
Brylee Group memasuki babak baru. Sebuah mega proyek yang berhasil di dapat beberapa waktu yang lalu kini sudah mulai di kerjakan.
Aaron jadi semakin sibuk. Dia lebih sering berpergian dari sebelumnya. Sedangkan Zaya sendiri kini semakin sering di rumah.
Memasuki tujuh bulan kehamilannya, Zaya telah sepenuhnya menyerahkan kepengurusan kafenya pada Kara dan Fina. Ia kini hanya memantau dari balik layar saja. Sesekali ia akan datang ke kafe jika ada hal yang sangat mendesak, yang tidak bisa di selesaikan oleh kedua tangan kanannya tersebut. Tapi tentu hal itu sangat jarang terjadi.
Sejauh ini opresional kafenya berjalan dengan lancar. Omsetnya juga bertambah setiap bulannya, hingga Zaya tidak perlu mengkhawatirkan bisnisnya itu meski tidak mengelolanya secara langsung lagi.
Hari ini Zaya kembali memeriksakan kehamilannya dengan di temani Ginna. Aaron sedang berada di luar kota, hingga tak bisa menemaninya.
Kandungan Zaya sangat sehat. Tak ada yang perlu di khawatirkan. Dan yang membuat Zaya sangat senang adalah, kemungkinan besar anak yang ada dalam kandungannya berjenis kelamin perempuan.
Zaya sangat antusias menyambut calon anak keduanya ini. Ia tak sabar menantikan kehadiran seorang putri kecil ditengah keluarga mereka. Pasti akan semakin lengkap kebahagiaannya nanti.
"Tunggulah disini. Aku akan menebus resepmu terlebih dahulu." Ginna mendudukkan Zaya di salah satu bangku yang terdapat di koridor rumah sakit. Lalu ibu mertua Zaya itu berlalu ke apotek untuk menebus vitamin yang diresepkan dokter untuk Zaya.
Setiap mengantar Zaya memeriksakan kehamilannya, Ginna memang selalu menebus sendiri resep untuk Zaya.
Zaya selalu suka saat melihat Ginna berjalan dari ujung koridor untuk menghampirinya. Kerinduan Zaya akan sosok seorang ibu sedikit banyak terobati sejak Zaya dekat dengan ibu mertuanya itu.
Ginna yang tak pernah berucap lembut, apalagi berkata-kata manis. Ginna yang juga sangat lugas dan berterus terang. Tapi dibalik semua itu, Ginna adalah sosok yang sangat perhatian. Ia punya cara tersendiri untuk menunjukkan kasih sayangnya, yang mungkin tidak bisa di pahami oleh setiap orang. Ia juga sangat bisa diandalkan dan begitu nyaman untuk dijadikan tempat bersandar.
Entah sejak kapan, tapi Zaya menyadari jika ia telah sangat menyayangi ibu mertuanya ini.
"Apa yang sedang kau lamunkan? Ayo pulang." Suara Ginna membuyarkan lamunan Zaya. Tahu-tahu dia sudah muncul tanpa Zaya sadari kedatangannya.
Ginna membimbing Zaya untuk berdiri. Kehamilan Zaya kali ini memang agak merepotkan jika dibandingkan dengan kehamilannya yang pertama dulu. Meski tidak hamil anak kembar, di usia kehamilannya yang baru menginjak tujuh bulan, perut Zaya terlihat sangat besar seperti sudah akan melahirkan saja.
Zaya sangat kesulitan bergerak. Beraktifitas sedikit saja sudah membuatnya dibanjiri keringat. Ia juga lebih mudah lelah, hingga lebih sering beristirahat.
"Apa kau kesulitan bernafas?" Tanya Ginna yang tampak begah melihat perut Zaya. Tentu saja ia sudah lupa bagaimana rasanya hamil. Lagi pula saat hamil Aaron dulu Ginna merasa perutnya tidak sebesar itu.
"Tidak, Ma." Jawab Zaya sambil terus melangkah. Sebisa mungkin ia mengimbangi langkah Ginna agar tidak terlihat terlalu lamban.
"Kita istirahat saja dulu sebentar. " Ujar Ginna saat mereka telah sampai di lobi rumah sakit.
"Tidak usah, Ma. Langsung jalan saja ke mobil." Tolak Zaya.
Tapi Ginna bersikeras dan kembali mendudukan Zaya disalah satu bangku yang ada dilobi rumah sakit.
"Istirahat saja dulu. Nafasku sampai tersengal melihatmu berjalan." Ujar Ginna lagi.
Zaya akhirnya menurut saja. Ia memang sudah kelelahan dan nafasnya juga sudah agak memburu. Ia butuh istirahat sejenak.
