
Seminggu kemudian, Jennifer resmi menggantikan Dean menjadi asisten pribadi Aaron. Pekerjaannya cukup bagus. Sejauh ini Aaron cukup puas dengan kinerjanya.
Jennifer bisa melakukan apa saja yang sekiranya dibutuhkan. Bahkan ia tak segan membantu seorang office boy di kantor mengangkat galon air minum keruang kerja Aaron. Dan yang paling mengesankan adalah saat ia menyingkirkan batang pohon yang melintang ditengah jalan ketika Aaron dalam perjalanan untuk bertemu dengan seorang klien.
Sungguh mengagumkan. Bahkan Aaron yang tak mudah terkesan dengan seseorang pun jadi heran sekaligus takjub dibuatnya.
Baru beberapa hari bekerja, asisten baru Aaron itu sudah menjadi buah bibir dikantor. Banyak yang menyukai sosok Jennifer karena pribadinya yang sangat ringan tangan. Ia tak segan membantu orang di sekitarnya meski tak mengenal orang itu sekalipun.
Dalam waktu singkat, Jennifer telah mendapat julukan Wonder Woman dari orang-orang kantor. Tapi yang lebih menariknya, Aaron ternyata punya julukan sendiri untuk asisten barunya itu. Aaron lebih suka menjuluki Jennifer dengan nama Hercules, mengingat betapa kuatnya tenaga perempuan itu.
Dan poin tambah untuk Jennifer adalah bagaimana ia selalu bisa membuat Zaya terhibur setiap kali bertemu dengannya. Jennifer ternyata punya sifat yang ramah dan supel. Ia cukup menyenangkan, sehingga Zaya mulai menyukainya.
Aaron pun berpikir untuk menjadikan Jennifer sebagai asisten pribadi Zaya jika Dean sudah kembali nanti.
Tapi ternyata, selain Zaya dan orang-orang kantor, ada satu orang lagi yang diam-diam mengagumi Jennifer. Orang itu sering mencuri pandang saat Jennifer sedang fokus mengerjakan sesuatu, dan terkadang meletakkan makanan dimeja kerja Jennifer dengan sembunyi-sembunyi saat waktunya makan siang.
Orang itu tak lain adalah Sekertaris Jeff. Pemuda yang telah jatuh cinta pada pesona tak biasa dari seorang Jennifer.
Orang-orang tak menyadari hal itu, tapi tidak dengan Zaya. Nyonya Muda Brylee ini dapat melihat dengan jelas bagaimana salah tingkahnya Sekertaris Jeff saat berdekatan dengan Jennifer. Dan ternyata, Jennifer pun menunjukan gelagat yang sama.
Kedua orang ini terlihat menyukai satu sama lain. Untung saja hal itu tak membuat keduanya lalai dalam menjalankan tugas masing-masing.
Dan siang itu, saat membawakan Aaron makan siang ke kantornya, Zaya kembali memergoki keduanya sedang saling menyapa.
"Hai, Jenn." Sapa Sekertaris Jeff dengan agak malu-malu.
"Hai, Jeff." Jennifer menoleh sambil tersenyum.
Tak ada lagi embel-embel asisten ataupun sekertaris. Entah sejak kapan mereka sudah semakin akrab, hingga tak sungkan lagi dengan panggilan Jenn dan Jeff.
Astaga. Zaya harus menahan diri sekuat tenaga agar tidak tertawa melihat rona malu keduanya. Zaya berusaha untuk membuat dua orang yang sedang jatuh cinta ini tidak menyadari kehadirannya agar ia bisa melihat lebih banyak lagi interaksi antara keduanya.
Sepertinya karena penasaran, Zaya sampai rela mempertaruhkan reputasinya sebagai Nyonya Muda Brylee hanya untuk memuaskan rasa keingintahuannya.
Zaya mengulum senyumnya kembali saat melihat Sekertaris Jeff menyodorkan kotak makan siang pada Asisten Jennifer.
"Jenn, aku membawakan makanan kesukaanmu. Dimakan, ya." Ujar Jeff masih dengan malu-malu.
Jennifer melihat kotak makanan yang di sodorkan Jeff, lalu beralih melihat kearah Jeff. Sontak pemuda itu terlihat semakin merona mendapatkan tatapan Jennifer. Dia terlihat gugup.
"Apa kamu yang selama ini meletakkan makanan diam-diam di mejaku?" Tanya Jennifer.
