Since You Married Me

Since You Married Me
Mulai Menyadari Perasaan Itu



Ternyata perpisahan kita bukanlah sebuah akhir, tapi justru awal dari kisah kita yang sesungguhnya. -Aaron Brylee-


 



 



Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Aaron. Anna masuk dengan ragu dan tampak ingin menyampaikan sesuatu.



"Ada apa?" tanya Aaron sambil mengangkat wajahnya. Raut wajahnya masih terlihat tidak bagus.



Anna menelan salivanya, perlu usaha keras baginya agar dapat mengeluarkan suara.



"Tu..tuan, Chairman ada disini." akhirnya Anna berhasil mengucapkan apa yang ingin ia sampaikan meski dengan terbata.



'*Papa*?'



Aaron menoleh kearah pintu. Seorang lelaki paruh baya masuk. Dia tak lain adalah Carlson, Ayah kandung Aaron sekaligus Chairman dari Perusahaan Brylee Group.



Carlson memperhatikan sekelilingnya. Tampak dia keheranan dengan kondisi raungan kerja Aaron yang kini berantakan. Pandangannya kemudian beralih kearah Aaron yang tampak tidak menyambut kedatangannya.



Melihat situasi yang nampaknya akan kembali menegang, Asisten Dean dan Anna pun buru\-buru permisi dari tempat itu.



Kini tinggalah Aaron dan Carlson yang masih sama\-sama hening. Carlson menatap penuh tanda tanya kearah Aaron. Sedangkan Aaron membuang pandangannya kearah lain.



Aaron semakin kesal. Kenapa juga Papanya ini datang disaat\-saat seperti ini. Dia benar\-benar sedang tidak ingin berdebat atau sekedar mendengarkan ocehan. Ya, Papanya ini adalah orang yang lebih sering mengocehinya ketimbang Mamanya sendiri. Dan Aaron tidak ingin mendengar semua itu sekarang.



"Ada apa ini, Aaron?" tanya Carlson dengan nada serius.



Aaron menghela nafas panjang.



"Ada perlu apa Papa kemari?" bukannya menjawab, Aaron malah balik bertanya.



Kini Carlson yang membuang nafasnya kasar.



"Aku ingin membicarakan tentang kinerjamu belakangan ini, tapi tampaknya kau baru saja selesai mengamuki bawahanmu. Apa yang terjadi? Kenapa ruangan ini seperti kapal pecah?" tanya Carlson lagi.



Aaron diam dan tidak menjawab.



Carlson kembali menghembuskan nafas panjang. Dia pun melangkah melewati barang\-barang yang berserakan dilantai dan mendudukkan dirinya disofa yang berada dihadapan meja kerja Aaron.



"Belakangan ini kinerjamu menurun, Aaron. Kau tampak sering tidak fokus, dan ada beberapa poyek yang gagal kau dapatkan. Kenapa? Apa sebenarnya masalahmu?" Carlson menatap tajam kearah Aaron.



"Tidak ada masalah, Pa. Aku minta maaf karena telah melewatkan beberapa proyek penting. Kedepannya hal itu tidak akan terjadi lagi." jawab Aaron akhirnya.



" Keadaanya sudah agak serius sekarang. Para pemegang saham sudah mulai membicarakanmu. Mereka bilang sejak bercerai, kau menjadi tidak kompeten dan kinerjamu memburuk. Kalau keadaannya terus seperti ini, bisa\-bisa selanjutnya mereka akan memintaku mengadakan rapat pemecatanmu, Aaron. Sekarang katakan yang sebenarnya padaku, ada apa dengan dirimu sekarang. Apa ini memang ada hubungannya dengan perceraianmu?" Carlson kembali bertanya sembari menatap Aaron tajam.



Aaron diam sesaat.



"Pa, tolonglah. Aku tidak ingin membahas hal itu sekarang." kilahnya kemudian.



Calson tersenyum miring.



"Jadi benar, jika semua ini ada hubungannya dengan perceraianmu?"



Aaron tak menjawab.



"Kenapa kau melakukan hal bodoh, Aaron? Jika kau mencintai istrimu, harusnya kau membahagiakannya, bukan malah menceraikannya." Carlson tampak kesal pada putranya itu.



"Aku tidak mencintainya. Aku menceraikannya untuk memberinya kebebasan agar dia bisa mencari kebahagiaannya sendiri." jawab Aaron.



Carlson tertawa sumbang.



"Benarkah? Lalu kenapa sekarang kau menjadi kacau, sampai\-sampai perusahaan juga mengalami imbasnya. Apa kau yakin ingin dia mencari kebahagiaannya sendiri? Bagaimana kalau sekarang mantan istrimu itu sudah melupakanmu dan menjalin hubungan dengan lelaki lain. Apa kau akan senang mendengarnya?"



Aaron membeku. Pertanyaan terakhir Carlson benar\-benar menikam tepat di jantungnya. Hanya dengan membayangkan kejadian direstoran tadi siang saja nafasnya kembali memburu.



Carlson tampak memperhatikan perubahan ekspresi Aaron.



"Apa jangan\-jangan kau mengamuk hari ini karena melihat mantan istrimu itu bersama lelaki lain?" tebak Carlson.




"Jadi itu juga benar?" Carlson tampak agak terkejut.



Carlson menghela nafas panjang.



