Since You Married Me

Since You Married Me
Restu Dari Calon Mertua



Setelah puas menertawakan Kara, akhirnya Zaya kehabisan tenaga. Tubuhnya lemas dengan perut yang semakin mengencang. Zaya mengelus perut besarnya dengan lembut agar bayinya tidak protes lagi karena Sang Mama terlalu banyak tertawa.


Tak lama kemudian, perut Zaya telah kembali rileks. ia pun menyandarkam tubuhnya pada bantalan sofa yang ia duduki. Dilihatnya kembali Kara yang masih terlihat kesal. Entah kenapa Zaya tak bisa menahan diri untuk kembali tertawa. Dari semua kekonyolan yang pernah Kara lakukan, kejadian kali ini adalah hal yang paling konyol. Bagaimana bisa gadis itu malah membuat opsi lamaran dadakan saat sedang terdesak di mintai penjelasan oleh Dean.


Zaya tak bisa membayangkan reaksi Asisten Dean jika dia tahu bahwa cincin yang dikenakannya saat ini adalah cincin pemberian mantan pacar Kara dulu. Zaya hanya berharap hal itu tak akan pernah terjadi dan biarlah menjadi rahasia antara dirinya dan Kara saja.


Zaya menghela nafasnya untuk sedikit menenangkan dirinya yang masih terus ingin tertawa. Sebenarnya ia prihatin juga. Sahabatnya itu pasti ingin sebuah lamaran yang romantis dari Asisten Dean. Tapi disini justru dirinyalah yang melamar seakan ia adalah perempuan tidak sabaran yang memaksa untuk segera dinikahi.


Apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Semoga saja setelah ini Asisten Dean tidak berpikiran negatif terhadap Kara.


"Hei, sudahlah. Toh, Asisten Dean juga menerima lamaranmu. Itu artinya dia juga sebenarnya ingin menikah denganmu dan berharap kalian selalu bersama. Mungkin saja selama ini dia tidak punya keberanian untuk melamarmu. Bukannya justru baik kalau kamu yang berinisiatif duluan. Kamu juga pernah bilang ingin segera menikah, kan?" Zaya akhirnya menghibur Kara.


"Iya, aku ingin menikah. Tapi lamaran seperti ini tidak pernah terbayangkan olehku sebelumnya. Bagaimana kalau setelah ini Dean dan keluarganya malah memandang remeh aku karena menganggapku tidak punya harga diri." Kara tampak masih belum bersemangat.


Zaya tersenyum dan menepuk-nepuk pundak Kara.


"Tidak mungkin. Asisten Dean dan keluarganya tidak mungkin seperti itu. Lagipula kamu tidak melakukan hal yang memalukan. Melamar pacar sendiri apa salahnya? Yang salah itu kalau melamar pacar orang lain." Zaya harus berjuang agar tidak tertawa saat menghibur Kara.


Kara mendengus kesal.


"Tidak lucu, Zaya." Sergahnya saat mendengar kata-kata Zaya.


"Aku malu, tahu. Dean bahkan sudah memberitahu ibunya jika aku melamarnya, dan ibunya malah masuk rumah sakit pagi ini. Pasti ibunya sangat syok mendengar anak lelakinya dilamar."


Zaya agak tercenung.


"Masa, sih?" Tanya Zaya dengan raut tak percaya.


"Tadi Dean menelfonku. Dia minta tolong supaya aku menggantikan adiknya menjaga ibunya dirumah sakit siang ini. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana harus menghadapi ibunya Dean. Aku harus bagaimana, Zaya?" Kara tampak semakin terlihat galau.


Zaya terdiam dan berpikir.


Ibunya Dean memang sakit-sakitan dan beberapa kali masuk rumah sakit akhir-akhir ini. Dan jika kali ini beliau kembali masuk rumah sakit, itu tidak ada hubungannya dengan lamaran Kara, bukan? Pasti hanya kebetulan bertepatan dengan Dean memberitahukan lamaran Kara padanya.


"Sudahlah, jangan pikirkan yang tidak-tidak dulu. Lebih baik kamu jenguk saja dulu ibunya Asisten Dean siang ini. Urusan dia senang atau tidak dengan inisiatifmu melamar Dean, kita lihat saja bagaimana reaksinya. Tidak usah menebak-nebak sembarangan " Ujar Zaya akhirnya.


Kara melihat kearah Zaya.


"Kita? Maksudmu, kamu mau menemaniku kesana?" Tanya Kara.


Zaya menghela nafasnya.


"Iya, aku temani kamu. Lagipula sekalian aku ingin memjenguk calon ibu mertuamu itu." Jawab Zaya.


"Apa suamimu tidak akan marah kalau kamu pergi bersamaku? Aku dengar Tuan Aaron suka mengamuk jika sedang cemburu. Aku tidak mau nanti dia tidak senang padaku karena telah mengajakmu. Aku masih mau hidup, Zaya." Ujar Kara dengan raut wajah cemas yang lucu.


Zaya kembali tertawa.


"Jangan berlebihan. Suamiku itu tidak pernah membunuh orang." Sergahnya kemudian.


"Tentu saja aku akan meminta izinnya dulu supaya dia tidak marah." Tambahnya lagi.


"Memangnya kamu akan diberi izin?" Tanya Kara.


"Akan aku bujuk sampai diberi izin."


Kara pun tak menyanggah lagi. Kemudian mereka kembali mengobrol hingga hari mulai merangkak siang.


