Since You Married Me

Since You Married Me
Memutuskan



Beberapa hari setelah pertemuannya dengan Ginna dan Carissa, Zaya banyak merenungkan tentang keputusan yang akan ia ambil. Banyak hal yang ia pertimbangkan jika ia menerima ataupun menolak Aaron.


Dan yang paling Zaya pikirkan adalah bagaimana dampaknya untuk Albern dari masing-masing keputusan akan ditentukan oleh Zaya.


Ya. Albern adalah titik berat Zaya saat ini. Zaya tidak ingin masa depan putra kesayangannya itu mengalami kesulitan dimasa depan jika Zaya melakukan kesalahan.


Dan untungnya, baik Aaron maupun Evan, kedua lelaki itu sama-sama sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, sehingga mereka tak mengganggu Zaya dan memberikan Zaya ruang untuk berpikir dengan jernih.


Namun tetap saja, meski telah berusaha untuk menelaah isi hatinya, Zaya masih tidak bisa mengetahui apa yang sebenarnya diinginkan oleh hatinya sendiri. Ia benar-benar mengalami apa yang orang-orang sekarang sebut dengan galau.


Zaya bimbang. Ia tidak tahu dimasa depan akan kembali tersakiti atau tidak jika memilih kembali bersama dengan Aaron saat ini.


Zaya tidak ingin terpuruk lagi. Jika kali ini ia kembali disia-siakan, maka akan sulit baginya untuk kembali bangkit.


Sore itu entah kenapa, sepulangnya dari kafe, Zaya tak langsung mengendarai mobilnya menuju rumah. Mungkin kerinduannya kepada Albern membuat Zaya mendatangi kediaman Aaron terlebih dahulu.


Zaya turun dari mobilnya dengan perasaan yang sedikit berkecamuk. Rumah mewah Aaron yang dulu pernah menjadi rumahnya juga, membuatnya sedikit banyak teringat akan masa lalu.


Masa lalu yang kini terasa begitu membelenggunya dan membuatnya takut untuk membuka hati lagi. Zaya sungguh berharap jika dia akan segera terlepas dari belenggu itu. Ia ingin sekali berdamai dengan masa lalu dan bisa menyambut masa depannya tanpa takut dengan apapun lagi.


"Nyonya?" Bu Asma yang kebetulan membukakan pintu untuk Zaya tampak sangat terkejut sekaligus gembira.


Zaya hanya tersenyum menanggapi.


"Aku ingin mengunjungi Albern. Apa dia sudah pulang?" Tanya Zaya. Pelayan paruh baya itu mengangguk cepat dan mempersilahkan Zaya masuk.


Zaya langsung diantar kekamar Albern dan mendapati bocah itu baru saja menyelesaikan pekerjaan rumahnya, didampingi oleh Farah, pengasuhnya.


"Mama...?" Albern terlihat agak kaget. Sejurus kemudian ekspresi wajahnya berubah ceria, ia berhambur kedalam pelukan Zaya dengan senangnya.


Zaya tersenyum dan membalas pelukan Albern.


Tampak Farah sedikit membungkukkan badannya sebelum permisi meninggalkan sepasang ibu dan anak itu.


Tak berapa lama, Zaya dan Albern sama-sama mengurai pelukan mereka.


"Mama merindukan Al." Gumam Zaya sambil mengusap kepala Albern dengan penuh kasih sayang.


Bocah itu tertawa kecil, kemudian kembali memeluk Zaya.


"Al juga merindukan Mama." Balasnya juga.


Kedua ibu dan anak ini melepas rindu dengan kembali saling memeluk satu sama lain.


Zaya menemani Albern hingga tiba waktunya makan malam. Tampaknya Aaron masih belum pulang juga, hingga Zaya pun mau tak mau menemani Albern makan dimeja makan. Terbayang dibenak Zaya jika ia tak datang tadi, pasti putranya itu makan dimeja besar itu sendirian.


Sebesit kesedihan datang menghampiri Zaya. Setelah kepergiannya, pasti Albern sering mengalami hal ini, mengingat Aaron yang lebih sibuk dari biasanya akhir-akhir ini.


"Sayang, apa Papa sering pulang larut?" Tanya Zaya kemudian pada Albern.


Bocah itu mengangguk mengiyakan, membuat Zaya sedih membayangkan putranya ini sering kesepian.


"Papa sering telat pulang sejak Mama pergi." Albern menjawab pertanyaan Zaya dengan polosnya.


"Al lebih suka Mama tinggal disini seperti dulu. Kalau ada Mama, Papa tidak suka pulang telat." Tambah Albern lagi, masih dengan gaya polos seperti sebelumnya.


Zaya merasa tertusuk tepat dijantungnya. Perceraiannya dengan Aaron bukan hanya meyisakan luka untuknya, tapi justru putra kesayangannya ini yang mengalami dampak paling banyak. Zaya benar-benar sedih mendapati hal itu.


Selesai makan malam, Zaya menemani Albern kembali mengerjakan pekerjaan rumahnya, kemudian Zaya juga menemani Albern untuk pergi tidur.


"Mama...." Albern terdengar ingin menyampaikan sesuatu kepada Zaya, namun ditahannya.


"Kenapa, Sayang?" Tanya Zaya lembut.


Albern menatap Zaya dan terlihat ragu-ragu.


