
Zaya dan Evan duduk saling berhadapan diruang tamu rumah Zaya. Mereka sama-sama menunduk dan tak membuka percakapan untuk waktu yang agak lama.
Beberapa saat kemudian Evan mengangkat wajahnya dan menatap Zaya sendu. Matanya kemudian tertuju pada cincin yang melingkar di jari manis Zaya.
Evan menghela nafasnya dan membuang pandangan kearah lain. Dadanya bergemuruh dengan sangat hebat, hingga membuatnya tidak mampu untuk berkata-kata lagi.
"Kak Evan..." Zaya berusaha untuk mulai berbicara.
Evan masih tetap memandang kearah lain dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca. Sepertinya dia tengah berusaha sekeras mungkin untuk tidak meneteskan airmatanya. Dia tidak ingin menjadi lelaki cengeng dihadapan Zaya, meskipun tak dipungkiri hatinya benar-benar hancur saat ini.
"Jadi kamu sudah memutuskan untuk kembali bersamanya, Dee? Kalian akan menikah kembali?" Evan akhirnya membuka suara sambil masih menatap ke arah lain. Dia masih tidak sanggup melihat wajah Zaya.
Zaya tidak langsung menjawab.
"Maafkan aku, Kak. Dari awal aku sudah mengatakan jika aku tidak bisa menerima Kakak." Ujar Zaya akhirnya.
Evan akhirnya menoleh dan melihat kearah Zaya.
"Kamu tidak memberiku kesempatan, tapi kamu bisa memberi dia kesempatan kedua. Kamu tidak adil padaku, Dee." Ujar Evan lagi dengan sendu. Suaranya agak bergetar karena menahan sesuatu yang bergejolak didalam dirinya.
Tubuh Evan juga mulai gemetar. Kalimat manis Zaya untuk Aaron yang didengarnya tadi sungguh membuatnya frustasi.
"Apa aku benar-benar buruk di matamu, Dee? Apa aku tidak pantas bersanding denganmu? Aku memang tidak sehebat Aaron, tapi kamu tahu aku sangat mencintaimu. Kenapa kamu tidak mau memberikanku kesempatan sedikit saja?" Evan bertanya lagi dengan nada frustasi.
Zaya hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Tidak, Kak. Bukan seperti itu. Kakak adalah lelaki paling baik yang pernah aku kenal. Bagiku, selamanya Kakak akan jadi malaikat pelindungku. Aku menerima Aaron kembali dengan banyak pertimbangan. Salah satunya adalah karena Albern. Bukan berarti karena Kakak tidak lebih baik."
"Tolong jangan bersedih seperti ini, Kak. Aku sangat menyayangi Kakak, tapi tentu saja sebagai Kakakku. Selamanya Kakak akan menjadi orang istimewa didalam hatiku."
Zaya berkata pelan dan sedih. Sejujurnya ia sangat tidak tega menghancurkan hati Evan seperti ini. Tapi tentu saja Zaya tidak bisa memberikan Evan harapan palsu. Zaya ingin Evan menyadari jika Zaya tidak mungkin bersamanya.
Evan berhak untuk mendapatkan perempuan yang lebih baik. Perempuan yang tulus mencintainya. Dan yang pasti perempuan itu bukan Zaya.
"Aku bisa menyayangi Albern seperti ayah kandungnya sendiri. Aku tidak akan memisahkanmu dengan dia, Dee. Jika kamu memberikan aku kesempatan, aku akan melakukan apapun untuk membahagiakanmu. Aku mengharapkanmu selama dua puluh dua tahun lebih. Dalam kurun waktu itu, hanya kamu yang ada didalam hatiku. Aku tidak pernah bisa menatap perempuan lain selain dirimu. Tapi kamu bahkan tidak mempertimbangkan aku sedikit pun. Ini terlalu kejam, Dee."
Zaya tercenung. Sungguh sedih ia mendengar penuturan Evan. Jelas tersirat kepedihan yang teramat dalam di setiap kata yang diucapkannya.
Zaya menatap sendu lelaki dihadapannya itu. Bisa ia rasakan seperti apa sakitnya hati Evan saat ini. Penderitaan karena cinta sepihak yang tak terbalas, Zaya sangat memahami itu lebih dari siapa pun, karena ia telah lebih dulu mengalaminya.
Zaya tak pernah menyangka jika saat ini ia menjadi pihak yang menyakiti. Dan orang yang ia sakiti adalah orang yang selalu melindunginya saat ia kecil.
Ya Tuhan. Dada Zaya tiba-tiba menjadi sesak karenanya. Airmatanya luruh tanpa terasa.
"Maafkan aku, Kak. Aku tidak bermaksud menyakiti Kakak. Seandainya saja kita kembali bertemu sebelum aku masuk dalam kehidupan Aaron, mungkin aku sudah bersama Kakak saat ini. Tapi takdir mempertemukan kita diakhir. Aku bukanlah diriku yang dulu lagi. Aku sudah punya seorang putra yang menginginkan aku kembali pada ayahnya. Dan hatiku juga sudah aku berikan sepenuhnya pada Aaron, jauh sebelum kita bertemu kembali. Aku tidak bisa mengubahnya lagi, Kak. Maaf..."