Ginna kemudian duduk juga disebelah Zaya.
"jika keadaanmu sangat mudah lelah seperti ini, sebaiknya kurangi melakukan hubungan suami istri." Ujar Ginna tiba-tiba.
Zaya terkesiap dan tak tahu harus menjawab apa. Ia tidak siap membicarakan tentang
hal itu dengan Ginna.
"Apa jangan-jangan Aaron malah melakukannya lebih sering?" Tanya Ginna kemudian dengan gamblangnya.
Zaya semakin terkejut. Ia bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan dari ibu mertuanya ini. Zaya ingin menyangkal, tapi memang kenyataannya jika Aaron lebih sering meminta jatahnya saat sedang ada dirumah. Mungkin karena belakangan ini dia lebih sering berpergian, sehingga saat pulang seperti sedang melepas dahaga.
"Tapi dokter bilang tidak apa-apa jika dilakukan dengan hati-hati." Zaya akhirnya menjawab dengam agak malu. Tentu saja Ginna mengerti jika jawaban dari Zaya itu menyiratkan Aaron memang semakin sering mengagahi Zaya.
Ginna hanya menghela nafasnya sembari mengeleng-gelengkan kepalanya.
"Anak itu memang keterlaluan." Gumamnya.
"Aku bisa mengatasinya, Ma. Tidak perlu khawatir." Ujar Zaya sembari tersenyum. Ia sungguh tidak mau jika Ginna sampai menegur Aaron tentang masalah ini. Terlalu memalukan. Lagipula meski sering, Aaron selalu melakukannya dengan sangat lembut, sehingga tidak menyakiti Zaya.
"Baiklah, terserah kalian saja." Desah Ginna.
Baru saja akan menuju kearah parkiran, tiba-tiba Zaya di kejutkan dengan sebuah suara yang sangat familiar di telinganya.
"Dee." Seseorang menyapa Zaya.
Zaya menoleh. Tampak sosok yang Zaya pikir tidak akan ia temui lagi sedang berdiri disampingnya.
"Kak Evan?" Gumam Zaya tanpa sadar.
Ginna ikut menoleh kearah Zaya menoleh.
"Siapa dia?" Tanya Ginna.
"Dia temanku, Ma." Jawab Zaya
Ginna tampak memperhatikan Evan yang tengah melihat kearah Zaya.
"Silahkan jika kau ingin menyapa temanmu terlebih dahulu. Aku akan menunggu di mobil." Ujar Ginna
"Jangan terlalu lama. Nanti kakimu bisa kram." Tambah Ginna lagi sambil berlalu.
Zaya mengangguk. Kemudian saat Ginna sudah tak terlihat, Zaya mendekat beberapa langkah kearah Evan.
"Aku tidak menyangka bisa bertemu Kakak disini. Bagaimana kabar Kakak?" Tanya Zaya.
Evan tampak masih melihat kearah Zaya. Tatapannya turun pada perut Zaya yang membesar. Meski sudah berusaha bangkit dan melupakan Zaya, tapi saat melihat Zaya lagi seperti ini, membuat move on-nya sia-sia saja.
"Aku baik. Kabarmu sendiri bagaimana?" Tanya Evan.
"Aku juga baik." Jawab Zaya.
"Sepertinya aku akan segera dapat keponakan." Ujar Evan.
Zaya tersenyum.
"Iya, benar. Kakak akan segera dapat keponakan perempuan." Jawab Zaya lagi. Mereka sama-sama tersenyum.
"Selamat, Dee. Aku senang melihatmu bahagia seperti ini. Ibu mertuamu juga kelihatannya menyayangimu."
Zaya mengangguk.
"Semoga Kak Evan segera menyusulku juga. Aku tidak sabar menunggu kabar baik dari Kakak."
Evan tersenyum penuh ironi.
"Tunggu saja." Ujarnya.
Keduanya sama-sama terdiam untuk beberapa saat.
"Sayang."
Zaya kembali dikejutkan dengan suara yang lagi-lagi familiar ditelinganya.
Ia menoleh. Tampak Aaron berdiri tak jauh dari sana masih dengan wajah lelahnya.
Bersambung...
Buat yg kangen sm evan, emak nongolin dikit sebelum dia nongol diceritanya sendiri.
Cerita Aaron dan Zaya akan segera end, jadi ga bakal ada konflik berat lagi. Kenapa ga ditamatin sekarang? Karena di kepala author masih ada beberapa ide untuk cerita mereka, kalo ga dikeluarin takutnya malah jadi jerawat😅
Bulan depan rencananya udah sm cerita baru, tungguin yah😘
Happy reading❤❤❤