
Ternyata kecemburuan Aaron tidak hanya saat berada di kantor. Saat dirumah pun ternyata moodnya masih saja kurang baik. Padahal dia sudah mengetahui jika Sekertaris Jeff hanyalah mirip seorang aktor yang dramanya ditonton oleh Zaya. Tapi fakta jika Zaya menyukai aktor tersebut justru membuat Aaron semakin kesal.
"Apa yang sedang kau lihat?"
Aaron menatap bingung kearah Zaya saat dia baru keluar dari kamar mandi. Istrinya itu duduk bersandar diatas kasur sambil melihat ke layar ponselnya dengan senyum dikulum.
Zaya mendongak sekilas.
"Aku sedang menonton. " Zaya menjawab sambil kembali melihat kearah ponselnya lagi.
"Jangan terlalu lama melihat ke layar ponsel, tidak baik untuk matamu." Ujar Aaron mengingatkan.
"Oke." Zaya menjawab tanpa menoleh kearah Aaron.
Aaron mengeringkan rambutnya, lalu mengenakan pakaian rumahan. Keningnya kembali berkerut saat melihat lagi kearah Zaya. Perempuan hamil itu masih belum beranjak dari layar ponselnya. Malah ekspresinya semakin terlihat aneh. Ia tersipu seolah sedang melihat pujaan hatinya di ponsel itu.
Aaron mendekati Zaya, tapi tampaknya Zaya tak menyadari hal itu. Yang ada pipinya malah semakin merona dengan mata yang tak berkedip. Kemudian senyumnya semakin mengembang.
"Aa....." Zaya berteriak gemas dengan pipi semakin memerah. Satu tangannya sampai memegangi pipinya sendiri.
Aaron semakin menautkan kedua alisnya melihat tingkah istrinya itu.
"Sebenarnya apa yang sedang kau tonton?" Dengan sangat penasaran Aaron mengambil ponsel dari tangan Zaya.
"Honey?" Zaya terkejut saat ponselnya tiba-tiba telah berpindah tangan.
"Kembalikan ponselku!" Pinta Zaya dengan sedikit marah. Pasalnya adegan romantis yang ia tonton tadi jadi terpotong gara-gara ulah Aaron.
Aaron tak menanggapi Zaya. Dilihatnya layar ponsel yang tengah memutar drama kesukaan Zaya itu dengan seksama. Lalu mata Aaron sedikit melebar saat melihat pemeran utama pria dalam drama itu muncul.
Jadi ini yang membuat istrinya itu senyum-senyum sendiri sedari tadi sampai-sampai mengabaikan kehadirannya? Seorang aktor muda yang wajahnya mirip dengan sekertaris barunya, Jeff.
Aaron menghela nafasnya.
"Honey, kembalikan. Dramanya sebentar lagi habis." Zaya bangkit dan hendak mengambil kembali ponselnya dari tangan Aaron.
Aaron meninggikan tangannya hingga Zaya tak bisa meraih ponselnya.
"Kembalikan!" Protes Zaya.
"Kau bahkan sudah berani membentak suamimu sendiri karena suka dengan aktor itu." Ujar Aaron dengan nada tajam.
'Hah?'
Zaya menghentikan aksinya berusaha merebut ponsel dari Aaron. Ia melihat kearah suaminya yang tampak marah dengan agak terperangah.
'Kapan aku membentak?'
Aaron meletakkan ponsel Zaya di atas nakas, lalu mendekati istrinya itu.
"Mulai sekarang jangan tonton drama-drama seperti itu lagi." Ujar Aaron dengan nada tidak ingin dibantah.
"Apa?" Zaya berseru tanpa sadar. Ia tak terima dengan kalimat yang didengarnya dari mulut Aaron barusan. Aaron melihat kearahnya dengan tatapan tidak suka.
"Maksudku, kenapa?" Zaya merendahkan nada bicaranya.
Aaron menghela nafasnya, berusaha untuk menenangkan dirinya agar tidak marah-marah tanpa alasan pada istrinya ini.
"Drama seperti itu tidak baik ditonton. Bisa meracuni otakmu dengan hal-hal tak berguna. Mulai sekarang jangan menonton yang seperti itu lagi dari ponselmu." Aaron kembali berujar serius dan tak ingin dibantah.
Zaya ingin protes, tapi Aaron lebih dulu menginterupsinya.
"Jangan membantah, kalau tidak ingin ponselmu itu aku lempar ke tong sampah."
Zaya mengatup mulutnya lagi sambil mendengus kesal kearah Aaron. Lalu ia keluar kamar dengan menghentakkan kakinya. Tak lupa pintu kamar ia tutup juga dengan kasar hingga mengeluarkan suara yang agak nyaring, menandakan jika saat ini ia sedang marah.
