
"Mirip siapa?" Tanya Aaron tanpa sadar.
Jantungnya berdegup dengan sangat kencang saat menunggu jawaban dari Zaya. Aaron takut mengetahui jika Jeff ternyata mirip dengan seseorang yang berarti untuk Zaya. Tapi disisi lain dia juga merasa penasaran dan ingin tahu.
"Entahlah. Aku tidak ingat." Zaya menjawab dengan enteng, seolah itu bukanlah hal yang penting.
Aaron mendesah, sangat tidak puas dengan jawaban Zaya. Aaron merasa jika istrinya ini tidak mau mengatakan yang sebenarnya.
Tiba-tiba kilasan saat Zaya tersenyum pada Sekertaris Jeff tadi terbayang lagi dikepala Aaron. Hatinya panas mengingat hal itu. Meskipun Aaron menyadari Zaya dan Jeff tidak ada hubungan apa-apa, tapi itu tak serta merta membuat marahnya mereda.
Akhirnya Aaron tahu bagaimana rasanya saat dulu Zaya melihatnya tersenyum pada klien wanitanya. Ternyata begini rasanya cemburu buta. Marah hanya dengan melihat pasangsn berinteraksi dengan lawan jenis.
Aaron tidak tahu apa yang harus dia lakukan untuk melampiaskan amarahnya saat ini. Tidak mungkin dia memukul sesuatu sekarang, karena hal itu hanya akan membuat takut istrinya saja.
"Honey?" Suara Zaya membuyarkan lamunan Aaron.
"Kamu marah, ya?" Tanya Zaya ragu. Ia sedikit takut melihat ekspresi Aaron saat ini.
"Apa aku menganggumu?" Tanya Zaya lagi.
"Tidak." Jawab Aaron sambil melihat kearah Zaya.
Aaron menatap Zaya, seolah ingin menenggelamkan Zaya kedalam tatapannya itu. Wajah cantik seperti manekin di hadapannya ini adalah istrinya, perempuan miliknya. Tak ada seorang pun bisa merebutnya dari Aaron. Aaron akan jadi satu-satunya lelaki yang di cintai Zaya. Harus seperti itu.
"Honey..."
Zaya masih bertanya-tanya dalam hati, ada apa sebenarnya dengan suaminya saat ini. Apa karena Zaya menyapa Sekertaris Jeff tadi, Aaron menjadi marah?
Tiba-tiba saja Aaron merengkuh tubuh Zaya dan membawa Zaya duduk di pangkuannya dengan posisi wajah mereka saling berhadapan.
Dihirupnya aroma tubuh Zaya yang harum, dan dibelainya wajah Zaya dengan lembut. Aaron kembali menatap mata Zaya sembari mengusap bibir ranum Zaya dengan ibu jarinya.
Detik berikutnya, Aaron melahap bibir Zaya dengan rakus dan agresif, hingga Zaya sampai gelagapan dibuatnya.
Zaya tak bisa mengimbangi Aaron kali ini. Ciuman Aaron tak seperti biasanya, terlalu agresif dan terkesan agak kasar, seolah dia sedang melampiaskan emosi yang ada dalam dirinya.
Kemudian bibir Aaron mulai turun kerahang dan leher Zaya. Menghisap dan memberi gigitan-gigitan kecil pada leher jenjang itu hingga meninggalkan bekas kemerahan disana.
Zaya memekik tertahan saat tangan Aaron juga meremas dadanya. Bukan dengan remasan lembut tapi dengan remasan kuat dan sedikit kasar.
"Honey, sakit..." Lirih Zaya. Wajahnya terlihat memelas, memohon agar Aaron menghentikan cumbuannya.
Aaron memang berhenti bermain di dada Zaya, tapi tangannya malah menyusup kedalam gaun Zaya dan mengusap-usap baha bagian dalamnya.
"Aku menginginkanmu." Lirih Aaron dengan suara parau. Disingkapnya Gaun Zaya dan bersamaan dia menanggalkan pakaiannya.
Zaya kembali terpekik saat Aaron menyatukan diri mereka. Meski tetap terasa nikmat seperti biasanya, tapi Zaya merasa jika saat ini Aaron tidak bermain lembut sama sekali. Seperti ada semacam emosi yang dilampiaskan lewat penyatuan mereka kali ini.
Aaron mendesah sembari memompa tubuh Zaya dengan semakin cepat. Permainannya kali ini jauh lebih panas dari yang sebelum-sebelumnya. Aaron seolah ingin melahap Zaya hingga tak bersisa.
"Kau milikku, Sayang. Hanya milikku..." Racau Aaron ditengah hentakannya memompa tubuh Zaya.
Zaya membekap mulutnya sendiri, agar tidak kembali memekik seperti sebelumnya. Peluhnya bercucuran dan nafasnya mulai tersengal. Sungguh ia sudah tidak kuat lagi menahan serangan Aaron ini. Tubuhnya mulai lemas karena telah beberapa kali meraih pelepasannya. Tapi sejauh ini Aaron masih belum mau berhenti.
