
Aaron kembali duduk di tempatnya semula. Dia seakan tersadar jika tadi dirinya hampir saja melakukan kesalahan karena terbawa suasana. Dia tak mau terburu-buru. Dia memilih untuk mengambil hati Zaya terlebih dahulu dan menjadikan Zaya istrinya sekali lagi sebelum melakukan hal lebih. Itulah sebabnya sekarang dia tak ingin agresif.
Aaron dan Zaya sama-sama menahan napas untuk menetralkan debaran yang terasa di dada masing-masing. Mereka hening sesaat. Tak tahu mesti mengatakan apa.
"Apa kau marah aku datang kemari?" tanya Aaron kemudian pada Zaya.
Zaya menoleh, lalu menggeleng pelan. Dia bukan sedang marah, tapi sedang membayangkan sesuatu yang tak seharusnya dibayangkan.
Tanpa sadar Zaya menutup wajahnya dengam kedua telapak tangan. Ia sungguh tak punya muka untuk melihat ke arah Aaron. Ia malu karena sudah membayangkan yang tidak-tidak.
"Kenapa?" Tanya Aaron.
Zaya membuka kedua telapak tangannya. Matanya langsung bertemu dengan mata Aaron yang menatapnya dengan penuh tanda tanya.
"Tidak apa-apa," sahut Zaya.
Aaron tampak menghela napasnya.
"Kau benar-benar marah, ya? Apa setelah ini aku akan kembali ditampar karena telah datang menemuimu seperti ini?" tanya Aaron lagi.
Zaya membeliakkan matanya. Seketika ia sadar dengan situasi yang saat ini tengah dihadapinya.
Pertanyaan Aaron barusan mengingatkannya status mereka yang bukan lagi pasangan suami istri.
"Aku tidak marah. Tapi ini salah, Aaron." Gumam Zaya akhirnya.
Aaron menautkan kedua alisnya sambil masih terus menatap Zaya.
"Apanya yang salah?" Tanya lelaki itu.
Zaya menundukkan wajahnya.
"sekarang kita berdua saja tanpa ada siapa-siapa. Ini salah. Kita sudah bercerai, tidak sepantasnya berduaan seperti ini," ujar Zaya lagi masih dengan nada lirih. Entah kenapa kalimat terakhir Zaya itu terdengar begitu ironi.
Aaron terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menghela nafas panjang.
"Maaf, aku hanya ingin bertemu denganmu. Tapi bukankah kau juga saat ini ingin bertemu denganku, kan?"
Zaya agak terkejut mendengar pertanyaan Aaron. Ia tak menjawab karena malu mengakui kebenaran itu.
"Katakan sejujurnya, Zaya. Kau juga merindukanku, bukan?" tanya Aaron lagi.
Zaya memalingkan wajahnya kearah lain untuk menghindari tatapan Aaron.
"Tidak," ketusnya.
Zaya benar-benar sudah tidak tahan lagi dengan situasi ini. Disatu sisi ia senang dengan perlakuan Aaron padanya, tapi di sisi lain otaknya memperingatkan agar ia tak terbuai dengan sikap manis Aaron jika tidak ingin kembali terluka.
Zaya berusaha untuk kembali menguatkan hatinya agar tak mudah tergoda lagi oleh Aaron.
"Jika kau tidak merindukanku, maka aku yang merindukanmu." Suara Aaron kembali mengejutkan Zaya.
Zaya tak habis pikir bagaimana sekarang lelaki itu sangat pandai menggombal. Zaya curiga jangan-jangan saat ini ada semacam aplikasi yang bisa memandu penggunanya untuk melancarkan rayuan.
Ah, entahlah. Semakin lama pikiran Zaya juga ikut menjadi gila dibuatnya. Dia pun beranjak hendak pergi, sebelum kemudian langkahnya tertahan karena kata-kata Aaron.
Zaya menoleh dan mengembuskan napas kasar.
