Since You Married Me

Since You Married Me
Sejenak Melarikan Diri



Zaya menatap gulungan ombak dihadapannya dengan pandangan jauh menerawang. Dibiarkannya angin laut meniup rambut panjangnya hingga terkadang rambut itu menutupi separuh wajahnya. Sesekali jemari Zaya menyematkan rambutnya kembali ke belakang telinganya, lalu kembali terurai karena ditiup angin lagi.


Entah sudah berapa lama Zaya melakukan hal yang sama sejak tadi. Yang pasti, seseorang yang berada disampingnya saat ini sudah mulai gelisah melihat Zaya yang masih betah dengan kebisuannya itu.


Ya. Saat ini Zaya tengah berada disalah satu pantai indah di pulau Bali.


Sebuah tawaran kerja sama dari salah satu partner bisnisnya untuk membuka satu cabang kafe di tempat ini, membuat Zaya melarikan diri sejenak dari permasalahan yang tengah dihadapinya.


Tanpa memberi tahu Aaron. Tanpa memberi tahu Kara. Ia pergi seorang diri dengan membawa semua beban yang membuatnya nyaris tak bisa memejamkan mata.


Satu hal yang patut dikagumi dari Zaya, semakin ia tertekan karena sebuah masalah, semakin serius pula ia bekerja. Tampaknya bekerja dengan semakin keras menjadi sebuah penghiburan tersendiri bagi Zaya agar tak terlalu terpuruk dengan permasalahannya itu. Bisa dibilang itu sebagai pelariannya.


Saat ini Zaya telah berhasil mencapai kesepakatan kerja sama. Dalam waktu dekat kafenya akan membuka cabang di tempat yang terkenal dengan Pantai Kuta dan Tanah Lotnya ini.


Dan yang tak disangka-sangka oleh Zaya, ditengah kegundahannya, ia malah bertemu dengan sosok yang belum lama ini pergi meninggalkannya.


Evan.


Ternyata lelaki itu masih punya sedikit pekerjaan di Bali dan masih harus menetap disana sebelum akhirnya kembali ke Singapura.


Sejak mengetahui Zaya telah kembali bersama Aaron dan berencana menikah kembali, Evan memang telah memutuskan kembali ke tempat orang tua angkatnya tinggal. Tapi sekarang dia justru bertemu dengan Zaya yang tampak dalam keadaan yang tidak terlalu baik.


Evan bertanya-tanya, apakah terjadi hal buruk hingga pernikahan Zaya tidak jadi diselenggaran? Jika semuanya baik-baik saja, lalu kenapa saat ini Zaya tampak benar-benar sedih?


Sudah dua jam ia berdiri memandangi lautan tanpa mengeluarkan suara.


"Kamu tampak seperti seseorang yang melarikan diri, Dee. Kenapa? Bukankah sebentar lagi pernikahanmu akan dilaksanakan?" Evan tidak tahan lagi untuk tidak bertanya. Sejak tadi Zaya masih belum menunjukkan tanda-tanda untuk membuka suara.


Zaya menoleh. Kemudian ia mendudukkan dirinya di samping Evan. Tampak wajahnya yang sendu, membuat Evan semakin yakin jika ada permasalahan serius yang tengah di hadapi Zaya.


Zaya menghela nafas panjang. Kemudian ia berusaha untuk tersenyum pada Evan.


"Permasalahan di perusahaan Aaron ternyata belum selesai, Kak. Dia terancam kehilangan kepemilikan perusahaannya jika tetap bersikeras untuk menikahiku. Aku jadi tidak yakin untuk terus maju. Rasanya sangat tidak sepadan jika dia harus kehilangan Brylee Group hanya demi aku." Zaya akhirnya membuka suaranya.


Evan tertegun. Ternyata benar dugaannya jika saat ini Zaya tengah menghadapi sesuatu yang tidak sederhana.


"Lalu? Aaron sendiri bagaimana?" Tanya Evan kemudian.


Zaya terdiam sejenak.


"Tampaknya dia tetap bersikeras untuk melanjutkan pernikahan kami." Jawab Zaya.


Kini berganti Evan yang menghela nafasnya.


"Jika Aaron saja sudah menetapkan keputusannya tanpa ragu, kenapa kamu harus melarikan diri seperti ini, Dee. Seharusnya saat ini kalian berdua sedang bersama-sama untuk saling menguatkan. Bukankah itu yang dilakukan oleh pasangan yang saling mencintai?"


Zaya terdiam dan tak mampu menjawab. Benar apa yang dikatakan Evan jika saat ini seharusnya ia ada disamping Aaron. Tapi Zaya terlalu takut dengan kenyataan Aaron akan kehilangan sesuatu yang selama ini diperjuangkannya hanya demi dirinya.


Zaya tidak sanggup membayangkan akan sebesar apa rasa bersalahnya jika sampai Aaron kehilangan posisinya saat ini demi untuk terus bersamanya. Zaya pasti tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri karena itu.


