
"Apa kau punya pacar?"
Entah kenapa dari sekian banyak pertanyaan, Aaron justru menanyakan pertanyaan yang sangat terduga. Dia sendiri tidak tahu kenapa bisa menanyakan hal seperti itu pada Jeff. Biasanya dia sangat tidak tertarik pada kehidupan pribadi orang lain. Tapi sekarang, dia jadi seperti bos usil yang ingin tahu segalanya.
Sedangkan Jeff yang awalnya agak bingung mendengar pertanyaan tak biasa dari Aaron tadi, terlihat mencoba memahami apa yang ditanyakan bosnya ini. Mungkin Aaron tidak memperbolehkan bawahannya berpacaran dalam kurun waktu tertentu agar lebih fokus pada pekerjaan.
Jeff kembali menyungging senyuman mautnya.
"Saya tidak punya pacar, Tuan. Anda tidak perlu khawatir. Saya akan fokus bekerja dan tidak akan menjalin hubungan dengan seseorang saat ini." Ujar Jeff mantap.
Mendengar jawaban dari Jeff, Aaron justru menghela nafasnya. Entah kenapa rasanya akan jauh lebih baik jika Jeff mempunyai seorang pacar seperti Asisten Dean. Semakin cantik, semakin baik.
"Akan sangat bagus jika kau punya seorang pacar. Jika kau ingin lama bekerja denganku, segeralah untuk mendapatkan pacar." Ujar Aaron dengan nada serius.
Jeff agak tercenung mendengar kata-kata Aaron.
Apa dia tidak salah dengar? Bosnya ini menyuruhnya untuk mendapatkan seorang pacar secepatnya. Sebegitu pedulikah dia pada bawahannya sampai-sampai memberi perintah untuk berpacaran juga.
"Dalam kurun waktu satu bulan, kau sudah harus mendapatkan seorang pacar. Jika tidak, aku akan menggantimu dengan sekertaris yang baru lagi. Apa kau mengerti?" Aaron terlihat semakin serius dan tak ingin dibantah.
Terang saja Jeff agak terkejut dengan perintah tak biasa dari bos barunya ini. Dia terlihat heran dan juga bingung.
Jangankan Jeff, bahkan Asisten Dean juga dibuat keheranan oleh Aaron. Kenapa sekarang dia malah menyuruh bawahannya untuk memiliki seorang pacar. Bukankah dulu Dean saja nyaris mendapatkan hukuman saat ketahuan berpacaran dengan Kara? Seandainya saja Kara bukan sahabat dari Zaya, entah apa yang terjadi pada hubungan mereka saat ini.
Lalu sekarang, seorang sekertaris baru yang belum genap satu jam bekerja, sudah boleh untuk memiliki pacar. Bahkan bukan hanya sekedar diperbolehkan, melainkan diwajibkan.
Asisten Dean tidak bisa menebak apa yang sebenarnya dipikirkan tuannya ini.
"Katakan, Sekertaris Jeff. Apa kau mengerti?" Suara Aaron membuyarkan lamunan Jeff dan Dean.
"I-iya, Tuan. Saya mengerti." Jeff menjawab dengan agak terbata.
"Kalau begitu kau boleh mulai bekerja. Mejamu ada disana." Aaron menunjuk meja yang berada di dekat pintu masuk ruangannya.
Jeff mengangguk dan sedikit membungkukkan tubuhnya pada Aaron. Kemudian ia berlalu menuju meja kerjanya dan mulai mengerjakan apa yang menjadi tugasnya. Asisten Dean juga menyusul dan duduk meja kerjanya yang berdekatan dengan meja kerja Jeff.
Mereka semua pun mulai mengerjakan apa yang sudah menjadi tugas masing-masing.
___________________________________________
Beberapa hari bekerja, Jeff sudah bisa menyesuaikan dirinya. Terlepas dari wajahnya yang dianggap sebagai sebuah ancaman, Aaron sebenarnya sangat puas dengan kinerja Jeff.
Pemuda ini sangat cekatan dan sangat mudah memahami apa yang diajarkan padanya. Sekali saja Asisten Dean mengajarinya, maka dia sudah bisa melakukannya dengan baik, bahkan lebih baik dari mentornya itu sendiri
Hal itu membuat Aaron tidak punya alasan untuk memecatnya meski dia tidak berhasil mendapatkan pacar sekalipun.