"Hentikan kekonyolanmu ini, Aaron. Mana ada pasangan yang telah bercerai baru melakukan hal itu.
"Tidak masalah jika proses perkenalan kita tidak sama dengan orang lain. Anggap saja ini termasuk perkenalan pasca perceraian." Jawab Aaron enteng.
Apa? Perkenalan pasca perceraian katanya?
Entah kalimat tak masuk akal apa lagi yang akan Zaya dengar dari mulut Aaron setelah ini. Lelaki ini benar-benar telah menjadi orang paling tidak rasional sekarang. Zaya hanya berharap otak Aaron masih menyisakan sedikit kewarasan agar masih bisa kembali berpikir normal setelah ini.
"Kenyataannya kita memang tidak seperti orang lain, Zaya. Kita juga sudah punya Albern meski saat ini belum benar-benar saling mengenal," sambung Aaron lagi. Kali ini dengan nada sedikit pelan.
Zaya terdiam. Omongan Aaron ada benarnya juga. Cara mereka bertemu dan dipersatukan dulu memang tidak seperti kebanyakan pasangan. Hingga akhirnya mereka berpisah pun, mereka tidak seperti pasangan yang telah bercerai pada umumnya.
Kebanyakan mantan suami istri akan saling membenci setelah bercerai. Tapi disini, Aaron dan Zaya malah saling merindukan dan menginginkan satu sama lain. Entah mereka masih termasuk dalam kategori normal atau tidak.
"Aku ingin menginap disini malam ini," ujar Aaron akhirnya.
"Apa???" Zaya terpekik dengan mata membulat sempurna. Aaron agak kaget dengan reaksi Zaya yang berlebihan itu.
"Kenapa dengan wajahmu itu? Ekspresimu seperti sedang mendengar suamimu mau menikah lagi saja." Gumam Aaron masih dengan wajah kagetnya.
Zaya mendengus kesal. Bahkan sekarang lelaki ini sudah pandai bercanda juga. Sungguh luar biasa. Setelah ini entah kejutan apalagi yang akan dia dapatkan dari Aaron.
"Kamu sudah mulai keterlaluan, Aaron. Aku benar-benar akan menjadi gila jika kau terus seperti ini." Sergah Zaya.
Aaron justru tersenyum dibuatnya.
"Bagus juga jika kau menjadi gila. Kita bisa gila bersama-sama." Jawabnya.
Zaya terperangah dibuatnya. Kali ini Zaya yakin jika benar ada yang tidak beres dengan kepala Aaron. Pastilah ada semacam syaraf yang terputus didalam otaknya hingga membuat Aaron jadi sangat tidak tahu malu seperti ini.
Zaya mendesah putus asa. Ia tidak tahu harus mengusir Aaron dengan cara apa.
"Tidak usah repot-repot memikirkan cara untuk mengusirku. Aku tidak akan pergi meski kau akan membunuhku sekalipun " Ujar Aaron lagi seakan mengetahui apa yang sedang Zaya pikirkan.
Zaya mendengus kesal. Ia pun meneruskan langkahnya.
"Terserah padamu, Tuan Aaron. Tidurlah dimanapun yang kamu anggap nyaman." Ujar Zaya akhirnya sembari meninggalkan Aaron sendiri.
Aaron tersenyum penuh kemenangan. Dipandanginya Zaya yang masuk kedalam kamarnya sambil membanting pintu kamar dengan agak kasar.
Bukannya merasa tersinggung, Aaron malah sedikit geli melihat tingkah Zaya itu. Dia tak menyangka jika perempuan lembut yang pernah menjadi istrinya itu punya sisi kekanakan juga.
Senyum Aaron pun semakin merekah.
'Sedikit lagi, Zaya. Setelah ini aku pasti bisa kembali mendapatkan hatimu, dan kita bisa menjadi keluarga yang utuh lagi.'
Bersambung....
Jangan lupa votenya ya sayang😙
Happy reading❤❤❤