"Tidak ada yang bisa merebutmu dariku, Zaya. Selamanya kau hanya milikku." Aaron kembali berujar dengan posesif sambil terus menghentak-hentakkan miliknya. Tak lama kemudian, tubuhnya menegang bersamaan dengan lenguhannya yang panjang. Aaron meraih pelepasannya setelah menyiksa Zaya dengan kenikmatan dalam waktu yang tidak sebentar.
Mereka berdua terengah-engah sambil saling menatap. Aaron kembali meraih Zaya kedalam pelukannya. Diciumnya kening Zaya yang berpeluh. Lalu dilihatnya tubuh polos Zaya, Aaron baru menyadari jika hampir setiap jengkal tubuh Zaya dipenuhi tanda kemerahan karena ulahnya. Rasa bersalah pun menyusup kedalam hati Aaron.
Di angkatnya tubuh Zaya ke kamar mandi yang berada diruang kerjanya. Lalu mereka mandi bersama seperti yang pernah mereka lakukan saat baru menikah.
"Apa ini sakit?" Tanya Aaron saat mengusap bagian tubuh Zaya yang terdapat bekas kemerahan.
"Sedikit." Jawab Zaya pelan.
Aaron menghela nafasnya
"Maaf." Lirihnya sembari memeluk Zaya.
"Tadi aku terlalu terbawa suasana." Ujar Aaron lagi.
"Lain kali jangan seperti ini lagi, Honey. Kamu bermain terlalu kasar tadi. Untung saja perutku tidak sampai kram." Protes Zaya agak marah. Ia tidak tahu kenapa tiba-tiba suaminya seperti itu. Dan ia tidak ingin Aaron mengulanginya lagi.
"Maafkan aku, Sayang." Ujar Aaron lagi. Sungguh dia sendiri pun merasa menyesal telah menuruti emosinya karena rasa cemburunya yang tak beralasan tadi. Diusapnya perut Zaya yang kini sudah semakin membesar.
Mereka pun segera menyelesaikan mandi bersama itu dan mengenakan pakaian mereka kembali. Lalu keduanya menyantap makan siang yang telah sedari tadi terbengkalai.
Aaron masih terlihat memikirkan sesuatu. Sepertinya kata-kata Zaya tentang Sekertaris Jeff tadi begitu membekas di benaknya. Sebisa mungkin ia tak kembali bertindak implusif seperti tadi.
"Sayang." Akhirnya Aaron membuka suaranya.
Zaya menoleh.
Aaron tampak ingin menyampaikan sesuatu, tapi terlihat ragu.
"Kenapa? Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" Tanya Zaya.
Aaron menghela nafasnya, mencari kata-kata yang tepat untuk menuntaskan rasa penasarannya. Tidak mungkin dia menanyakan prihal Sekertaris Jeff secara gamblang. Entah apa yang akan di pikirkan Zaya tentangnya nanti.
"Apa sebelum bertemu denganku, kau pernah punya hubungan percintaan dengan lelaki lain?" Tanya Aaron kemudian.
Zaya menggelengkan kepalanya dengan sedikit bingung. Ia heran kenapa tiba-tiba Aaron menayakan hal seperti ini.
"Aku tidak pernah berpacaran. Bukankah sebelumnya aku sudah pernah mengatakannya padamu?" Ujar Zaya.
Aaron kembali terdiam.
"Lalu, apa kau pernah jatuh cinta dengan lelaki lain sebelum kita menikah?" Aaron kembali bertanya.
Zaya kembali menggeleng dengan semakin penuh tanda tanya.
"Honey, katakan padaku sejujurnya. Sebenarnya apa yang saat ini sedang menganggu pikiranmu?" Zaya kembali bertanya.
Aaron tampak tak langsung menjawab.
"Sekertaris Jeff." Gumamnya kemudian.
"Sebenarnya dia mirip siapa? Apa dia mirip sosok dari masa lalumu?" Tanya Aaron akhirnya.
Zaya mendelik mendengar pertanyaan Aaron. Ia berusaha untuk mencerna pertanyaan itu. Dan sejurus kemudian ia tertawa dengan terbahak-bahak hingga membuat Aaron menautkan kedua alisnya.
"Jadi kamu marah karena itu? Kamu mengira Sekertaris Jeff mirip seseorang yang aku sukai?" Tanya Zaya di sela tawanya.
"Kalau bukan seperti itu, lalu dia mirip siapa?" Tanya Aaron ingin tahu.
Zaya menghentikan tawanya dan tampak berpikir.
"Aku lupa namanya, tapi dia mirip sekali dengan aktor Korea yang dramanya baru-baru ini aku tonton." Jawab Zaya kemudian.
"Benarkah?" Tanya Aaron
"Sungguh?"
"Iya, sumpah." Zaya mengacungkan dua jarinya."
"Lalu, aktor itu, apa kau menyukainya?"
"Tentu saja."
"Ups.." Buru-buru Zaya menutup mulutnya yang kelepasan. Sepertinya ia harus kembali menghadapi keposesifan Aaron setelah ini.
Cha Eun Woo As Jeffran Lee
Berondong emakš
Bersambung...
Lanjut?
vote dulu dongš
Happy readingā¤ā¤ā¤