
Zaya membuka matanya karena mendengar suara ketukan di pintu kamar. Matanya masih agak menyipit karena belum begitu menyesuaikan sinar matahari yang masuk ke dari arah balkon. Perlahan ia bangkit dan membuka sempurna matanya.
Kemudian Zaya tertegun.
Sejenak ia mematung saat melihat pemandangan di hadapannya saat ini. Sepasang ayah dan anak yang masih tertidur lelap sambil saling memeluk. Terlihat begitu damai dan tanpa beban.
Ada rasa yang tak dapat Zaya artikan saat melihat keduanya. Dadanya terasa hangat dan sesak secara bersamaan. Ada secercah kebahagiaan yang muncul disudut hatinya, tapi juga ada kesedihan yang menyusup mengikuti kebahagiaannya itu.
Zaya sungguh tak bisa memahami apa yang sebenarnya ia rasakan saat ini. Kemudian ia berpaling kearah lain untuk menetralkan detak jantungnya yang entah sejak kapan mulai menjadi lebih kencang dari sebelumnya.
Zaya meraih ponselnya diatas nakas. Lalu ia terbelalak saat melihat waktu yang tertera dilayar ponselnya, ternyata sudah menunjukkan pukul 08.45 pagi waktu setempat.
Bergegas Zaya masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sepertinya seharian menghabiskan waktu di Disneyland kemarin membuat mereka bertiga kelelahan dan tidur nyenyak sampai matahari meninggi. Padahal baik Zaya, Albern dan Aaron, ketiganya terbiasa selalu bangun tepat waktu dan tidak pernah kesiangan sebelumnya. Tapi kali ini mereka tampak tak terjaga seperti biasanya.
Apa mungkin karena terlalu lelah, atau mungkin mereka terlalu nyaman karena tidur bersama orang-orang yang disayangi, yang kebetulan selama ini tidak pernah mereka lakukan sebelumnya. Entahlah, yang jelas dalam kurun waktu tujuh tahun hidup bersama Aaron, baru kali ini Zaya melihat lelaki itu masih terlelap di jam segini.
Sesaat setelah Zaya selesai mandi dan berpakaian rapi, kembali terdengar ketukan dari arah pintu, seperti yang sebelumnya telah membangunkan Zaya. Zaya pun bergegas kearah pintu dan membukanya.
Tampak Asisten Dean berdiri dengan wajah cemas yang tak bisa ditutupi. Lalu orang kepercayaan Aaron itu sedikit membungkukkan badannya kearah Zaya.
"Maaf, Nyonya, saya sudah mengganggu waktu istirahat Anda." ujarnya sopan.
"Ada apa, Asisten Dean?" tanya Zaya. Ia bingung melihat Asisten Dean yang terlihat gusar.
"Tuan Aaron, Nyonya. Saya tidak mengetahui keberadaan beliau sekarang. Tadinya saya menunggu beliau di restoran hotel, tapi karena beliau tidak kunjung turun, akhirnya saya berinisiatif menyusul ke kamarnya. Tapi setelah saya ketuk berulang kali, tak ada respon sama sekali. Akhirnya karena saya khawatir terjadi hal buruk terhadap Tuan, saya meminta pihak hotel untuk membuka kamar Tuan. Dan ternyata Tuan tidak ada didalam. Saat saya berusaha menghubunginya pun, nomornya diluar jangkauan. Apa sebelumnya Tuan mengatakan pada Nyonya mau pergi kemana?" Dean menjelaskan dengan panjang lebar dan akhirnya bertanya pada Zaya.
Zaya yang mendengar penjelasan dari Dean pun agak sedikit tertegun dan nampak bingung harus menyusun kata seperti apa untuk menjawab pertanyaan dari Asisten pribadi Aaron tersebut.
"Tidak mungkin Tuan hilang, kan?" gumam Dean lagi tepat saat Zaya hendak membuka mulutnya.
Mata Zaya agak membulat mendengarnya.
"Haruskah saya melapor ke polisi atau meminta pihak hotel untuk memperlihatkan rekaman CCTV?" tanya Dean lagi dengan frustasi.
Zaya buru-buru menggengkan kepalanya.
"Tidak perlu, Asisten Dean." cegah Zaya cepat.
Dean menghela nafasnya.
"Lalu saya harus bagaimana agar bisa tahu keberadaan Tuan, Nyonya?" tanyanya lagi.
Zaya menelan salivanya. Bagaimana ia harus mengatakan jika Aaron tidaklah hilang, melainkan tidur di kamarnya. Apa yang akan dipikirkan oleh bawahan Aaron ini jika dia sampai tahu Aaron dan Zaya bermalam dikamar yang sama?
"Sebenarnya... Aaron..."
Zaya berusaha untuk memberi tahu keberadaan Aaron kepada Dean, tapi orang dimaksud justru muncul dari arah dalam kamar masih dengan muka bantalnya.
"Ada apa?" tanyanya, entah kepada Zaya atau kepada Dean. Suaranya serak khas orang yang baru bangun tidur.
"Tuan...?" Dean bergumam pada dirinya sendiri. Lalu dia melirik pada Zaya yang tampak berusaha menutupi kecanggungannya dengan tersenyum kecut.
"Aaron.. ada disini sejak semalam.." ujar Zaya akhirnya dengan canggung. Entah kenapa saat ini Zaya merasa dirinya dan Aaron seperti pasangan mesum yang tengah digerbek oleh seorang petugas disebuah kamar hotel.
Zaya yakin Asisten Dean pasti salah paham dan berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya dan Aaron saat ini. Astaga. Ia benar-benar merasa malu dan tidak tahu harus bersikap bagaimana.
"Tuan..disini sejak semalam?" tanya Dean ingin memastikan.