"Ada apa? Apa ada yang menganggu pikiran Al?" Tanya Zaya lagi sambil mengelus kepala Albern dengan sayang.


"Apa Mama tidak mau pulang kesini lagi?" Tanya bocah itu akhirnya.


Zaya terkesiap. Sejujurnya pertanyaan Albern tadi adalah pertanyaan yang Zaya ajukan pada dirinya sendiri, dan masih belum menemukan jawabannya sekarang. Lalu bagaimana ia harus menjawab Albern?


Albern tak langsung menjawab dan terdiam beberapa saat.


"Al...ingin Mama dan Papa bersama seperti dulu lagi..." Lirih bocah itu akhirnya. Ia terlihat memandang kearah lain saat mengatakan keinginannya itu. Tampaknya ia takut melihat bagaimana ekspresi Zaya saat mendengarkan keinginannya.


Zaya membeku beberapa saat.


"Kenapa Al ingin Papa dan Mama seperti dulu?" Tanya Zaya lagi.


"Karena Al tidak mau melihat Papa sedih lagi, Ma. Sejak Mama pergi, Papa jadi sering sedih sendirian. Papa juga sering lihat foto Mama. Pasti Papa juga sering merindukan Mama seperti Al..."


Zaya membeku. Ia tak tahu harus merespon kata-kata Albern seperti apa. Hati Zaya seperti diremas-remas hingga ia tak lagi bisa berkata-kata.


Lalu Zaya berusaha untuk mengalihkan topik pembicaraan dan membahas hal lain, hingga akhirnya Albern pun tertidur.


Dipandanginya wajah polos itu untuk beberapa saat, sebelum akhirnya Zaya beranjak dan keluar dari kamar Albern.


Zaya berpapasan dengan Bu Asma yang tengah membawa nampan berisi secangkir kopi menuju ke ruang kerja Aaron.


"Apa Aaron sudah kembali?" Tanya Zaya.


"Iya, Nyonya. Tuan baru saja pulang dan langsung meminta diantarkan kopi ke ruang kerjanya." Jawab Bu Asma.


Zaya menautkan kedua alisnya.


'Kopi? Sejak kapan Aaron bekerja malam sambil minum kopi?'


"Teh herbal buatan saya berbeda dengan yang biasa dibuat Nyonya, Tuan tidak menyukainya, jadi Tuan meminta kopi saja sebagai gantinya." Ujar Bu Asma seolah tahu pertanyaan yang ada dibenak Zaya.


Zaya terdiam sejenak, kemudian ia menahan nampan yang dibawa oleh Bu Asma.


"Biar saya buatkan teh herbal dan mengantarnya ke ruang kerja Aaron." Pintanya kemudian.


Bu Asma tercenung beberapa saat, tapi kemudian senyumnya terbit dan ia pun mengangguk.


Bu Asma lalu membawa kembali kopi yang sebelumnya ia buat. Sedangkan Zaya pergi kedapur untuk membuatkan teh herbal untuk Aaron.


Zaya mengetuk pintu ruang kerja Aaron sambil membawa nampan berisi teh buatannya. Terdengar suara Aaron dari dalam yang menyuruhnya masuk.


Perlahan Zaya membuka pintu yang ternyata tak terkunci itu. Lalu dengan pelan ia masuk kesana.


Tampaklah Aaron yang masih dengan pakaian kerjanya, berkutat dengan beberapa dokumen sambil sesekali memijat sendiri pangkal hidungnya.


Terlihat jelas jika lelaki itu sudah sangat kelelahan.


"Taruh saja kopinya disana." Ujarnya sambil masih melihat kearah dokumen-dokumen itu. Sepertinya dia tidak menyadari jika yang berdiri dihadapannya adalah Zaya, bukan Bu Asma.


"Ini teh herbal, bukan kopi." Ralat Zaya.


Aaron terkesiap mendengar suara Zaya. Kemudian diangkatnya wajahnya dan melihat sosok dihadapannya itu dengan tatapan tak percaya.


"Kau...disini?" Tanyanya.


Zaya meletakkan teh yang dibawanya.


"Bukankah sudah aku bilang, lebih baik minum teh herbal daripada kopi saat kamu mau bekerja sampai larut." Omel Zaya tanpa menjawab pertanyaan dari Aaron.


Aaron membeku. Untuk sesaat dia merasakan jika Zaya dihadapannya kini sama seperti Zaya saat masih menjadi istrinya dulu.


Zaya mendekat kearah Aaron sambil menatap lelaki itu dengan sedih. Benar apa yang dikatakan Carissa, lelaki ini tanpa sadar mulai menghancurkan dirinya sendiri. Bahkan dengan kondisi tubuhnya sendiri pun dia mulai acuh. Sangat berbeda dengan Aaron yang dulu, yang sangat meperhatikan kesehatannya.


Zaya berhenti disamping kursi yang tengah Aaron duduki.


"Aaron..., Jadilah sosok mengagumkan yang aku kenal dulu. Jangan lepaskan Brylee Group. Atasilah masalah yang sedang melanda perusahaanmu sekarang. Aku yakin kamu bisa melakukannya. Dan setelah semuanya selesai, mari kita memulai hubungan kita dari awal lagi ..."


Bersambung....


Tetep like, komen dan vote ya...


Happy reading❤❤❤