Menjelang waktunya makan siang, Aaron datang menjemput Zaya untuk mengajaknya makan siang bersama. Tapi Zaya menolak ajakan Aaron untuk makan di luar. Ia sedang ingin makan menu kafe yang sudah lama tidak dinikmatinya.


Alhasil, siang itu Zaya dan Aaron makan siang di kafe Zaya. Mereka duduk disalah satu bangku pengunjung layaknya pengunjung yang lain. Sebuah pemandangan yang entah kapan terjadi lagi setelah ini.


Para karyawan lelaki begitu patah hati melihat bagaimana bahagianya Zaya saat menikmati makan siangnya bersama Aaron. Sedangkan para karyawan wanita dibuat meleleh saat melihat bagaimana Aaron begitu memperhatikan Zaya selama mereka makan. Tak jarang Aaron bahkan menyuapi istrinya itu seolah mereka hanya sedang makan berdua saja.


Kara hanya mencebikkan bibirnya sambil menikmati makan siangnya juga.


"Hihihi..., bilang saja Kak Kara ingin juga seperti itu. Nanti kalau Tuan Dean datang, aku akan bilang sama Tuan Dean kalau Kak Kara mau makan sambil disuapi juga." Fina yang mendengar gerutuan Kara malah meledek.


"Kamu ini, ya.." Kara hampir saja menjitak kening Fina yang terkikik semakin geli.


Setelah makan siang, Zaya pun akhirnya mendapat izin dari Aaron untuk menemani Kara mengunjungi ibunya Dean, tentu saja dengan syarat yang begitu banyak. Dan Zaya tentu tak punya pilihan selain mengiyakannya saja.


Aaron mengantar Zaya dan juga Kara ke rumah sakit, lalu kembali kekantornya.


Disana ada adik perempuan Dean yang masih remaja sedang menjaga ibunya. Setelah Kara datang, adik perempuan Dean pulang untuk beristirahat.


Ibu Dean sangat senang saat melihat Zaya ikut datang bersama Kara. Ia tidak menyangka jika istri bos anaknya itu sampai repot-repot datang menjenguknya.


"Terima kasih sudah membesuk saya, Nyonya. Saya jadi merepotkan Nyonya." Ujar wanita paruh baya itu sambil terbaring di tempat tidurnya.


"Tidak merepotkan sama sekali, Tante. Dean sudah suami saya anggap seperti keluarga, tentu saja saya harus datang membesuk ibunya menggantikan suami saya yang sedang sibuk saat ini. Lagipula, saya harus menemani calon menantu Tante ini yang sekarang tidak berani menemui Tante sendirian." Ujar Zaya.


Ibu Dean tersenyum. Lalu pandangannya beralih pada Kara.


"Kara, kemarilah." Ibu Dean memanggil Kara untuk mendekat.


Kara mendekat dengan sedikit ragu.


"Ya, Tante." Ujarnya lembut.


Zaya hampir saja tertawa mendengar nada bicara Kara. Ternyata sahabat konyolnya ini bisa juga menjelma jadi sosok yang anggun jika berhadapan dengan calon mertua.


"Lebih dekat lagi." Ujar Ibu Dean.


Kara semakin mendekat dengan Dada berdegup kencang.


"Terima kasih." Suara Ibu Dean tiba-tiba mengejutkannya. Perempuan paruh baya itu tersenyum kearah Kara dan mengenggam tangan Kara.


"Selama ini aku khawatir sekali karena Dean tidak kunjung menikah juga. Meskipun menjalin hubungan denganmu, yang dipedulikannya hanyalah pekerjaan. Aku sangat senang kau mau bertahan bersama putraku meski dia sangat banyak kekurangan. Dan saat mengetahui kau melamarnya kemarin malam, aku benar-benar bahagia, Kara. Akhirnya putraku itu setuju untuk menikah. Maaf karena kau yang harus berinisiatif lebih dulu."


Ibu Dean menatap Kara sambil masih menyungging senyuman.


Kara yang tak menduga respon Ibu Dean akan seperti ini hanya bisa terdiam dan tak tahu harus berkata apa.


"Menikahlah dengan putraku itu secepatnya, Kara. Aku sudah lama menantikan kalian berumah tangga dan memberikan cucu untukku. Aku sudah sakit-sakitan. Sebelum aku menyusul ayahnya Dean, aku ingin melihat kalian bahagia terlebih dahulu." Ujar Ibu Dean lagi dengan mata berkaca-kaca.


Kara yang mendengarnya menjadi terharu dan ikut berkaca-kaca.


"Jangan bilang seperti itu, Tante. Setelah ini Tante akan sembuh dan bisa sehat kembali." Ujar Kara.


"Ya. Aku harap juga begitu. Aku ingin bisa lebih lama bersama kalian. Semoga Tuhan mengabulkan keinginanku."


"Dan satu hal lagi, Kara. Mulai saat ini jangan memanggilku Tante lagi. Panggil aku Ibu. Mulai sekarang kau adalah putriku juga." Ujar Ibu Dean lagi.


"Ibu?" Kara bergumam dengan mata yang semakin berkaca-kaca.


"Ya. Panggil seperti itu."


Kara menelan salivanya dengan kesusahan. Tiba-tiba ada gejolak emosi yang memenuhi rongga dadanya. Airmatanya menetes tak terasa. Cepat-cepat Kara menghapus airmatanya itu.


"Baiklah, Bu." Lirihnya.


Bersambung...


Tetep like, komen dan vote ya


Happy reading❤❤❤