"Bagaimana bisa dia kehilangan perusahaannya hanya demi untuk menikahiku? Sudah sangat banyak yang Aaron korbankan demi perusahaan itu. Mulai dari masa kecil dan impiannya sendiri. Aaron sudah berjuang untuk posisinya sekarang siang dan malam. Bagaimana bisa aku membuat perjuangannya itu berakhir sia-sia?"


"Katakan, Kak... Aku harus apa...?" Zaya menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Airmatanya tak terbendung lagi. Sungguh ia dihadapkan pada pilihan yang sulit, antara harus bertahan atau tidak.


Evan memandang Zaya dengan sendu.


Tapi melihat Zaya yang nampak sangat putus asa, Evan justru ikut merasa sedih. Evan sadar sekarang, yang terpenting baginya adalah kebahagiaan Zaya, tidak peduli bersama siapa ia mendapatkannya. Evan tidak sanggup jika harus melihatnya sedih seperti sekarang ini.


"Apa kamu sudah membicarakannya dengan Aaron tentang kemungkinan solusi yang ada untuk permasalahan kalian?" Tanya Evan kemudian.


Zaya menggeleng. Sejak hari ia mendengar semua itu, Zaya memang menghindari Aaron dan tidak berusaha untuk membicarakanya. Mungkin ia memang terlalu pengecut karena tidak berani menghadapi kenyataan yang ada. Dan malah melarikan diri seperti ini.


Tapi itu semua juga Zaya lakukan karena tidak tahu mesti bagaimana lagi.


"Harusnya kamu tidak seperti ini, Dee. Jika kamu mencintai Aaron, maka kamu harus mempercayainya juga. Orang seperti dia tidak mungkin memutuskan sesuatu tanpa sebuah pertimbangan. Jika dia lebih memilih dirimu ketimbang perusahaannya sendiri, itu artinya kamu lebih penting baginya daripada perusahaan. Harusnya kamu merasa senang, kan?" Evan berusaha untuk membuat Zaya berpikir dengan lebih masuk akal.


"Tapi bagaimana jika aku membuat apa yang dilakukan Aaron selama ini menjadi sia-sia?" Tanya Zaya lagi.


Evan tersenyum sambil mengusap pucuk kepala Zaya.


"Tidak ada yang sia-sia jika itu dilakukan untuk orang yang kita cintai, Dee. Saat ini kamu hanya perlu tahu apa yang diinginkan oleh hatimu. Apakah kamu ingin tetap bersama Aaron?"


Zaya terdiam dan nampak berpikir.


"Aku mencintainya, Kak. Aku tidak sanggup jika harus berpisah dengannya lagi..." Lirih Zaya akhirnya.


Evan kembali tersenyum, meski kali ini ada kegetiran disenyumnya itu. Ia sudah menduga akan seperti apa kalimat yang akan didengarnya dari Zaya. Tampaknya memang sudah tak ada lagi ruang untuknya di hati Zaya. Evan harus menerima kenyataan itu.


"Kalau begitu sekarang tenangkan pikiranmu terlebih dahulu, lalu temui calon suamimu itu. Kalian perlu membicarakan solusinya." Ujar Evan akhirnya.


Zaya mengangguk patuh.


"Istirahatlah terlebih dahulu. Aku juga akan kembali ke hotelku. Aku berharap kau tidak melarikan diri lagi setelah ini, Dee." Ujar Evan lagi sambil menatap Zaya.


Zaya mengangkat wajahnya dan melihat kearah Evan.


"Terima kasih, Kak. Kakak selalu bisa membuatku menjadi lebih baik."


"Aku akan masuk dan beristirahat." Zaya berpamitan pada Evan.


Evan mengangguk mengiyakan. Lalu tangannya memberi isyarat agar Zaya segera masuk.


Zaya pun menurutinya. Ia bergegas melangkah menuju salah satu penginapan yang terletak dibibir pantai yang telah disewanya. Tak jauh dari tempat mereka mengobrol tadi.


Evan masih ditempatnya semula sambil menandangi Zaya yang berjalan kembali ke penginapannya. Lalu setelah dilihatnya Zaya telah masuk kedalam, Evan pun bangkit dari duduknya.


Evan mengeluarkan ponselnya dan menelfon seseorang. Tampak ia berbicara dengan sangat serius. Lalu setelah selesai, Evan juga terlihat mengetik sesuatu diponselnya, lalu nengirimnya pada seseorang juga.


Evan memandang penginapan yang disewa Zaya sebentar, lalu melangkahkan kakinya menjauh dari sana.


'Hanya ini yang bisa aku lakukan untukmu, Dee. Aku harap setelah ini kamu akan selalu bahagia. Semoga lelaki yang kamu pilih itu benar-benar tulus mencintaimu...'


Bersambung...


Jangan pernah lelah buat like, komen dan vote ya sayangku.


Happy reading❤❤❤