"Kau harus segera menyelesaikan permasalahan pribadimu ini, Aaron. Aku tidak ingin perusahaan sampai terkena imbas lebih jauh lagi. Jika kepergiannya membuat dirimu jadi tidak baik, segera bawa dia pulang kembali. Minta maaf padanya dan ungkapkan perasaanmu. Kau tahu, perempuan selalu menginginkan pernyataan cinta dari orang yang dicintainya. Mereka tidak akan pernah bosan mendengarkan sesering apapun kau mengatakannya. Cobalah menjadi lebih lembut terhadap wanitamu, Aaron."



Aaron membuang wajahnya kearah lain.



"Aku tidak mengerti apa yang sedang Papa bicarakan sekarang." kilahnya.



"Haishh..." Carlson mendengus kesal.



"Kenapa juga kau harus sama persis seperti Mamamu." gerutunya kemudian.



"Apa kau ingin tahu sesuatu?" tanya Calson lagi pada Aaron.



Aaron tampak menautkan kedua alisnya.



"Dulu Mamamu baru mau mengakui perasaannya padaku saat aku hampir menikahi gadis lain. Saat itu dia benar\-benar terlihat putus asa dan menyesal karena terus menyangkal perasaannya sendiri. Tapi untung saja semuanya belum terlalu terlambat, hingga kami masih bisa bersama sampai sekarang."



"Aku tidak ingin kau melakukan hal yang sama dan menyesal dikemudian hari. Sebelum semuanya terlambat, berusahalah untuk membawa Zaya kembali. Kalian juga sudah punya Albern. Kau harus memikirkan dia juga. Perkembangan mental anak akan sangat terhambat jika jauh dari ibunya. Bijaksanalah, Aaron." ujar Carlson lagi.



Aaron diam tak menjawab. Dia berusaha mencerna kata\-kata Carlson barusan. Benarkah jika dia punya perasaan terhadap Zaya saat ini? Aaron sendiri tidak yakin akan hal itu.



Tapi jika saat Aaron harus membayangkan Zaya bersama pria lain, dia juga merasa tidak sanggup. Apa ini artinya semua yang dikatakan Carlson itu benar?



*Aarrghh*..



Aaron menjadi sangat pusing sekarang. Sungguh baginya lebih mudah menghadapi permasalahan perusahaan yang hampir pailit daripada harus menghadapi permasalahan hati seperti ini. Aaron benar\-benar dibuat kelimpungan sekarang.



"Kelihatannya kau juga butuh liburan. Ambilah cuti beberapa hari dan pergi berlibur. Ah, bila perlu ajak Albern dan Zaya. Kalian perlu bicara dari hati ke hati. Aku lihat selama ini Zaya sangat memperhatikanmu, dia pasti sangat mencintaimu, Aaron. Bodoh sekali kau melepaskan istri yang cantik dan baik seperti dia. Segeralah selesaikan semuanya dan ajak dia rujuk kembali. Aku yakin setelah kalian kembali bersama, kau akan merasa lebih baik, dan perusahaan juga akan stabil seperti semula." saran Carlson lagi panjang lebar.



Aaron tampak sedikit melebarkan matanya mendengar kata\-kata Papanya itu. Setiap kalimat yang keluar dari mulut Carlson terdengar sangat ajaib dan tak masuk kedalam nalar Aaron.



Mengajak Zaya liburan? Menyatakan cinta dan membujuk wanita itu agar mau rujuk padanya? Lalu bagaimana reaksi Zaya nanti?



Jangankan Zaya, bahkan Aaron sendiri pun ingin tertawa membayangkannya.



Tujuh tahun bersama, dan selama itu pula Aaron telah mengabaikan Zaya. Lalu setelah bercerai tiba\-tiba datang menyatakan cinta, bukankah itu akan menjadi lawakan yang paling lucu abad ini?



Aaron tersenyum masam. Semua itu tidaklah sesederhana kedengarannya. Apapun yang menyangkut dengan hati, tidak akan pernah menjadi sederhana.



Tujuh tahun Aaron telah membangun dinding penyekat antara dirinya dan Zaya, membiarkan Zaya menahan perasaannya setiap hari. Mengabaikannya meski dia tahu Zaya sangat mengharapkan perhatiannya, hingga puncaknya, menceraikan perempuan malang itu dengan alasan yang terkesan dibuat\-buat. Dan kini saat mereka berpisah, Aaron justru merasa jika Zaya sangat berarti.



Aaron merasa telah dikhianati oleh hatinya sendiri.



Aaron pernah meminta Zaya untuk tidak jatuh cinta kepadanya. Tapi kini tampaknya, justru dia sendirilah yang telah punya hati pada perempuan itu.



Ya. Mau tidak mau, Aaron harus mengakui jika memang dia telah mulai jatuh cinta kepada Zaya. Perasaan yang mulai tumbuh justru disaat mereka tidak lagi bersama. Sekarang Aaron sepertinya menyadari, perasaan itu pertama kali muncul saat dia melihat Zaya dihari perceraian mereka. Kenyataan yang benar\-benar lucu dan ingin membuatnya menangis sekaligus tertawa.



Sungguh sebuah ironi.



**Bersambung**....



Tuh...bucin kan lo, bucin😅



Btw, author tuh malah ngebayangin percakapan Aaron sm bokapnya kyk gini.



Carlson : Kenapa juga kau harus sama persis seperti Mamamu?



Aaron : Iyalah, bro. Orang dia nyokap gua. Masa gua mesti sama persis kyk Bu RT?


😂😂😂😂



Hahaha... udahlah, jgn lupa votenya aja😅



Happy reading❤❤❤