
Zaya menyiapkan keperluan Baby Zi dan memasukkannya ke dalam tas kecil. Lalu setelah semuanya beres, Barulah Zaya mendekati Aaron yang sedari tadi memperhatikannya.
Zaya mengambil dasi yang telah ia siapkan sebelumnya, lalu memasangkannya pada Aaron. Aroma parfum maskulin Aaron selalu berhasil menggoda indra penciumannya sehingga membuat ia suka berlama-lama saat memasangkan dasi suaminya itu.
Aaron tersenyum. Lalu di peluknya Zaya dengan gemas.
"Kalau dasinya tidak segera selesai, aku akan terlambat meeting pagi ini, Sayang." Ujar Aaron sambil mencium pipi dan leher Zaya.
Zaya terkikik geli. Ternyata Aaron menyadari jika saat ini Zaya sedang modus ingin berlama-lama dengannya.
"Hentikan, Honey." Pinta Zaya di sela-sela tawanya yang renyah.
"Oke, aku akan memasang dasimu dengan cepat. Tapi tolong berhenti dulu. Geli.." Zaya masih tertawa karena Aaron masih menciumi area lehernya.
Aaron pun berhenti.
"Seandainya saja pagi ini aku tidak ada meeting, aku pasti akan melahapmu sekarang juga." Gumamnya dengan penuh hasrat.
"Dasar mesum!" Zaya memukul dada Aaron, lalu melanjutkan memasangkan dasi suaminya itu. Sedangkan Aaron justru terkekeh saat Zaya mengatainya mesum.
"Sudah selesai." Ujar Zaya beberapa saat kemudian.
Lalu ia menggendong Baby Zi yang sedari tadi asyik dengan mainannya di tempat tidur.
"Apa kau sungguh harus pergi ke kafe?" Tanya Aaron saat melihat Zaya telah siap untuk pergi.
"Iya, Honey. Kara cuti karena saat ini dia sedang mengidam. Fina mungkin akan kewalahan jika harus sendirian menangani kafe bersamaan dengan yang di cabang lain." Jawab Zaya.
Aaron menghela nafas. Terlihat jelas dia agak keberatan jika Zaya harus membawa serta putrinya ke kafe. Tapi Aaron tak bisa protes, Zaya memang di butuhkan di kafenya saat ini. Dan Baby Zi sendiri tidak mungkin di tinggal di rumah. Bayi lucu ini sangat lengket dengan Mamanya sehingga tidak mau ikut siapapun kecuali Zaya.
"Jangan khawatir, Honey. Di sana sudah di siapkan ruangan khusus untuk Baby Zi bermain dan beristirahat. Jika aku benar-benar sedang sangat sibuk, ada Jennifer juga yang akan membantu menjaga putri kita." Zaya berusaha menenangkan suaminya yang tampak khawatir itu.
Mengenai Jennifer, setelah Asisten Dean kembali bekerja, gadis gagah itu memang telah beralih menjadi asisten pribadi yang juga merangkap sebagai sopir pribadi Zaya. Setiap Zaya bepergian, Jennifer selalu mendampingi, sehingga Baby Zi juga dekat dengan Jennifer, selain dengan Mamanya.
"Apa kau yakin bisa mempercayainya menjaga putri kita?" Tanya Aaron dengan ekspresi tidak yakin. Aaron tidak meragukan Jennifer jika itu berkaitan dengan pohon tumbang. Tapi untuk mempercayainya menjaga bayi? Entahlah. Aaron agak sulit membayangkannya.
"Apa yang kamu pikirkan, Honey? Jennifer itu juga perempuan. Meskipun terlihat sangat maskulin, tentu dia juga punya sisi keibuan. Dia sangat lembut saat menjaga Baby Zi. Aku percaya padanya. Lagipula Baby Zi juga sangat menyukai Jennifer." Ujar Zaya seolah ingin menjawab ketidakyakinan Aaron.
Sekali lagi Aaron menghembuskan nafasnya.
"Jika kau sudah bilang seperti itu, maka baiklah..." Aaron akhirnya mengalah.
Mereka pun kemudian turun untuk sarapan di lantai bawah. Aaron ingin menggendong putrinya, tapi putrinya menolak dan hanya ingin di gendong Mamanya. Alhasil, Aaron pun hanya bisa membawakan tas keperluan Baby Zi saja.
Semua orang pasti tidak akan menyangka jika melihat pemandangan ini. Direktur Utama Brylee Group yang sangat di segani semua orang menjelma jadi suami yang rela melakukan apapun untuk istrinya saat ada di rumah.
Aaron dan Zaya langsung bergabung di meja makan. Disana sudah ada Albern yang telah lebih dulu turun. Sedangkan Baby Zi di dudukkan pada kursi khusus dan segera di suapi sarapan.
Setelah mereka selesai, semuanya bersiap-siap pergi. Mobil dan sopir pribadi masing-masing telah siap. Asisten Dean dan Jennifer juga sudah ada di sana.
Albern pergi lebih dulu setelah berpamitan dengan Zaya dan Aaron. Bocah itu juga tidak lupa untuk mencium adik perempuannya yang semakin hari semakin menggemaskan sebelum memasuki mobil yang akan mengantarnya ke sekolah.
Kemudian Zaya juga membenahi barang yang akan di bawanya, memastikan jika tidak ada kebutuhan Baby Zi yang tertinggal.
"Tuan." Asisten Dean tampak mendekati Aaron dengan membawa sesuatu di tangannya.
"Ada undangan pernikahan dari Nona Carissa." Ujar Asisten Dean sambil menyerahkan sesuatu di tangannya yang ternyata adalah sebuah undangan.