"Ya. Memangnya kenapa?" Aaron balik bertanya.
"Ah, ti-tidak, Tuan." jawab Dean dengan terbata.
Kemudian Aaron beralih pada Zaya.
"Kau sudah bangun dan mandi lebih dulu rupanya. Kenapa tidak membangunkanku?" tanya Aaron kepada Zaya.
Zaya agak membeliakkan matanya.
Meski tak ada yang salah dengan kalimat yang baru saja dilontarkan Aaron, entah kenapa kalimat itu terdengar sangat intim hingga tubuh Zaya jadi merinding dibuatnya. Seolah-olah mereka berdua telah menghabiskan malam panjang yang penuh dengan gairah hingga tertidur sampai kesiangan.
"Aku...aku mau melihat Albern dulu." ujar Zaya sambil buru-buru berlalu dari hadapan Aaron dan Asisten Dean. Wajahnya sudah sangat merah karena menahan malu. Hancur sudah reputasinya dihadapan Dean saat ini.
Dean yang menyaksikan interaksi Zaya dan Aaron pun ikut menjadi salah tingkah.
Tiga puluh menit kemudian, Aaron, Zaya dan Albern turun bersama-sama untuk sarapan direstoran hotel.
Dean dan Kara yang sudah menunggu sejak tadi akhirnya bisa bernafas lega karena sudah bisa mengakhiri penantian panjang mereka.
Kara mengamati ketiga orang yang ada dimeja tak jauh darinya tersebut. Sekilas mereka tampak seperti keluarga kecil yang bahagia. Orang yang melihat pasti tak akan menyangka jika mereka adalah pasangan yang telah bercerai.
Zaya menyantap sarapannya dengan agak canggung, berbeda dengan Aaron dan Albern yang terlihat sangat menikmati hidangan mereka. Wajah ayah dan anak itu juga tampak berseri seperti baru saja melewati sesuatu yang menyenangkan.
Zaya mengarahkan pandangannya kearah lain. Tapi justru matanya beradu dengan tatapan Kara yang seakan menelanjanginya. Zaya agak terkejut dengan tatapan itu. Tiba-tiba ia merasa seperti terdakwa yang sedang menanti vonis hakim atas kejahatan yang telah dilakukannya. Zaya bingung bagaimana harus menjelaskan situasi ini agar orang-orang tak salah paham padanya.
Zaya menghela nafas panjang untuk menenangkan dirinya sendiri.
Kemudian setelah sarapan yang sudah sangat telat itu, mereka pun melanjutkan jalan-jalan ke menara Eifeel yang terletak cukup dekat dengan hotel tempat mereka menginap.
Meski tak segemerlap saat malam, menara itu tak kalah mempesona disiang hari, hingga pengunjung masih tetap ramai.
Zaya memandangi menara yang menjulang tinggi itu sambil sesekali melihat dari kejauhan kearah Albern yang sedang bermain-main dengan Aaron dan Dean.
Senyum tipis tersungging di bibir Zaya melihat putranya yang tampak sangat ceria.
"Sepertinya kalian akan segera rujuk." suara Kara sedikit mengejutkan Zaya.
Zaya menoleh, dan tampaklah Kara berdiri dengan menatap Zaya lekat.
"Maksudmu?" tanya Zaya tak mengerti.
Kara tersenyum.
"Kalian bahkan sudah tidur sekamar, masih berpura-pura juga." sindir Kara.
Sontak Zaya terbatuk karena tersedak liurnya sendiri.
"Itu tidak seperti yang kamu pikirkan. Kami hanya menuruti keinginan Albern." sanggah Zaya kemudian.
"Oh ya? Tapi kelihatannya kalian sangat menikmatinya. Terutama Tuan Aaron, kelihatannya dia seperti musafir yang dahaganya baru saja terpuaskan." ujar Kara frontal. Tentu saja Zaya mendelik mendengarnya.
"Jangan bicara sembarangan." sergahnya.
Kara hanya terkekeh melihat wajah Zaya yang memerah.
"Hei, kepiting rebus, santai saja. Memangnya kenapa harus malu. Kalian juga sebelumnya sudah punya Albern." ujar Kara ditengah kekehannya.
Zaya masih mendelik dengan wajah tidak suka.
"Tidak perlu gengsi jika memang kamu juga menginginkannya." bisik Kara kemudian, yang tentu menambah merah wajah Zaya.
Tapi sejurus kemudian Kara menghela nafas.
"Tapi sejujurnya, aku sedikit kasihan pada Dokter Evan. Sepertinya dia kalah cepat." gumamnya.
Zaya menoleh kearah Kara dengan penuh tanda tanya. Belum sempat Kara melanjutkan pembicaraan, suara seorang lelaki mengejutkan mereka berdua.
"Dee..."
Zaya dan Kara menoleh kearah sumber suara itu secara bersamaan. Mata mereka berdua pun sama-sama membulat tak percaya.
Seorang lelaki yang tak disangka kemunculannya tampak berdiri tak jauh dari mereka. Matanya menatap Zaya penuh kerinduan, dan bibirnya mengulas senyum tipis yang meyiratkan kelegaan dari dalam hatinya.
Lelaki itu perlahan mendekati Zaya. Sedangkan Zaya hanya bisa mematung dengan tatapan tak percaya. Bibirnya pun hanya bisa bergumam lirih.
"Kak Evan...?"
Bersambung.....
Waduh....bener2 ya si Evan, sebegitu takutnya di salip sampe nyusulin ke Paris segala😅
Btw, maaf baru up, soalnya kemaren Zaya sm Aaron ikutan jd panitia kurban dulu😂😂😂
Mudah2an ntar mlm bisa up lg.
jgn lupa like, komen dan Vote ya...
Happy reading❤❤❤