
Setelah menyegarkan diri dan berganti pakaian, Zaya merebahkan dirinya diatas tempat tidur. Rasanya benar-benar nyaman saat tubuhnya bisa berbaring setelah lelah menghadapi pertempuran di pesta perusahaan tadi.
Zaya lega akhirnya ia bisa beristirahat juga. Rasa-rasanya ia telah melakukan semuanya dengan sangat baik saat dipesta tadi. Zaya telah cukup meninggalkan kesan yang mendalam pada para tamu yang datang. Setelah ini, orang-orang tidak akan terlalu meremehkannya lagi. Tinggal bagaimana Zaya memberikan pembuktian agar ia bisa semakin dihormati.
Tapi ada yang terus saja mengusik pikirannya sedari tadi. Sikap Ginna, ibu mertuanya, terasa agak berbeda. Ginna tidak terlalu dingin pada Zaya, bahkan terkesan lebih hangat. Belum lagi, cara Ginna memperlakukannya dihadapan istri para kolega Aaron, Zaya merasa jika Ginna seperti seorang ibu yang sedang menjaga putrinya. Ginna banyak membelanya dan membantunya menjawab pertanyaan yang agak sulit untuk Zaya jawab.
Mungkinkah Ginna hanya membantunya agar tidak mempermalukan Aaron? Atau mungkin Ginna sudah menerimanya dengan sepenuh hati sebagai menantu?
Zaya terus berpikir tentang kemungkinan yang ada.
"Sayang." Suara Aaron membuyarkan lamunan Zaya. Lelaki itu tampak telah mengenakan piama dan tengah mengeringkan rambutnya menggunakan handuk.
Zaya menoleh dan tersenyum kearah Aaron.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Aaron sambil mendudukkan dirinya disebelah Zaya berbaring.
"Tidak ada." Jawab Zaya. Buru-buru ia bangkit dari posisinya semula.
"Jelas-jelas kau sedang memikirkan sesuatu." Aaron menarik tubuh Zaya merapat padanya. dipeluknya istrinya itu dari belakang sambil bersandar pada sandaran tempat tidur.
Zaya balik memeluk Aaron dan menelusupkan kepalanya ke dada lelaki itu.
"Mama sangat baik padaku saat di pesta tadi." Gumam Zaya akhirnya.
Aaron sedikit menautkan alisnya.
"Bukankah itu bagus?" Tanyanya.
Zaya mengangguk.
"Aku hanya sedang bertanya-tanya dalam hati, apakah Mama sudah benar-benar menerimaku?"
"Menurutmu?" Aaron balik bertanya pada Zaya.
Zaya menghela nafasnya. Ia sungguh ingin berpikir jika Ginna memang telah menerimanya sebagai menantu, tapi ia takut salah menyimpulkan.
"Aku tidak tahu..." Jawab Zaya jujur.
Aaron tersenyum sambil membelai rambut Zaya dengan lembut. Kemudian diciumnya pucuk kepala istrinya itu.
"Tentu saja Mama sudah menerimamu. Mama bukanlah tipe orang yang suka berpura-pura, jika dia telah memperlakukanmu dengan baik, itu artinya dia memang telah menerimamu sebagai menantunya."
Zaya sedikit tertegun.
"Benarkah?" Gumamnya lirih.
Aaron mengurai pelukannya dan menangkup wajah Zaya dengan kedua tangannya.
"Kenapa sepertinya kau tidak percaya?" Tanya Aaron.
"Aku...hanya takut salah menyimpulkan saja." Zaya menoleh kearah lain, tampak sengaja menghindari tatapan mata Aaron.
Aaron kembali tersenyum sambil memeluk Zaya lagi.
"Sebenarnya sudah sejak lama Mama telah menerimamu, jauh sebelum kita berpisah dulu. Tapi waktu itu Mama belum terlalu percaya dengan kemampuanmu, hingga dia masih tetap mengambil alih pengasuhan Albern."
"Sekarang tampaknya kau sudah berhasil membuktikan dirimu pada Mama. Mama telah mengatakan padaku untuk menyerahkan pengasuhan Albern sepenuhnya padamu. Kedepannya kau akan semakin sibuk karena segala urusan Albern akan menjadi tanggung jawabmu."
Zaya melepaskan pelukan Aaron dan menatap Aaron dengan mata membulat.
"Benarkah?" Zaya kembali bertanya dengan raut tak percaya.
Aaron mengangguk mengiyakan.
"Honey, kamu tidak sedang membohongiku, kan?" Tanya Zaya lagi.
"Untuk apa aku membohongimu. Apa suamimu ini punya tampang pembohong?" Aaron balik bertanya.
Zaya menggeleng cepat sambil kembali memeluk Aaron.
"Tentu saja tidak. Aku hanya masih tidak percaya jika akhirnya hari yang kunantikan datang juga. Tidak hanya Mama telah menerimaku, tapi juga menpercayakan Albern padaku. Rasanya ini seperti mimpi."
"Kita masih belum tidur, Sayang. Jadi ini bukan mimpi." Aaron kembali membelai kepala Zaya dengan lembut.