"Carissa akan menikah?" Tanya Aaron setengah bergumam sambil menerima undangan itu.
Asisten Dean mengangguk.
"Kemarin sore seseorang mengantarnya ke ruangan Anda, tapi Anda sudah pulang. Katanya pernikahannya di adakan di Singapura, dan calon suaminya adalah seorang dokter spesialis jantung." Ujar Asisten Dean lagi.
Aaron tampak membaca undangan itu sekilas. Tertulis disana nama Evan Bramasta sebagai calon mempelai lelakinya.
"Kenapa aku sangat familiar dengan nama lelaki ini." Gumam Aaron.
Zaya menjadi penasaran dan mengambil undangan itu dari tangan Aaron. Dan saat membacanya, ekspresinya pun sama seperti Aaron tadi. Zaya tampak menautkan kedua alisnya. Terlihat sedang berpikir.
"Evan Bramasta? Dokter spesialis jantung? Apa jangan-jangan ini...Kak Evan...?" Zaya tampak terkejut.
Asisten Dean tampak mengangguk dengan sopan.
"Hah?"
Zaya tampak tertegun.
'Kak Evan dan Carissa? Bagaimana bisa? Kapan mereka bertemu? Apa mereka di jodohkan?'
Macam-macam pertanyaan bermunculan di benak Zaya. Ia jadi penasaran bagaimana ceritanya Kakaknya itu bisa tiba-tiba akan menikah dengan Carissa, teman masa kecil Aaron. Adakah cerita tak terduga di balik undangan yang datang pagi ini?
Zaya bertanya-tanya, tapi di sisi lain Zaya juga merasa senang. Carissa adalah gadis yang baik. Zaya yakin Evan akan mendapatkan kebahagiaannya bersama teman masa kecil Aaron itu.
Zaya berharap Carissa bisa mengobati luka hati Evan yang di sebabkan olehnya. Dan bisa hidup bahagia seperti dirinya saat ini.
Setelah membahas tentang undangan itu sebentar bersama Aaron, akhirnya Zaya dan Baby Zi pun pergi ke kafe. Pernikahan Evan dan Carissa akan di adakan seminggu lagi, dan Aaron sudah meminta Sekertaris Jeff untuk mengosongkan jadwalnya untuk menghadiri pernikahan itu.
Di dalam mobil, Zaya masih berkutat dengan pikirannya tentang Evan, sementara Baby Zi telah tertidur di gendongan Zaya. Putri cantiknya ini memang punya kebiasaan tidur jika sudah selesai di beri sarapan.
Tiba-tiba ponsel Zaya berdering. Tampak nama seseorang yang tadi ada di pikirannya terlihat di layar ponsel.
Langsung saja Zaya menggeser tombol terima.
"Hai, Dee." Terdengar suara Evan menyapa.
Zaya tersenyum mendengarnya. Sudah lama ia ingin mendengar suara kakaknya ini. Zaya sangat merindukannya.
"Hai, Kak Evan. Apa kabar?" Tanya Zaya membalas sapaan Evan.
"Aku baik? Kabarmu sendiri bagaimana? Aku dengar saat ini kamu sudah punya seorang putri?" Tanya Evan.
"Iya, kak. Sekarang usianya sudah hampir tujuh bulan." Jawab Zaya.
Evan tidak langsung menanggapi. Dia terdiam sejenak.
"Apa kamu sudah menerima undangan pernikahanku?" Tanya Evan kemudian.
"Jadi itu benar Kak Evan? Calon suami Carissa itu benar Kak Evan?" Zaya balik bertanya.
"Iya." Jawab Evan. Kemudian dia kembali terdiam. Entah bagaimana ekspresi wajahnya saat ini.
"Kak Evan, selamat, ya. Aku senang akhirnya mendengar berita baik dari Kakak. Aku doakan semoga pernikahan Kakak nanti berjalan lancar. Aku dan Aaron akan mengusahakan untuk datang." Ujar Zaya senang.
"Terima kasih." Suara Evan terdengar lirih.
Zaya terkesiap. Entah kenapa Zaya merasa jika Evan tidak terlalu bahagia dengan penikahannya. Mungkinkah mereka akan menikah karena di jodohkan, bukannya karena saling jatuh cinta?
"Kak Evan..." Panggil Zaya.
"Ya?"
"Carissa adalah gadis yang baik dan tulus. Aku yakin dia bisa menjadi istri yang baik untuk Kakak. Aku percaya Kakak dan Carissa akan menjadi pasangan yang selalu di limpahkan kebahagiaan." ujar Zaya tulus.
"Terima kasih." Evan kembali mengucapkan kata terima kasih pada Zaya. Tapi kali ini suaranya agak berubah.
Mereka hening beberapa saat.
"Dee, sudah dulu, ya. Ada yang harus aku kerjakan." Ujar Evan kemudian.
"Baiklah." Jawab Zaya.
Sambungan telfon pun terputus.
Zaya masih memandangi layar ponselnya. Rasanya masih banyak pertanyaan yang ingin Zaya tanyakan pada Evan. Tapi tentu saja Zaya tidak berhak melakukan itu. Saat ini Evan sedang berusaha membuka lembaran baru bersama orang lain. Evan akan menikah. Apapun yang akan di alami Evan setelah ini, Zaya tidak punya hak untuk ikut campur.
Zaya hanya berharap Kakaknya itu akan mendapatkan kebahagiaan dalam pernikahannya. Semoga saja.
___________________________________________
Happy reading❤❤❤
Finally, Zaya dan Aaron finish juga. Setelah ini kita bakal ketemu lagi di cerita Evan dan Carissa. Mungkin satu atau dua hari lagi akan rilis. Tungguin yak...😘😘😉