Jeff terdiam sesaat, lalu mengangguk dengan ragu. Kemudian Jeff menundukkan wajahnya seolah telah melakukan kesalahan dan tengah menanti hukuman.
"Terima kasih, Jeff." Ujar Jennifer kemudian.
"Hah?" Jeff mengangkat wajahnya dan melihat kearah Jennifer lagi. Dia sedikit terkejut mendengar ucapan terima kasih dari gadis perkasa di hadapannya ini. Jeff mengira Jennifer akan merasa tidak nyaman dengan perhatian yang dia berikan, tapi rupanya Jennifer terlihat menyukai perhatian dari Jeff itu.
"Kamu...tidak marah?" Tanya Jeff.
Jennifer malah tertawa kecil.
Mata Jeff melebar. Sumpah demi apapun, baginya Jennifer yang sedang tertawa saat ini benar-benar terlihat manis. Jauh lebih manis dari Nyonya Muda Brylee yang selalu di cemburui suaminya itu. Tapi itu menurut Jeff, tentu saja.
Jeff semakin merona mendengar Jennifer menyebutnya lelaki tampan. Tiba-tiba tubuhnya gemetar dan mulai mengeluarkan keringat dingin, tapi Jeff tahu kali ini ia bukan merasakan gejala fobia yang di deritanya, melainkan hal lain yang jauh lebih berbahaya dari itu.
Jeff jatuh cinta pada gadis dihadapannya ini, bukan hanya sekedar suka saja.
"Tapi, Jeff, boleh aku tahu kenapa kamu melakukan ini?" Tanya Jennifer.
Jeff tampak kesulitan menjawab.
"Aku harap kamu tulus mau berteman denganku, Jeff. Mengingat banyak sekali yang mempermasalahkan wujudku yang tak biasa ini." Tambah Jennifer lagi.
Jeff terhenyak. Dia tidak terima Jennifer menyebut dirinya sendiri sebagai wujud tak biasa.
"Kenapa kamu bilang seperti itu? Bagiku kamu itu sangat manis." Ujar Jeff tanpa sadar. Lalu dia kembali salah tingkah saat Jennifer menatapnya dengan penuh tanda tanya.
"Apa Tuan Aaron tahu kamu penderita mata minus?" Tanya Jennifer lagi dengan tertawa kecil.
"Aku memang tidak merasa kalau diriku jelek, tapi aku tidak manis juga." Tambah Jennifer lagi masih dengan kekehannya.
"Tentu saja kamu manis, bagiku kamu bahkan lebih manis dari Nyonya Muda." Ujar Jeff lantang.
Jennifer membeliakkan matanya karena terkejut. Sedangkan Jeff sendiri langsung menutup mulut dengan kedua tangannya. Dia kelepasan bicara. Entah apa jadinya jika bos mereka sampai mendengar apa yang dikatakannya barusan. Bisa tamat riwayatnya.
"Husssstt... Kamu ini cari mati, ya? Bisa-bisanya membandingkan aku dengan Nyonya Muda. Kalau Tuan Aaron sampai dengar apa yang kamu bilang tadi, habislah kita." Jennifer sontak langsung membekap mulut Jeff dengan tangannya.
Sedangkan Zaya yang mendengar apa yang dikatakan Jeff tadi hanya memutar bola matanya sambil mencebikkan bibirnya.
'Tuan kalian tidak dengar, tapi orang yang kalian bicarakan dengar semuanya.'
Tapi sejurus kemudian, Zaya kembali tersenyum saat melihat ekpresi Jeff yang seperti mau pingsan saat tangan Jennifer menyentuh wajahnya, atau lebih tepatnya membekap mulutnya.
Melihat Jeff yang seperti orang kehabisan nafas, Jennifer langsung menarik kembali tangannya yang membekap mulut Jeff.
"Maaf, maaf...aku tidak sengaja." Ujarnya tidak enak hati.
"Aku refleks tadi." Tambah Jennifer lagi, tapi Jeff tak bergeming sama sekali. Pemuda itu tampak membeku layaknya patung.
"Jeff, kamu baik-baik saja, kan?" Jennifer jadi khawatir melihat Jeff yang masih tak mau bergerak.
"Jeff?" Jennifer menepuk-nepuk pipi Jeff.
"Jenn." Panggil Jeff sambil menggenggam tangan Jennifer yang menepuk pipinya barusan.
"Jadi pacarku, ya?"
Bersambung...
Menuju end... emak pengen ngasih akhir yang baik buat semua tokoh.
Dih, baek bener akuh...😅
Happy reading❤❤❤