Since You Married Me

Since You Married Me
Dia Mencintaimu



Setelah mendapat penolakan dari Zaya, Ginna memutuskan untuk pulang.


Zaya mengantar Ginna dan Carissa sampai ke tempat mobil kedua perempuan itu diparkir.


Ginna masuk kedalam mobilnya dengan wajah yang sendu. Jelas terlihat jika ia kecewa dengan penolakan Zaya. Tapi apa mau dikata, sikap Zaya saat ini juga dikarenakan perlakuan dirinya dan Aaron sendiri dimasa lalu. Jadi, Ginna hanya bisa pasrah jika saat ini Zaya menolak permohonannya.


Ya. Ginna menyadari jika tidak ada kewajiban bagi Zaya untuk membantunya. Perempuan itu berhak menolak. Zaya tak punya hutang apapun pada Aaron. Dan lagi, kini mereka sudah bukan suami istri lagi, jadi tidak perlu bagi mereka untuk saling mengkhawatirkan satu sama lain.


Hanya saja, mengingat karakter Zaya yang begitu lembut dan baik, Ginna memberanikan diri untuk memohon agar Zaya mau kembali bersama Aaron lagi. Ginna berharap, dengan begitu Aaron bisa berpikir lebih tenang dan fokus untuk menghadapi permasalahan perusahaan.


Tapi nyatanya, Ginna harus bisa bisa menerima jika Zaya yang sekarang tidaklah sama lagi dengan Zaya yang dulu. Saat ini, mantan menantunya itu Saat ini menjelma menjadi sosok yang yang tegas dan berpendirian. Terlihat saat ia tak ragu untuk menolak peemohonan Ginna.


Mungkin perlakuan dingin Ginna dan Aaronlah yang menempa Zaya menjadi dirinya yang sekarang. Ginna hanya berharap, ada keajaiban yang bisa membuat Brylee Group dan Aaron bisa melalui situasi ini.


Disisi lain, Zaya sebenarnya menaruh rasa simpati kepada Ginna. Nyonya besar itu tampak seperti seseorang yang kalah bertempur. Ia sampai harus merendahkan diri dihadapan mantan menantu yang selama ini tak dianggapnya demi perusahaan dan putranya tercinta. Sungguh miris Zaya melihatnya.


Zaya prihatin. Tapi itu tak serta merta membuat Zaya menerima permohonan Ginna begitu saja. Kembali pada Aaron? Entahlah. Zaya merasa itu bukanlah hal yang ingin dilakukannya.


"Bisa kita bertemu setelah aku mengantar Tante Ginna, Nona Zaya?"


Pertanyaan Carissa membuyarkan lamunan Zaya. Zaya melihat kearah gadis itu sesaat dengan hati yang bertanya-tanya.


"Ada yang ingin aku sampaikan padamu. Tapi sekarang aku harus mengantar Tante Ginna terlebih dahulu. Keadaannya sedang tidak baik sekarang." Tambah Carissa lagi.


Gadis itu berkata dengan sangat sopan. sangat jelas jika sedari kecil ia telah diajarkan tata krama dengan sangat baik.


Tanpa sadar Zaya mengangguk mengiyakan permintaan Carissa.


Gadis itu tersenyum menanggapi, kemudian ia masuk juga kedalam mobil dan melaju bersama dengan Ginna.


Selepas waktu makan siang, Carissa benar-benar datang lagi kekafe Zaya. Kali ini ia mengajak Zaya untuk berbicara diluar agar bisa lebih keluasa.


Dan disinilah Zaya sekarang. Duduk disebuah ruangan yang agak privat berhadapan dengan Carissa.


"Jadi, apa yang ingin kamu sampaikan, Nona Carissa?" Tanya Zaya setelah mereka hening beberapa saat.


Carissa tampak agak bingung akan memulai darimana.


"Ini tentang Aaron... Apa kamu benar-benar tidak mau kembali lagi bersamanya?" Tanya Carissa kemudian.


Zaya tak langsung menjawab. Tampak ia melihat kearah Carissa dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Apa aku harus menjawab pertanyaan itu?" Zaya malah balik bertanya pada Carissa.


Carissa terdiam beberapa saat. Wajahnya pun berubah menjadi lebih serius.


"Kamu harus menjawabnya, Nona Zaya. Ini sangat penting untukku." Ujarnya kemudian.


Zaya pun sedikit menghela nafasnya. Sudah dapat ditebak jika perempuan dihadapannya ini menyukai Aaron. Entah hal apa yang ingin disampaikan oleh Carissa, yang jelas Zaya harus menyiapkan telinga dan hatinya.