"Kau layak mendapat kepercayaan itu. Maafkan kami karena terlambat mempercayaimu." Aaron mencium kening Zaya dengan penuh kasih sayang. Terdengar nada penyesalan dari kata-kata terakhir yang diucapkannya.
Zaya mengangkat wajahnya dan menatap Aaron dengan penuh perasaan. Tangannya terulur membelai wajah Aaron dengan lembut.
"Yang telah berlalu biarlah berlalu, biarlah menjadi sebuah pelajaran. Sekarang kita sudah saling memahami dan mempercayai satu sama lain. Semoga kita bisa terus seperti ini dimasa depan."
Aaron membalas tatapan Zaya. Kemudian dihujaninya wajah Zaya dengan kecupan-kecupan kecil.
Aaron merangkum wajah Zaya dan menatap istrinya itu dalam.
"Aku mencintaimu, Zaya." Gumamnya lirih.
Zaya tersenyum sambil kembali masuk kedalam pelukan Aaron.
"Aku juga mencintaimu, suamiku. Dulu, sekarang dan juga nanti."
"Kalau begitu, apa boleh aku meminta pembuktian cinta darimu, istriku?" Goda Aaron.
Zaya mendelik marah. Bisa-bisanya Aaron mencari kesempatan disuasana syahdu seperti sekarang ini. Sudah bisa Zaya tebak pembuktian cinta seperti apa yang Aaron maksud tadi. Lelaki itu pasti ingin menjamah Zaya, hal yang hampir setiap malam dia lakukan semenjak Zaya menjadi istrinya lagi.
"Tapi aku lelah, ingin langsung tidur saja." Tolak Zaya.
Aaron tersenyum jahil sambil mengoda Zaya dengan sentuhan halus pada titik-titik sensitifnya.
"Sekali saja, Sayang. Aku janji tidak akan lama." Bisiknya.
"Bohong! Kamu selalu lama." Sergah Zaya cepat. Tapi sejurus kemudian buru-buru ia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan karena telah kelepasan bicara.
"Bukankah bagus jika aku selalu lama?" Tanya Aaron menggoda. Zaya buru-buru membuang mukanya dengan wajah merah karena malu.
Aaron terkekeh dibuatnya.
"Sayang, kita sudah sering melakukannya. Tapi kenapa wajahmu masih suka merona seperti itu?"
"Hentikan, Aaron!" Pinta Zaya. Ia benar-benar sudah sangat malu saat ini.
Tiba-tiba saja sebuah ciuman mendarat dibibir Zaya tanpa ampun. Zaya tak berkutik. Ia hanya bisa pasrah saat Aaron menyesap dengan sangat bergairah bibirnya itu.
"Kau mendapat hukuman karena menyebut namaku, Sayang." Guman Aaron disela ciumannya.
Ciuman pun berlanjut hingga keduanya sama-sama terhanyut. Dan sudah dapat ditebak hal apa yang terjadi selanjutnya pada mereka berdua.
___________________________________________
Zaya memasangkan dasi Aaron sembari mengamati wajah suaminya itu. Ada yang tak biasa Zaya lihat pagi ini. Aaron terlihat agak tak bersemangat, wajahnya juga nampak agak pucat. Zaya jadi khawatir melihatnya.
"Honey, apa kamu sakit?" Zaya meraba kening Aaron untuk merasakan suhu tubuhnya.
"Tidak. Memangnya kenapa?" Aaron balik bertanya.
"Wajahmu terlihat agak pucat."
"Aku tidak apa-apa." Jawab Aaron.
Zaya agak tak percaya meski dirasakannya tadi suhu tubuh Aaron memang tidak panas.
"Ayo kita turun, Albern pasti sudah menunggu untuk sarapan."
Meski masih merasa khawatir, Zaya pun tak membantah. Ia mengiringi Aaron turun ke ruang makan untuk sarapan bersama.
Dan seperti yang dikatakan Aaron sebelumnya, Albern telah menunggu mereka berdua dimeja makan.
"Selamat pagi, Ma, Pa." Albern menyapa.
"Selamat pagi, Sayang." Aaron dan Zaya menjawab bersamaan.
Zaya duduk dikursinya, tapi Aaron masih berdiri sambil terlihat tengah membaui sesuatu.
"Apa yang dimasak Bu Asma pagi ini? Aromanya benar-benar tidak enak." Ujar Aaron dengan kening berkerut.
Bu Asma yang mendengar namanya disebut buru-buru mendekat.
"Tadi saya hanya memasak nasi goreng dan memanggang roti, Tuan. Tidak memasak yang aneh-aneh." Ujar Bu Asma sambil nembungkukkan tubuhnya.
"Lalu bau tak sedap apa ini?" Tanya Aaron.
Bu Asma tampak bingung, begitu juga dengan Zaya dan Albern, pasalnya mereka tidak mencium bau apapun kecuali aroma roti panggang yang harum.
Aaron menghela nafasnya dan tampak berusaha menahan sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya.
"Kenapa perutku rasanya mual?"
Bersambung...
Jangan lupa like, komen dan votenya
Happy reading❤❤❤