Siang itu, Zaya datang ke kantor Aaron dengan membawa makan siang untuk suaminya itu. Ia sangat cantik dengan balutan gaun selutut berwarna biru lembut. Dan hari ini tampaknya rambut panjangnya ia ikat keatas, memperlihatkan leher jenjangnya yang indah.
Zaya berhenti di depan meja Asisten Dean dan Sekertaris Jeff.
"Asisten Dean, apa Aaron ada didalam?" Tanya Zaya pada Dean yang sedang fokus menyelesaikan sesuatu.
Dean berdiri dan membungkuk hormat pada Zaya.
"Selamat datang, Nyonya. Tuan ada di dalam." Ujar Dean pada Zaya.
Jeff yang menyadari jika Zaya adalah istri bosnya pun langsung ikut berdiri dan juga membungkuk hormat pada Zaya.
"Saya sekertaris baru Tuan Aaron, Nyonya. Nama saya Jeffran, panggil saja Jeff." Ujarnya sopan saat Zaya melihat kearahnya.
Baru saja Jeff akan membalas uluran tangan Zaya, pintu ruang kerja Aaron terbuka. Tampak bosnya itu berdiri sambil melihat nyalang kearahnya, membuat Jeff mengurungkan niatnya untuk membalas jabat tangan Zaya dan menarik lagi tangannya.
"Honey." Zaya menoleh kearah Aaron.
"Aku baru saja mau berkenalan dengan sekertaris barumu." Ujar Zaya lagi tanpa rasa bersalah.
"Tidak perlu berkenalan dengannya. Harusnya kau langsung masuk saja." Ujar Aaron terdengar tidak senang.
Zaya menautkan kedua alisnya. Tapi kemudian ia memilih tak ambil pusing dan masuk ke ruang kerja Aaron setelah sebelumnya sempat melempar senyum kearah Sekertaris Jeff.
Aaron yang melihat hal itu merasa marah. Entah kenapa darahnya langsung mendidih saat melihat istrinya itu tersenyum pada sekertarisnya.
"Kalian boleh pergi makan siang." Perintah Aaron pada Dean dan Jeff.
"Baik, Tuan. Tapi Saya akan selesaikan ini terlebih dahulu." jawab Asisten Dean.
"Teruskan saja nanti, sekarang pergilah makan siang di restoran yang baru di buka kemarin. Kalian boleh makan sepuasnya. Masukkan saja tagihannya sebagai pengeluaran perusahaan." Ujar Aaron dengan nada tak mau dibantah.
"Baik, Tuan." Dean dan Jeff menyahut bersamaan.
Kedua bawahan Aaron itu segera membereskan mejanya dan pergi dari sana. Sepertinya bos mereka sedang tidak ingin diganggu hingga mengusir mereka ke tempat yang agak jauh.
Aaron menutup pintu ruang kerjanya dan diam-diam menguncinya. Entah apa yang akan dia lakukan pada ibu hamil dihadapannya ini.
Zaya yang telah duduk di sofa, membuka food bag yang dibawanya dan mengeluarkan satu persatu kotak makan siang dari sana.
Aaron menghela nafasnya, mencoba menetralkan perasaannya sebelum akhirnya ikut duduk di sebelah Zaya.
"Kamu baik sekali menyuruh mereka makan di restoran." Seloroh Zaya. Andai ia menyadari jika yang suaminya lakukan adalah mengusir bawahannya itu dengan cara yang agak halus.
"Lain kali tidak perlu menyapa saat bertemu dengan sekertaris baruku itu." Pinta Aaron sambil duduk di sebelah Zaya.
"Kenapa?" Tanya Zaya.
"Pokoknya tidak boleh saja."
Zaya agak mencebikkan bibirnya sambil menata makanan yang dibawanya diatas meja. Ia tidak menyadari jika suaminya ini sedang cemburu.
"Tapi, Honey. Tiba-tiba aku jadi teringat sesuatu." Zaya menoleh kearah Aaron.
"Apa?" Tanya Aaron.
"Sekertaris Jeff. Kalau diingat-ingat wajahnya sangat familiar." Ujar Zaya sambil melihat kearah depan, seolah sedang membayangkan sesuatu.
"Dia.... mirip dengan seseorang." Tambah Zaya lagi.
Mata Aaron agak melebar mendengar kata-kata Zaya.
'Dia mirip seseorang? Siapa? Mantan pacarnya?'
Aaron menatap Zaya, kemudian dia teringat jika Zaya tidak berpacaran selama ini. Lalu seseorang yang dimaksudnya itu siapa?
'Orang yang spesial, kah?'
Bersambung...
Happy reading❤❤❤