"Kami sudah bercerai, tentu saja tidak akan berhubungan satu sama lain lagi kecuali jika menyangkut Albern." Ujar Zaya akhirnya.


Kali ini Zaya tak langsung menjawab. Ditatapnya Carissa dengan tatapan tak percaya.


"Ya, Nona Zaya. Alasan Aaron menjadi sangat kacau sekarang adalah karena dia baru menyadari jika dia sangat mencintaimu. Dia menyesal menceraikanmu, sampai-sampai tanpa sadar dia menghancurkan hidupnya sendiri."


Zaya membeku.


Kalimat yang disampaikan Carissa sungguh diluar dugaannya. Aaron mencintainya? Benarkah itu? Kenapa Zaya sulit untuk mempercayainya?


"Jangan mengatakan omong kosong, Nona Carissa." Ujar Zaya akhirnya, menyangkal apa yang dikatakan Carissa sebelumnya.


"Aku tidak berarti apa-apa bagi Aaron. Itulah kenyataannya." Tambah Zaya lagi.


Carissa menghela nafasnya dengan tatapan yang agak meredup.


"Apa kamu tahu, Nona Zaya. Belum lama ini, orang tuaku menawarkan solusi sebuah pernikahan bisnis pada Aaron. Asalkan Aaron mau menikah denganku, orang tuaku akan mengucurkan sebanyak apapun dana yang dibutuhkan olen Brylee Group. Tapi Aaron menolaknya mentah-mentah. Dia lebih memilih melepaskan Brylee Group daripada harus menikah dengan perempuan selain dirimu. Apa kau mengerti apa artinya itu?"


Carissa terdiam beberapa saat.


"Dia mencintaimu, Nona Zaya. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melihat Aaron sampai mengabaikan perusahaan demi seseorang. Pastilah orang itu sangat berarti baginya. Dan jujur saja, aku sangat iri...."


Carissa menghela nafasnya dan tersenyum penuh ironi. Sedangkan Zaya menatap Carissa dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


"Sejak kecil aku telah berusaha untuk membuat Aaron melihat kearahku. Mulai dari terus mengganggunya dengan sangat tidak tahu malu, sampai berusaha untuk menjadi seseorang yang dikaguminya. Tapi tetap saja, Aaron menganggapku hanya sebagai teman, tidak lebih. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk menjadi hebat agar Aaron memandang kearahku. Tapi saat aku tengah berusaha menjadi seseorang yang membanggakan, aku malah mendapatkan kabar jika dia menikahi seorang gadis secara mengejutkan..."


Carissa kembali mengatur nafasnya yang mulai tersengal.


"Lalu sekarang, saat dia bercerai dan tengah terpuruk, aku kira aku mempunyai kesempatan untuk masuk kedalam kehidupannya. Tapi ternyata, hatinya sudah sepenuhnya dia berikan padamu, Nona Zaya. Tidak ada tempat untukku, bahkan hanya untuk sekedar membantu sekalipun. Aaron... Dia sangat mencintaimu dan tidak tahu harus bagaimana untuk mengungkapkan perasaannya padamu. Kamu adalah perempuan pertama dan satu-satunya yang mampu membuat Aaron menjadi seperti ini. Jika kamu tidak kembali padanya, Aaron benar-benar akan hancur...."


"Maafkanlah dia, Nona Zaya....Berikanlah kesempatan sekali lagi padanya. Aku yakin kali ini dia akan melakukan apa saja untuk menebus kesalahannya dulu. Temanku itu...dia sangat membutuhkanmu saat ini"


Zaya membisu. Ia tidak tahu harus berkata apa. Sungguh sulit dipercaya setiap kata-kata Carissa yang didengar Zaya tadi.


"Hanya itu yang ingin aku katakan padamu, Nona Zaya. Aku permisi dulu. Aku harap kamu mempertimbangkan dengan benar keputusan yang akan kamu buat untuk Aaron."


Carissa beranjak dari duduknya, kemudian berlalu meninggalkan Zaya yang masih mematung.


Zaya masih sulit mempercayai apa yang disampaikan oleh Carissa tadi, tapi Zaya juga tahu jika Carissa tidak sedang berbohong.


Zaya sungguh tidak ingin melihat Aaron hancur. Biar bagaimana pun, Aaron adalah ayah dari Albern, putra kesayangannya. Tapi benarkah Zaya harus kembali pada lelaki itu?


Untuk saat ini, Zaya benar-benar tidak tahu apa jawaban dari pertanyaannya itu.


Bersambung...


Tetep like, komen dan vote y sayang...


Happy reading❤❤❤