Aaron menyusul Zaya yang telah lebih dulu keluar dari kamar. Mereka turun menuju meja makan untuk makan malam bersama. Sudah ada Albern yang telah menunggu mereka berdua. Bocah itu tampak memperhatikan raut kesal Zaya dan beralih melihat wajah Aaron yang terlihat marah juga.
Makan malam pun berjalan dengan hening. Tidak ada adegan kemesraan pasangan love bird yang biasanya ditunjukkan Aaron dan Zaya. Yang ada hanya suara dentingan sendok dan garpu selama mereka makan.
Albern meminum air putih dan membersihkan bibirnya dengan tisu, tanda sudah selesai makan. Diperhatikannya lagi Mama dan Papanya dengan seksama.
"Mama dan Papa seperti anak kecil." Tiba-tiba suara Albern terdengar. Sontak saja kedua orang tuanya itu langsung melihat kearahnya.
"Bertengkar, berbaikan, lalu bertengkar lagi." Sambung Albern setengah menggerutu.
Zaya menelan salivanya dan menoleh kearah Aaron yang juga melihat kearahnya.
"Siapa yang bertengkar? Mama dan Papa tidak bertengkar." Kilah Aaron kemudian.
Zaya pun mengangguk pada Albern sambil tersenyum dengan agak dipaksakan.
Albern tidak menyanggah. Ia bangkit dari duduknya dan mendekati Aaron. Lalu ia merogoh saku celananya dan menggenggamkan beberapa butir permen ke telapak tangan Aaron.
"Apa ini?" Tanya Aaron sambil melihat kearah Albern dengan penuh tanda tanya.
"Permen buat Papa. Kalau Papa kasih ini ke Mama, mungkin Mama mau berbaikan lagi sama Papa." Ujar Alben dengan polosnya. Lalu bocah itu berlalu dari hadapan Aaron dan Zaya yang masih terperangah.
Keduanya saling pandang, sebelum akhirnya Zaya berpaling kearah lain. Keduanya masih enggan saling menyapa sampai mereka sama-sama kembali ke lantai atas.
Zaya langsung masuk ke kamar, sedangkan Aaron masuk ke ruang kerjanya untuk memeriksa beberapa dokumen.
Satu jam kemudian, Aaron juga masuk ke kamarnya. Dilihatnya Zaya sudah berbaring ditempat tidur dengan posisi membelakanginya. Diliriknya juga ponsel Zaya yang masih tergeletak diatas nakas, tak tersentuh.
Aaron tersenyum tipis. Meski merasa tidak senang, istrinya ini masih tetap menuruti Aaron untuk tidak kembali menonton drama yang dilihatnya tadi. Setidaknya ia tetap menjadi istri yang patuh.
Aaron ikut merebahkan dirinya diatas tempat tidur. Lalu dipeluknya Zaya dari arah belakang. Dia tahu kalau istrinya itu masih belum tidur.
"Sayang, apa kau mau permen yang diberikan Albern tadi?" Tanya Aaron berseloroh.
Zaya mendesah.
'Tidak lucu.'
Melihat Zaya yang tidak merespon, Aaron semakin merapatkan tubuhnya pada Zaya.
"Apa kau sungguh lebih menyukai aktor itu daripada suamimu sendiri?" Tanya Aaron kemudian dengan pelan.
Zaya menautkan kedua alisnya. Kenapa tiba-tiba Aaron bertanya seperti itu?
"Apa sekarang menurutmu aku sudah terlalu membosankan, sehingga kau lebih menyukai lelaki lain. Atau mungkin sekarang kau menyesal punya suami yang tidak muda lagi sepertiku?" Tanya Aaron lagi dengan pelan.
Zaya semakin menautkan alisnya. Kenapa suaminya ini sekarang terdengar insecure? Apa reaksinya tadi saat Aaron melarangnya menonton drama terlalu berlebihan?
Buru-buru Zaya berbalik dan melihat kearah kearah Aaron. Aaron tampak menatapnya dengan sedikit sendu.
"Tentu saja aku tidak begitu." Sergah Zaya.
"Lalu kenapa sekarang kau marah karena tidak bisa melihat aktor itu?" Tanya Aaron lagi.
"Aku bukannya marah karena tidak bisa melihat aktornya. Aku marah karena tadi aku sedang menonton episode terakhir, tapi kamu malah melarang aku menonton." Zaya kembali mendengus kesal.
"Aku sudah penasaran bagaimana endingnya dari kemarin-kemarin, tapi sekarang kamu malah melarang aku menonton. Bagaimana aku tidak kesal. Kalau begini kan sia-sia saja aku menunggu kalau masih tidak tahu endingnya bagaimana. Menyebalkan." Sungut Zaya lagi.
Aaron tampak tercenung saat mendengar penjelasan Zaya. Dia berusaha mencerna apa yang Zaya katakan tadi.
'Begitukah?'
Bersambung...
Tetep like, komen dan vote
Happy reading❤❤❤