanpa alasan yang jelas. Kemudian sekarang lelaki itu bilang ingin kembali? Bagaimana bisa Zaya akan menerimanya begitu saja.


Zaya sangat terpuruk saat Aaron menceraikannya. Ia berusaha bangkit sekuat tenaga agar bisa bertahan. Dengan menahan rasa sakit yang teramat sangat, Zaya berusaha menata hidup dan hatinya kembali. Tapi kenapa sekarang saat ia sudah mulai bisa menjalani hidup normal, Aaron malah datang mendekat dan seolah menganggapnya berarti.


Ah, tidak. Zaya tidak ingin terhempas untuk kesekian kalinya. Sudah sering Aaron melambungkannya lalu membuatnya jatuh. Zaya tidak mau mengalami itu lagi. Meski sejujurnya rasa cinta itu tampaknya masih tersimpan dihati Zaya. Tapi Zaya tidak akan lemah kali ini. Ia tidak akan memberikan kesempatan Aaron menyakitinya sekali lagi. Tidak akan!


"Aku akan berusaha untuk mengenalmu, Zaya. Jika kau tidak bersedia menceritakan tentang dirimu padaku. Maka aku akan mencari tahu sendiri." Akhirnya Aaron kembali membuka suaranya.


Zaya diam, tak tahu harus merespon seperti apa.


" Selama ini kau yang selalu berusaha untuk menyenangkanku dan berusaha untuk mengambil hatiku. Sekarang giliranku. Aku yang akan mengejarmu dan berjuang untuk mendapatkan hatimu juga." tambah Aaron lagi dengan mantap.


Zaya hendak membuka mulutnya untuk menyanggah kata-kata Aaron, tapi Aaron tak memberinya kesempatan. Aaron membuat Zaya kehilangan kata-katanya karena menutup mulut Zaya dengan telapak tangannya.


"Jangan menolakku sekarang. Biarkan aku berjuang dulu untukmu, lalu kau bisa melihat dan menentukan aku layak atau tidak untuk kau terima. Jika setelahnya kau masih tidak merasa puas dan menolakku, maka aku akan menghargai keputusanmu itu." ujarnya sembari menatap lurus pada mata Zaya.


Zaya terperangah, tak percaya dengan apa yang barusan didengarnya. Seorang Aaron Brylee meminta diberi kesempatan untuk memperjuangkannya. Sungguh sulit dipercaya. Dia tidak sedang bercanda, kan?


Tiba-tiba suara anak kecil mengejutkan mereka berdua.


"Mama... Papa..."


Zaya dan Aaron sontak menoleh. Tampak Albern terjaga dan telah berdiri tak jauh dari mereka berdua.


Segera Aaron menarik tangannya dari Zaya, lalu mendekati bocah itu. Zaya pun juga ikut mendekati Albern.


"Kenapa bangun, Sayang?" tanya Zaya sembari membimbing Albern kembali ketempat tidur.


"Al tidak mau tidur sendirian. Al mau ditemani Mama." rengeknya.


Zaya tersenyum.


"Baiklah. Ayo, kita tidur lagi." ajaknya sambil ikut membaringkan diri ditempat tidur bersisian dengan Albern.


Albern mengangguk. Tapi bukannya langsung memejamkan matanya, bocah itu malah menoleh kearah Aaron yang berdiri tak jauh dari tempat tidur


"Al mau ditemani Papa juga." permintaan Albern sontak membuat Zaya dan Aaron sama-sama terkejut.


"Papa..." melihat Aaron yang tak bergeming, Albern pun merengek, hingga mau tidak mau Aaron mendekat.


"Baiklah." gumam Aaron kemudian.


"Tapi Al harus cepat tidur lagi, ya. Ini masih malam" ujarnya lagi sambil merebahkan diri disisi Albern yang satunya.


Albern mengangguk sambil tersenyum senang. Lalu kembali memejamkan matanya.


Zaya pun ikut memejamkan matanya. Berusaha untuk tidak terganggu dengan kehadiran Aaron.


Dan tak lama kemudian, baik Zaya maupun Albern, keduanya sama-sama tertidur sungguhan. Menyisakan Aaron yang tengah melihat kearah mereka berdua sambil tersenyum tipis.


Perlahan tangan Aaron terulur hendak menyentuh tangan Zaya yang tengah memeluk Albern, tapi urung dia lakukan.


Aaron menarik tangannya kembali dan menggenggamnya di udara.


'Sekarang aku yang akan memperjuangkanmu, Zaya. Tidak peduli berapa kali kau akan menolakku, aku tidak akan pernah menyerah. Kali ini aku tidak akan pernah melepasmu lagi.'


Bersambung.....


Hari ini ga tahu up apa nggak, soalnya author mau masak buat lebaran😁


Jgn lupa votenya ya...


Happy readingā¤ā¤ā¤