Airmata Zaya jatuh semakin deras saat mengatakan isi hatinya itu. Sungguh sebuah pilihan yang sulit antara berkata jujur yang langsung menyakiti Evan saat ini, atau berbohong pada Evan yang akan menyakiti Evan dikemudian hari. Keduanya sama-sama menyakiti hati Evan, dan hanya itu pilihan yang Zaya punya saat ini.
Zaya memilih untuk jujur, meski itu jelas membuat Evan hancur. Zaya yakin setelah ini Evan mampu bangkit dan melupakan dirinya. Evan pasti akan menemukan kebahagiaannya suatu hari nanti.
Evan masih tak bergeming. Wajahnya semakin terlihat pilu.
"Aku mencintaimu, Dee..." Gumamnya parau.
"Tidak bisakah kamu bersamaku? Walaupun kamu belum punya perasaan terhadapku tidak masalah. Aku akan menunggumu." Pinta Evan lagi dengan nada putus asa.
Zaya semakin sedih mendengarnya. Ia tidak ingin Evan larut terlalu lama di dalam harapan kosong.
"Tapi aku mencintai Aaron, Kak." Jawab Zaya.
Evan mengangkat wajahnya dan menatap kearah Zaya. Perlahan dia bangkit dari duduknya dan mendekat pada Zaya.
Evan semakin mendekat, hingga akhirnya dia membuat Zaya yang tengah kebingungan masuk kedalam kungkungannya.
Zaya menautkan kedua alisnya. Sepertinya Evan mulai menjadi tak terkendali. Zaya pun bingung harus melakukan apa.
"Kamu suka saat berdekatan dengan Aaron tadi?" Tanya Evan tiba-tiba.
Zaya semakin bingung dibuatnya.
"Aku juga bisa melakukannya. Aku bisa memanjakanmu. Asalkan kamu bersama denganku, aku akan melakukan apa saja untukmu."
Evan semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Zaya.
"Kak Evan..." Zaya membulatkan matanya tak percaya. Ia sungguh tak menyangka jika Evan nekat melakukan hal seperti itu.
Tepat saat Evan akan menciumnya, Zaya berpaling kearah lain sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Evan terkesiap.
Cincin yang tersemat pada jari manis Zaya membuatnya membeku seketika.
Evan bangkit dan melepaskan Zaya dari kungkungannya.
"Aarrrrgghhhh!!!"
Evan berteriak frustasi sambil meninju dinding rumah Zaya, hingga buku-buku tangannya mengeluarkan darah segar. Airmata akhirnya jatuh dipipinya.
Evan tergugu dengan sangat menyedihkan. Lelaki itu menangis dengan perasaan kalah yang menghujam setiap sudut hatinya.
"Kak Evan..." Zaya ikut menangis. Sungguh sakit rasanya melihat sosok malaikat pelindungnya itu menjadi seperti ini
Lalu setelah bisa menguasai dirinya lagi, Evan kembali beranjak kehadapan Zaya. Kali ini dia mengatur jarak yang tidak terlalu dekat pada Zaya. Matanya yang merah menatap Zaya dengan tatapan yang mampu *******-***** hati Zaya.
"Apa kamu yakin Aaron bisa membuatmu bahagia?" Tanya Evan kemudian.
Zaya tertegun untuk beberapa saat. Kemudian ia mengangguk dengan penuh keyakinan.
"Bahkan sekarang pun Aaron sudah membuatku sangat bahagia." Jawab Zaya jujur.
Evan tersenyum penuh ironi. Lalu terdiam cukup lama, dia pun bangkit dari posisinya semula.
"Baiklah..." Gumam Evan.
"Berbahagialah, Dee. Maaf jika aku tadi menakutimu."
Evan berbalik membelakangi Zaya.
"Selamat tinggal...."
Evan melangkah meninggalkan Zaya tanpa menoleh lagi. Airmatanya kembali jatuh dengan derasnya. Anggap saja dia lelaki lemah yang menangis karena seorang perempuan.
Tidak ada yang memahami jika Zaya bukan hanya sekedar perempuan yang disukai oleh Evan. Zaya adalah bagian dari nafas, detak jantung dan denyut nadi Evan. Kehilangan perempuan itu bagaikan kehilangan separuh nyawa bagi Evan. Dan Evan telah berusaha sekuat tenaga mencari separuh nyawanya itu.
Lalu setelah sekarang mereka dipertemukan, Evan justru dipaksa untuk merelakan separuh nyawanya itu untuk lelaki lain. Adakah hal yang lebih menyakitkan dari itu?
Evan kalah. Dia tak punya pilihan selain menyingkir. Dia pun pergi dengan membawa luka yang teramat sangat dalam.
Bersambung...
Jgn lupa votenya ya sayangkuhh...
Happy reading❤❤❤